005

header ads

Jangan Mengejar Kupu-Kupu, Bangunlah Banyak Taman

 

oleh Fileski Walidha Tanjung

Gagasan tulisan ini berawal dari obrolan singkat siang tadi, antara saya, Mbak Neny Voice Corner, dan Risti Panjali di ruang tunggu Juri lomba menyanyi. Sebelum kami mengumumkan para pemenang hasil lomba. Risti Panjali sempat membahas Reboan Musik yang semakin lama makin asik, makin ramai pengunjung. Belakangan, saya semakin jarang datang ke Reboan Musik. Bukan karena saya kehilangan cinta kepada musik atau tidak lagi menghargai kerja keras teman-teman yang merawat ruang tersebut. Justru sebaliknya. Saya melihat Reboan Musik telah tumbuh menjadi sebuah peristiwa yang berhasil. Pengunjung datang, musisi berdatangan, dan bahkan mereka yang ingin tampil harus menunggu giliran. Sebuah ruang telah menemukan denyutnya.


Namun kegelisahan saya tidak berhenti di sana.


Sebab ramainya sebuah tempat bukanlah tujuan akhir dari pembangunan peradaban seni dan budaya. Keramaian dapat menjadi tanda keberhasilan, tetapi belum tentu menjadi bukti bahwa sebuah ekosistem telah tumbuh dengan sehat. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah satu ruang berhasil hidup, apakah kehidupan itu mampu mengalir ke ruang-ruang lain? Apakah keberhasilan satu tempat melahirkan tempat baru? Apakah keramaian menghasilkan regenerasi, pertemuan, pertukaran gagasan, dan peluang baru?


Ataukah semua orang akhirnya hanya berkumpul di satu titik?


Saya membayangkan Madiun memiliki banyak spot kebudayaan. Bukan sekadar tempat nongkrong yang sesekali mengadakan pertunjukan, melainkan ruang-ruang yang memiliki identitas, gagasan, dan fungsi kebudayaan masing-masing. Ada tempat yang dikenal sebagai rumah bagi musik. Ada ruang yang identik dengan diskusi buku dan sastra. Ada tempat yang menjadi ruang pamer dan percakapan seni rupa. Ada pula titik yang secara konsisten membuka panggung bagi teater, tari, film, atau bentuk-bentuk kesenian lainnya.


Setiap tempat tidak harus melakukan semuanya.


Justru setiap tempat perlu memiliki ciri khas.


Sebuah ruang yang kuat di musik dapat menjadi tempat bagi musisi-musisi Madiun, terutama musisi indie, untuk memperkenalkan karya baru melalui pertunjukan intim. Bukan selalu panggung besar dengan pengeras suara yang menggelegar, melainkan ruang yang memungkinkan musisi dan pendengar bertemu dalam jarak dekat. Lagu baru bisa diperkenalkan sebelum masuk ke berbagai platform digital. Musisi dapat menceritakan proses kreatifnya. Pendengar tidak hanya menikmati lagu, tetapi memahami cerita yang melahirkan lagu tersebut.


Di tempat lain, buku-buku baru karya penulis Madiun dapat diperkenalkan melalui diskusi dan bedah karya. Seorang penulis tidak harus menunggu undangan festival besar untuk berbicara tentang bukunya. Ia bisa bertemu dengan pembaca di kotanya sendiri. Sebuah novel bisa diperdebatkan. Puisi dapat dibaca dan ditanggapi. Cerita pendek dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan manusia dan kehidupan.


Ruang lainnya dapat menjadi rumah bagi para perupa. Pameran kecil, diskusi karya, pertemuan antara pelukis senior dan perupa muda, bahkan obrolan sederhana tentang proses kreatif dapat berlangsung secara rutin. Seni rupa tidak lagi hanya hadir ketika ada pameran besar atau seremoni pembukaan. Ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.


Begitu pula teater dan tari. Madiun membutuhkan ruang yang memungkinkan karya bertumbuh sebelum memasuki panggung besar. Pertunjukan kecil, pembacaan naskah, latihan terbuka, diskusi sutradara, hingga perjumpaan antara penari dan penonton dapat menjadi bagian dari kehidupan kota.


