Transformasi Kemandirian: Urgensi Vokasi Tata Gerha bagi Siswa Tunagrahita SMPLB di Sekolah Luar Biasa
oleh Qurrota Ayunin, S.Pd
Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, khususnya siswa tunagrahita, telah mengalami pergeseran paradigma dari model layanan sosial menjadi model pemberdayaan. Di Sekolah Luar Biasa, salah satu instrumen utama pemberdayaan ini adalah pendidikan vokasi. Berdasarkan Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 (CP 046) mengenai Capaian Pembelajaran (CP) pada Madrasah dan Sekolah Luar Biasa, pendidikan vokasi Tata Gerha (Housekeeping) bukan lagi sekadar kegiatan pengisi waktu, melainkan sarana krusial untuk membekali siswa SMPLB dengan kemampuan fungsional agar mereka dapat hidup mandiri dan berdaya di masyarakat.
Implementasi kurikulum di Sekolah Luar Biasa kini mengacu pada standar kompetensi terbaru yang menitikberatkan pada fleksibilitas pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023).Bagi siswa tunagrahita tingkat SMPLB, fase ini merupakan masa transisi kritis di mana aspek kognitif yang terbatas harus dikompensasi dengan keterampilan motorik dan afektif yang kuat. Tata Gerha dipilih sebagai program unggulan karena sifatnya yang rutin, konkret, dan memiliki kebermanfaatan langsung baik di lingkungan rumah maupun industri jasa.
Tata Gerha sebagai Jembatan Kemandirian
Siswa tunagrahita di Sekolah Luar Biasa seringkali menghadapi hambatan dalam fungsi adaptif. Pendidikan vokasi Tata Gerha hadir untuk meminimalisir ketergantungan mereka pada orang lain. Dalam materi Tata Gerha, siswa diajarkan keterampilan dasar seperti membersihkan area kerja (dusting, sweeping, mopping), merapikan tempat tidur (making bed), hingga pengelolaan sanitasi. Sesuai dengan Capaian Pembelajaran Keterampilan Tata Gerha, proses pembelajaran di SMPLB Sekolah Luar Biasa dirancang secara bertahap. Siswa tidak hanya dilatih "cara" bekerja, tetapi juga "mengapa" kebersihan itu penting. Hal ini menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap lingkungan. Di Sekolah Luar Biasa, fasilitas sekolah digunakan sebagai laboratorium hidup. Ruang kelas, ruang guru, dan kantor kepala sekolah menjadi tempat praktik nyata, sehingga siswa merasakan pengalaman kerja yang otentik.
Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) melalui Praktik Repetitif
Salah satu tantangan mendidik siswa tunagrahita adalah daya ingat yang lemah. Oleh karena itu, strategi pembelajaran mendalam yang diterapkan di Sekolah Luar Biasa berfokus pada praktik repetitif dan modeling. Pendekatan pedagogis yang menggabungkan pemahaman konsep secara mendalam (meaningful learning) dengan pengulangan yang terstruktur (spaced repetition) untuk membangun ingatan jangka panjang dan keahlian (mastery). Metode ini memastikan informasi tertanam kuat, bukan sekadar dihafal untuk jangka pendek. Guru memberikan contoh secara visual, diikuti dengan pendampingan intensif (hand-over-hand), kemudian perlahan dilepaskan hingga siswa mampu melakukan tugas secara mandiri.
Pentingnya vokasi ini juga terletak pada pengembangan karakter. Penerapan kurikulum mendalam di Sekolah Luar Biasa melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2023) menekankan pentingnya kemandirian. Hal ini diperkuat oleh Azzahro (2021) yang menyatakan bahwa melalui teknik modelling, siswa tunagrahita dapat lebih mudah menyerap keterampilan praktis seperti tata graha. Melalui Tata Gerha, siswa belajar tentang ketelitian, kejujuran (saat menemukan barang milik orang lain), dan ketahanan kerja. Selain itu menurut Choiroh (2020) Keterampilan tata graha merupakan bagian integral dari program bina diri yang bertujuan agar siswa tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bantuan orang lain dalam aktivitas harian. Siswa tunagrahita yang terampil dalam tata gerha menunjukkan peningkatan kepercayaan diri yang signifikan, mereka merasa berguna dan diakui eksistensinya. Adapun, menurut Salmitri (2021) Kerhasilan pembelajaran vokasi sangat bergantung pada kemampuan guru dalam melakukan analisis kebutuhan yang tepat terhadap hambatan kecerdasan spesifik yang dimiliki siswa.
