005

header ads

Puisi Fileski Walidha Tanjung | untuk alumni LPDP

 


1. Dermaga yang Mengingat Langkah 

 Di dermaga, ombak menulis namamu dengan lidah yang rindu pulang 

 Kapal-kapal menunduk, ia tahu kakimu pernah berlayar menjauh.

 Negeri ini bukan sebongkah tanah, ia adalah ibu yang mengenang anak anaknya

 maka pulanglah, cahaya pun butuh tau dari mana asalnya.


2. Peta Kehilangan Arah 

 Peta-peta di meja tua yang menggigil lama tak disentuh 

 Garis-garisnya bukan batas, melainkan luka yang menunggu dijahit.

 Kompas kehilangan utara saat kau lupa pulang.

 Di sudut desa, jalan berdebu berdoa diam-diam, memanggil langkahmu kembali menjadi arah langkah bangsa. 


3. Menunggu Suara 

 Dinding sekolah yang retak, ia memanggil seperti ibu tua renta.

 Papan tulis itu menelan sunyi, menunggu suaramu menyalakan pagi.

 Kapur itu adalah harapan yang ingin digenggam lagi.

 Anak-anak menulis masa depan, dengan tinta yang menunggu tanganmu hadir.


4. Tanah yang Menyebut Namamu  

 Tanah merah, menyebut namamu tanpa suara.

 Ia bukan sekadar pijakan, melainkan tubuh yang merindukan pijar. 

 Hujan turun seperti pesan yang belum kau baca.

 Di setiap lumpur, ada doa yang menunggu disentuh oleh langkah pengabdian. 


5. Cahaya yang Telah Pulang 

 Dan ketika kau pulang, cahaya tak lagi sekadar kilau dari negeri asing, 

 menjelma matahari, menetap di langit yang lama menahan rindu, 

 Negeri ini tersenyum dalam bahasa ibu 

 pengabdianmu bukan untuk kembali—melainkan menemukan dirimu sebagai putra putri Indonesia.


Madiun, 28 Maret 2026

Posting Komentar

0 Komentar