005

header ads

Cerpen "PERASAAN PERTAMA" | Anjrah Lelono Broto

 

Perasaan Pertama

Oleh Anjrah Lelono Broto

 


Ilustrasi Perasaan Pertama (copyright: pinterest.com)

     Aku dan istriku saling memandang. Ribuan tanda tanya berjumpalitan di antara kepala kami. Sekali lagi, mata kami mengarah kepada ponsel Putri. Baru saja, beberapa pesan WA dalam ponsel anak kami tersebut kami baca. Ribuan lebah terasa mendaratkan sengatan penghabisannya di tubuh kami, Putri, siswi kelas empat sebuah sekolah dasar telah saling mengirim pesan tentang cinta dengan teman sebayanya.

     “Pa,”

     “Putri tidak tahu kan kita mengintip ponselnya?” istriku menggeleng. “Besok, Mama saja yang berbicara dengannya,”

     “Papa takut?”

     “Dialog sesama perempuan kan nyaman, Ma,”

     “Tapi sebagai lelaki, Papa kan bisa menebak apa yang disukai Putri dari pacarnya itu,” senyumku menyembul sejenak. “Pa, masih ingat gadis pertama yang menawan hatimu?” lanjut istriku seraya bergerak keluar kamar, ponsel Putri menaut di genggamannya.

     “Lho, belum dijawab, Mama koq sudah pergi?”

     “Mama tak butuh jawaban, Papa, masa lalu,” tawa kecilnya mengiringi goyangan pinggul itu hilang di balik pintu kamar.

    Malam memberi ruang untuk mengingat kembali ketika bayangan-bayangan perempuan dari masa lalu. Hingga bayangan perempuan dari tanah kelahiran itu berkelebat lugu. Aku kembali dihantar pada tambak bandeng milik almarhum bapak, ibuku yang guru SD di desa terpencil, terutama bayangan gadis kecil berkepang dua itu.

     Kuingat, bapak selalu menggelar acara tasyakuran setiap musim panen bandeng. Biasanya pada acara tasyakuran seperti itu, Bapak dan Ibu mengundang sanak-kerabat, teman sejawat, serta tetangga-tetangga sekitar ke rumah. Karena acara tasyakuran ini sebagai wujud syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat berupa bandeng kepada keluargaku, maka menu wajib yang harus ada sebagai suguhan bagi para undangan berbahan dasar bandeng. Mulai dari dipresto, dibumbu kare, hingga digoreng biasa kemudian di-cepret dengan sambal tomat.

     Untuk menu bandeng yang terakhir ini, sambal tomat racikan Ibu terasa paling mantap.

     Waktu itu, menurutku, mungkin karena masa kecil Ibu yang sedikit “kurang nyaman” membuatnya piawai membuat sambal. Sekilas, dari tuturan Ibu sendiri, Bapak, serta beberapa kerabat yang lain. Ibu dibesarkan dalam keluarga yang sarat dengan “perjuangan”, Simbah Kakung yang anggota ABRI (sekarang TNI, pen) seringkali berpindah-pindah tugas. Tentu saja, Simbah Kakung membawa serta semua anggota keluarganya saat bertugas di daerah yang baru.

     Ach, seperti halnya “anak tangsi”nya Romo Mangun dalam novel “Burung-Burung Manyar”, ibu di waktu kecil juga sering berpindah-pindah tempat tinggal, dari komplek ke komplek rumah dinas tentara. Sementara penghasilan anggota ABRI dan tuntutan biaya hidup pada masa itu boleh dikata berat. Ibu sebagai anak tertua, sejak kecil dididik untuk disiplin dan ikut bertanggung jawab pada urusan-urusan rumah tangga, seperti memasak, mencuci, juga momong paklik-bulik.

       Teman-teman sekelasku biasanya juga diundang Bapak dan Ibu dalam acara tasyakuran musim panen bandeng. Namun, karena masih anak-anak, Bapak dan Ibu mengemasnya dalam acara tersendiri. Biasanya dilakukan usai pulang sekolah, dengan dipimpin doa oleh Ustadz Achmadi, serta diakhiri dengan shalat dhuhur berjama’ah di masjid jami’ satu-satunya di desaku.

     Semua teman sekelas mendapat undangan. Jikalau teman-teman laki-laki cenderung “bebas” di rumahku karena memang mereka telah sering bermain denganku dan adikku Irfan, maka teman-teman perempuan cenderung menjadi tamu yang “manis” di ruang tamu rumahku. Duduk manis. Menjawab sapa dengan manis. Berbincang dengan teman yang lain juga serba manis. Mungkin itu memang karakter perempuan? Atau mungkin juga karena tuntutan adab sopan-santun?.

