Cerpen : BADAI Karya : Zharafah D.N.A - negerikertas.com

INFO ATAS

Lomba Cipta Puisi | DEADLINE 20 Februari 2023 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Jaringan Penulis dan Pembaca

Website Sastra dan Seni Budaya yang Terpercaya sejak 2015

26 Des 2022

Cerpen : BADAI Karya : Zharafah D.N.A




Awan kelam, rintik air, angin kuat. Orang bilang, itu perpaduan sempurna untuk menimbulkan bencana. Kala gemuruh langit berteriak, air membuat kegaduhan, angin menemani air dan terus-menerus mengusik bumi. Menciptakan gelombang rasa gelisah dalam hati. Mereka yang takut memilih bersembunyi, menunggu sang mentari yang baik hati datang mengusir komplotan pengacau atau yang sering di sebut, badai.

Badai? itu sungguh nama yang tidak menyenangkan untuk di dengar, bukan?

Seenak jidat mereka memberikan nama itu untuk kami. Menyebalkan.


“Hei lihat itu… bukankah dia ‘angin’?”

“Ohhh benar! lebih menyeramkan dari yang aku duga…”

“Wajahnya angkuh sekali”

“Lebih baik menjauh darinya”

“Benar, mereka bertiga adalah badai yang membawa kehancuran”


Berisik! kalo niat bergosip itu kondisikan volume dong, ck.

Aku itu, si ‘angin’

Aku merupakan elemen yang membantu ‘air’ untuk mengganggu ‘bumi’ dan para penduduknya. Orang memanggilku ‘angin’ karena pertama, aku bagian dari badai. kedua, aku seperti… angin?. Aku tau rahasia semua orang di sekolah ini. Mulai dari rahasia siswa, para guru, rahasia biasa, sampai rahasia yang membuat mulut menganga sekalipun, aku tau semua itu. Hebatnya lagi, tak ada orang yang sadar aku tau rahasia mereka. Ya, karena aku angin. Angin tak bisa di lihat, namun ia tau segalanya. Entah kenapa aku merasa hebat hehehe


Senyuman ku merekah dengan sendirinya. Terkadang aku bangga dengan bakat ‘angin’ ini. Rasanya seperti agent rahasia!

“Kakak udah mulai gila?”

Ku alihkan arah mataku ke arah lain, lebih tepatnya sumber suara itu. Kami bersemuka, di detik itu juga rasa dongkol menyelimuti hatiku. 

Tanpa ragu, ku tarik helaian hitam halus tersebut.

“mana sopan santun mu? mama tidak pernah mengajarkan ini”

“A-ampun kak ampun!”

Aku puas dengan nada melas meminta ampun itu. Kulepaskan saja cengkraman tanganku dari rambutnya. Raut muka berubah masam. Mencoba merapikan rambut yang susah payah ia tata dari jam lima pagi. Aku ingin menertawakannya. Tapi aku selalu ingat pesan mama, “kalo ngetawain orang yang kesusahan, bisa-bisa balik ke kamu!” kata-katanya bagai ancaman. Namun terbalut rasa tulus darinya.

“Padahal bercanda doang…” aku mendengar keluhan adikku, Hotaka. Matanya dengan berani memincing ke arah ku. 

“Nyali-nya beli di mana dek?” aku bermaksud bercanda lalu kusentil saja dahinya agar otak Hotaka kembali lurus.

“Kakakk!” Hotaka berteriak semakin kesal. Ah, hobiku memang menjahilinya. Habisnya dia lucu banget!

Lucu-lucu begini, dia lah yang menyandang nama ‘air’

Air itu.. lembut ketika di sentuh. Terkadang menjadi benda yang pertama kali dicari untuk membersihkan sesuatu. Ketika liquid bening tersebut jatuh dari langit, kebanyakan orang-orang menyukai suara nya yang lembut ketika bertemu bumi. Melodi yang ia hasilkan begitu menginspirasi. Banyak yang mencintainya. 

Namun, pasti ada rasa kebencian yang ingin ‘air’ pergi. ‘Air’ terlihat selalu tenang dan sabar. Namun jika sudah waktunya, ‘air’ dapat menjadi musuh terbesar umat manusia.

Ketika ia datang dengan ‘angin’ kencang dan ‘langit’ kelam. ‘Air’ merupakan senjata utama untuk meratakan bumi dan penduduknya. Itulah sosok Hotaka. Lembut, sabar, tenang, seperti air. Tapi ketika Hotaka marah, dia menjadi orang yang kasar. Tanpa henti menghantam ‘bumi’

Begitulah sosok adikku, Hotaka. si ‘air’

Karena rumor kekejaman Hotaka, dia jarang ada teman. Hotaka hanya memiliki satu sahabat yang bersamanya sejak sekolah menengah. Walau aku tau Hotaka adalah orang yang tidak peduli akan orang-orang jahat di sekitarnya. Tapi sebagai kakak, aku tau. Hotaka ingin punya lebih banyak teman…


***


“Omong-omong ini udah jam masuk loh” aku memberitahu Hotaka. Kami sedang duduk manis di kantin.Tidak seperti biasa tempat ini sepi sekali. Jelas sih, bel saja sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Aku dan adikku yang hanya terpaut dua tahun ini malah nyantai di kantin.

“Oh” lihat? anak ini memang tak peduli sekitar. Ia hanya fokus menatap kekasih nya yang ia genggam erat. Matanya terkadang mendelik serius dengan pancaran penuh gairah. Tangannya secara lihai bergerak di atas pemukaan halusnya.

