Puisi Aldian Dahoklory-Musim Politik - negerikertas.com

INFO ATAS

LEMBAGA INDEPENDEN DI BIDANG PENDIDIKAN LITERASI, SENI BUDAYA, DAN SASTRA.

23 Nov 2023

Puisi Aldian Dahoklory-Musim Politik



Musim Politik


Gerimis dari ucapan abunawas mencucurkan pelumas

Ketika matanya terkupas melihat alas kursi yang manis

Di tengah tangis yang masih bersahutan begitu keras


Hujan itu basah seperti sapaan dari mereka yang mengemis nama di tiris rumah tangga yang krisis

Hujan itu basi seperti wacana lisan yang minim kosa kata, sampai

Tanah yang kering sekalipun tak terima untuk dikelola dengan nama jabatan yang menjilati sumpah


Awan biru muda itu menyanyikan sebuah  lagu bernada palsu yang diciptakan sang juara pemilu

Mendung itu bersenandung berseru tentang tanah yang hilang, hak yang hilang, hutan yang ditebang, atau kewarasan yang kering dan tentang tangisan anak kecil pelosok yang ditipu dengan lidah yang cerdik


Ini musim yang suram dan bila saatnya telah tiba 

Mulut akan menyebut, dompet akan mengikat dan kalimat pembujuk

Mulai datang memeluk dengan sejuk dan di balik semuanya, telah tersedia rujak janji yang busuk di hari esok


Kata dunia "Kita sudah berada dalam sebuah musim politik yang begitu meriah"

Gerimis itu mengulas tentang rumus politik yang kini merintis jalan tikus menuju harapan yang tandus

Banjir masih terus mengalir seperti ular yang menutur cinta demi negeri yang melahirkannya


Kita perlu menjadi terik matahari yang terbit untuk membaca taktik pada musim politik

Sebab kecewa sudah tumbuh pada batin yang terluka

Kesakitan sudah subur di atas kepercayaan yang sudah sirna


Hadiri pesta demokrasi yang akan datang nanti

Terapi, janganlah mabuk dalam ombak yang di ucap 

Apalagi larut dalam selimut manis yang disebut

Meski daun yang layu terus merayu dahan kayu yang rapuh


Ingat, ingat dan ingatlah 

Beberapa kali kita harus rela dilukai

Berapa banyak lagi luka yang harus dialami

Berapa banyak sakit yang harus disembuhkan lagi


Bagi semua yang terlupakan

Semua yang pernah terluka

Semua yang pernah berdarah

Bukalah mata, hati dan telinga untuk melihat 

Lebih jauh tentang ketulusan hati, sebelum jatuh hati


Ambon, 22 November 2023


Aldian Dahoklory, pria kelahiran Yawuru, 16 Oktober 2002. Pecinta Puisi. Statusnya sebagai Mahasiswa Universitas Pattimura, jurusan Bahasa dan Seni, Program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. 



Editor: Firman Wally

INFO BAWAH

NB: Untuk saat ini, Negeri Kertas belum bisa memberikan honor untuk karya (Puisi/Cerpen) yang tayang.