     Di antara mereka yang suka serba manis, ada Erviana. Teman-teman sekelasku biasanya memanggilnya dengan sebutan Ana. Teman perempuan yang satu ini memang sudah menarik perhatianku sejak kepindahannya ke sekolahku, kelas dua dulu. Erviana adalah anak pindahan dari sebuah sekolah dasar di kota. Ayahnya adalah seorang pegawai Pemda, kata Bapak. Artinya, Erviana memiliki gaya berpenampilan yang sedikit berbeda dengan teman-teman perempuan seusiaku di desaku kala itu. Kulitnya putih bersih. Rambutnya hitam bergelombang dan selalu dikepang dua. Jepit rambut kecil senantiasa menjadi penghias di alun gelombang rambutnya. Setiap memandang Erviana yang manis, mataku seperti melihat makhluk dari planet lain yang besar kemungkinan penduduknya juga manis-manis.

     Berbeda dengan rata-rata kulit teman-teman perempuan sekelas lainnya yang sawo matang, bahkan beberapa di antaranya ada yang hitam mengkilap karena terbakar sengatan panas matahari, kulit Erviana tampak paling bersinar-berkilau. Memang orang tua Erviana dikaruniai kulit yang putih. Apalagi, mereka adalah keluarga yang cukup berada di daerahku, sehingga Erviana bisa di”jaga” dari terik panas matahari di pesawahan dan tambak-tambak di tanah kelahiranku.

    Entah mengapa? Jantungku senantiasa berdebar lebih kencang dari berlari mengelilingi lapangan sekolah saat jam pelajaran olahraga ataupun membantu bapak menguras tambak, setiap kali berjumpa Erviana. Aku selalu mencuri-curi pandang ketika di dalam kelas atau saat bermain pada jam istirahat sekolah. Rumahnya yang berada di belakang masjid jami’, tempatku belajar mengaji. Hal ini membuatku memiliki banyak kesempatan untuk memandang dari jarak dekat Erviana, makhluk planet lain yang manis. Bahkan, aku acapkali mengambil resiko dengan berbohong pada ustadz guru mengajiku bahwa aku baru saja kentut sehingga batal wudhuku. Tujuanku sederhana, agar aku didaulat untuk berwudhu lagi sehingga, aku bisa melihat ke belakang masjid jami’, ke rumah Erviana. Besar harapanku, aku bisa melihatnya sedang berada di teras atau di halaman rumahnya.

     Beralaskan tikar lipat, teman-temanku sudah duduk bersila melingkar di ruang tamu rumahku. Setelah meja dan kursi di ruang tamu diangkat ke samping rumah, lantai ruang tamu dilapisi beberapa tikar lipat untuk alas duduk ala lesehan. Teman-teman laki-laki sekelas lainnya mengambil tempat di sisi dekat pintu. Sedang teman-teman perempuan sekelas memilih tempat menyudut. Erviana kebagian tempat di dekat jalan keluar dari ruang tengah. Saat teman-teman datang, aku langsung menuju dapur, Aku tidak tahu apa alasan Erviana memilih tempat itu.

     Setelah Bapak, Ibu, aku, dan Irfan ikut bersila melingkar dialaskan tikar lipat, Ustadz Achmadi memberikan pidato singkat mewakili sahibul hajad, Bapak dan Ibuku. Beliau menjelaskan tujuan penyelenggaraan acara tasyakuran tersebut. Tidak ketinggalan, beliau meminta maaf kepada para undangan teman-teman sekelasku, apabila ada kurang-lebihnya perjamuan yang diberikan oleh sahibul hajad, dan kalau ada kata-katanya yang kurang tepat untuk disampaikan dalam forum tersebut.

     Teman-teman sekelas duduk tenang memperhatikan. Hanya Kadir, temanku yang berperut tempayan, yang kelihatan gelisah sembari beberapa kali melongokkan kepalanya ke arah ruang tengah. Aku maklum, aroma masakan bandeng memang meruap dari ruang tengah ke segala arah. Untuk ke sekian kalinya, aku mencuri pandang ke sebelah kanan tempat dudukku. Dipisahkan Ibu, kulihat Erviana tampak manis sekali siang itu. Beberapa kali dia mengusap wajahnya dengan sapu tangan merah jambu di tangannya. Dia tampak anggun sekali ketika mengusapkan sapu tangan ke wajahnya yang mungil. Erviana memang benar-benar beda dengan teman-teman perempuan yang ku kenal saat itu.

     Aroma parfum perempuan yang lain dari yang ku hafal tiba-tiba menyambangi hidungku. Aroma itu menusuk halus. Mengalahkan aroma masakan bandeng yang sedari tadi menguasai rongga pernafasanku. Ini bukan parfum Ibu. Aku hafal aroma parfum Ibu. Bukan ini! Bukan!! Lalu, siapa teman perempuan sekelasku yang memakai parfum dan berada di dekatku. Tak pelak lagi. Benar. Ini aroma parfum dari tubuh Erviana.

