Cerpen Gerimis di Balik Jendela -Wulan Setyaningrum- - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

5 Okt 2022

Cerpen Gerimis di Balik Jendela -Wulan Setyaningrum-

 Gerimis di Balik Jendela

-Wulan Setyaningrum-




Siang itu sang mentari tak lagi menghangatkan, laksana air mendidih di atas perapian terasa membakar merasuk menembus lapisan kulit terdalam hingga membuat keringat bercucuran tak henti - hentinya . Letih terasa menali sekujur tubuh membuat enggan tuk beranjak. Tampak kembali dari balik jendela kamar di lantai paling atas sebuah rumah megah seperti istana raja sesosok wanita misterius dengan kerudung putih yang menjuntai panjang menutupi sebagian wajahnya. Penampakan itu tak sekali dua kali didapati oleh Randi, seorang pemuda berusia 20 tahun, yang ikut tinggal menumpang dirumah majikan tempat ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Selalu mengundang decak kagum dalam hati pemuda itu tatkala mendapati wanita misterius itu meski wajahnya tak pernah terlihat dengan jelas. Ia pun tak pernah tahu apa yang membuatnya begitu terpana melihat salah satu bola mata bulat berwarna coklat wanita misterius itu. Usai menyelesaikan tugasnya, Randi merebahkan tubuhnya yang lelah di atas hamparan hijaunya rumput hias tepat di bawah kamar lantai atas tersebut. Pemuda itu bahkan tak menyadari dari tadi sang ibunda memanggil – manggilnya.

“Randi, ibu dari tadi memanggil -manggil kamu. Tolong bantu ibu memindahkan galon – galon kosong yang ada di dapur, “pinta Ibu kepada anak laki - lakinya

"Sebentar, bu! Apakah ibu bisa memberitahuku siapa wanita berkerudung putih yg selalu tampak di siang bolong di lantai paling atas itu?" tanya Randi penuh dengan rasa heran

"Uwes tho Le, ruangan itu kosong ora ana sing manggoni! Emange nyapo tho, Le,  senengane kok mesti nakoni Ibu kui terus ? Mungkin awakmu lagi kesel dadi setengah nglamun ngono ya, mbayangke sing ora – ora ! " jawab ibu tak mengenyangkan rasa penasaran yg membuncit didalam benak pikiran anak laki² semata wayangnya itu

Tepat jam 3 sore semilir angin menyejukkan mengayunkan langkah Randi menuju taman belakang rumah megah yang dia tinggali, seraya menggerakkan tongkat panjang yang menyambung pada seikat sapu lidi, ia mulai membersihkan dedaunan kering yang berserakan di sekitar taman tempat favoritnya merebahkan badannya yang letih selepas pulang mengamen . Sesekali ia mendongakkan kepalanya keatas ke arah kamar yang sering di dapatinya muncul penampakan wanita misterius. Tiba – tiba terdengar suaru parau seorang laki – laki paruh baya yang di dapatinya telah berdiri di belakangnya mengawasi gerak – geriknya.

"Randi...!" sapa seorang laki-laki paruh baya itu yang tampak berpakaian jas hitam rapi

"Iya, Tuan Majikan!" jawab Randi seraya membungkukkan badannya dan menundukkan wajahnya

"Saya berharap kamu kerasan tinggal dirumah ini karena ibumu telah meminta kepada kami untuk membawamu dari desa untuk tinggal bersamanya disana. Saya melihat kerjamu bagus sebagai tukang kebun meski itu bukan keahlianmu. Kamu telah menghidupkan keindahan taman – taman di sekitar rumah megah ini. Teruslah semangat bekerja, jangan menjadi pemuda pemalas ya!", jelas tuan majikan itu dengan tegas dan lugas

