005

header ads

Hari Piano Sedunia, Apa & Bagaimana? | Sebuah refleksi dari Ananda Sukarlan

 

Hari Piano Sedunia, Apa & Bagaimana? | Sebuah refleksi dari Ananda Sukarlan


Tanggal 29 Maret (atau 28 Maret di tahun-tahun kabisat) kini telah ditahbiskan sebagai World Piano Day. Intinya, Hari Piano Sedunia dirayakan di hari ke-88 dalam setahun karena jumlah tuts pada instrumen (modern) ini. Saya tambahkan "modern" karena piano "kuno" yaitu harpsichord atau clavicembalo jumlah tutsnya tidak sampai 88. Ditetapkan pada tahun 2015 dan digagas oleh pianis & komponis Jerman Nils Frahm (kelahiran 1982), hari istimewa ini sekarang dirayakan di seluruh dunia. 


Piano kini berperan besar dalam hidup kita (bukan hanya para pianis), berfungsi sebagai jembatan menuju ekspresi emosional dan budaya manusia. Jangkauannya yang luas—dari bisikan lembut  nada yang disentuh di pianissimo karya Maurice Ravel atau Claude Debussy hingga fortississimo dahsyat sebuah akord penuh di musik Rachmaninov atau Dmitri Shostakovich—memungkinkan segala usia dan latar belakang untuk menyalurkan perasaan terdalam kita : kegembiraan, kesedihan, harapan, atau nostalgia. "Musik dapat mengekspresikan hal-hal seringkali tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata', kata Gustav Mahler

. Belajar bermain piano sejak kecil mengembangkan disiplin, kesabaran, dan keterampilan kognitif, meningkatkan daya ingat, koordinasi, dan bahkan pemikiran matematis, sekaligus memberikan rasa pencapaian yang memuaskan yang meningkatkan kepercayaan diri dan kesejahteraan mental. Di luar pertumbuhan pribadi, piano menghubungkan kita dengan sejarah dan komunitas; piano telah menemani umat manusia selama berabad-abad melalui mahakarya klasik, improvisasi jazz, lagu-lagu pop, dan nyanyian keluarga, memupuk momen-momen keindahan dan kebersamaan yang dibagikan. Selain itu, saya pribadi menggunakan piano untuk mendokumentasikan bahkan meluruskan sejarah. Saya menggunakan melodi Dayung Sampan sebagai material untuk Rapsodia Nusantara no. 36, misalnya. Karya ini kini populer di kalangan pianis klasik seluruh dunia dan membuka mata internasional bahwa lagu Teresa Teng "Tian Mi Mi" sebetulnya adalah adaptasi dari lagu Banten ini; Teresa Teng hanya mengganti lirik / teks lagu ini ke bahasanya. Ini video saat saya memainkannya di Helsinki, Finlandia : 

https://youtu.be/PYHbpyvlygg?si=Qp7b6P4bJHq6pdfK 


Piano, dibantu virtuositas vokal klasik, juga telah berjasa mengangkat berbagai karya puisi dari para seniman yang ditangkap tanpa pengadilan, disiksa selama di penjara, seperti Sabar Anantaguna, Putu Oka Sukanta dan masih banyak lagi. Saya sangat berharap bahwa karya-karya sastra yang ditulis di era penderitaan yang tidak terbayangkan tersebut bisa diangkat kembali. Ini salah satu contohnya, dinyanyikan Jonathan Jedine Santoso dan didampingi pemain flute dari Spanyol, Carmen Caballero : 

https://youtu.be/i2ZBbuxP3Y8?si=G5Y8RcLHrgRkWC9I 


Bukan hanya saya, tapi para pianis Indonesia yang unggul yang telah tersaring di kompetisi Ananda Sukarlan Award atau Kompetisi Piano Nusantara Plus telah membawa musik Indonesia ke seluruh dunia, hanya dengan satu orang di hadapan satu instrumen. 



*Kita sering mendengar bahwa Musik itu bahasa universal, apa itu berarti "bahasa" itu sendiri tidak universal?*


