005

header ads

Bukan Sekadar Partitur, Ini Perjalanan Puisi Menjadi Musik Ananda Sukarlan

Oleh: Fileski Walidha Tanjung

Ada pengalaman tertentu dalam perjalanan seorang penyair ketika sebuah puisi yang semula hanya hidup di atas kertas tiba-tiba menemukan tubuh baru. Kata-kata yang selama ini dibaca dalam kesunyian berubah menjadi bunyi, memiliki napas, tempo, jeda, dan akhirnya suara manusia.


Saya mengalami peristiwa itu ketika puisi saya, “Yang Menyala dalam Senyap”, masuk dalam Tembang Puitik Jilid 11 karya komponis Ananda Sukarlan.


Bagi saya, masuknya puisi tersebut ke dalam proyek musikal Ananda bukan sekadar sebuah pencapaian personal. Ia memperlihatkan kemungkinan lain dari perjalanan sebuah puisi: bahwa sastra tidak selalu harus berhenti sebagai teks. Puisi dapat berpindah medium, berjumpa dengan musik, dan memperoleh kehidupan baru melalui suara.


Tembang Puitik Jilid 11 memuat 19 karya yang bersumber dari puisi para penyair Indonesia dan Amerika Latin. Di dalamnya terdapat karya Seno Joko Suyono, Afnan Malay, saya sendiri, Hening Wicara, Marlin Dinamikanto, Moch Aldy MA, Putu Fajar Arcana, Rissa Churria, Safri Naldi, Mario Benedetti, Juana de Ibarbourou, Erna Winarsih Wiyono, A.S. Darsa, Ikhsan Risfandi, Mariska Setiawan, Medy Loekito, Nissa Rengganis, dan Yon Bayu Wahyono.


Daftar tersebut menarik bukan hanya karena mempertemukan banyak penyair dengan latar dan karakter kepenyairan yang berbeda, tetapi juga karena mempertemukan puisi Indonesia dengan puisi berbahasa Spanyol. Tiga karya dalam jilid ini berasal dari dua penyair Uruguay, Mario Benedetti dan Juana de Ibarbourou.


Menurut Ananda, ketiga tembang berbahasa Spanyol tersebut merupakan pesanan Kedutaan Besar Uruguay untuk memperingati 70 tahun hubungan diplomatik Uruguay dan Indonesia. Karya-karya itu kemudian diperdanakan di Indonesia oleh Ratnaganadi Paramita di Jakarta, serta Monica Cintia Christy dan Mathilda Ave Mariyorie, dua mahasiswa dari kelas vokal Ika Sri Wahyuningsih, M.Sn., di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.


Ika Sri Wahyuningsih mengatakan “Para vokalis itu dilatih, baik dalam pelafalan maupun dalam pemahaman dan pendalaman puisinya oleh pianis Uruguay yang diundang ke Indonesia saat itu, Mariana Airaudo.” 


Lewat musik sebagai bahasa universal, sastra menjadi lebih komunikatif. 

Di titik ini, Tembang Puitik menjadi lebih dari sekadar pertemuan puisi dan musik. Ia juga menjadi ruang perjumpaan kebudayaan.


Bagi saya, inilah salah satu hal menarik dari kerja musikal Ananda Sukarlan. Ia tidak memperlakukan puisi sekadar sebagai teks yang ditempeli nada. Puisi menjadi sumber penciptaan musikal. Setiap kata, bunyi, metafora, bahkan kemungkinan emosional di dalamnya dapat menjadi pintu masuk bagi komposer untuk membangun dunia musiknya sendiri.


Ananda bahkan mengatakan bahwa ia “kesetrum” oleh metafora dan elaborasi fonetik dalam “Yang Menyala dalam Senyap”. Ia menggambarkan puisi saya sebagai elaborasi keindahan yang berkesinambungan, seperti lembaran buku yang terus terbuka atau deburan ombak yang datang silih berganti.


Mendengar penjelasan itu, saya kembali melihat puisi tersebut dari jarak yang berbeda.


“Yang Menyala dalam Senyap” memang tidak saya tulis dengan kesadaran bahwa suatu hari ia akan menjadi komposisi vokal. Puisi itu bermula dari sebuah gambar yang sangat sederhana: sebuah kitab berdebu di rak rumah yang sunyi.


Dari gambar kecil itu, imajinasi saya bergerak. Debu kemudian menjadi metafora kelalaian. Rak berubah menjadi semacam panggung peradaban. Dari sana muncul kegelisahan tentang manusia yang semakin terbiasa mencari jawaban melalui algoritma, mesin pencari, dan dunia yang serba instan, sementara suara-suara batin dan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman panjang manusia justru perlahan terpinggirkan.


Saya membayangkan kitab sebagai sesuatu yang tidak berteriak. Ia diam, tetapi menyimpan percakapan panjang dengan manusia. Karena itulah saya memilih gagasan tentang sesuatu yang “menyala dalam senyap”.


