Sangku Nasi dan Pendidikan Moral Orang Jawa | Hadad Fauzi Musthofa - negerikertas.com

INFO ATAS

Anugerah Sastra Negeri Kertas adalah karya yang masuk trending dan sekaligus mendapat penilaian tertinggi dari dewan kurator.

Media Sastra dan Seni Budaya

Tempat ngumpulnya inspirasi dari orang-orang hebat yang belum banyak terekspos media.

1 Jul 2022

Sangku Nasi dan Pendidikan Moral Orang Jawa | Hadad Fauzi Musthofa

 Sangku Nasi dan Pendidikan Moral Orang Jawa |

Hadad Fauzi Musthofa



Manusia adalah mahkluk bumi yang inti dari nilai kehidupannya bersandar kepada pengetauan, salah satunya yakni dengan mitos yang terdapat di kehidupan orang jawa. Jawa adalah pulau dari sekian banyaknya pulau di Indonesia yang terletak di kepulauan Sunda Besar dan merupakan pulau terluas ke 13 di dunia. 


Jawa juga terkenal sangat kental akan budayanya, aspek kehidupannya selaras dengan alam pola disiplin hidup bermasyarakatnya yang menghargai liyan (orang lain), yang dulu sampai sekarang masih di tuangkan dalam bentuk mitos ( cerita/makna yang sebenarnya di sembunyikan atau tersamar), kemudian berproses sesuai zamannya sebagai adat-istiadat, dan akhirnya menjadi falasafah hidup atau philosophy of live


Baik itu melalui tutur kata, atau perilaku keseharian dan masih banyak lainya terhadap masyarakat jawa masih sangat kental akan sikap seperti ini, pastinya nilai moral yang terkandung didalamnnya yakni mengandung makna yang dalam untuk keberlangsungan hidup orang-orang jawa tersebut.


Terutama, masyarakat mengenalnya dengan istilah wewelar atau pamali (tidak baik) ini sangat melekat di kehidupan orang jawa. Biasanya hal seperti ini diceritakan oleh orang-orang terdahulu seperti tokoh masyarakat kakek, nenek juga kedua orang tua. 


Dalam kehidupan orang jawa tempo dulu, hidup selaras dengan alam semesta adalah suatu keutamaan tersendiri, mengapa demikian. Karena di mana sang manusia mampu menempatkan dirinya dalam keseluruhan secara selaras. Banyaknya berbagai keutamaan yang dijadikan pedoman hidup oleh orang jawa agar dapat hidup selaras dengan alam tadi, yakni mulai dari bangun tidur hingga matahari tenggelam di ufuk barat. 


Satu diantaranya praktik budaya yang masih melakat adalah sesaat membangun rumah khusunya di jawa. Dewasa ini kita sering melihat banyak orang jawa atau orang tua kita sendiri yang mana saat mereka membangun rumah acara-acara adat dan prasyaratannya dilakukan seperti menempelkan bendera merah putih di kayu bagian tengah, sekaligus menggantungkan barang-barang tertentu di kayu bagian penyangga seperti, pengukus nasi dengan bentuk kerucut yang terbuat dari anyaman bambu, ilir, padi, tebu, kelapa tua, tapi/samping batik, beras, gula merah, bumbu dapur, bunga 7 jenis, irus, centong, paku payung, kertas bertuliskan bismillah aji-ajian dan masih banyak lainya dan itu kita kenal dengan istilah ngunjuk suwunan. Kurang dan lebihnya arti dari pelambangan tersebut adalah sebagai bentuk dari rasa cinta terhadap tanah air, rasa syukur juga sebagai simbol kemakmuran dalam berkeluarga yang mana seketika kayu suwunan sudah di pasang barang-barang tersebut dipersilahkan untuk diambil oleh tukang atau si pembuat rumah tersebut, hanya menyisihkan bendera merah putih dan kertas bertuliskan bismillah dan aji-ajian saja. Itu juga saat menaikkan kayu suwunan biasanya di barengi dengan lantunan adzan dan iqomah. 


