005

header ads

Anak Kampung Nelayan

https://pixabay.com/id/photos/anak-laki-laki-percikan-sekitar-1972493


Sebagai pemukiman nelayan, Kampung Kandang, tergolong kampung yang kumuh. Rumahnya saling berhimpitan tanpa jarak. Bahkan jalan di dalam kampung hanya cukup untuk lewat dua orang yang jika berpapasan keduanya harus miring cara berjalannya. Ditambah lagi dengan bak sampah tiap rumah warganya yang diletakkan di depan pintu masuk rumah  dengan kondisi   isinya berserakan karena tak mampu menampung volume sampah,  membuat aroma kampung sedikit  meyengat seperti bau buah busuk.


Namun kondisi ini tak membuat warga kampung kandang jengah. Mereka tetap bisa beraktivitas dengan santai  tanpa terganggu aroma atau sumpeknya jalanan kampung yang sempit. Bagi mereka apa yang ada adalah kelaziman karena sejak dulu sudah seperti itu. Mereka telah terbiasa dan menjadi apatis dengan segala yang ada.


Banyak anak tak sekolah di Kampung Kandang karena harus ikut membantu orang tuanya untuk melaut mencari ikan atau rajungan. Bagi orang tua di Kampung Kandang, sekolah hanyalah membuang waktu dan memakan biaya. Seorang anak  cukup diajari untuk mencari ikan sebagai bekal hidupnya kelak jika nanti berkeluarga sudah cukup.


Pukul dua belas malam saat semua anak masih di dalam pelukan ibunya, Alfian sudah dibangunkan ayahnya. Ia harus bangun  lebih awal karena kerambah rajungan yang ia pasang letaknya sangat jauh. Sekitar empat jam perjalanan ke tengah laut. Untuk alasan itulah ia harus bangun lebih awal agar tak kesiangan sampai di tempat tujuan.   Masih terlihat jelas sisa-sisa bangun tidur di raut mukanya. Aku menggodanya sambil berujar,    "Tak doakan dapat tangkapan yang banyak, ya"

Alfian hanya menjawab singkat sambil mengucek matanya, "Amin, terima kasih.."


Saat itu ia melintas bersama ayahnya di depan rumahku. Kebetulan sekali malam itu sedang bulan purnama, wajahnya terlihat jelas di bawah temaram cahaya bulan malam itu. Berdua mereka berjalan beriringan sambil menjinjing bekal masing masing. Alfian terlihat begitu kecil di samping tubuh bapaknya yang kekar.


Sudah menjadi kebiasaan di Kampung Kandang ketika waktu dini hari, suasana pantai terlihat sibuk lalu lalang mempersiapakan perahunya untuk melalut. Para nelayan ini bersiap-siap hendak mengambil keranda rajungan setelah kemain  diberi umpan. Dan esoknya seperti malam mini  adalah waktunya untuk mengambil tangkapan. Saat-saat seperti ini pantai Kampung Kandang  akan berisik dengan suara mesin perahu yang hendak melaut. Mereka akan saling berkejaran menjemput nasibnya.


Sudah setahun ini Alfian diajak bapaknya melaut. Bapaknya tak ingin anaknya melanjutkan sekolah ke SMP. Bapaknya menganggap hanya dengan  bisa membaca dan menulis sudah cukup untuk menjalani hidup. Melaut tak usah berijazah tinggi-tinggi cukup hanya lulus SD pun sudah mampu menjadi nelayan yang sukses asal tekun dan punya nyali.


Ajakan ayahnya merupakan anugerah besar bagi Alfian. Ia yang sudah bercita-cita berhenti sekolah karena merasa tak mampu lagi mengikuti pelajaran. Apalagi pelajaran yang berbau hafalan ia malah sangat membencinya. Melaut adalah jalan yang membuatnya bebas dari sekolah. Ia ingin punya uang sendiri. 


Kini ia harus rela dibangunkan ayahnya di waktu  dini hari. Hal ini disebabkan agar perahunya tidak kandas karena pada musim begini,air laut surut menjelang pagi. Ia harus cepat membawa perahunya menjauh dari bibir  pantai jika tak ingin perahunya terdampar dan tak bisa melaut karena air keburu surut.


Alfian pun sangat menikmati aktivitasnya ini. Ia memang lebih menyukai bergumul dengan ombak  dan angin malam yang  dingin  daripada harus berjibaku dengan pekerjaan rumah yang diberikan guru dari sekolah. Baginya menceburkan diri ke air laut adalah bermain yang mengasyikkan.


Pernah suatu ketika istriku bertanya padanya, "Kamu kok nggak melanjutkan sekolah, Alfian?"


"Enak melaut  membantu Bapak dan  nggak usah mikir pelajaran,"


 "Apa kamu nggak ingin punya ijazah yang lebih tinggi lagi?"


 "Aku ingin jadi nelayan saja, bekerja kan bisa jadi apa saja. Toh semua sama yaitu untuk mencari uang."


Aku kaget mendengar jawabannya. Ia benar, bekerja jadi apapun,  tujuannya sama: mencari uang.

Setiap dini hari ia selalu melintas di depan rumahku sambil menjinjing bekal melautnya. Tak lupa ia akan selau menyapaku dengan senyumannya. "Berangkat dulu, pak," begitu selalu sapanya. Meski malam itu sangat dingin tapi ia hanya bercelana pendek saja. 