Ketika puisi itu kemudian diterjemahkan menjadi musik, saya merasa metafora tersebut memperoleh kemungkinan kehidupan yang lain. Jika dalam puisi “senyap” adalah ruang bagi pembaca untuk mendengarkan dirinya sendiri, dalam musik kesenyapan dapat diterjemahkan menjadi jeda, dinamika, tarikan napas, atau bahkan sesuatu yang justru terdengar semakin kuat karena didahului keheningan.


Di situlah saya melihat keistimewaan tembang puitik.


Puisi dan musik sama-sama bekerja dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh bahasa. Puisi memiliki bunyi yang tersembunyi di balik kata-kata. Musik memiliki makna yang tidak selalu membutuhkan kata. Ketika keduanya bertemu, batas antara bahasa dan bunyi menjadi lebih lentur.


Tembang Puitik Jilid 11 juga menghadirkan perjalanan yang lebih luas. Dua puisi karya penyair Indonesia, “Yang Menyala dalam Senyap” dan “Izinkan” karya Medy Loekito, diperdanakan dalam bentuk tembang puitik di Melbourne, Australia, pada 30 Mei 2026, dalam konser bertajuk Songs from Within di Music Valley, Point Cook.


Kedua karya tersebut dibawakan oleh soprano Indonesia yang bermukim di Australia, Elizabeth Rusli, dengan iringan piano Joseph Beckitt.


Ada sesuatu yang menarik ketika puisi yang lahir dalam bahasa Indonesia kemudian dibawa ke panggung Australia. Ia tidak lagi hanya berhadapan dengan pembaca Indonesia. Ia memasuki ruang dengar yang lebih luas. Terjemahan bahasa Inggris dalam buku program memungkinkan penonton yang tidak memahami bahasa Indonesia mengikuti gagasan, metafora, dan ekspresi yang terkandung di dalamnya.


Bagi saya, perjalanan semacam ini menunjukkan bahwa bahasa tidak selalu menjadi tembok bagi karya sastra. Justru melalui musik, sebuah puisi dapat mencari jalan lain untuk berkomunikasi.


Hal serupa tampak pada puisi “Izinkan” karya Medy Loekito. Puisi yang hanya terdiri dari tiga baris itu menjadi salah satu contoh menarik tentang bagaimana kepadatan bahasa dapat memantik penciptaan musikal. Ananda menceritakan bahwa sekitar dua puluh menit setelah Medy mengirimkan puisi tersebut melalui WhatsApp, ia sudah mengirimkan kembali partiturnya.


Saya membayangkan pengalaman itu sebagai bentuk dialog yang sangat intens antara penyair dan komponis: sebuah puisi dikirim sebagai teks, kemudian beberapa saat kemudian kembali sebagai musik.


Tentu, Tembang Puitik Jilid 11 tidak berdiri sendiri dalam perjalanan panjang Ananda Sukarlan. Ia mengatakan bahwa hingga kini telah menggubah lebih dari 600 tembang puitik dari puisi berbahasa Inggris, Spanyol, dan Indonesia.


Menariknya, perjalanan tersebut juga memiliki sejarah panjang. Ananda masih mentranskripsi karya-karya yang ditulisnya sebelum 1998, ketika penulisan notasi musik dengan komputer belum seperti sekarang. Ia memperkirakan masih ada sekitar 200 tembang puitik dari periode tersebut yang belum dikompilasi, terutama yang bersumber dari penyair berbahasa Spanyol dan Inggris.


Sementara tembang puitik dari puisi Indonesia mulai ia garap pada 2005, antara lain dari puisi-puisi Sapardi Djoko Damono.


Dengan demikian, Jilid 11 bukan sekadar sebuah buku baru. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang seorang komponis dalam mempertemukan musik dan puisi.


Bagi para penyair yang karyanya terdapat di dalamnya, termasuk saya, pengalaman ini juga mengajarkan sesuatu yang penting: sebuah puisi tidak pernah benar-benar selesai ketika penyair menuliskan titik terakhir.


Ia masih mungkin dibaca. Ditafsirkan. Diterjemahkan. Dinyanyikan. Bahkan mungkin ditemukan kembali dalam bentuk yang tidak pernah dibayangkan ketika pertama kali ditulis.


Saya merasa beruntung karena “Yang Menyala dalam Senyap” memperoleh kesempatan mengalami perjalanan tersebut.


Lebih dari kebanggaan pribadi, saya melihat Tembang Puitik Jilid 11 sebagai sebuah ruang perjumpaan. Penyair bertemu komponis. Kata bertemu nada. Bahasa Indonesia bertemu bahasa Spanyol. Tradisi sastra bertemu musik vokal. Dan karya yang lahir dari ruang personal seorang penyair dapat bergerak menuju ruang publik yang lebih luas.


Pada akhirnya, mungkin itulah salah satu cara seni mempertahankan kehidupan: terus berpindah medium, terus menemukan pembaca dan pendengar baru.


Sebuah puisi mungkin lahir dalam kesunyian.


Tetapi ketika ia bertemu musik, kesunyian itu dapat menemukan suaranya sendiri.


Dan saya bersyukur, salah satu suara itu kini menjadi bagian dari Tembang Puitik Jilid 11 Ananda Sukarlan.




Posting Komentar

0 Komentar