005

header ads

Resensi Buku "KIDUNG SUKMA LARASING JIWA" - Dyah Kurniawati




Kidung Sukma Larasing Jiwa

Oleh: Dyah Kurniawati 





Judul Buku: Kidung Sukma Larasing Jiwa
Penulis: Ardini Pangastuti Bn
Penerbit: Interlude
Cetakan: I, November 2021
Tebal: 162 halaman
ISBN: 978-623-6470-18-3 

Adalah Ardini Pangastuti, seseorang yang sudah lama berkecimpung di dunia sastra Jawa. Banyak pengalaman dalam bidang keredaksian majalah basa, sastra dan budaya Jawa, seperti Jawa Anyar, Pagagan, Sempulur, dsb. Sudah tak terhitung lagi jumlah buku beliau yang berupa karya tunggal maupun antologi bersama pengarang lainnya. Selain itu karya beliau juga masih bertebaran sampai sekarang. 

Walau buku ini terbit sejak tahun 2021, tetapi saya tertarik karena sangat mengidolakan penulisnya semenjak saya masih berseragam putih abu-abu. Judulnya Kidung Sukma Larasing Jiwa’ begitu menggelitik jiwa petualangan fiksi saya. Dilihat dari bahasanya sudah mengantarkan rasa merinding bagi yang paham sastra Jawa. Susunan kata yang sarat makna tersebut menimbulkan rasa penasaran untuk segera melahab habis isi buku ini. Karena  sejak awal sudah jatuh cinta dengan buku  ini, maka sekali duduk langsung saya babat habis kata demi kata dengan penuh penghayatan. Ketika membacanya pun dibawa masuk melebur ke dalam cerita menjadi Arum, sosok tokoh utama. Begitu pandainya Mbak Ardini dalam merangkai kata sehingga kehaluan saya pun mulai melalang buana ikut ke tempat-tempat yang dikunjungi para tokoh dalam buku ini.

Dalam ‘Kidung Sukma Larasing Jiwa’  ini Mbak Ardini sangat berani menggambarkan sosok Arum dan Baskara yang saling jatuh cinta. Konflik bermula ketika Arum bertemu Baskara tanpa sengaja di sebuah pameran lukisan. Mereka sama-sama merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Sedangkan Baskara sudah menikah dengan Imel tapi hubungan rumah tangganya tidak hamonis.

Yang lebih menarik lagi bahwa Arum adalah sosok yang dicari selama ini dalam alam halunya. Sebagai  pelukis Baskara  menuangkan kegundahan hatinya lewat karya yang unik dengan judul lukisan ‘Kenya Jroning Impen’ (gadis dalam impian). Kenya yang selama ini ditunggu dan diharapkan menjadi pendamping hati selamanya. Baskara merupakan lelaki thukmis (playboy),  walaupun sudah berpetualang kepuluhan hati wanita tetapi jiwanya belum menemukan sosok yang ada di mimpinya. Sosok perempuan yang puluhan tahun lalu secara tidak sengaja bertabrakan dengannya di depan candi Borobudur. Kejadiannya sekejap tapi Baskara yakin kalau itu bakal jadi pelabuhan hati yang menenangkan jiwa maskulinnya.  

Buku ini termasuk novel berbahasa Jawa Modern. Ketika baru  membaca bagian satu saya semakin penasaran  karena ceritanya begitu hidup. Seperti dalam pertemuan Arum dan Baskara pertama kalinya ada dialog yang membuat jantung saya ikut berdesir ketika mereka tidak sengaja bertatapan langsung. Seakan ikut malu merasakan pipi yang memerah, membayangkan Arum adalah saya dan saya adalah Arum. Seperti  ini kalimatnya, “ Arum rasane kaya diudani sewu panah sing ngrutuk dhadhane. Nembus ing jantunge, Arum dadi salah tingkah.” (Arum rasanya seperti dihujani seribu anak panah menerobos dadanya. Menembus jantungnya. Arum menjadi salah tingkah.) Jiwa muda saya pun bergejolak kembali ke usia belasan tahun.

