005

header ads

GUNUNG YANG TAK BERPUNCAK | Cerpen Fileski Walidha Tanjung

 

GUNUNG YANG TAK BERPUNCAK 

Cerpen: Walidha Tanjung Fileski


dimuat Koran Radar Utara 30 Juni 2024 


Rembulan tampak bulat terang dari barat, mengintip dari balik pohon trembesi. Kabut mulai turun, menambah hening suasana desa di malam ini. Meskipun malam hari, tetap tampak dari kejauhan terlihat bukit, ladang, dan sawah-sawah bermandi cahaya purnama. Di desa ini, segalanya aman, tentram, subur dan makmur, tak ada perselisihan. Semua harmoni menjalani tuntunan agama dan keyakinan masing-masing, meskipun berbeda-beda namun semua merujuk pada Ketuhanan Yang Maha Esa, membuat masyarakat di desa ini bisa hidup rukun dan damai. 


Kehidupan rukun ini tidak serta merta ada karena aturan dan hukum adat yang sudah melekat, namun lebih pada kebiasaan masyarakat yang mampu menahan diri untuk hidup sederhana dan secukupnya. Dalam arti tidak berlebih-lebihan. Semuanya hidup bersahaja, baik dari kalangan masyarakat hingga para pejabatnya. 


Salah satunya Ki Lurah Balong Asri. Ia adalah sosok yang sangat arif, bijaksana serta adil. Ia dipercaya masyarakat sebagai orang yang sakti, memiliki ilmu yang mampu memimpin masyarakat desa ini sehingga semua jadi rukun dan damai. Ia sosok pemimpin yang berbudi luhur, dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang bersahaja dan suka membantu, terutama kepada orang-orang miskin. Dia lebih mementingkan kepentingan masyarakat daripada urusan pribadi. Itulah mengapa desa ini dikenal subur, makmur, aman sentosa, gemah ripah loh jinawi. 


Ki Lurah Balong Asri memiliki tiga pusaka berupa keris. Pertama bernama Keris Naga Ratnala, yang artinya Keris Naga Berlian. Keris ini dikenal karena bilahnya yang berkelok-kelok indah menyerupai tubuh naga. Pamornya berkilauan seperti berlian, diyakini memancarkan cahaya terang saat digunakan dalam situasi genting. Konon katanya naga yang terpahat pada keris ini adalah pelindung spiritual desa ini, mampu memanggil hujan saat kekeringan dan mengusir roh jahat.


Pusaka yang kedua bernama Keris Surya Swarnata, yang artinya Keris Matahari Emas, memiliki gagang dan sarung yang terbuat dari emas murni, berkilauan seperti matahari terbit. Bilahnya lurus dan ramping, dengan pamor bermotif api yang menyala-nyala. Keris ini diyakini membawa keberuntungan dan kemakmuran bagi penggunanya. Konon katanya para leluhur di zaman dahulu kala menggunakan keris ini untuk membuka ladang pertanian yang subur dan menarik rezeki yang melimpah. Seseorang yang membawa keris ini, dipercaya mempunyai wibawa yang membuatnya disegani dan mampu mengerahkan masyarakat untuk bergotong royong. 


Pusaka yang ketiga bernama Keris Meghadwaja, yang artinya Keris Guruh Perunggu. Keris ini memiliki bilah bergelombang seperti lidah petir, dan pamornya bermotif awan mendung. Gagang dan sarungnya terbuat dari perunggu antik yang kuat dan kokoh. Keris ini melambangkan kekuatan dan keadilan. Konon, keris ini berdengung seperti guntur ketika digunakan untuk membela keadilan dan melawan penindasan.


Leluhur dari Ki Lurah mewariskan ketiga keris pusaka itu kepada keturunannya, dengan harapan siapa yang memegangnya bisa menggunakannya dengan bijaksana, untuk menjaga keharmonisan dan kemakmuran desa ini. Legenda tentang ketiga keris pusaka ini terus diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi pengingat akan pentingnya kekuatan, keadilan, dan kemakmuran.


