Puisi Fileski W Tanjung yang terinspirasi dari lagu-lagu Daniel Rumbekwan yang berjudul Burung Kecil, Terima Saja, Rindu, dan Veznia
1. Belajar Menamai Langit
(Terinspirasi lagu: Burung Kecil) do: D
Aku adalah burung kecil
yang menukar ranting-ranting dengan pertanyaan,
aku menggenggam angin
sebagai alamat untuk pulang.
Bukit-bukit tinggi menyimpan rahasia
tentang manusia yang rakus menebang pohon-pohonku
tapi mereka lupa menanam makna dalam hidupnya.
Pepohonan bicara lirih padaku:
“Aku bersuara tak bermakna membuat kegaduhan,
aku hanya ingin bertahan.”
Gedung-gedung menatapku dengan mata pisau,
mereka tinggi, memamerkan kesombongan
tapi takut pada kicauku
Aku membangun sarang dari sisa-sisa harapan,
di antara debu dan doa-doa,
sebab kebebasan bukanlah hadiah
kebebasan adalah keberanian untuk tetap bersuara
kebebasan adalah keberanian untuk terus berkicau
meski langit ingin dibungkam.
2. Apa Kata Waktu
(Terinspirasi lagu: Terima Saja) do: G
Waktu terduduk di hadapan kita
tanpa jam, tanpa jeda, tanpa perbandingan,
ia hanya berkata:
“Apakah hidup harus menyerupai orang lain?”
Oh kita terjatuh bukan karena nasib,
melainkan karena kita pecahkan cermin sendiri
yang terlalu sering kita pakai untuk mengukur
mengukur seberapa banyak bahagia.
Rasa angkuh itu adalah kelelahan
ia menyamar sebagai ambisi,
lalu terjatuh pada jeda
yang tak mau kita akui.
Ambillah bagian dari hidup,
relakan yang bukan untuk kita—
sebab tak semua yang berkilau
ditakdirkan untuk kita genggam.
ya terima saja:
naik dan turun adalah tarikan nafas kehidupan,
dan hidup bukan untuk menang di atas siapa pun,
namun untuk berdamai dengan diri sendiri.
3. Cara Hujan Mengucap Namamu
(Terinspirasi lagu: Rindu) do: E
Aku memanggilmu
seperti tanah memanggil hujan:
yang diam-diam,
seluruh tubuhku bergetar.
Rindu ini bukan api,
rasakan dalam dan tenang,
seperti sebuah sumur
yang menyimpan wajahmu di dasarnya.
Hujan sore ini turun tanpa alasan,
seperti rinduku
yang tak butuh penjelasan.
Aku merawat rindu
seperti merawat luka-luka:
dan aku tak ingin sembuh cepat,
namun aku juga tak ingin membusuk
sebelum bertemu.
Tunggulah aku,
menuju pulang lewat setapak kenangan,
karena hatimu
adalah satu-satunya rumah
yang tak pernah mengusirku.
4. Veznia: Kota yang Mengajarkanku Berdoa
(Terinspirasi lagu: Veznia) do: A
Hai Veznia, kau sedang mencari dirimu
di persimpangan lampu merah,
di antara pilihan yang terus berubah
dan amarah mulai lelah.
Dunia ini pandai berdusta:
ia menawarkan cahaya
namun mematikan bintang-bintang di dada.
Pergaulan malam
adalah suara riuh yang menutup nuranimu,
sementara sunyi—
sering kali—adalah sahabat terbaikmu.
Kini kau tertinggal, dan kau sendirian,
seperti orang yang pura-pura kuat
menarik sudut senyumnya di depan layar.
Lipatlah tanganmu,
rebahkan egomu,
biarkan harapan bernafas sekali lagi.
Dan ketika kau buka pintu itu,
kau temukan nasihat
yang tumbuh pelan-pelan dalam jiwa:
Veznia hidup ini memang berat,
tapi hidup akan tetap indah Veznia
bagi mereka yang terus mengayuh doa-doa.
Madiun, di Januari 2025

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.