005

header ads

Puisi - Puisi Nunung Noor El Niel (Denpasar, Bali).

KEHENINGAN


aku sudah terlalu terbiasa menerima 

hempasan dari ambang 

pintu rumahku


bahkan jauh ke atas ranjang, hingga kadang

aku tak tahu apakah bantal dan gulingku

masih dapat menampung tangisan 


sebab sejak kanak-kanak telah diajarkan

menerima kekalahan dari warisan ibu

di mana aku tak pernah meraih 

uluran tangannya


: membenamkanku ke dalam pelukannya


tak ada lagi kecemasan

semua telah kusiapkan 

dengan naluriku .


 

meskipun aku harus melempar diri

keluar rumah untuk mengais 

matahari


terkadang aku tersengal oleh hentakan badai 

datang dan menelannya sebagai empedu

untuk menjamu diriku dari kekalahan

pada apa yang selalu hilang

dalam genggaman 

padahal sudah ada 

di tangan


semalam telah kutanak seluruh impian

hingga tak ada yang perlu dicemaskan

apalagi badai yang mungkin datang 

dan merampas sisa impian semalam

dari pelupuk mataku

karena masih 

setengah 

terpejam


aku melepasnya kembali

sebagai sebuah 

keikhlasan


Dps 15 2 24



KULDESAK


bisakah kita menyelesaikan sesuatu 

yang sudah lama kita harapkan

bisakah kita menerobos 

dinding batu


siapkah menyambut yang baru datang

menyambut angin dan ombak

sinar matahari dan hujan

jalan terjal dan berliku


kau hanya punya satu kesempatan

dan aku perlu dua kali mendengar

penjelasanmu

sebelum aku mempercayaimu


Jika kau bercanda denganku

adalah masalah besar 

kau akan mati mengenaskan


siangilah dirimu hingga tetap wibawa 

membias sampai nirwana 

dijaga di tahta para dewa 

dari angkara murka 

dan prahara


jangan bersikap konyol, sebab bisa jadi

sewaktu-waktu keberuntungan 

berpihak pada orang bodoh


Dps 28 2 24




Nunung Noor El Niel yang terlahir dengan nama Noor El Niel adalah perempuan penyair Indonesia yang saat ini tinggal di Denpasar, Bali. Nunung lahir di Jakarta tanggal 26 September  dan menghabiskan masa kecilnya di kota Surakarta, Jawa Tengah, kemudian pindah kemudian ke Bogor hingga tamat SMA. 


Menulis puisi bukan hanya  menuangkan peristiwa kedalam kata-kata, tapi bagaimana menemukan bahasa dan karekter si penyair itu sendiri dalam  kepekaannya terhadap realitas dan peristiwa yang ada di sekitarnya. Tapi bagaimana memberikan ilustrasi dengan mengeksplor kata-kata hingga menghasilkan metafor tapi bisa dipahami oleh pembacanya.


Nunung adalah salah seorang pendiri komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif sebagai pengurus komunitas, serta juga aktif di komunitas Jatijagat Kampung Puisi (JKP) di Denpasar, Bali.


Karya puisinya sudah diterbitkan dalam enam buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Solitude (2012), Perempuan Gerhana (2013), Kisas (2014), Perempaun dan Tujuh Musim (2016), serta Betinanya Perempuan (2019), Sumur Umur (2021)


Di samping itu puisinya juga dimuat dalam berbagai buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, antara lain Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak (2016), Memo Anti Terorisme (2016), Puisi Menolak Korupsi (2016), Puisi Penyair Kopi Dunia (2016), Menginyah Geram: Puputan Melawan Korupsi (2017), The First Drop of Rain: Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2017 (2017), Buku Sketsa Wajah Ibu: Antologi ASEAN Woman Writers Assosiation 2017 (2017), Epitaf Kota Hujan: Antologi Puisi Temu Penyair ASEAN di Padangpanjang (2018), When the Days Were Raining: Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019 (2019), serta Perempuan Bahari (2020), Sebab Cinta Kami Bicara (2023), Mencari Presiden Anti Korupsi (2023), dan tergabung di dalam 109 buku Antologi Puisi Bersama


Puisi Nunung juga pernah dimuat di berbagai media, antara lain,Media Indonesia, Indopost, Jawa Post, Pikiran Rakyat, Analisa Medan, Bali Post, Denpasar Post, serta Solo Post.


Nunung Noor El Niel juga mengikuti dan menjadi peserta :

- Musyawarah National Sastrawan Indonesia II di Jakarta Juli 2017

- Rainy Day Litfest I di Banjarbaru 2017 

- Rainy Day Litfest II - 2019

- Temu Penyair Asia Tenggara I   Tahun 2017 

- Temu Penyair Asia Tenggara II  tahun 2022

- Seminar Internasional Sastra Indonesia di Bali 2019


Dan profilnya terdapat pada Buku Apa dan Siapa Sastrawan Indonesia yang diterbirkan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2018.


Posting Komentar

0 Komentar