“Baik, tuan !” balas Randipun dengan jelas dan tegas


Kamis pagi itu mentari tersenyum manis mengiringi langkah pemuda desa bertubuh tinggi tegak menuju kota. Telah lama Randi membangun sebuah impian untuk bisa menjadi tentara seperti almarhum ayahnya, namun impian itu terhapus begitu saja tatkala sang ibu yang tak pernah merestui nya. Sebagai seorang anak yang tak ingin menyakiti hati nurani sang ibunda, Randi Sayudha, begitulah nama panjangnya, usai mengenyam pendidikan di pondok pesantren di daerah desa tetangga selama 6 tahun akhirnya ia keluar dari pondok dan memutuskan untuk meninggalkan desa dan ikut tinggal bersama ibunya yang telah bertahun - tahun menjadi pembantu rumah tangga seorang pengusaha porang, kabarnya pengusaha porang itupun berasal dari desa tanah kelahirannya juga. Tak hanya berpangku tangan hanya menumpang, sore hari ia melaksanakan tugasnya sebagai tukang kebun di rumah megah itu dan di pagi harinya, dia gunakan waktunya untuk menjadi pengamen badut. Semua itu dia lakoni untuk bisa mengumpulkan lebih banyak pundi pundi rupiah untuk bisa membelikan rumah ibunya dan mewujudkan mimpi sang ibunda berangkat ke tanah suci. 

Siang itu tak seperti biasa, kepulan langit putih berubah menghitam dan tampak gelap seperti terselubungi oleh jelaga, membawa isyarat akan turun hujan disertai angin kencang. Di siang yang mendung itu tak di dapatinya kemunculan wanita misterius di balik jendela. Sejak melihat raut wajah wanita misterius itu, tak dapat dipungkiri bahwa rasa penasaran telah bersarang di dalam hati Randi. Randi mempunyai sebuah niatan untuk merencanakan suatu gerilya menyingkap memecahkan misteri yang telah menghantui pikirannya. Terbersit dalam benaknya untuk meluangkan satu pagi untuk libur mengamen di jalanan dan ingin menyelinap melihat lebih dekat kamar lantai atas tersebut dari luar jendela setelah tuan majikan berangkat kerja. Kepulan awan hitam berlalu terbawa oleh semilir angin yang menyapa begitu lembut namun terasa dingin merasuk kalbu. Randi teringat bahwa sore itu akan datang tukang ledeng untuk memperbaiki saluran air di sekitar taman belakang yang bocor. 



Tak lama tampak si bapak tukang ledeng datang menghampirinya dan memintanya untuk menunjukkan saluran air yang bocor. Sembari menemani tukang ledeng itu, Randi mengawali percakapan akrab dengan si bapak tukang ledeng dan berharap akan terjadi percakapan intens yang akan mengantarkannya menemui titik terang misteri yang telah membuatnya begitu penasaran, karena Randi tahu tukang ledeng itu adalah langganan keluarga Tuan Hadisuwiryo.

"Apakah Bapak tukang ledeng langganan tuan majikan saya?” tanya Randi memulai sebuah percakapan 

" Betul, mas! Saya langganan nya Tuan Hardisuwiryo," jawab si bapak tukang ledeng

" Apakah saya boleh menanyakan sesuatu ya, Pak?" tanya Randi penuh dengan keyakinan bahwa tukang ledeng inilah yang akan membantunya mengungkap tabir misteri

"Boleh, mas!"ucap tukang ledeng sembari sibuk memutar kunci inggrisnya

" Di rumah ini tuan Hardisuwiryo tinggal bersama siapa ya, Pak?" tanya Randi cukup to the point dan tak bertele – tele

