Cerpen: Seperti Kehilangan Dirinya Oleh Hadad Fauzi Musthofa - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

6 Jul 2022

Cerpen: Seperti Kehilangan Dirinya Oleh Hadad Fauzi Musthofa

 Seperti Kehilangan Dirinya

Oleh Hadad Fauzi Musthofa


Dibalik hati yang kering, Ranu sering sekali merenung dalam-dalam bibirnya terkunci sorot matanya kosong dan hilang, apa yang ia pikirkan? Ada apa, mengapa, dan bagaimana kemungkinan udang itu bersembunyi dibalik batu yang kering dan enggan untuk menampakkan dirinya. 

Sebagai pemuda, ia sering keluar rumah malam-malam, bertemu teman sejawatnya bercanda ria dan sorak-sorai kata yang keluar dari bibir-bibir mereka. Namun tidak dengan hari itu ia sulit untuk melangkahkan kakinya keluar rumah menyapa angin malam, gemerlap bintang serta cahaya lampu jalan.

Sudut kamar seperti kaca baginya meratapi dirinya sendiri, tiada henti detik demi detik, barangkali ini adalah momen untuk jiwanya sendiri untuk menopang, membasuh pikirannya yang rumit seperti akar-akar pohon beringin. 

Benaknya. Kehilangan orang tersayang adalah luka yang luas dan sukar dalam hati, lebih-lebih pujaan hatinya pergi tanpa sebab dan alasan hanya sikap asing yang ia tanamkan pada hubungan mereka. Bahkan senyum yang berkembang pun hilang saat mereka bertemu, saat laki-laki itu duduk di kejauhan dan perempuan yang anggun berjalan, prasangkanya mata itu melihat dan senyuman itu terlempar kedirinya namun naas harapannya tidak seperti itu. Tidak menyapa. Toh tidak pantas juga jika sahut-sahut, saat itu karena suasananya pun sedang ramai-ramainya. 

Anggun, seorang mahasiswa cantik nan pintar adalah wanita pujaan Ranu, yang ia bangga-banggakan selama ini dia adalah sekian dari wanita yang menurutnya baik untuknya, pendiam, tidak banyak bicara dan pemalu. Sifat-sifatnya seperti mawar yang indah meski berduri tetapi mawas. Dia tahu bagaimana harus bersikap dengan sesama namun tidak untuk ini. 

Terkadang dalam hubungan pengertian adalah poin utamanya saling memahami juga perlu. Ranu merasa ia sebenarnya bersikap seperti itu, dan selalu bagaimana caranya agar seperti itu, namun di saat Anggun mulai pudar perhatiannya terhadap dirinya ia pun enggan dalam perasaannya seperti ia malas untuk mengabari, bertanya atau mengenai apa pun itu agar hubungan mereka romantis seperti kemarin. Memang tidak selalu didunia ini manis pasti hal-hal pahit pun ada seperti sesuatu yang tidak kita inginkan atas terpelesetnya harapan. 

Meski mengenai hubungan tidak perlu di hitung akan timbal baliknya, akan tetapi jika sudah merasa asing akan kehadirannya itu apalagi ia sudah merasa terganggu pergi adalah jalan satu-satunya. Bisa menanyakan sesuatu padanya namun tidak bagi Ranu, dia merasa malu dia hanya berprasangka bahwa kehadirannya sudah tidak di perlukannya lagi. Hanya itu yang ada di dalam benaknya. Heran. 

Atas kesalahan-kesalahan yang ia pikirkan, sebenarnya ia juga merasa bersalah dengan perbuatannya yang mungkin itu membuat luka wanita pujaannya seperti kemarin ia bertemu dan berfoto dengan teman sekolahnya dulu dan Anggun mengetahuinya atas itu. 

Tidak bisa dimengerti mengapa semunya terjadi. Atas apa pun yang datang Ranu adalah laki-laki malang melintang soal perempuan ia selalu tak mujur jika tidak di selingkuhi maka dijauhi adalah pasangan dari kategori luka itu. 

Keasingan dari hubungan pun terjadi, ini seperti air dan minyak yang enggan untuk berbaur menjadi satu kesatuan dalam wadah yang sama. Tidak seperti biasanya saling mengabari juga mulai hilang pelan demi pelan, atas semua hal ini Ranu selalu berdo’a dan mengharap kepada tuhan agar di tunjukkan jalan yang baik dan ia berusaha untuk menerima atas apa pun untuk dirinya jika sudah benar ketetapannya atas nama takdir. 

Lalu bagaimana dengan anggun, ia berjalan dengan dirinya sendiri di atas kaki-kakinya sendiri juga menjalani kehidupan bersama jiwanya sendiri.  Tidak tahu atas anggun menjadi kotak yang sulit Ranu buka harus dengan apa dan bagaimana ia masih merenungi dalam-dalam sembari memanjatkan do’anya ke langit. 

Mengenai perempuan baginya saat ini adalah ruang kosong yang mengakar, apalagi jika bersentuhan dengan perasaan perempuan memang mahluk yang unik sulit untuk di tebak dan di mengerti, perempuan satu-satunya mahluk yang jika diam namun menyimpan sesuatu apalagi jika sesuatu itu ikut berkecimuk di lubuk hatinya terlebih soal laki-laki, juga bagi Ranu sendiri saat ini perempuan adalah sesuatu yang tak terucap dari segala ucap. 












Biodata penulis :


Hadad Fauzi Musthofa, pria kelahiran Cirebon 04 Maret 2001. Ia adalah anak terakhir dari 10 bersaudara. Teman-teman sejawatnya  akrab memanggilnya Hadad, menaiki gunung dan bersepeda adalah hobi yang ia geluti sesekali berjalan mengunjungi kota-kota pun ia lakukan. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan S1 nya di STAIMA  Babakan Ciwaringin Cirebon(Sekolah Tinggi Agama Islam Masduki Ali) tulisannya tersebar di berbagai Media Website diantaranya NegeriKertas, Monologi Kata, Jendela Aswaja dan berbagai akun medianya seperti Facebook, dan Instagram. Baginya hidup adalah kemanfaatan untuk sesamanya maka dari itu motonya adalah “Bermanfaat itu asik”. 







INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com