Yang saya bayangkan bukanlah satu gedung besar yang menjadi pusat seluruh kebudayaan. Saya membayangkan banyak titik kecil yang saling terhubung.


Banyak ruang.


Banyak suara.


Banyak pertemuan.


Selama ini, salah satu persoalan yang sering muncul dalam ruang kebudayaan adalah sirkulasi. Sebuah tempat akhirnya didatangi oleh orang-orang yang itu-itu saja. Mereka saling mengenal, memiliki lingkaran pertemanan yang kuat, bahkan terkadang memiliki bahasa sosial yang sulit dimasuki orang baru. Ruang yang semula terbuka perlahan berubah menjadi markas.


Orang baru datang, melihat semua orang sudah saling mengenal, lalu merasa dirinya hanya sebagai tamu.


Padahal ruang kebudayaan seharusnya memberi perasaan sebaliknya.


Seseorang harus bisa datang tanpa mengenal siapa pun dan tetap merasa diterima. Ia boleh berbicara, tetapi juga boleh diam. Ia boleh membawa gagasan baru. Ia boleh berbeda. Ia boleh belum memiliki karya. Ia boleh datang hanya karena ingin tahu.


Sebab kebudayaan bukan hanya milik mereka yang sudah merasa sebagai seniman.


Kebudayaan juga milik mahasiswa yang sedang mencari arah, siswa yang baru belajar menulis puisi, pekerja yang ingin mendengarkan musik setelah seharian bekerja, ibu yang tertarik membaca buku, anak muda yang sedang membuat desain kaos, hingga seseorang yang datang karena sekadar penasaran.


Di sinilah pentingnya jejaring.


Satu ruang tidak perlu melihat ruang lain sebagai pesaing. Sebaliknya, ruang-ruang kebudayaan perlu saling mengalirkan manusia, gagasan, dan karya. Musisi yang tampil di satu tempat dapat diundang berdiskusi tentang proses kreatifnya di ruang lain. Seorang penulis dapat berkolaborasi dengan musisi. Pelukis dapat membuat karya dalam sebuah pertunjukan musik. Teater dapat membaca karya sastra. Mahasiswa dapat mempertemukan gagasan akademik dengan praktik seni.


Kebudayaan tumbuh melalui perjumpaan.


Dan perjumpaan membutuhkan jalan.


Karena itu, membangun spot kebudayaan bukan hanya soal menyediakan tempat. Yang lebih penting adalah membangun jalan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya. Jalan itu bernama kolaborasi, kepercayaan, keterbukaan, dan kesediaan untuk berbagi panggung.


Ekosistem seni budaya juga tidak dapat berdiri sendiri tanpa keterlibatan sektor lain. Seni membutuhkan ekonomi kreatif agar dapat terus bergerak. Kita dapat melihat bagaimana perjalanan banyak musisi tidak hanya bertumpu pada penjualan tiket atau jumlah pendengar. Kehadiran merchandise, desain visual, produksi kaos, poster, hingga berbagai produk kreatif menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut.


Keberhasilan Band Perunggu, misalnya, menunjukkan bahwa karya musik dapat bertemu dengan dunia kreatif yang lebih luas. Ketika sebuah band memiliki identitas yang kuat, identitas itu dapat diterjemahkan oleh para desainer, pembuat merchandise, ilustrator, dan pelaku usaha kreatif. Musik kemudian tidak berjalan sendirian.


Ada anak muda yang membuat desain kaos.


Ada ilustrator yang menciptakan visual.


Ada pelaku UMKM yang memproduksi barang.


Ada penjual makanan dan minuman yang hidup karena sebuah peristiwa.


Ada fotografer dan videografer yang mendokumentasikan perjalanan karya.


Ada pengelola media sosial yang memperluas jangkauan.


Sebuah pertunjukan seni akhirnya bukan sekadar pertunjukan. Ia menciptakan pergerakan ekonomi sekaligus pertemuan sosial.


