Puisi Fileski | Wahai Perempuan Sunyi - negerikertas.com

INFO ATAS

LEMBAGA INDEPENDEN DI BIDANG PENDIDIKAN LITERASI, SENI BUDAYA, DAN SASTRA.

28 Nov 2023

Puisi Fileski | Wahai Perempuan Sunyi

 Malam Bercinta


Kau bergolek erang mengulum kelu sukmaku

Leherku kaujerat erat hampir sekarat

Dadamu yang merampas udara di paru nafas

Meluruhkan rindu, lenyapkan dahaga selama musim sepi

Dalam lorong gelap aku terusik kerlip berlian

Kilaunya menggoda di sela dada yang bercahaya

Kelopak mataku haus pada basah ruas pinggangmu

Yang tampak butuh rengkuhan cinta

Cekung tempurung ku inginkan kerasnya kerang milikku

Hingga takkan mampu hancur di ujung masa

Lingkar langit malam ini menjadi saksi

Manakala pepunuk pulau membuncitkan perutmu

Menjadi bidang padang buah cinta kita

Jangan pernah menghilang atau aku mengerang gersang

Jadilah rimbun pohon tempat bertengger hangat

Bersamaku mengutip kisah hingga muara terujung

Mendekap bumi, tulus menadah badai dan limbahnya

Kita rangkum segala cerita

Ruang rahimmu menjadi mukim keabadian.

Rentang tanganmu kendatipun ruang dan waktu tak berpihak

Hanya dalam jiwamu aku pulang

Hanya dengan jantungmu aku berdegup 

Hanya dengan laringmu aku bersuara


Surabaya, 2014



Wahai Perempuan Sunyi


Aku terengah duduk bertabur serbuk salju kesunyian

Inginkan kehangatan gugur dan geliat daun matahari tropis

Sementara matahari masih rendah berselimut pekat embun

Usai meraut sosok wajah yang mengulam rindu

Tak terkejar taman khayalmu yang hasrat kumiliki 

Menyisir rumpun perdu meranggas ranjang  

Jemariku rindu akan bebunyian

Sentuhan lirih ringkik di padang rumput

Dan harum angin muson

berpadu aroma roti bakar selai racikanmu

Kita berkelakar pingit mengungkit masa silam

Goreskan cerita pada kertas merang dan pencil arang

Kita lansir puisi tentang kabut dan bulan ranum

Menafsir rindu semuram cuaca, sehangat suhu nafas  

Wahai perempuan sunyi penopang jiwaku yang pupus

Usah berperancah duri mengurai tangismu

Repih doaku melesat hingga langit terujung

Melafal setia hingga ke ajal

Ketika kusapa dirimu dengan puisi

Jangan katupkan pintu dan jendela jiwamu

Jangan sumbat ventilasi ruang kesunyian

Sebab dirimu tercipta hanya untukku


Surabaya, 2014

Senandungmu


Cerlang pandang mata pujaan menjalar nalar

Menuntunku menatah nisan esok hari

Sayup kudengar malam tergetar senandungmu

Degup dadamu membisikkan kehangatan fajar 

Berdua mengeja semesta esok yang misteri

Merangkum rencana yang lamat terujung di pelupuk mata

Padam sumbu kalbu aroma surga kuhisap

Seharum hawa lembah susu yang melecut 

Berhembuskan nafsu muara rahasia

Tak henti menelusuri palung nafasmu

Mengembara jejak detikmu

Menyeka setiap tetes mata air matamu

Kukecup setiap kuncupmu

Kupagut semua kalutmu 

Kusesap semua ucapmu

Hingga alpa menumbuh-rubuh


Surabaya, 2014


INFO BAWAH

NB: Untuk saat ini, Negeri Kertas belum bisa memberikan honor untuk karya (Puisi/Cerpen) yang tayang.