Mendengar pertanyaan itu, tukang ledeng berhenti memutar pipa dan menatap wajah pemuda pemilik berusia 20 tahun itu. Si bapak tukang ledeng tampak mengusap keringat yang mengucur di dahinya dengan handuk yang terkalung di lehernya, sambil mulai menuturkan sebuah cerita lama keluarga Hardisuwiryo. Randi menyimak dengan seksama cerita si bapak tukang ledeng. Berdasarkan cerita tukang ledeng, dahulu keluarga Hardisuwiryo tinggal di sebuah pedesaan jauh dari bisingnya perkotaan. Tuan Hardisuwiryo mempunyai seorang anak gadis cantik berwajah blasteran Arab nan mempesona bak gadis desa, wajah ayunya diwariskan oleh ibunya yang tidak lain adalah seorang perempuan berkebangsaan Arab. Suatu ketika rumah di desa yang mereka tinggali terbakar dilalap habis oleh si jago merah. Kabarnya kebakaran itu disebabkan oleh korsleting listrik. Semua harta kekayaan didalam rumah itu hangus menjadi abu termasuk istri dan anaknya. Namun berdasarkan keterangan orang sekitar anak gadis tuan Hardisuwiryo masih hidup terselamatkan dari kobaran api, namun ada juga beberapa warga desa yang menuturkan bahwa anak gadisnya pun ikut menjadi abu bersama ibunya karena setelah peristiwa tersebut berlalu, tak lagi terlihat dimanakah anak gadis itu berada. Sampai pada akhirnya tuan Hardisuwiryo memutuskan untuk pindah rumah dan menempati rumah di perkotaan. Para warga desa memahami keputusan tuan Hardisuwiryo itu adalah cara baginya untuk bisa melupakan peristiwa tragis yang pernah menimpa keluarganya. 

Pagi itu langit tampak suram tak menampakkan pesona eloknya. Randi pun enggan melangkahkan kaki ke perkotaan untuk mengamen namun niat itu di urungkannya tatkala terlukiskan kembali mimpi sang ibunda berangkat ke tanah suci. Rintik – rintik hujan mulai turun membasahi bumi seisinya. Tuan Hardisuwiryo dengan berpenampilan jas hitam rapi, necis, berdasi dan klimis tampak datang menghampirinya dan menyapanya dengan penuh wibawa

“Randi, saya berangkat kerja dulu ! apakah kamu sudah melihat pak sopir menyiapkan payung untukku ?” tanya tuan majikan sambil membetulkan kancing pada lengan bajunya

“Sudah, tuan majikan ! Mobil sudah siap untuk mengantar Tuan berangkat kerja, jawab pemuda itu dengan penuh keyakinan

“Oh, ya... saya selalu menikmati lantunan kitab suci Al-Qur’an yang kau bacakan usai Maghrib tiba. Suaramu menggaungkan energi positif di seisi rumah ini,” ujar tuan majikan memuji dengan senyum terkembang

Tuan majikan pun berlalu dan pemuda itu tampak bersiap -siap menghias dirinya untuk menjelma menjadi seorang pengamen badut. Dalam langkahnya meninggalkan rumah megah itu, tiba – tiba matanya terbelalak karena di arah depannya tampak dompet tuan Hardisuwiryo terjatuh. Randi membawa tubuhnya mendekati dompet itu sambil menoleh ke kanan dan kiri memastikan tak ada yang melihat gerak geriknya. Randi berniat mengambil dompet itu dan segera membawanya ke kamarnya dan melupakan langkahnya untuk berangkat mengamen. Sesampainya di kamar, pemuda itu segera mengunci rapat dan sudah tak sabar ingin membuka isi dompet yang telah ditemukannya. Matanya masih terbelalak laksana bajak laut yang telah menemukan harta karun. Ketika dompet tersebut dibuka, tampak beberapa lembar cek kosong, paspor, beberapa kartu ATM, kartu kredit dan identitas pemilik dompet. Namun bukan itu semua yang dicari oleh Randi. Pemuda itu terus membuka lapisan saku didalam dompet tersebut berharap menemukan sebuah jawaban atas penasarannya. Secarik surat kematian yang menyatakan meninggalnya nyonya Hardisuwiryo dan selembar foto keluarga berukuran kecil. Di Dalam foto tersebut terlihat jelas keluarga Tuan Hardisuwiryo dan tampak seorang gadis berparas cantik blasteran Arab bermata coklat, berpipi merona, berkulit putih. Usai puas menggeledah isi dompet, Randi bercerita kepada ibunya bahwa telah menemukan dompet tuan Hardisuwiryo. Mendengar penuturan Randi, ibu terkejut dan memintanya untuk segera mengembalikan dan jangan mengambil apapun di dalam dompet tersebut. 

