Cerpen ESTU PRAMOEDYA KISWARA (2) - negerikertas.com

INFO ATAS

Lomba Cipta Puisi | DEADLINE 20 Februari 2023 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Jaringan Penulis dan Pembaca

Website Sastra dan Seni Budaya yang Terpercaya sejak 2015

29 Nov 2022

Cerpen ESTU PRAMOEDYA KISWARA (2)

 Cerpen

ESTU PRAMOEDYA KISWARA (2)

Karya: Rilo Pambudi Putra Listiono

Kini Estu tinggal di sebuah kota yang tidak terlalu besar. Desanya kini telah kosong. Estu dan keluarganya adalah orang terakhir yang keluar dari desa itu. Desa yang beberapa waktu lagi hanya tinggal kenangan tanpa peninggalan. Sore hari Estu mengobrol di depan rumah barunya bersama bapak.

“Tu, kamu mau ngajar di sekolahan tempat bapak ngajar? Ada lowongan di sana.” ucap bapak

“Nggak dulu deh Pak. Estu coba cari sekolahan lain dulu.”

“Ya sudah terserah kamu aja. Yang penting kamu nyaman.” 

Setelah berbicara dengan Estu bapak masuk ke dalam rumah. Estu belum tahu akan mencoba mengajar dimana. Sebenarnya bisa saja Estu mencoba mengajar di sekolahan tempat bapak mengaja, Namun menurutnya itu sama saja tidak mandiri.

Matahari telah naik Estu telah siap untuk mencari pekerjan.

“Hati-hati Tu, semoga cepet dapet kerja.” ucap ibu saat Estu berpamitan

“Iya Bu, doain Estu ya biar cepet dapet kerja. Estu berangkat dulu ya.” tutur Estu sambil bersalaman dengan ibunya.

Estu berjalan dari sekolah satu ke sekolah lain. Walaupun sangat susah mencari pekerjaan dia masih tetap bersemangat. Tidak ada kata lelah baginya untuk mencari pekerjaan

Jam sudah menunjukaan pukul 11 siang. Estu mampi ke sebuah warteg pinggir jalan untuk mengisi perutnya.

“Susah ya ternyata nyari kerja di kota.” gumam Estu sambil memakan makanannya

“Loh masnya cari kerja ya?” sahut orang disamping Estu

“Iya mas.Saya lagi cari lowongan guru.” jawab Estu

“Kebetulan Mas, sekolah tempat saya ngajar lagi cari guru, coba kesana deh.” ucap orang itu

“Wah boleh Mas, kenalin saya Estu.”

“Saya Edward.” orang itu gantian memperkenalkan dirinya

Setelah selesai dengan urusan perut, Estu dan Edward berjalan menuju sekolah tempat Edward mengajar. Edward mengantar Estu ke ruangan konseling. Estu berharap mendapatkan pekerjaan disini. Dia melangkah dengan yakin menuju ke ruangan konseling. Edward tak ikut masuk, hanya menunggu di depan.

Beberapa saat kemudian Estu keluar dari ruangan konseling itu dengan raut wajah bahagia.

“Gimana Tu? diterima?” tanya Edward

“Diterima Ward.” jawab Estu bahagia

“Wah, selamat.” ucap Edward yang juga terlihat bahagia

“Makasih lho Ward udah bantuin aku cari pekerjaan. Ayo habis ini ku traktir.”

“Woles lah, nggak perlu repot-repot,a  ku juga mau mengajar lagi.”

“Tapi.....”

“Halah santai,aku ngajar dulu ya.” ucap Edward sambil meninggalkan Estu.

“Hei.... makasih sekali lagi.” teriak Estu

“Yoi, sama-sama.” balas Edward

Estu berjalan sendirian menuju rumah  dengan penuh kegembiraan karena sudah mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan.

“Assalamualaikum Bu, Estu pulang.” ucap Estu gembira

“Waalaikumsalam, gimana udah dapet?” ibu bertanya

“Sudah Bu di SMP 89.” Jelasnya.

“Lho Tu, kamu kerja disana? Hahaha.” sahut bapak dari belakang

“Iya Pak, emang kenapa?” tanyaku penasaran

“Itu kan sekolah tempat bapak bekerja, tadi Bapak dapat SK dipindah ke SMP 89 haha….” bapak masih tertawa

Keesokan paginya Estu berangkat bersama bapak menuju sekolah. Sebenarnya dia ragu untuk bekerja disana karena sekantor dengan bapak. Tapi mau bagimana lagi, apapun alasannya Estu harus tetap bekerja.Sampai di sekolah, Estu diantar bapaknya menuju ruangan barunya. Namun dia dia berubah pikiran, akan bekerja setelah bapaknya pensiun. Estu langsung pulang dengan berjalan kaki setelah memberi kabar ke bapak kalau dia akan pulang duluan. Bapak tak bisa memaksa karena Estu sudah dewasa.

Sore tiba, Estu duduk di teras bersama bapaknya.

“Tu, gimana akhirnya keputusanmu?” tanya bapak

“Iya Pak, tapi Estu mulai ngajar kalau Bapak udah pensiun.”