Suatu hari Ki Lurah kedatangan tamu, seorang yang juga sakti, ia adalah teman seperguruan ketika masa mudanya belajar ilmu kanuragan, ia bernama Ki Pamungkas. Dalam kedatangannya ke rumah Ki Lurah, Ki Pamungkas menceritakan perihal kesaktian Keris Tundung Madiun. Pusaka sakti yang kini entah dimana keberadaannya. Ki Pamungkas bercerita, jika Tundung Madiun bisa ditemukan lagi, dan ditempatkan di tanah Madiun, maka kejayaan Madiun Raya akan kembali terulang seperti zaman dahulu kala. 


Diam-diam ternyata ketiga keris pusaka milik Ki Lurah ikut penyimak apa yang diceritakan Ki Pamungkas. Tak lama Ki Pamungkas bertamu di rumah Ki Lurah, dan pamit untuk melanjutkan perjalanan. Ki Pamungkas yakin perjalanannya kali ini akan bisa menemukan Keris Tundung Madiun dan mengembalikannya lagi ke Madiun.


Usai pertemuan kedua tokoh itu, suasana pun hening. Waktu menunjukkan tengan malam. Ki Lurah pun menuju kamar pribadinya, untuk istirahat. Tak lama setelah itu, terdengar suara kemelotak di ruang pusaka. Ki Lurah mendengar itu, namun ia berpikir itu hal biasa. “Wah pusaka-pusaka itu mulai berisik, sebentar lagi tanggal 1 Suro, sudah waktunya mereka dijamas.” Ujar Ki Lurah dalam hati. 


Pagi pun tiba, Ki Lurah terkejut. Ruang pusakanya berantakan. Dan peti kayu tempat meletakkan tiga keris itu telah terbakar jadi abu. Jelas ini bukan perbuatan manusia. Pencuri tak akan bisa masuk ruang pusaka pribadinya. Ia bertanya tanya, ada apa dengan ketiga pusaka itu, ada hal yang tak wajar, mereka harus segera ditemukan, jangan sampai pusakanya dipegang oleh orang yang salah.


*** 


Di puncak gunung Wilis, ketiga keris itu bertarung. Namun entah di puncak yang mana, seperti gunung yang tak memiliki puncak. Karena tidak seperti gunung Lawu yang puncaknya jelas, gunung Wilis tidak bisa diketahui mana puncak yang tepat. Karena ada banyak puncak. Intinya ketiga keris itu sedang bertarung, mereka bertiga menjelma jadi tiga pemuda gagah. Mereka terus bertarung untuk membuktikan siapa yang terkuat, mereka saling baku hantam. Saking dahsyatnya pertarungan mereka, membuat selama satu bulan tidak turun hujan, padahal ini musim hujan, setiap hari seharusnya turun hujan. Para petani pun mengeluh kekeringan, sawahnya tidak mendapatkan pengairan.


Pun selama satu bulan ini, masyarakat desa seperti mendengar dentuman bom dari arah gunung Wilis, namun masyarakat tidak tahu, kalau itu suara dari pertarungan tiga pusaka milik Ki Lurah. Ada yang menganggap itu cuma suara guntur, ada juga yang mengira itu suara larva dalam perut gunung Wilis. 


“Surya dan Meghad, akulah pemenangnya, terimalah ajian pamungkas ini, kalian pasti patah!!!” Teriak sang Naga Ratnala yang bersiap menghantamkan tenaga dalam pada kedua rivalnya. 


Tiba-tiba saja Ki Lurah dan Ki Pamungkas muncul, keduanya berlari ke tengah untuk melerai ketiga pusaka itu. “Hentikannn!!!” teriak Ki Lurah, namun tak dihiraukan oleh ketiga pusakanya. 


Terpaksa Ki Pamungkas mengeluarkan solusi terakhir. Di tangannya ia keluarkan satu pusaka, yang cahayanya sangat menyilaukan. Ki Lurah terkejut dengan getaran energi dari keris itu. Dengan komat kamit membaca mantra, Ki Pamungkas mengarahkan keris itu ke titik target tiga pusaka yang sedang bertarung. Keris itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang dan terjadi ledakan yang sangat dahsyat.