Menurut saya, bahasa memang terbatas untuk berkomunikasi sesama mereka yang mengerti bahasanya, walaupun kalau anda seorang fans film "Dead Poets Society", Prof. Keating yang diperankan oleh Robin Williams menyebut bahwa fungsi bahasa itu bukan untuk berkomunikasi, tapi "to woo women" -- untuk merayu wanita. Saya lebih percaya definisi Robin Williams ini, tapi dengan syarat bahwa bahasa itu dalam bentuk puitik. Kalau puisi, itu bahasa universal, karena puisi itu sebetulnya melukis hal-hal yang tidak bisa dilukis dengan cat minyak atau air, atau bahkan dengan kenyataan. Ingat saja "Subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening, siap menerima cahaya pertama" dari "Dalam Doaku"-nya Sapardi Djoko Damono. Itu bukan hanya rangkaian kata-kata, tapi sebuah lukisan yang mustahil dilukis di atas kanvas. Dan karena itu metafora, itu universal. Langit yang keruh hanya dikenal di kota Jakarta yang paling berpolusi di planet bumi, tapi tidak dikenal di atas Helsinki, Wellington atau Reykjavik, tapi langit yang semalaman tak memejamkan mata bisa dimengerti di seluruh dunia. 


Apakah Piano Masih Relevan?

Di dunia digital yang serba cepat, piano mengingatkan kita akan nilainya melambatkan waktu, menciptakan sesuatu yang nyata dan tulus dengan tangan kita sendiri, berkomunikasi dengan perasaan kita yang terdalam tanpa diganggu oleh media sosial yang mendikte kita dengan segala berita palsu dan provokatif dan mengalami keajaiban musik live yang murni dan tanpa filter. Pada akhirnya, hal itu memperkaya jiwa kita, membuat hidup lebih reflektif dan manusiawi.


Pendidikan piano dan musik klasik memiliki nilai yang signifikan di Indonesia, berfungsi sebagai jembatan antara tradisi artistik global dan perkembangan budaya bangsa. Diperkenalkan selama era kolonial melalui instrumen Eropa dan pelatihan formal, musik klasik tertanam dalam masyarakat Indonesia setelah kemerdekaan. Pada tahun 1952, Presiden Soekarno mendirikan 

 Sekolah Musik Indonesia (SMIND -- berbeda dengan Sekolah Musik Indonesia yang ada saat ini yang sepenuhnya adalah perusahaan swasta) yang berdiri tahun 1952 di Yogyakarta yang kemudian menjadi Akademi Musik Indonesia (AMI) tahun 1961 dan kemudian berkembang menjadi Institut Seni Indonesia atau ISI tahun 1984 merangkul bidang seni rupa, musik dan tari. Pendidikan musik klasiknya mengadopsi metode klasik Eropa. Departemen Piano, khususnya, telah berkembang sebagai salah satu instrumen yang paling populer. Para siswa membuat organisasi independen, "Clavier" dengan salah satu inisiator Rachel Nadia saat ia masih mahasiswa (sekarang Rachel menjadi pianis dan guru piano profesional yang cukup dihormati di Yogyakarta) di mana mereka sering mengadakan kegiatan diskusi, mengundang beberapa tokoh (saya juga merasa terhormat pernah diundang!) dan banyak hal lainnya. 


Indonesia kini memiliki ribuan sekolah musik swasta di berbagai kota menawarkan program terstruktur. Banyak anak muda Indonesia mengejar studi piano, didorong oleh manfaat kognitifnya yang telah terbukti—meningkatkan daya ingat, konsentrasi, disiplin, dan kecerdasan emosional. "Efek Mozart" -- apakah itu betul atau semata-mata hanya marketing gimmick -- telah mempengaruhi minat orang tua, memposisikan pendidikan musik dini sebagai alat untuk perkembangan anak di tengah lingkungan akademik yang kompetitif. Di luar pertumbuhan individu, pendidikan musik klasik mendorong pengayaan budaya dan identitas nasional. Program ini membekali siswa dengan keterampilan teknis sekaligus mendorong penciptaan karya piano Indonesia yang memadukan bentuk-bentuk Barat dengan idiom lokal, seperti karya-karya komposer pendahulu saya seperti Amir Pasaribu, Yazeed Djamin atau Trisutji Kamal. Inisiatif yang dapat saya salurkan melalui Yayasan Musik Sastra Indonesia yang menyediakan pelajaran gratis bagi anak-anak kurang mampu menunjukkan perannya dalam inklusi sosial dan pertumbuhan ekonomi kreatif. Di kepulauan yang beragam dan kaya akan instrumen, ritme, melodi serta bentuk-bentuk musik tradisional, pelatihan klasik mendorong disiplin, kolaborasi, dan daya saing global. Program ini menghasilkan pianis berbakat yang tampil di kancah internasional dan memperkaya lanskap artistik Indonesia. Mempertahankan dan memperluas akses terhadap pendidikan piano dan musik klasik berkualitas sangatlah penting untuk membina generasi muda yang berwawasan luas dan melestarikan masa depan budaya yang dinamis dan inklusif.






Posting Komentar

0 Komentar