Hidup yang keras lebih disukainya. Di saat anak-anak seusianya menikmati suasana belajar di sekolah, Afian lebih menghayati kerasnya hidup di tengah lautan. 


Alfian memang anak yang supel dan pekerja keras. Ia tak pernah malas setiap ada kegiatan kerja bakti di kampung, ia hampir tak pernah absen. Di antara teman-teman sebayanya ia terlihat lebih dewasa. Badanya lebih sedikit kekar dan agak hitam karena sering diterpa  sinar matahari. Bahkan cara bicaranya pun sudah seperti orang dewasa. Apa yang menjadi tema pembahasan kami para orang tua saat kerja bakti, ia hampir selalu bisa mengikuti.


Kedewasaan seseorang memang akan cepat terbentuk jika orang tersebut banyak menjalani kehidupan yang keras, Tingkat berpikir yang dipacu begitu tinggi membuat garis wajah seseorang menjadi lebih tegas dan dewasa penampakannya. Tak terkecuali wajah Alfian.


Di usia yang semuda itu, Alfian sudah jeli membaca arah angin. Ia pun hafal tanda-tanda di langit kapan angin akan datang dan ke mana arah untuk pulang. Saat kembali melaut  Ia sering menggantikan bapaknya,  menjadi pemegang kemudi perahu saat pulang. Saat itu ayahnya akan beristirahat di perahu dengan tiduran dan menyerahkan kemudi perahu untuk dikendalikannya.


"Di tengah laut kamu seperti di dalam mangkok terbalik karena ke manapun arah mata kita memandang yang nampak adalah ufuk atau cakrawala. Yang terlihat hanyalah lautan dan langit yang saling bertemu," katanya pada Irham temanya yang saat itu penasaran tentang suasana di lautan. Alfian pun melanjutkan, "makanya kamu harus pintar membaca arah angin dan juga posisi bintang agar tak mudah tersesat."


Biasanya, Jika habis musim angin Muson Barat,  para nelayan  banyak memperoleh hasil  tangkapan rajungan dan harganya pun melambung tinggi. Inilah saat yang dinantikan para nelayan Kampung Kandang. Kondisi ini sangat dinantikan oleh nelayan Kampung Kandang, tak terkecuali Alfian dan ayahnya. 


Setelah hampir dua bulan tak melaut karena Muson, hutang para nelayan biasanya banyak  menumpuk di juragan pengepul hasil tangkapan. Ketika Muson mereda,  saat itulah musim untuk membayar hutang dan mengumpulkan uang. Mereka akan berlomba-lomba mencari daerah tangkapan yang menjadi tempat rajungan bersarang. Meski jauh bermil-mil mereka akan tetap melakukannya demi bisa melunasi hutang. Dan tentunya harapan uang sisa bayar hutang yang mungkin bisa dibuat menagambil sepeda motor baru.


"Uangmu kamu buat apa, Ian?" tanyaku padanya ketika aku dengar harga rajungan sedang melambung tinggi.


 "Itu urusan, bapak dan ibu, saya hanya membantu dan tiap hari hanya diberi uang jajan saja.”


 "Uang jajanmu banyak pastinya," tanyaku kembali padanya dan ia hanya tersemyum kecil.


Bapaknya hanya melaut berdua dengan Alfian. Dengan cara demikian  bapaknya tak usah berbagi pendapatan karena melaut dengan anaknya sendiri. Jika harga jual rajungan sedang melambung tinggi, sehari ia bisa mendapatkan sebanyak  satu juta rupiah. Tentunya pendapatan ini akan berkurang sepertiganya jika ia melaut dengan orang lain.


Membagi pendapatan menjadi tiga bagiana  adalah cara pembagian pendapatan nelayan di kampung Kandang. Masing-masing mendapat sepertiga yaitu  untuk, pemilik perahu,  biaya perbekalan, dan pembatunya melaut alias mbelah.


Alfian pun menganggap bahwa aktifitas yang dilakukannya bukanlah pekerjaan karena ia membantu orang tuanya. Bagi anak-anak di kampung Kandang, mereka berpantang untuk mendapat bayaran dari apa yang ia kerjakan untuk orang tuanya. Namun bagi Alfian kondisi ini hanyalah alasan agar ia bisa  lepas dari kewajibannya bersekolah. Itu saja.


Karena sering bergumul dengan para nelayan yang lebih tua, Alian pun secara tidak langsung terpengaruh gaya hidup serta perilakunya. Ia jadi sering misuh dan mulai merokok meski masih sembunyi-sembunyi.


Kehidupan yang keras di lautan telah menempa fisik dan jiwanya menjadi lebih cepat dewasa daripada umur yang sesungguhnya. Masa bermainnya telah ia gantikan  dengan debur ombak lautan. Dan kini Impiannya hanya satu, ia ingin punya perahu.


AGUS BUCHORI


Penulis lahir di desa nelayan, Paciran, di pesisir utara Kabupaten Lamongan, 17 November 1975. Puisinya tersebar di Bali Post, Bicara.news.com, Radar Bojonegoro (jawa Pos grup), Balai Bahasa Jawa timur dan di qureta.com. Tahun 2019 meluncurkan Antologi cerpen terbarunya: Muson  dan Muasal Puisi, sebuah antologi puisi.  Email: agusbuchori@gmail.com


Posting Komentar

0 Komentar