“Bapak beberapa hari lagi pensiun ,kamu bisa mulai kerja.Tapi bapak pesen, kamu harus kuat dan sabar kalau mengajar, ajarin semua ilmu yang kamu punya. Kalau ada masalah cerita sama Bapak” jelas bapak.

“Iya Pak.” Estu mengangguk

“Udah mau Maghrib, ayo ke masjid.” ajak bapak

Estu dan bapak pergi ke masjid,  mereka berinteraksi dengan tetangga baru mereka. Ternyata masjid ini juga memiliki taman pendidikan al-quran. Rencananya bapak akan mengejar ngaji disini setelah benar benar pensiun nanti. Tak berapa lama adzan maghrib berkumandang. Estu dan bapaknya bersiap siap untuk sholat.

*****

Pagi hari Estu bersiap untuk berangkat kerja. Pagi itu dia sangat bersemangat, karena hari itu dia akan bekerja untuk pertama kalinya. Estu berangkat bersama bapak. Hari ini mungkin jadi hari pertama Estu bekerja,namun hari ini juga akan menjadi hari terakhir bapak bekerja. Nanti waktu disekolah, bapak akan melakukan perpisahan dengan semua warga sekolah, mulai murid,guru,dan para staf karyawan  sekolah.

Kini aku sudah berada di salah satu ruang kelas, tepatnya di ruang kelas 9A. Saat Estu masuk suasana kelas sangat ricuh. Para murid berbicara dengan nada yang cukup keras. Estu berusaha untuk tenang menghadapi para murid-muridnya.

"Selamat pagi menjelang siang anak anak." Sapa Estu

Para murid tidak menjawab dan masih sibuk dengan pembicaraannya

"Selamat pagi menjelang siang anak anak." Estu mengulangi 

"Pagi Pak." beberapa murid menjawab

"Sudah kenal dengan saya?" tanya Estu

"Sudah Pak." beberapa murid menjawab lagi

"Kalau sudah kenal, sekarang coba, siapa nama bapak?" ucap Estu

"Bapak Estu." 

"Bagus, kalau sudah kenal, berarti sekarang langsung masuk ke pembelajaran ya. Saya akan melanjutkan materi yang sebelumnya diberikan oleh Bapak Joko."

Estu berpikir, jika dia harus sabar menghadapi murid murid disini. Bagaimana tidak, baru pertama kali mengajar saja sudah harus menghadapi situasi seperti itu, situasi yang belum pernah dirasakan Estu sebelumnya. Pembelajaran dilanjutkan dengan keadaan murid yang masih sama seperti tadi saat Estu masuk. Tapi Estu mengacuhkan murid-murid yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. 

Selang beberapa waktu, kini waktunya anak anak pulang.

"Baik anak anak marilah kita panjatkan syukur kepada Allah swt,  semoga kita di berikan keselemat...." Estu belum selesai berucap

"Alah bapak sama anak sama saja, tinggal berdoa saja kok ribet ." sahut salah satu murid 

"Loh gimana sih Bar, kan anaknyanya." dilanjut salah satu siswa

Satu kelas tertawa.

"Ya sudah kalau begitu, sekarang silahkan doa pulang." ucap Estu

Anak anak berhamburan pulang, Estu mengira mereka akan menyalami tapi nyatanya tidak. Estu tidak berharap dihormati, tapi sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu selalu patuh dan hormat kepada guru. Estu harus beradaptasi dan mungkin ini hal dimaksud bapak waktu itu. Saat pulang dari sekolah Estu tidak menceritakan apapun pada bapak. Estu tak mau bapak terbeban oleh ceritanya dan mencoba untuk menghadapi masalahnya sendiri. Dirumah dia tetap terlihat santai, seperti tidak ada masalah yang berarti. 

Hari-hari selanjutnya dilalui Estu dengan situasi yang sama. Murid-muridnya masih berperilaku seperti dulu. Tapi Estu lagi dan lagi, tidak mau menceritakan itu semua kepada bapak. Dengan alasan yang sama, dia tidak mau bapak terbebani oleh masalahnya. Estu hanya bisa bersabar dan berdoa menghadapi murid-muridnya. Setiap pagi dia selalu meminta petunjuk serta pertolongan kepada Tuhan-Nya. Dia juga selalu berusaha untuk merubah sifat serta sikap murid-muridnya agar menjadi lebih baik. Tapi usahanya seakan pupus. Seakan tidak ada harapan untuk merubah sifat murid-muridnya. 


BEBERAPA BULAN KEMUDIAN.... 


Bu Diah, guru konseling sekolah tempat Estu mengajar menghubunginya. Beliau mengatakan bahwa anak kelasnya tawuran dengan anak dari sekolah lain. Estu yang panik, segera berangkat ke sekolah dengan terburu-buru

"Kamu kenapa Tu kok buru buru kayak gitu." tanya ibu yang sedang menyiapkan makanan

"Anu Bu, murid Estu ada yang tawuran." jawab Estu panik

"Ya Allah Tu, kok bisa?" tanya ibu yang sekarang juga ikut panik

"Nggak tau Bu, udah ya bu, Estu mau ke sekolah dulu."