Kembali ke wewelar atau pamali, pamali atau kumali ini bertitik tumpu pada larangan suatu hal yang jika dilakukan maka akan adanya timbal balik dari sesuatu yang dibilang pamali tersebut, ini sebenarnya hanya mitos yang berkembang pada banyak masyarakat yang tiada lain maksud dan tujuannya adalah sebagai pendidikan kode etik atau moral untuk menjadikan manusia yang bijak dalam tingkah laku kehidupan bersama. Contohnya yakni kita dilarang menaruh sangku atau wadah nasi yang terbuat dari anyaman bambu di atas kepala, jika itu terjadi dengan orang jawa terdahulu akan mengatakan “pamali, nanti bisa dimakan buaya”. Secara akal pun sebenarnya tidak rasional namun banyak diantaranya yang belum mengerti apa akan makna laku yang termaktub sehingga kita pun meyakininya. 


Sebenarnya makna yang tersirat didalamnya adalah “jika melakukan hal itu, takutnya dalam wadah tersebut adanya akan rambut kepala kita yang tersangkut di dalamnya meski seuntaipun, dikhawatirkan juga jika nantinya sudah terisi oleh nasi dan siap dihidangkan kepada keluarga atau tamu lalu terjadi hal tersebut, maka kita tidak menaruh rasa penghormatan kepada yang dihidangkan. Sikap seperti ini memanglah keluhuran akan moral yang ditanamkan oleh orang jawa terdahulu agar sebagaimana mungkin untuk bisa menghormati orang lain sekalipun itu dalam keluarga. 


Atau juga bisa kita temukan pada contoh lain seperti larangan duduk dipintu dan larangan memasuki rumah lewat jendela. Jika hal tersebut terjadi dengan spontan orang terdahulu akan mengatakan “jika duduk di pintu nanti lamaranya balik lagi, atau jika kalau memasuki rumah lewat jendela. Nanti akan mendapatkan bala atau musibah”. Hal demikan pun sebenarnya mempunyai makna terdalam sebagai bentuk penanaman moral untuk kita mengapa, karena maksud dari itu adalah kita membiasakan diri untuk berperilaku menggunakan keadaan yang ada sebagai tempatnya seperti itu tadi, jika kita duduk di pintu orang yang hendak lewat pun akan terganggu, atau kita memasuki rumah lewat jendela adalah dikhawatirkan kita bisa terjatuh dan jendela tersendiri kegunaannya bukan untuk dijadikan pintu melainkan sebagai lubang keluar masuknya udara. 


Itu tadi sekilas mengenai mitos yang sebagai pembelajaran etika moral kita untuk kehidupan sehari-hari yang kita dapatkan dari orang-orang jawa terdahulu. Juga sebagai sikap kepedulian kita terhadap orang lain dan menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air. Seperti ini juga akan menjadi falasah yang dalam bagi orang-orang jawa baik yang terdahulu atau yang akan datang. 


Cirebon, 30 Juni 2022. 

 


Biodata penulis :

Hadad Fauzi Musthofa, pria kelahiran Cirebon 04 Maret 2001. Ia adalah anak terakhir dari 10 bersaudara. Teman-teman sejawatnya  akrab memanggilnya Hadad, menaiki gunung dan bersepeda adalah hobi yang ia geluti sesekali berjalan mengunjungi kota-kota pun ia lakukan. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan S1 nya di STAIMA  Babakan Ciwaringin Cirebon(Sekolah Tinggi Agama Islam Masduki Ali) tulisannya tersebar di berbagai media websait diantaranya NegeriKertas, monologi kata, jendela aswaja dan berbagai akun medianya seperti facebook, dan instagram. Baginya hidup adalah kemanfaatan untuk sesamanya maka dari itu motonya adalah “Bermanfaat itu asik”. 





INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com