1. Dermaga yang Mengingat Langkah
Di dermaga, ombak menulis namamu dengan lidah yang rindu pulang
Kapal-kapal menunduk, ia tahu kakimu pernah berlayar menjauh.
Negeri ini bukan sebongkah tanah, ia adalah ibu yang mengenang anak anaknya
maka pulanglah, cahaya pun butuh tau dari mana asalnya.
2. Peta Kehilangan Arah
Peta-peta di meja tua yang menggigil lama tak disentuh
Garis-garisnya bukan batas, melainkan luka yang menunggu dijahit.
Kompas kehilangan utara saat kau lupa pulang.
Di sudut desa, jalan berdebu berdoa diam-diam, memanggil langkahmu kembali menjadi arah langkah bangsa.
3. Menunggu Suara
Dinding sekolah yang retak, ia memanggil seperti ibu tua renta.
Papan tulis itu menelan sunyi, menunggu suaramu menyalakan pagi.
Kapur itu adalah harapan yang ingin digenggam lagi.
Anak-anak menulis masa depan, dengan tinta yang menunggu tanganmu hadir.
4. Tanah yang Menyebut Namamu
Tanah merah, menyebut namamu tanpa suara.
Ia bukan sekadar pijakan, melainkan tubuh yang merindukan pijar.
Hujan turun seperti pesan yang belum kau baca.
Di setiap lumpur, ada doa yang menunggu disentuh oleh langkah pengabdian.
5. Cahaya yang Telah Pulang
Dan ketika kau pulang, cahaya tak lagi sekadar kilau dari negeri asing,
menjelma matahari, menetap di langit yang lama menahan rindu,
Negeri ini tersenyum dalam bahasa ibu
pengabdianmu bukan untuk kembali—melainkan menemukan dirimu sebagai putra putri Indonesia.
Madiun, 28 Maret 2026


0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.