     Hmmm…. Wanginya menelusuri rongga penciumanku. Bersama oksigen yang kuhirup, wangi parfum Erviana menjelajahi relung-relung hidung, tenggorokan, hingga bersemayam lama bilik paru-paru. Sebelum keluar bersama karbondioksida yang terhela, wangi parfum Erviana memahatkan prasasti di dinding jiwa kanakku; “Inilah perempuan pertama yang memikat hatiku.” Aku ingin lebih dekat dengan Erviana.

     Tapi. Apakah itu nanti tidak melahirkan imbas tertentu pada keluargaku. Apa Bapak berkenan jika anaknya yang masih kelas empat sekolah dasar sudah belajar untuk mendekati lawan jenisnya?

     Ketika tangan teman-teman sekelasku menadah di depan dada. Dan bibir-bibir mereka mengamini doa yang dibacakan oleh Ustadz Achmadi. Ketika Bapak dan Ibuku larut dalam rasa syukur kepada Tuhan Pencipta Alam atas limpahan nikmat-Nya berupa hasil panen bandeng dan dibaginya dengan teman-teman sekelasku. Ketika semua dalam ruangan itu tenggelam dalam kekushu’an doa, anganku dipenuhi pikiran tentang kepantasan bagi diriku jika aku mendekati Erviana.

     Bayangan teman perempuan berkulit putih bersih, berkepang dua, dan memiliki aroma parfum yang meninggalkan prasasti di dinding jiwa kanakku untuk pertama kali.

     “Masih pengen dengar cerita nabi-nabi dan sahabatnya?” tanya Ustadz Yusuf seusai mengajar mengaji. Teman-temanku serempak berseru mengiyakan. Biasanya, setelah mengaji tafsir. Para ustadz berbagi cerita penuh hikmah, dari nabi-nabi, sahabat-sahabat rasulullah, wali songo, hingga ulama’-ulama’ besar yang menjadi penoreh madzab.

     Sore itu, seperti sore-sore lainnya di masjid jami’. Kami mendengarkan dengan sungguh-sungguh mendengarkan cerita penuh hikmah yang mengalir dari bibir Ustadz Yusuf. Sesekali, ada temanku yang bertanya bagian cerita yang kurang dipahaminya. Ustadz Yusuf dengan sabar menjelaskan kembali bagian cerita tersebut. Terkadang, beliau memberikan kesempatan kepada teman yang lain untuk menerangkan kepada teman yang kurang paham tersebut.

     Bagian yang paling kusenangi adalah ketika Ustadz Yusuf mengajak mengambil hikmah dari ceritanya kemudian dikontekstualisasikan dengan apa saja yang ada dan terjadi di sekitar kita. Bagaimana seorang khalifah seperti Umar Bin Khatab ra mematikan lampu rumahnya ketika anaknya sedang belajar. Bagaimana seorang orang nomor satu di jazirah Arab kala itu memilih tidak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, bahkan sekedar lampu penerangan.

     Ustadz Yusuf membandingkannya dengan seseorang yang tiba-tiba melintas di jalan depan masjid jami’ dengan menggunakan motor berplat merah. Andaikata memang benar pelintas jalan tadi menggunakan motor berplat merahnya untuk keperluan kedinasan. Terpujilah dirinya, karena meski waktu beranjak petang, dirinya tetap menjalankan tugas yang diamanahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya. Namun, jika sebaliknya. Maka pelintas jalan tersebut telah melakukan apa yang disebut sebagai korupsi. Para Ustadz memang membimbing kami untuk peka dengan keadaan di sekitar kita.

     Aku yang tak bosan-bosan untuk mencuri pandang ke arah Erviana melihat perubahan di raut wajah ayunya. Wajah yang sedari tadi sumringah karena mendengarkan cerita yang disampaikan dengan memikat oleh Ustadz Yusuf berubah mengerut. Tampaknya ada bagian dari cerita Ustadz Yusuf yang mengenai hatinya. Aku tak tahu, apa itu.

     Ketika Ustadz Yusuf mengakhiri pembelajaran sore itu dengan salam dan bershalawat. Erviana tidak menyahutinya dengan penuh semangat. Kulihat Erviana berdiri dengan lesu. Membetulkan kerudungnya perlahan. Dan berjalan menuju ke rumahnya di belakang masjid jami’ seperti tanpa tenaga. Berbeda dengan teman-teman lainnya yang kemudian semburat ke segala arah dan berceloteh segar. Erviana memilih membisu dan melangkah kaku.

