Sorak-serampai Karya : Nandy Pratama - negerikertas.com

INFO ATAS

Negeri Kertas adalah bank data karya para penulis 6 negara serumpun bahasa, jejak karya anda tercatat abadi di situs ini, karya yang sudah dimuat tidak bisa dihapus lagi, dan semoga karya anda mendapat Anugerah Negeri Kertas.

Jaringan Penulis dan Pembaca

Website Sastra dan Seni Budaya yang Terpercaya sejak 2015

4 Mar 2023

Sorak-serampai Karya : Nandy Pratama

 Sorak-serampai

Karya : Nandy Pratama


Bulan Juni menyelinap menjadi sisaaan remah-remah biskuit di permukaaan seprai

yang sesaat kemudian terhempas ke lantai menjadi bulan Juli.

Seperti belati yang kau temukan hilang dan sudah diganti, tetapi masih mahir dalam memotong daging

Ia hadir kembali dan mendekam di memori

Saya menebak, bulan Juni memang waktunya bunga-bunga merekah dan tangisan dibalut selimut

Mengalir dengan deras


Kau berharap mereka segera lenyap, nahasnya mereka seperti buih di lautan

yang jumlahnya meletup-letup selayaknya lukamu yang menganga abadi ditiup oleh hembusan napas.

Kau tertawa dan binasa, kau berteriak dan melamun ; menyaksikan sebagian dirimu yang kontradiktif

Kemudian kau kembali mencari sesuatu yang jelas-jelas raib menjadi histori


Beruntungnya kau bukanlah gurita yang ketika bersedih memakan dagingnya sendiri

Sebab, jika iya maka jemarimu sudah pasti binasa dan prosa hanyalah mimpi yang kau lupakan lima menit setelah terbangun dari nidera

Beruntungnya kau bukan jerapah yang hanya tidur dua puluh menit dalam sehari, sebab jika iya maka mampuslah kau ditikam oleh bulan Juni bertubi-tubi.

Beruntungnya, kau bukan serigala yang melolong ketika bersedih, sebab jika iya maka turut berduka citalah kepada jajaran tetangga tidak berdosa.


Bulan Juni terlampau membencimu

Merapal semua peristiwa yang terjadi di tiap tanggalnya

Merebah dan berkoar-koar melebur dalam hangus

mendengarkan hal dengan cukup mengernyitkan alis hingga kedua alurnya bertaut bak jembatan dibalut sinar baskara dari balik jendela.

Dan seketika seluruh masyarakat riuh akan sorak-sorai

Ternate, 12 Maret 2019

Wisata Doa

Karya : Nandy Pratama


Kau susuri remang jalan ini

tanpa rambu-rambu di bahunya

dan suara gaduh di perut kau

Memecah sunyi

dan menyulut api di dada kau


Rontak yang kau gontai

terus menentang jalan

lapuk dan berlubang

Kau tahu, alas kaki kau tak setebal

Doa-doa yang diukir sakit


Sedang kulihat di kening kau

Serupa tangis-tangis kecil yang terjal

deras dan menghanyutkan di tengah jantung kota

yang ingar-bingar


Di tepian mataku tertinggal amin yang belum tuntas

menghampiri suara yang gersang, sementara di tiap napas kau hanya tersisa

kabut-kabut menebal yang tumbuh karena air-air kesedihan telah mengering

di bulan yang menggantung.


Ternate, 12 September 2019









Menjelajah Ingatan

Karya : Nandy Pratama


Segala ingkar yang kau sembunyikan 

kelak akan menjelma aku yang kau khianati ;

Menghantuimu dengan larung sesal dan seluruh ketakutan yang saru

Menggerutu pikiran dan hati pada tiap sepi yang datang dengan angkara murka

Sebagai tamu tak kenal kompromi ; menelenjangi durja hingga pilu

Aku bisikkan padamu bahwa ; ia adalah maha yang tak mengenal amnesti pada setiap durja

dan aku tak bisa menjadi kuasa hukum yang menyelamatkanmu.