Setelah pamit dengan ibu, Estu memacu motornya agar bisa sampai dengan cepat ke sekolah. 

Saat ini Estu berada di ruang konseling , ada beberapa murid Estu yang sudah berada disana.

"Pak murid murid bapak ini tawuran Pak dengan sekolah lain. Hanya karena masalah sepele." ucap Bu Diah

"APA MAKSUD IBU MASALAH SEPELE,mereka…." ucap salah satu murid dengan nada tinggi.

"MURID TIDAK PUNYA ETIKA DIMANA TATA KRAMAMU BAGUS" bentak Bu Diah

"BU DIAH JANGAN SEENAK NYA MENUDUH KAMI , KAMI TIDAK SEPENUHNYA SALAH." ucap salah satu murid lagi

"Sudah tenang Bagus, Rafi, Raka kalian tenang. Bu Diah, tolong dengarkan mereka dahulu." tutur Estu 

"PAK ESTU TANGANI ANAK ANAK INI , DASAR ANAK ANAK NAKAL. SILAHKAN KALIAN KELUAR." bentak Bu Diah

"Baik Bu, saya minta maaf karena saya lalai, ini bukan salah mereka. Saya kurang mengawasi, sekali lagi saya meminta maaf, kami pamit Bu. 

"Ayo anak anak ." ucap Estu sembari keluar ruangan diikuti anak murid nya

Di perjalanan menuju kelas mereka hanya diam, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Estu yang tidak mau canggung pun akhirnya membuka pembicaraan.

"Kalian ikut Bapak saja ke kantin." ucap Estu 

Tidak ada yang merespon mereka semua menunduk.

"Sudah Bapak tidak akan marah pada kalian,tenang saja." tutur Estu

Mereka tetap tidak merespon tetapi mereka bertiga mengikuti Estu pergi ke kantin.

"Pesanlah apa yang kalian mau." ucap Estu

"Pak maaf, kami membuat Bapak malu . Bapak belum kenal kami , kenapa Bapak meminta maaf atas kesalahan kami?" ucap Raka sambil menundukan kepala

"Sudah tugas saya sebagai guru kelas kalian, saya disini juga wali kelas kalian." jawab Estu

"Pak saya minta maaf , atas perlakuan kami kemarin kami semena-mena pada Bapak." ucap Rafi

"Kami juga minta maaf Pak , karena kami tidak bisa mengontrol emosi kami." tambah Bagus 

"Kalian harus belajar dari kesalahan ya, ceritakan kenapa kalian tadi." tutur Estu

"Tadi kami sebenarnya tidak ada niatan tawuran Pak, tetapi saat dijalan ada anak sekolah lain yang sengaja menyenggol motor Rafi. Rafi tadi sempat jatuh tapi mereka tidak ada permintaan maaf." jelas Bagus

"Benar Pak, makanya kami tadi sempat ricuh, kalau dibilang tawuran ini terlalu kecil pak." sahut Rafi

"Ya sudah , sekarang silahkan kalian pesan apapun yang kalian mau, saya yang akan membayar. Asal kalian mau berubah lebih baik , Bapak akan bantu agar guru juga tidak menyepelakan kalian seperti tadi." tutur Estu

"Terima kasih Pak." ucap mereka bertiga 

Setelah itu mereka langsung makan, ditraktir Estu tentunya. Disini mereka bercerita tentang bagaimana guru memandang mereka , siapa saja guru yang sudah masuk kelas mereka yang selalu mengecap mereka tidak punya adab dan etika. Disini Estu mengerti bahwa bukan mereka yang salah , tetapi guru guru disini yang menggiring opini tidak benar,dan membuat mereka kesal kemudian berperilaku seperti ini. Sembari makan, Estu memberikan sepatah dua patah kata agar murid-muridnya bisa berubah. 


BEBERAPA MINGGU KEMUDIAN....

Murid-murid kelas Estu sudah mulai menunjukkan perubahan. Estu juga sudah menjelaskan pada guru-guru bahwa murid kelasnya memang seperti itu, jadi harap memaklumi. Sekarang murid-murid Estu sudah bisa menghormati guru, berperilaku baik dan lain sebagainya. Kesabaran dan kegigihan Estu membuahkan hasil baik untuk murid-muridnya. Estu, yang dulu hanya seorang pemuda biasa, kini menjadi panutan untuk murid-murid asuhannya.

*****

SELESAI....

*Pict: Pinterest




Rilo Pambudi Putra Listiono, anak muda yang mencoba untuk menuangkan pikirannya ke dalam tulisan. Lahir di Madiun, dari keluarga sederhana. Anak muda yang katanya seorang penggiat kegiatan alam ini tak suka dengan hiruk pikuk kota. Ia lebih suka menyendiri di tempat sepi,daripada pergi ke kota untuk menyaksikan ramainya orang berjalan kesana kemari. Baginya,alam, musik dan tulisan adalah suatu keindahan


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com