Relevansi dengan Dunia Kerja dan Peluang Masa Depan
Sekolah Luar Biasa secara strategis melihat potensi penyerapan tenaga kerja bagi lulusannya. Sektor perhotelan, rumah sakit, dan jasa kebersihan profesional membutuhkan tenaga kerja yang disiplin dalam tugas-tugas rutin. Siswa tunagrahita yang telah menuntaskan fase SMPLB dengan kompetensi Tata Gerha yang baik memiliki modal dasar untuk melanjutkan ke tingkat SMALB yang lebih spesifik atau mengikuti program magang. Hal ini diperkuat oleh pendapat Ulimaz (2020) bahwa Pendidikan Vokasi yang terstruktur di sekolah menengah luar biasa menjadi modal utama bagi alumni untuk dapat berpartisipasi dalam lingkungan sosial maupun dunia kerja.
Berdasarkan studi literatur tentang Pendidikan Vokasional Alumni SLB, individu dengan hambatan intelektual memiliki tingkat keberhasilan tinggi pada pekerjaan yang bersifat prosedural tetap. Tata Gerha memenuhi kriteria tersebut. Dengan sertifikasi atau bukti kompetensi yang dikeluarkan sekolah, hambatan stigma di masyarakat dapat perlahan terkikis.
Sinergi Sekolah dan Orang Tua
Implementasi CP 046 di Sekolah Luar Biasa tidak akan maksimal tanpa peran serta orang tua. Keterampilan yang dipelajari di sekolah harus dipraktikkan kembali di rumah. Sekolah harus secara aktif mengomunikasikan perkembangan siswa melalui buku penghubung maupun pertemuan rutin dengan orang tua. Orang tua diajak untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk "bekerja" di rumah, seperti merapikan kamar sendiri atau membantu membersihkan ruang tamu. Sinergi ini memastikan bahwa pendidikan vokasi tidak berhenti di pintu gerbang sekolah, melainkan menjadi gaya hidup.
Tantangan dan Solusi
Tentu saja, hambatan seperti keterbatasan sarana alat pembersih modern dan variasi tingkat hambatan siswa tetap ada. Namun, Sekolah Luar Biasa mengatasi hal ini dengan inovasi alat peraga yang dimodifikasi. Penggunaan instruksi bergambar (visual support) sangat membantu siswa yang memiliki hambatan komunikasi verbal untuk tetap mengikuti instruksi kerja dengan benar.
Kesimpulan
Pendidikan vokasi Tata Gerha bagi siswa tunagrahita SMPLB di Sekolah Luar Biasa adalah manifestasi nyata dari pendidikan yang inklusif dan memanusiakan. Sesuai dengan mandat CP 046, fokus utama bukan pada nilai akademis di atas kertas, melainkan pada penguasaan keterampilan hidup yang nyata. Dengan pengajaran yang mendalam, penuh kesabaran, dan terstruktur, siswa tunagrahita mampu membuktikan bahwa keterbatasan intelektual bukanlah penghalang untuk menjadi individu yang produktif, rapi, dan mandiri. Investasi pada pendidikan vokasi hari ini adalah investasi bagi martabat mereka di masa depan.
Daftar Pustaka
Azzahro, H. (2021). Pengaruh teknik modelling terhadap keterampilan vokasional bagi anak tunagrahita. Jurnal Pendidikan Khusus UNESA. ejournal.unesa.ac.id
Choiroh, U. (2020). Program khusus bina diri dalam meningkatkan kemandirian siswa tunagrahita. Journal of Autism and Special Needs Education. jahe.or.id
Efendi, M. (2006). Pengantar psikopedagogik anak berkelainan. Bumi Aksara. books.google.co.id
Garnida, D., & Katalina. (2016). Modul guru pembelajar SLB tunagrahita. Repositori Kemendikdasmen. repositori.kemendikdasmen.go.id
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2023 tentang Capaian Pembelajaran pada PAUD, Dikdas, dan Dikmen. Kurikulum Merdeka Kemdikbud. kurikulum.kemdikbud.go.id
Salmitri, A. N. (2021). Pengembangan instrumen analisis kebutuhan pendidikan dan pelatihan untuk guru anak dengan hambatan kecerdasan pada bidang tata graha [Tesis, Universitas Pendidikan Indonesia]. Repositori UPI. repository.upi.edu
Ulimaz, A. B. (2020). Pendidikan vokasional alumni SLB. Jurnal Pendidikan Luar Biasa UNY. journal.student.uny.ac.id
Jombang, 7 Januari 2026

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.