oleh Fileski W Tanjung.
MADIUN — Sebuah lukisan karya seorang anak kelas I madrasah dasar kini menghuni salah satu ruang penting di jantung pemerintahan Kota Madiun. Selasa, 1 September 2026, pelukis cilik Huiga Tanjung Ramadan, murid kelas I MIN 2 Kota Madiun yang berlatih di Titikan School of Arts bersama pelatihnya, Dwi Kartika Rahayu, datang ke Balai Kota Madiun untuk menyerahkan karya sekaligus sertifikat keaslian lukisan kepada kolektor, Plt. Wali Kota Madiun Bagus Panuntun.
Karya Huiga berjudul “Sawah Utiku” menjadi salah satu lukisan yang menarik perhatian Bagus Panuntun dalam kegiatan “Madiun Melukis” yang berlangsung pada 22 Agustus 2026 di Balai Kota Madiun. Dalam rangkaian acara tersebut, lukisan Huiga dipilih dan dibeli melalui kesepakatan transaksi antara sang pelukis cilik dan kolektor. Pada Selasa ini, proses tersebut mencapai tahap penting: karya diserahterimakan, sertifikat keaslian diberikan, dan lukisan kemudian dipajang di lingkungan Balai Kota Madiun.
Peristiwa itu menjadi menarik bukan semata karena seorang pejabat membeli lukisan karya anak-anak. Lebih dari itu, ia memperlihatkan bagaimana ruang pemerintahan dapat berubah menjadi ruang apresiasi seni—tempat karya anak tidak berhenti sebagai tugas sekolah, pajangan pameran, atau dokumentasi sesaat, melainkan memperoleh kehidupan baru sebagai bagian dari ruang publik. Balai Kota Madiun sendiri merupakan bangunan cagar budaya bersejarah yang hingga kini menjadi kantor Wali Kota Madiun, sehingga kehadiran karya-karya pelukis cilik di dalamnya menciptakan pertemuan menarik antara sejarah kota dan imajinasi generasi masa depan.
“Sawah Utiku” memperlihatkan bahwa dunia anak tidak selalu sederhana. Di tangan Huiga, sawah bukan hanya bentang alam yang dilihat dari kejauhan, melainkan ruang ingatan yang personal. Hamparan warna keemasan yang berpilin seperti gelombang dapat dibaca sebagai metafora tentang waktu dan siklus kehidupan: sesuatu ditanam, tumbuh, dipanen, kemudian kembali menjadi benih.
Rumah dan jalan setapak di dalam lukisan menghadirkan simbol tentang ruang pulang. Sementara sosok anak-anak yang berjalan bersama seperti mengisyaratkan perjalanan ingatan dari satu generasi menuju generasi berikutnya. Huiga seakan tidak sedang berusaha membuat salinan realistis tentang sawah, melainkan melukiskan bagaimana sebuah tempat tinggal di dalam ingatan seorang anak.
Jika “Uti” dimaknai sebagai sosok nenek, maka judul “Sawah Utiku” memperoleh lapisan makna yang lebih dalam. Sawah menjadi semacam arsip keluarga yang tidak ditulis dengan huruf, tetapi disimpan dalam tanah, rumah, pepohonan, jalan, dan pengalaman masa kecil. Lukisan itu pada akhirnya berbicara tentang akar: dari mana seorang anak berasal, siapa yang membentuk ingatannya, dan bagaimana lanskap masa kecil kelak dibawanya menuju masa depan.
Namun, Huiga bukan satu-satunya nama yang muncul dalam gerakan apresiasi seni anak di Madiun. Dalam rangkaian pemasangan karya, sejumlah pelukis cilik lainnya juga mendapat kesempatan untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik dan para kolektor. Di Balai Kota dan kantor Sekretariat Daerah, selain karya Huiga, terdapat karya Azka, Tiffa, Shayaan, Chalif, Arjuna, Nafis, Angelica, dan Kennes.