Karena itu, ketika berbicara tentang ekosistem kebudayaan Madiun, saya tidak hanya membayangkan musisi, penulis, pelukis, penari, dan aktor. Saya juga membayangkan para pelaku UMKM. Para pembuat merchandise. Desainer grafis. Penjual makanan. Pengusaha kecil. Pengelola ruang. Fotografer. Pembuat konten. Mereka semua dapat menjadi bagian dari peradaban kreatif yang sama.


Ada sebuah pepatah yang sering kita dengar: jangan mengejar kupu-kupu, tetapi buatlah taman. Maka kupu-kupu akan datang.


Bagi saya, Reboan Musik telah menjadi sebuah taman yang indah. Banyak kupu-kupu datang ke sana. Musisi, penonton, pekerja kreatif, dan masyarakat bertemu dalam satu ruang. Taman itu telah membuktikan bahwa ketika sebuah ruang dirawat dengan konsisten, orang akan datang.


Namun pertanyaan berikutnya justru lebih penting.


Apakah kita akan membiarkan hanya ada satu taman?


Apakah satu taman harus sendirian melawan musim? Menanggung seluruh beban keramaian? Menjadi satu-satunya tempat yang harus terus hidup, sementara ruang-ruang lain belum bertumbuh?


Sebab sebuah taman pun dapat mengalami musim sepi.


Kebudayaan yang sehat tidak seharusnya menggantungkan seluruh hidupnya pada satu tempat. Kita membutuhkan banyak taman. Taman musik. Taman sastra. Taman seni rupa. Taman teater. Taman tari. Taman film. Bahkan taman-taman kecil yang mempertemukan semua bentuk kesenian secara bergantian.


Semakin banyak taman tumbuh, semakin banyak kupu-kupu yang dapat terbang.


Mereka tidak hanya berkumpul di satu tempat. Mereka bergerak dari satu taman ke taman lainnya. Membawa serbuk sari berupa gagasan, pengalaman, karya, dan jaringan. Dari pergerakan itulah kehidupan baru muncul.


Inilah yang kita butuhkan: sirkulasi.


Sirkulasi pengunjung baru.


Sirkulasi seniman.


Sirkulasi gagasan.


Sirkulasi karya.


Sirkulasi ekonomi kreatif.


Sirkulasi kesempatan.


Keramaian satu tempat tentu membahagiakan. Tetapi peradaban tidak dibangun hanya dengan membuat satu tempat selalu penuh. Peradaban dibangun ketika banyak ruang hidup dan saling menghidupkan.


Mungkin Madiun tidak harus menunggu memiliki gedung kebudayaan yang megah untuk memulai semuanya. Kita dapat memulainya dari kafe kecil, halaman rumah, ruang komunitas, toko buku, pendapa, taman, atau sudut kota yang selama ini belum kita lihat sebagai ruang kebudayaan.


Yang kita perlukan adalah keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk terhubung.


Sebuah tempat tidak perlu menjadi yang terbesar. Ia hanya perlu menjadi rumah bagi sesuatu.


Rumah bagi musik.


Rumah bagi buku.


Rumah bagi lukisan.


Rumah bagi teater.


Rumah bagi tari.


Kemudian rumah-rumah itu saling membuka pintunya.


Sebab pada akhirnya, tujuan kebudayaan bukan hanya membuat orang datang dan berkerumun. Ada sesuatu yang lebih esensial. Kebudayaan seharusnya membuat manusia pulang dengan membawa sesuatu: gagasan baru, pertemanan baru, keberanian baru, bahkan mungkin sedikit kesembuhan dari kegelisahan yang selama ini dipendam sendirian.


Saya percaya, Madiun dapat memiliki banyak taman.


Dan ketika taman-taman itu tumbuh, kita tidak perlu lagi mengejar kupu-kupu.


Kupu-kupu akan datang.


Lalu terbang dari satu taman ke taman lainnya.


Dan di antara kepakan sayap itulah, mungkin sebuah peradaban seni dan budaya yang lebih maju sedang tumbuh.


Posting Komentar

0 Komentar