Aku lontarkan peluru karat berukirkan lara menembus jejak bibirku pada keningmu ;

Mengingatkanku tentang seluruh janji dan kalimat cinta yang kau ucapkan padaku dulu

telah sekarat ; mungkin aku akan menjelma nestapa yang memelukmu erat-erat 

Di setiap cinta yang basah pada tubuhmu yang dipenuhi harunya air mata 


Sebelum akhirnya aku lapang melepas kepergianmu ; akan kuledakkan seluruh ingatanku

tentangmu yang kelak menjadi abu ampunan ;

Yang memeluk hangat di hari kematianmu

Pada waktu yang tak diikhlaskan luka ; sungguh, aku telah meniadakanmu

dari kalbu yang kau birukan – dan sekali lagi akan kau dengar bahasa kematian bernyanyi sendu tepat di telingamu.


Ternate, 16 Januari 2019











Rindu Yang Tertukar

Karya : Nandy Pratama


Kamu bukan sepasang lengan yang mendekap erat kedua buah ginjalku

Tak bisa kurasakan tangan yang meremas-remas

tatkala bibir mengucap sayang sembari nafsumu gelinjang

Birahi tak tuntas, apalagi rasa hausmu tak pernah habis.

Rindumu tak tercium seperti arak beras

Pesan-pesan singkat tak terbalas

sesekali di teras rumahku hujan mengalir deras

Manakan tidak, kau hanya berani bilang kangen setelah mendengarkan lagu-lagu Peterpan

Apa jangan-jangan aku sedang kasmaran sama sapi jantan, ya ?

Duh, meresahkan !

Kamu seperti tokoh-tokoh fiksi yang kubaca di Wattpad.

Ada, tapi tak bisa diajak kencan


Sedang dari jauh hari aku sudah memompa nadi sendiri ; menjahit senyum

Mata sembap dan binar merah pada pipi ;

Sejak hari-hari terjadi begitu penat dan sekarat,

Aku tidak lagi percaya dengan siapa-siapa 

sebab aku juga tak menemukan alasan untuk itu

Di sekujur tubuhmu yang penuh dengan rimba-rimba mustajab

Menjamah garda yang pernah berontak

Hari-hari ia merintih kesakitan sebab dosa mengalir begitu cepat

untuk menghamba kepada penis jika perempuan jauh lebih diharapkan selaput daranya

Seperti perjamuan kau harus bertanggungjawab atas air mataku yang lambat waktu sayup pada purnama

Telentang dalam kisah yang sia-sia

Pundak membungkam pada segala musim di sekujur mata

Merisik ribuan malam yang tergesa-gesa menuju pagi

Kau pendusta yang cermat

sedang aku menjuntai-juntai selapang kalbu ibu


Ternate, 25 Desember 2020

Menjual Etika

Karya : Nandy Pratama


Di bulan purnama, kita saling menelanjangi diri sendiri

Membawa angin pada aroma tubuh yang intim

sedangkan aku serupa dermaga yang menautkan kesedihan selepas persetubuhan


Pada sebuah sepi kau bersembunyi di percumbuan ombak dan karang yang menghantam gemuruh rindu di palung dada

Aku terseret ke bibir pantai dan membawa ciuman-ciuman untuk pesisir hatimu yang basah

Tiba-tiba kata dijual begitu murahnya atau kata-kata membuang harga dengan kecanduan yang terlalu mudah


Mungkin kesendirian menjadi kemegahan di masa lampau

Menemukan kembali sekujur kita yang hancur oleh pelukan nilai


Ternate, 11 Januari 2019


















Biodata Penulis :C:\Users\User\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\FB_IMG_1624510212584.jpg

Nandy Pratama lahir pada tanggal 15 Februari 1997 , beliau adalah seorang penyair dengan nama penanya Ternate Di Ujung Pena. Giat menulis telah ditekuni sejak masih SMP baik itu yang berupa cerpen ataupun puisi. Beberapa prestasi yang pernah diraih diantaranya pernah menjadi juara 2 lomba cipta puisi, 50 penulis terbaik, 100 penulis termuda selain itu beliau juga telah menulis 2 buah buku puisi yang berjudul “Terjebak Puisi dan Ina”. Pada tahun 2019-2022 beliau juga berkesempatan menjadi juri lomba cipta dan baca puisi yang diadakan secara online. Fb : Pratama Matali 

No Telp/WA : 085232340866 (Nandy)


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com
Rek BNI 1046160850 | Walidha Tanjung