Karya Puisi Aditya Irfan Situmorang di negeri kertas - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau untuk memperebutkan Anugerah Sumpah Pemuda. Deadline 28 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

18 Sep 2022

Karya Puisi Aditya Irfan Situmorang di negeri kertas



Setangkai bunga dari pulau sumatra (Rasuna said)

Dinginnya jeruji besi tak mematahkan semangatmu dalam menegakan tiang kemerdekaan.

Kau himpun pemuda-pemudi indonesia agar bersatu padu dalam melawan setiap kebijakan kolonialisasi.

Mengajak para pribumi untuk mengangkat senjata mengusir penjajah dari bumi pertiwi melalui gerakan bawah tanah.


Dengan berapi-api kau kibarkan bendera perang melawan ketidakadilan menyusun berbagai taktik dan strategi.

Keberadaanmu sebagai salah satu tokoh pergerakan politik sangat disegani serta dihormati oleh banyak orang.  

Berkat kegigihannya terciptalah kesetaraan hak antara pria dan wanita sehingga kedudukan wanita dapat berdiri sejajar.

Peranmu terpampang nyata berdayakan wanita dengan mendirikan sekolah tinggi di bukit tinggi.

Menolak perjodohan dini menantang hukum adat karena tak sesuai dengan nilai dan norma kesusilaan.

Saat usianya masih sangat  belia ayahnya mengirimkannya untuk belajar dipondok pesantren

Diatas mimbar podium dengan lantang sibuk berorasi membangkitkan rasa nasionalisme indonesia.

 

Melalui  orasi yang ia sampaikan beliau gaungkan dan nyalakan kembali  api nasionalisme dibumi hindia timur belanda.

Lewat tajamnya pena kau sibuk mengkritik setiap kebijakan pemerintah kolonial tanpa pandang bulu.

Beliau adalah orang pertama yang dijatuhi hukuman speek delict karena keberaniannya menentang setiap kebijakan kolonial.

Meski  namamu tak sefamiliar tokoh perjuangan lainnya namun perjuanganmu turut andil dalam terwujudnya kemerdekaan

Ragamu boleh saja terkubur namun benih-benih kebaikanmu akan terus tumbuh menebarkan keharuman.

Terlahir sebagai seorang priyai tidak membuatmu tinggi hati tergerak hatinya untuk mewujudkan mimpi kaum wanita .

Namun seperti layaknya tunas  jiwamu akan selalu beringkarnasi melahirkan kembali sosok rasuna disetiap generasi.

Ibarat sebuah diksi kau melengkapi syair-syairku dengan goresan kata-kata indah.

Kau adalah pelitaku menyalakan api dalam setiap dinding sanubari, membakar semangatku  untuk terus menebarkan kebaikan 


membela kaum wanita agar tidak dipandang sebelah mata, wahai rasuna cita-citamu sungguh sangat mulia.

Pantang baginya untuk mengabdikan diri  kepada para penjajah berjuang tanpa henti hingga titik darah penghabisan.

hingga fajar terbit menyinari seluruh penjuru semesta  mengusir kegelapan dari wajah bumi pertiwi.

Sudah sepatutnya kita sebagai wanita untuk melanjutkan perjuangannya dengan menunjukan prestasi

Tak letih bermimpi demi memajukan indonesia banyak wanita hebat diluar sana telah berhasil menembus batasnya sendiri  

Meskipun kodrat kita hanya seorang wanita walaupun kita lemah jangan padamkan mimpimu dan mematahkan semangatmu dalam menggapai mimpi.

Sang Rembulan



1/

Bak lentera ditengah belantara hutan.

Mengapit sinar rembulan dari tol cipurawi.

Memasang spanduk bertuliskan ‘’marhaban Ya Ramadhan’’.

2/

Para santri sibuk menggelar sajadah dan tikar.

Sembari menunggu adzan isya berkumandang.

Pancarkan geliat pesona gemintang serambi islam.

3/

Meneropong sembari menunggu penampakan hilal tiba.

Berbagai saluran televisi dan surat kabar ikut mewartakan.  

4/

Ciptakan harmoni keselarasan pada alam dan lingkungan sekitar.

Dinginnya angin malam mengiringi kami bertilawah.

Safari ramadhan datang bertandang selama setahun sekali.

Orang-orang  berjualan berlomba-lomba menjajalkan aneka takjil  

Beragam sajian dan menu khas nusantara siap memanjakan lidah. 

Bunyi bedug seraya bergema menandakan berbuka puasa segera dimulai.


5/

Para malaikat bergegas turun ke bumi.

Siap melipat gandakan pahala amalan. 

Selama setahun penuh kita berpuasa. 

Menahan rasa lapar dan dahaga dari. 

Pagi hingga menjelang  petang  hari.

Seteguk air mineral dan tiga buah kurma.

6/

Hidupkan kembali rasa kekeluargaan dimeja makan.

Bersama handai taulan sanak famili dan kerabat karib.

Mari tunaikan segala perintahnya.

Jangan biarkan imanmu goyah. 

Ibarat seperti menancap gas pada mesin.

Tingkatkan ketakwaan dan keimanan kita.

Berbanyaklah berbagi kepada kaum duafa. 

7/

Jadikanlah ramadhan sebagai momentum refleksi diri.

Bahu membahu membantu saudara muslim membutuhkan.

Berharap semesta berangsur-angsur pulih sehingga kita dapat.. 

Bergempita merayakan semarak suasana idul-fitri di desa dan perkotaan.

8/

Umat muslim disegala penjuru dunia ikut memeriahkan hari kemenangan.

Anak-anak di perkampungan merajut serta merakit pawai obor bada isya.

Melantukan sholawat dan seraya mengumandangkan takbir dari surau ke surau.

Bertandang dari satu rumah kerumah bersalaman mengeratkan tali persaudaraan.

9/

Mencicipi manis dan gurihnya kue kering buatan ibu dan opor ayam serta pedasnya. 

Sambal goreng daging dan kentang berbalut kental dengan santan kari dan ketupat. 

Ya allah ya tuhan pertemukanlah kami kembali dengan bulan suci ramadhan agung.

Kami merindukan gemerlapnya lailatul qadar serta keutamaan malam nuzurul quran.

Bionarasi :

Nama : Aditya Irfan Situmorang 

Tempat Tanggal Lahir :

17 September 1998 

Berdomisili di kota cirebon provinsi jawa barat

Pengalaman Pemuatan Karya : 

Radar Cirebon Kabar Cirebon Radar pekalongan Radar Malang Bojonegoro dan mojokerto

Harian BMR Pronusantaramews.com 


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com