Puisi Fiq (Taufiq Hidayat) - negerikertas.com

.

(Mulai 1 Agustus 2021 setiap Cerpen yang dimuat di negerikertas.com mendapat honor Rp 100.000)

Puisi Fiq (Taufiq Hidayat)



SEBENTUK PENGAKUAN

telah dikalamkan
perihal waktu
dan kecemasan
pada helai-helai cemara laut
saat hujan
saat segalanya
begitu segar
dan musim demi musim keluh
membayang pada matamu

pada sekali musim bunga
tatkala bulan berluruhan
dari alis matanya
ada yang ingin dimaknai kembali

seperti menggali mutiara hitam
dan sumur tua
di tepi hutan itu
membuka dirinya yang gelap
pada langit
pada dingin cuaca
yang tak pernah terduga

jalanan yang tak lekang
kebun jeruk
dan batu-batu hitam
di sungai itu

senja
halaman pohon mangga
dan rindu
yang selalu disapu
dari daun-daun kering
ada ayam dan kelinci
lalu mengenang senja
pada sehelai jendela

kurebahkan kecemasanku
di altar senja
dan doa
doa

selalu saja
yang rahman itu tiba
sebelum kata

hujan
dan bumi yang dihidupkan
malam
dan suara-suara kejauhan

tatapannya menyimpan dendam rindu pelayaran
bagai memasukkan kembali
segala kelelahan
pada segala harapan

hingga ketika itu
ditemukan sehelai surat
yang entah berapa lama sudah
belum terbaca

tapi di kota yang celaka
orang-orang bermain politik
dengan nyawa, Tuhan,
dan agama

musim pun
menyambut pancaroba
yang menggelembung
dalam lambung-lambung sejarah

lihatlah
pohon-pohon yang tumbuh
didatangi sunyi
yang ingin melompat
menikam matahari
dan di segala peristiwa
ada wajah siapa
yang papah
dan menderita

orang-orang menyembah tahayul wabah
dikira bencana,
merubah dunia,
hanya cemas
orang malas
dan igauan
orang pintar
yang tiap hari
melahap teori-teori
di dalam almari

anak-anak bermain dalam petaka
orang-orang dewasa bergurau sambil
mempertaruhkan nasib
pada meja-meja dunia
yang purba
dan fana
kenangan pun dirangkai
pada ruang rawan
yang berdebu

kau-aku ngilu
gugup, gagu
dan ungu.

Sobo, 2018-2020


.