Di tengah suasana malam temaram usai melantunkan ayat Al- Quran. Randi memberanikan diri menemui tuan majikannya yg tampak duduk di ruang santai sambil membaca koran dan meneguk secangkir jahe hangat. 

"Permisi, tuan! Saya mengganggu!" ucap Randi penuh dengan kekhawatiran

"Duduk sini, Randi! Ada apa? tanya tuan majikan pelan sambil menyimak lembaran koran yang dikembangkannya

"Maaf, tuan! Saya telah menemukan dompet tuan terjatuh di taman, tutur Randi pelan dengan menundukkan kepalanya

Lelaki paruh baya itu meletakkan korannya dan menerima dompet yang diberikan oleh Randi. Dibukanya dompet itu dan dipastikan masih utuh semua. Tuan majikan mengecek setiap sisi kantong dalam dompetnya dan tampak isi dompet itu tertata rapi seperti sediakala seakan tak pernah digeledah.

"Terimakasih, Randi! Kamu pemuda yg jujur. Sebagai balasan atas kebaikanmu, saya akan memenuhi apapun  permintaanmu!” tuan majikan mengajukan penawaran kepada Randi. Namun pemuda itu hanya terdiam menunduk mengumpulkan kekuatan utk menuntaskan rasa penasarannya. 

" Bagaimana? Apa kamu mau melanjutkan sekolah sampai sarjana? Aku siap membiayai", tuan majikan melanjutkan penawarannya kepada pemuda itu

"Tidak tuan.... Emm.... Saya ingin bertanya. Sa... Sa... Saya selalu dihantui sosok wanita berkerudung putih di lantai atas itu, tuan! Siapakah wanita itu? Apakah ada arwah gentayangan yg menjaga rumah ini?" pemuda itu memberanikan diri untuk bertanya

Suasana seketika hening, lelaki paruh baya itu tampak tercengang akan pertanyaan yang dilontarkan oleh pemuda di depannya. Pertanyaan Randi tersebut tiba - tiba teralihkan karena ibunda Randi datang dan meminta Randi untuk memijat tubuhnya yang pegal – pegal. Pembicaraan Randi dan tuan majikan tak tertuntaskan.

Esok hari, ibu Randi ingin mengajak Randi pulang ke kampung. Namun Tuan majikan tak mengizinkan Randi dan ibunya untuk pulang kampung. Meski demikian ibunda Randi tetap ingin pulang kampung karena malu dengan sikap anak laki - lakinya. Tuan majikan berusaha menahan kepergian mereka. Sikap santun dan jujur Randi tampaknya telah membuat sang tuan majikan kagum kepadanya dan kejujuran itu tak akan mampu tergantikan nilainya oleh apapun di dunia ini. Tuan majikan mengajak Randi duduk santai di tempat biasanya tuan majikan membaca koran hendak melangsungkan niatnya menceritakan peristiwa tragis yang pernah dialaminya. Derai air mata tak tertahankan, tuan majikan memutar kembali cerita masa lalu itu. Alur ceritanya begitu sama persis dengan yang dituturkan oleh si bapak tukang ledeng. Terjawab sudah rasa penasaran pemuda itu. Pemuda itu tampak tak mampu berkata – kata , sedikit terucap kata walau hanya terbata - bata. Gadis misterius itu tersembunyi telah lama di dalam kamar lantai atas, mengurung jiwa dan raga dalam kekalutan yang pernah dialami karena tak mampu menyelamatkan sang ibunda tercinta di tengah kobaran api yang menyalat kala itu. Meski telah dikorbankan separuh wajahnya terlalap api, namun suratan takdir tak mampu terhindarkan merenggut nyawa sang ibunda. Tak hanya bekas luka terbakar di sebagian wajahnya saja yang merenggut harapan dan cita - citanya, depresi berat pun dialami oleh gadis itu hingga ia putuskan hanya berdiam diri di kamar atas tanpa keluar walau sebentar.

