Puisi Muna Yuki Sastradirja - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

17 Apr 2022

Puisi Muna Yuki Sastradirja

 

Penebusan"

 

Maaf

Aku belum bisa menasehati diri sendiri

Dalam kesanggupan

 

Aku ingin kembali

 

-----------------------

 

Sisipan

"Aku titip"

 

Cinta seputik bunga bangkai.

Terkembang dalam bingkai.

Mengembang setitik hidup.

Dijasadku yang meredup.

 

Memuntir lautan teduh.

Terbang dengan sauh.

Mengitari warna-warna.

Mengelilingi semesta.

 

Tubuhku renta.

Dunia aku puja.

Aku hina dunia.

Sukmaku menua.

 

Cinta tiba ditanah.

Kasih menanda nisan.

Aku diam pasrah.

Sayang doaku pesan.

 

----------------------

 

 

"Sebelum sia-sia, sebelum usia, sekali setelah itu tiada"

 

Sesekali tidurkan benderamu, ia butuh istirahat dari perjalanan panjangnya di tanah. Biarkan ia rebah, biarkan ia lepas semua lelah, sebab ingatannya sudah tidak mampu lagi menampung tetesan darah yang tumpah. 

 

Sesekali pejamkan benderamu, ia butuh lelap dari berabad peradaban bangsa. Biarkan ia pulas, biarkan ia merangkai mimpinya, karena hatinya sudah tidak sanggup lagi menimbun kedaulatan setelah mati.

 

Sesekali kita mesti berganti jaga, kamu ambil siang artinya aku pada malam, atau sebaliknya. Menemani tidurnya mutlak bukan sebuah pilihan dalam permainan bela bangsa bela negara. Ini sebenar-benarnya kesanggupan.

 

Sesekali kita jangan lengah dari situasi-situasi siang dan malam. Musuh serupa kita, salah setitik kita tidak akan mampu membangunkannya untuk sekedar ia melihat dan merasakan mimpinya. 

 

Sesekali waktu sambil bergantian jaga, ajari anak-anak dan istri kita untuk tidak menangis di rumah. Mereka penerus dan istri kita pelurus semua doa, surga di bawah telapak kakinya yang diwarisi berabad-abad dari setiap perempuan turun temurun hingga ke ibu kita.

 

Sesekali jangan berpaling, kebenaran jangan lagi tidak sampai pada kenyataan. Siang sudah begitu terik, malam telah teramat cekik. Tak perlu takut, tak perlu kecut pada takdir manusia yang hanya mempunyai rencana dan tujuan, Tuhan yang menentukan pencapaian. Yakin, Tuhan bersama hamba-hambaNya yang berjuang.

 

 

-------------------

 

Biodata:

 

Muna Yuki Sastradirja, lahir di Jakarta, 27 April 1980 di kenal Yuki Sastradirja. Lulusan terakhir SMU Arena Siswa II, Utan Kayu Jakarta Timur. Mulai menulis dan membacakan puisi semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Selain membacakan puisinya, sering juga berkolaborasi dengan beberapa seniman tanah air, salah satu diantaranya; Agoes Jolly dalam Perfomance Art “Seni Rupa Pertunjukan, Joko Wasis dalam “Live Hipper Exspresionisme”, dan lain-lain. Sekarang tinggal di Jakarta dan beraktifitas di Planet Senen.

 

Tahun 2001, puisinya yang bertema Tikam di gubah menjadi lyrick lagu group band Underground Passenger asal Jakarta. Masuk kedalam album kompilasi “With Pain We Born”, bekerjasama dengan peruhasaan rekaman indie lable Never End Record, Bekasi Timur-Jawa Barat.

 

Tahun 2010, beberapa tema puisinya masuk dalam bedah karya “Realita Puitik” di Pusat Kajian Puisi Planet Senen Jakarta. Antologi bersama bertajuk “Indonesia berkaca”, dengan Lintas Dunia Maya Penyair Nusantara 2010.

 

Tahun 2011, Antologi bersama bertajuk “Negeri Cincin Api”, dengan beberapa Penyair Nusantara. Penerbit PP LESBUMI.

 

Tahun 2012, Antologi Mbeling bersama Suara-suara yang terpinggirkan, Antologi bersama Cerobong besi

 

 

yukisastra@gmail.com

 


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com