***


Dampak dari ledakan itu membuat ketiga keris itu patah di bagian ujungnya. Yang tadinya berukuran 47 cm, 48 cm, dan 50 cm. Karena mengalami patah, kini ketiganya mempunyai panjang sama rata, 45 cm. Semenjak saat itu, desa kembali aman tentram, tidak ada lagi keributan. Ketiga keris itu diamankan Ki Lurah dan ditempatkan pada ruang pusaka. Dan ternyata keris yang dibawa Ki Pamungkas adalah Keris Tundung Madiun. (*)






Posting Komentar

1 Komentar

  1. Berikut 10 poin filosofi atau hikmah yang dapat ditarik dari cerpen Gunung yang Tak Berpuncak. Saya mencoba membacanya bukan hanya sebagai kisah keris dan dunia mistik, tetapi sebagai alegori tentang manusia, kuasa, dan kehidupan.

    1. Kedamaian lahir dari kemampuan menahan diri, bukan sekadar aturan
    Desa menjadi tenteram bukan karena hukum yang keras, tetapi karena masyarakat hidup secukupnya dan tidak berlebihan. Pesannya: peradaban yang sehat dibangun oleh pengendalian diri, bukan sekadar pengawasan.


    2. Pemimpin besar adalah yang mendahulukan kepentingan bersama
    Ki Lurah digambarkan dicintai bukan karena kesaktiannya, tetapi karena kesederhanaan dan pengabdiannya. Kekuasaan yang sejati tidak bertumpu pada kekuatan, melainkan pada ketulusan melayani.


    3. Kekuatan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi bencana
    Ketiga keris diwariskan untuk menjaga harmoni, tetapi justru bertarung demi membuktikan siapa paling unggul. Ini mencerminkan bahwa kemampuan sehebat apa pun akan merusak bila kehilangan tujuan moral.


    4. Kesombongan lahir dari hasrat menjadi yang paling unggul
    Konflik tiga keris bermula dari dorongan membuktikan siapa yang terkuat. Banyak kerusakan dalam hidup manusia lahir bukan dari kebutuhan, melainkan dari ego.


    5. Pertarungan elit sering kali menyengsarakan rakyat kecil
    Saat pusaka bertarung, yang menderita justru petani: hujan berhenti dan sawah mengering. Ini seperti sindiran sosial—perseteruan orang kuat sering dibayar oleh masyarakat biasa.


    6. Tidak semua gunung memiliki satu puncak; hidup juga demikian
    Gunung Wilis digambarkan seperti gunung tanpa puncak yang jelas. Ini dapat dimaknai bahwa hidup tidak selalu memiliki satu tujuan tunggal. Kebenaran, kesuksesan, dan kebijaksanaan kadang memiliki banyak jalan.


    7. Warisan leluhur bukan benda, melainkan nilai
    Tiga keris bukan sekadar pusaka fisik. Mereka melambangkan keadilan, kemakmuran, dan perlindungan. Pesannya: yang penting diwariskan antargenerasi adalah nilai hidup, bukan hanya benda.


    8. Kadang sesuatu harus “dipatahkan” agar kembali seimbang
    Ketiga keris harus kehilangan ujungnya agar berhenti bertikai. Ada kalanya ego, ambisi, atau keangkuhan dalam diri manusia perlu “dipatahkan” agar kehidupan kembali damai.


    9. Kemenangan sejati bukan mengalahkan orang lain, tetapi mengendalikan diri
    Ketiga keris ingin menang atas lawan, namun setelah dipaksa berhenti, semuanya menjadi sama panjang. Ini mengandung pesan bahwa obsesi menjadi paling tinggi sering berakhir sia-sia.


    10. Manusia sering mencari pusaka besar di luar, padahal ancaman ada di dalam diri sendiri
    Ki Pamungkas mencari Keris Tundung Madiun karena diyakini membawa kejayaan. Namun masalah terbesar ternyata bukan pusaka yang hilang, melainkan pusaka yang sudah dimiliki tetapi kehilangan kendali. Kadang yang merusak hidup bukan kekurangan, melainkan apa yang kita miliki sendiri.



    Yang menarik, cerpen ini terasa seperti kisah pewayangan atau legenda, tetapi sesungguhnya berbicara tentang persoalan modern: ego kekuasaan, perebutan pengaruh, dan krisis moral manusia. Tiga keris itu bisa dibaca sebagai simbol manusia sendiri—akal, kekuatan, dan ambisi—yang jika saling bertarung akan membuat “musim hujan” kehidupan berubah menjadi kemarau.

    BalasHapus

Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.