Di Bab 7 suara batin Arum semakin bergemuruh ketika membaca iklan pameran lukisan tunggal. Nama pelukisnya seperti nama yang berkeliaran di impiannya saat ini. Diapun makin penasaran dengan sosok pelukis tersebut apakah benar adalah Baskara yang sedang dicari. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika melihat gambar lukisan yang berjudul “Kenya Jroning Impen” yang mirip dirinya. Timbul pertanyaan di hati Arum apakah Baskara juga memendam rasa kepadanya. Ini merupakan imun yang bisa menggerakkan jiwa kewanitaannya yang sejak ketemu Baskara hatinya menjadi galau, rasanya campur aduk. Hal ini mengubah penampilannya semakin menantang berbeda dengan selera Arum sebelumnya yang menyukai warna kalem. Memang virus merah jambu itu bisa mengubah hidup seseorang menjadi sulit dinalar.

Konflik semakin memuncak ketika Arum dan Baskara menjalin hubungan gelap sampai melewati batasan norma agama maupun sosial. Hubungan tersebut berdampak keretakan rumah tangga Baskara yang selama ini terasa gersang. Imel istri Baskara juga mencari kebahagaian di dermaga lain. Disinilah puncak konflik permasalah cerita di buku ini. Lebih seru lagi di akhir cerita yang tidak saya duga sama sekali endingnya. Saya kecewa kepada tokoh Arum kenapa begitu mudahnya jatuh ke pelukan lelaki yang baru dikenalnya. Padahal dia adalah aktivis perempuan yang menggembar-gemborkan perlindungan tentang perlindungan perempuan. Jadi ingat pepatah Jawa yang menyebutkan ‘JARKONI, singkatan dari bisa ujar ora bisa nglakoni”. Ini merupakan sindiran halus dari mbak Ardini kepada pembaca semua, bahwa dimanapun lebih mudah berbicara  daripada memberi contoh langsung.

 

Yang Sedikit Mengganjal

Saya sedikit risih dengan adegan yang dilakukan para tokoh yang begitu mudahnya melakukan tindak asusila. Ditambah lagi Mbak Ardini beberapa kali menggunakan kata-kata “pisuhan”. Bisa jadi beliau ingin menggambarkan kehidupan dunia luar yang keras, sehingga kita yang telah nyaman dengan kehidupan normal tidak kagetan menghadapi dunia yang bebas. Tapi tidak semua seniman hidupnya kotor, bahkan banyak karya istimewa yang dihasilkannya.

Jadi sebelum membaca buku ini siapkan jantung supaya tidak copot. Keseruan buku ini berbeda dengan buku bahasa Jawa lainnya. Di sini banyak cerita menegangkan seakan pembaca dibawa melebur ke dalam cerita tersebut.

Saya berharap buku ini bersambung dengan konflik yang lebih menegangkan. Upamanya dua puluh lima tahun kemudian anak Arum dengan Baskara menjalin hubungan dengan anak Imel dengan sopir taksi pacarnya dulu. Pasti lebih seru karena tidak diragukan lagi kepiawaian Mbak Ardini dalam merangkai kata menjadi buku yang asyik dibaca. Sekali lagi, jangan lewatkan membaca buku ini karena saya pun sudah berkali-kali membacanya tetapi selalu saja berdegub-degub penuh ketegangan. Ditunggu karya Mbak Ardini selanjutnya.

 

Madiun, 8 Agustus 2023

 

Penulis: Dyah Kurniawati lahir dan bermukim di Madiun. Menggilai fiksi sejak berseragam putih merah. Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa ini mencoba selingkuh ke sastra Indonesia, tapi tak kuasa lepas dari hangat pelukan sastra Jawa. Menulis geguritan, cerkak, esai, cerita lucu juga menulis puisi dan cerpen. Bisa disapa di https://www.facebook.com/dyah.kurniawati.948.

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Posting Komentar

0 Komentar