Pemasangan kemudian berlanjut ke berbagai kantor dan institusi di lingkungan Pemerintah Kota Madiun. Karya Zhafran Arnesta Keanu P. dipasang di Kecamatan Kartoharjo, sementara Naufalyn Azkis mendapat ruang di BKPSDM. Di PERKIM terdapat karya Shayaan, Inozril, Shafaira, dan Samantha. Sementara itu, Kan Arum dan Muhammad Hanan mengisi ruang di Dinas Perhubungan; Malikha Zahsy di Kesbangpol; Shelly Secundia di Dinas Sosial; dan Syahida Ika di Disnaker.
Nama-nama lain yang turut menghiasi rangkaian pemasangan karya adalah Azka RA di Perpustakaan Kota, Naila Chandragita di DPMPTSP, Wildan di Dukcapil, Syahla Arya Aruna di RSUD, Adira Fathina di Bagian Hukum, Adinda Zahra di PDAM, serta Elmira Khaira di Inspektorat. Di Dinas Kesehatan terdapat karya Rara Fathia dan M. Zhafran G., sementara Angelica NR. mendapat tempat di Kecamatan Mangunharjo dan Annisa Wahyu N. H. di Sekretariat DPRD.
Pada hari berikutnya, pemasangan karya berlanjut. Azka Raisa A. dijadwalkan mengisi ruang BAPENDA, Kennes Zhaafira di Kesbangpol, Mahira Nafisa di BKAD, dan Zahrotul Fithri di Bank Daerah. Di Disperindag terdapat karya Alifa Nadhira Syifa, sedangkan di kantor Disbudparpora karya Bita, Faiz, Albarra, Harum, dan Krystal turut mendapatkan ruang untuk dipamerkan.
Banyaknya nama tersebut penting dicatat. Sebab, “Madiun Melukis” bukan hanya tentang satu lukisan yang berhasil dibeli pejabat atau satu anak yang mendapatkan perhatian. Ia merupakan sebuah ekosistem kecil yang mempertemukan anak-anak, keluarga, pelatih, seniman, kolektor, birokrasi, dan ruang publik. Di dalam ekosistem semacam inilah apresiasi terhadap seni dapat tumbuh dari pengalaman konkret: anak melihat karyanya dihargai, namanya disebut, lukisannya dipajang, dan proses kreatifnya disaksikan oleh masyarakat.
Pada acara 1 September itu, para pelukis cilik hadir secara langsung. Mereka berfoto bersama para kolektor dan pejabat Kota Madiun, menyerahkan lukisan, menerima dan menyerahkan sertifikat keaslian karya, serta menyaksikan karya mereka ditempatkan di berbagai ruang pemerintahan. Bagi anak-anak tersebut, pengalaman itu barangkali akan jauh lebih membekas daripada sekadar mendapatkan nilai di sekolah.
Di titik inilah seni menemukan fungsi sosialnya yang paling sederhana sekaligus paling penting: membuat seorang anak merasa bahwa apa yang ia ciptakan memiliki arti bagi orang lain.
Dan mungkin, beberapa puluh tahun mendatang, ketika Madiun mengenang perjalanan seni rupa kotanya, nama-nama seperti Huiga Tanjung Ramadan, Azka, Tiffa, Shayaan, Chalif, Arjuna, Nafis, Angelica, Kennes, Zhafran Arnesta Keanu P., Naufalyn Azkis, Inozril, Shafaira, Samantha, Kan Arum, Muhammad Hanan, Malikha Zahsy, Shelly Secundia, Syahida Ika, Naila Chandragita, Wildan, Syahla Arya Aruna, Adira Fathina, Adinda Zahra, Elmira Khaira, Rara Fathia, M. Zhafran G., Angelica NR., Annisa Wahyu N. H., Azka Raisa A., Kennes Zhaafira, Mahira Nafisa, Zahrotul Fithri, Alifa Nadhira Syifa, Bita, Faiz, Albarra, Harum, dan Krystal tidak lagi hanya dikenang sebagai anak-anak yang pernah memajang lukisan.
Mereka mungkin akan dikenang sebagai generasi yang sejak kecil telah diperkenalkan pada satu gagasan penting: bahwa kota bukan hanya dibangun dengan beton, jalan, dan gedung pemerintahan, tetapi juga dengan imajinasi anak-anak yang berani memberi warna pada zamannya.


0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.