“Dia gadis kecilku yang kini tak sanggup menatap dunia. Memiliki ketakutan besar tatkala bertemu dengan orang lain selain diriku. Dia putuskan untuk mengurung diri di kamar itu berteman sepi semenjak peristiwa kebakaran yang menimpa rumah keluarga kami di desa itu. Trauma kejiwaan yang menyelubungi jiwa raganya. Pelipisnya pernah terbakar oleh jilatan api karena menyelamatkan ibunya meski akhirnya takdir berkata lain,” tuan majikan tampak menahan sesak terisak menghela nafas 

“Maafkan saya, tuan majikan ! Maafkan rasa penasaran yang memuncak ini. Kesalahan terbesar saya adalah mencoba ikut campur dalam perkara yang tidak seharusnya saya ketahui karena hanya akan melukai hati seorang ayah,” jawab pemuda itu dengan lirih penuh penyesalan

“Semenjak kedatanganmu, ia pun menaruh rasa penasaran dalam pikirannya, pernah ia bertanya kepadaku siapakah dirimu, lantunan ayat Al – Quran yang kau gaungkan membuatnya terperanjat membuka sedikit jendelanya, rasa ingin menatap erat pada pemilik suara merdu pelantun ayat – ayat suci, “ungkap lelaki paruh baya itu sembari menatap dalam pada dua bola mata Randi

Pagi hari di awal Desember disambut oleh gemercik rintik hujan yang masih setia sejak minggu – minggu sebelumnya membasahi bumi membawa aroma sejuk menyegarkan jiwa menghapus rasa yang dahaga. Dua tas besar berwarna biru telah bersiap di depan pintu kamar Randi. Hari itu, ia putuskan untuk pulang ke desa bersama sang ibunda. Berat rasa hati Ibunda meninggalkan keluarga Hardisuwiryo namun usianya yang terus menua tak memungkinkan baginya untuk tetap bekerja keras jauh dari anak semata wayangnya. Tuan majikan mencoba menghalangi langkahnya, nampaknya usaha itu tak membuat Randi gentar meninggalkan rumah megah itu dan ingin melupakan raut wajah ayu yang pernah mengusik pikirannya. 

Secarik kertas kecil berwarna putih dititipkan tuan majikan kepada pemuda itu sebelum pergi meninggalkannya. Randi hendak memasukkan secarik kertas itu ke dalam saku celananya dan segera mempercepat langkah kakinya untuk melewati gerbang menuju jalan keluar rumah. Namun seketika berubah pikiran karena khawatir kertas kecil itu akan hilang terlupakan. Randi tangguhkan untuk masuk ke dalam saku celana dan ia sempatkan untuk membuka lipatan kertas itu. Tertulis sepenggal sajak singkat yang membuatnya terbelalak tak percaya, hati dan pikirannya berkecamuk, kaki terasa kaku tak mampu digerakkan, benteng kokoh yang membulatkan tekadnya untuk berpulang ke tanah kelahiran seakan runtuh tatkala di resepsinya makna mendalam yang tersirat dalam sajak itu.



















 

Wulan Setyaningrum, S.Pd. lahir di Kota Madiun pada 8 Januari 1990 .Berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris di MIN 1 Kota Madiun. Penulis tergabung dalam tim literasi madrasah. Salah satu karya literasi penulis yang telah ber-ISBN adalah buku bahan ajar yaitu Sparkling English for Smart Learner.

Penulis aktif dalam kegiatan kompetisi pendidikan dan telah menorehkan prestasi yang cukup menginspirasi. Penulis sangat tertarik mempelajari karya sastra dan ingin mengembangkan kompetensi literasinya. 

Kritik dan saran sangat diperlukan dan bisa dikirim pada email bundaalesha90@gmail.com.


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com