Terkadang aku heran… bagimana bisa anak ini secandu itu padanya? Seakan dia punya dunia lain di dalam sana. Padahal kekasihnya bukan perempuan atau bahkan laki-laki. Hanya benda tipis yang canggih dengan permainan di dalam layar kacanya. Atau bahasa simpel nya, Hotaka jatuh cinta pada handphone. Lebih tepatnya game di dalam benda itu.


“Adik-adiku yang manis, kenapa kalian di sini?”


Secara bersamaan, aku dan Hotaka mendongak ke atas. Senyuman ku langsung merekah melihat wajahnya. “Kak Nero!” sapaku riang.

Ia tersenyum lembut. Mengelus kepalaku dan kepala Hotaka dengan kedua tangannya. Berjalan sedikit dan duduk di depanku dan Hotaka. Memangku wajahnya dengan kangan kiri dan sejenak membenarkan letak kacamata yang ia kenakan.

“Kalian kok bolos sih?”

“Kakak juga gitu” Hotaka menjawab pertanyaanya. Kudengar kekehan tipis pemuda dengan rambut putih itu.

Kak Nero mulai mengamati sekitar kantin. Aku tak tau apa yang ia pikirkan, namun yang jelas. Aura ketampanan kak Nero menguar kuat!

Siswa pintar dengan prestasinya di berbagai olimpiade bahasa. Atlet basket sekolah dan salah satu anggota OSIS. Sifatnya lembut terutama pada wanita. Tutur bahasanya dijaga dengan sempurna. Dengan fisik albinonya yang menarik perhatian, kak Nero masuk list siswa yang paling diimpikan dengan segudang fans dibelakang nya.

Aku mengakui, Nero itu ganteng banget!

Nggak heran nama ‘langit’ cocok untuknya. Indah kala cerah. Awan-awan putih disekitarnya seakan lembut untuk di genggam. Obyek sempurna untuk dipandang di situasi apapun.

Sayang, aku sudah biasa dengan paras dan daya tariknya. Toh, dari kecil kami selalu bersama. Karena kami sepupu. Walaupun tidak ada ikatan darah sih.


“Kia”

“Ya kak?” aku terlonjak dari lamunanku. Langsung menatap ke kak Nero

“…apa Sena kembali membuat masalah?”

Tubuhku sedikit tersentak secara spontan. Ah, mata kak Nero tiba-tiba berubah drastis. Sorot hangatnya langsung menghilang. Bagai langit cerah yang berubah menjadi lengit gelap dengan gemuruh menakutkan.

“Kalo ia masih berulah, biar aku yang maju kak” Hotaka tanpa permisi masuk ke dalam pembicaraan. Tanpa mengalihkan mata dari sang kekasih.

“Berantem aja belum cukup Hotaka. kita perlu persiapan agar segalanya sempurna” Nero menimpali dengan memberikan senyuman kepada adikku

Aduh mereka ini…

Hampir aku tertipu dengan paras ‘langit’ yang terlihat lembut. Padahal yang sebenarnya, ‘langit’lah yang mengarahkan ‘air’ dan ‘angin’ untuk membuat badai. Nero, si otak strategi. Kuasanya bagai langit yang mengatur pergerakan air dan angin hingga menciptakan badai sempurna untuk meratakan ‘bumi’ sampai ke akarnya. Dan nero orangnya. Pemilik nama ‘langit’.

“Masing ngeselin sih, tapi itu bukan masalah” ku jawab pertanyaan itu. Hingga tekanan kebencian mereka pun reda

“Oke”

“syukurlah”

Keduanya menjawab di waktu yang sama.

Dasar, duo emosian!


***


Orang-orang selalu menanti datangnya ‘mentari’ kala badai bergemuruh dan menganggu kehidupan mereka. Menurut Kia, itu tak akan terjadi. Karena satu-satunya ‘mentari’ yang bisa menyelamatkan orang-orang dari badai itu adalah…


Oh! kalian udah pulang?” 


Seorang ibu rumah yang tak mungkin menyelamatkan penduduk sekolah kala badai mengamuk.


“ya ampun, ada Nero juga?” senyuman nya sehangat matahari.

“Siang tante” Nero meraih tangan ibu Kia dan Hotaka, memberikan salam.

Elina namanya, ibu dari ‘angin’ dan ‘air’. Dengan senang hati memberikan senyumannya yang seakan tak akan pernah luntur. Menggiring tiga remaja itu untuk duduk di kursi yang empuk dan menyediakan makanan dihadapan mereka. Berbagai makanan ringan sampai makanan berat  pun ada. Tertata apik dan seakan menggoda untuk di santap.

“Mama yang masak?”

“Ya masa papa yang masak? boro-boro, dia aja masih tidur di kamar” ujar Elina diselingi suara tawa.

Ketiganya ikut tertawa. Meghabiskan waktu bersama Elina dengan acara makan, nonton, dan mengobrol. Inilah sosok mentari yang menghilangkan sosok badai. Menyisakan langit yang kembali terang, genangan air jernih yang tenang, dan angin sepoi bertiup senang.


Sesungguhnya sosok badai di dalam mereka itu hanya versi ketika mereka marah. Mereka pun tak seenaknya mengamuk menjadi badai ganas yang siap menggulung siapapun. Ketiganya hanya anak manis dan baik. Namun tak akan segan menghancurkan segala sesuatu yang mengusik ketenangan mereka.


TAMAT


ZHARAFAH DEWI NUR AZIZAH lahir dan besar di kota Madiun. Waktu-waktu luang sering di isi dengan imajinasi dan ide-ide yang selalu dituang dalam sebuah cerita. Kegemaran lainnya ialah menggambar, dan ingin membuat komik suatu saat nanti.


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com