     Besar hasratku untuk berlari menghampirinya dan bertanya; “Ada apa?” Berat rasanya melihat Erviana tampak dirundung duka. Tak kuhiraukan suara teman-teman yang berdenging di telingaku untuk mengajak segera pulang karena jam tayang film kartun favorit kami akan segera tiba. Tak kuhiraukan tangan salah satu dari mereka yang mendarat di bahuku beberapa kali. Pandanganku masih mengarah tuju pada Erviana yang mengambil sandalnya dan menghilang di balik tembok samping masjid jami’.

     Aku mengarahkan tubuhku. Langkah ku hentak.

     Tapi sayup-sayup dari balik tembok masjid jami’  aku mendengar isak tangis. Suara perempuan kecil. Erviana menangis? Langkah ku putus. Ku pasang telinga benar-benar. Selain suara pecah tangis Erviana, telingaku menangkap suara laki-laki dan perempuan dewasa yang tengah bertengkar.

     “Apa rumah ini juga harus dijual, Pak?!!”

     “Bu, terpaksa, kita harus ngontrak. Kalau bapak tidak bisa mengembalikan uang itu dalam seminggu ini, bui, Bu. Bui!! Bapak harus nginap di tahanan polres!!”

     Aku terhenyak. Mendengarkan diam-diam apa yang menjadi rahasia orang lain itu sangat tidak dianjurkan oleh keluargaku, juga Ustadz Yusuf, tapi sesenggukan tangis Erviana menahan tubuhku agar tidak beranjak.

     “Kalau ngontrak, Apa Ana harus pindah sekolah lagi, Pak?” suara perempuan dewasa itu terdengar menyahut.

     “Itu dipikir nanti, Bu. Sekarang kepalaku rasanya pening dengan solusi yang ditawarkan orang ini, Bu. Karena jika berkas ini sudah dilimpahkan ke kejaksaan, aku gak ketulungan. Ini bisa jadi kasus besar, Bu!! Wartawan juga sudah menciumnya,”

     “Lalu atasan sampeyan gimana? Masak diam saja, wong dia lebih banyak yang pakai uangnya,”

     “Dia kan punya pondok pesantren, Bu! Polisi segan menyidiknya karena sama saja dengan mengajak perang ormas agama. Kalau sudah terkait dengan atribut agama, penegak hukum pun bisa mengkeret,” suara Erviana masih terdengar, “Memang, aku yang dikambinghitamkan, Bu! Tapi atasanku itu berjanji nanti jika Ana sudah besar, dia akan gunakan koneksinya untuk masukkan Ana jadi PNS!”

     “Persoalannya itu sekarang, Pak, bukan saat Ana sudah besar. Anak masih kelas empat SD sudah dijanji-janjikan kursi PNS,”

     “Bantu saya, Bu. Jangan tambah kepalaku jadi lebih pusing!!” suara itu terdengar lebih tinggi.

     Akhirnya aku beranjak menjauh dari dinding tembok masjid jami’ yang dekat dengan rumah Erviana. Kuikuti langkah kaki kecil-kecil sebayaku di depan. Aku tak tahu, apakah nanti malam aku bisa tidur dengan nyenyak. Bayangan wajah Erviana yang mendadak dirundung duka tidak mampu segera kulipat sebentar dan kusimpan di laci hati.

     “Walah, malam-malam kok memilih jadi patung,” suara istriku terdengar lembut di dekat telinga. Bulu kudukku meninggikan badannya. “Masih mikir bagaimana cara kita besok bertanya pada Putri?”

     Anggukanku membelah tekanan di dadaku. Bayangan Erviana kecil dengan kepang rambut dua masih berlari-lari kecil di sudut mataku. Kepang rambutnya bergerak-gerak lucu. “Ma, doakan Papa, ya!” Istriku memelukku dengan hangat. “Doakan Papa untuk tidak korupsi, ya!!” rasa pertama ini juga mengingatkanku untuk belajar menjadi orang tua yang baik.

*********

 

Tepi Malam, 20122022

 

 _____________________________________

Anjrah Lelono Broto, aktif menulis esai, cerpen, serta puisi di sejumlah media masa. Beberapa puisinya masuk dalam buku antologi bersama. Karya tunggalnya adalah Esem Ligan Randha Jombang (2010), Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (2015), Nampan Pencakan (2017), Permintaan Hujan Jingga (2019), dan Kontra Diksi Laporan Terkini (2020), dan Garwaku Udan Lan Anakku Mendung (2022)Terundang dalam agenda Kongres Bahasa Jawa VI (2016), Muktamar Sastra (2018), Kongres Budaya Jawa (2018), dan Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia III (2020). Karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018. Kontak FB: anjrahlelonobroto, dan Whatssapp: 085854274197.

Posting Komentar

0 Komentar