
oleh Fileski Walidha Tanjung
Di tengah zaman yang semakin bising oleh algoritma, ketika perhatian manusia diperdagangkan menjadi komoditas dan kreativitas sering direduksi menjadi konten sesaat, sebuah peristiwa sederhana berlangsung di Pelataran Dekranasda Tugu Pendekar, Kota Madiun. Reboan Musik (RBM) #04 tidak hanya menjadi ruang pertunjukan bagi Siluet dan Barakita feat. Ade. Malam itu, musik, lukisan, anak-anak, dan kota bertemu dalam sebuah percakapan yang lebih besar tentang masa depan peradaban.
Kita hidup pada masa ketika kemajuan teknologi sering dipahami sebagai kemajuan manusia. Padahal keduanya tidak selalu berjalan beriringan. Dunia berhasil menciptakan kecerdasan buatan yang mampu menulis puisi, melukis gambar, bahkan meniru suara manusia. Namun di saat yang sama, banyak masyarakat kehilangan ruang untuk mendengar satu sama lain. Dalam konteks inilah seni menjadi relevan kembali, bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai teknologi kemanusiaan.
Perayaan World Art Day, World Music Day, dan turut merayakan Hari Jadi Kota Madiun ke-108 ala warga biasa dalam satu panggung menghadirkan sebuah simbol yang menarik. Ketiganya berbicara tentang waktu. Kota berbicara tentang masa lalu yang diwariskan. Musik berbicara tentang masa kini yang dialami bersama. Sementara seni rupa berbicara tentang masa depan yang sedang dibayangkan.
Maka momen penyerahan penghargaan kepada para pelukis cilik dalam ajang Thirty Day Art Challenge sesungguhnya memiliki makna yang jauh melampaui kompetisi. Ketika Mawayang Bumi dari Sidoarjo, Harum Kawedar dari Madiun, dan Shayaan Al Hanan dari Madiun mampu menyelesaikan tiga puluh lukisan dalam tiga puluh hari, yang sedang mereka bangun bukan sekadar kemampuan melukis. Mereka sedang melatih disiplin imajinasi. Dan dalam sejarah manusia, setiap perubahan besar selalu lahir dari kemampuan membayangkan sesuatu yang belum ada.
Filsuf Amerika John Dewey pernah mengatakan, “Imajinasi adalah medium utama bagi segala persepsi dan pemahaman.” Dalam bahasa Indonesia, pernyataan itu dapat dibaca sebagai pengingat bahwa manusia tidak hanya hidup dari apa yang dilihatnya, tetapi juga dari apa yang mampu dibayangkannya. Karena itu, investasi terbesar sebuah kota bukanlah beton, jalan raya, atau gedung-gedung tinggi, melainkan kapasitas warganya untuk membayangkan masa depan yang lebih baik.
Di titik ini, Reboan Musik menawarkan perspektif yang menarik. Ia bukan sekadar agenda rutin setiap Rabu. Ia adalah laboratorium sosial. Di sana, musisi, pelukis, penonton, anak-anak, orang tua, dan komunitas bertemu tanpa sekat profesi maupun status. Sebuah kota yang sehat bukanlah kota yang hanya memiliki pusat perbelanjaan yang megah, melainkan kota yang menyediakan ruang bagi warganya untuk berjumpa dan mencipta.
Pemikiran ini sejalan dengan gagasan filsuf Jerman Hannah Arendt yang menulis, “Dunia menjadi manusiawi ketika ia menjadi objek percakapan.” Dalam terjemahan bebas, dunia hanya menjadi lebih manusiawi ketika orang-orang mau duduk bersama dan membicarakannya. Seni menyediakan kemungkinan itu. Musik mencairkan jarak. Lukisan memperpanjang percakapan yang tak mampu diucapkan kata-kata.
Barangkali di tengah perayaan usia Kota Madiun yang ke-108, pertanyaan yang lebih penting bukanlah seberapa banyak bangunan yang telah didirikan, melainkan seberapa banyak imajinasi yang telah ditumbuhkan. Sebab kota-kota besar dalam sejarah tidak dikenang karena ukuran infrastrukturnya, melainkan karena kemampuan mereka melahirkan manusia-manusia yang berpikir, berkarya, dan memberi makna bagi zamannya.
Malam ini, ketika nada-nada musik mengalun dan piala-piala diberikan kepada para pelukis cilik, sesungguhnya yang sedang dirayakan bukan hanya prestasi. Yang sedang dirayakan adalah harapan. Harapan bahwa di tengah dunia yang semakin mekanis, masih ada anak-anak yang tekun melukis, masih ada musisi yang memilih berbagi bunyi, dan masih ada kota yang percaya bahwa seni bukan pelengkap pembangunan, melainkan jantungnya.
Lalu pertanyaannya: ketika generasi mendatang menoleh ke masa kita hari ini, apakah mereka akan melihat masyarakat yang sibuk membangun gedung, atau masyarakat yang sungguh-sungguh membangun manusia.


1 Komentar
Sukses selalu buat acara reboan musik Madiun, semoga menginspirasi, menyatukan seniman seniman lintas generasi dan lintas genre
BalasHapusLingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.