Esai: KESENANGAN MENULIS ESAI SASTRA DAN BUDAYA | Anjrah Lelono Broto - negerikertas.com

INFO ATAS

LEMBAGA INDEPENDEN DI BIDANG PENDIDIKAN LITERASI, SENI BUDAYA, DAN SASTRA.

14 Agu 2023

Esai: KESENANGAN MENULIS ESAI SASTRA DAN BUDAYA | Anjrah Lelono Broto

KESENANGAN MENULIS ESAI SASTRA DAN BUDAYA 

oleh: Anjrah Lelono Broto 



Ilustrasi kesenangan dalam menulis esai sastra dan budaya (sumber: pinterest)


Serupa Ilustrasi

     “Apa yang kita cari dalam hidup ini?” sepenggal dialog dalam naskah drama Kapai-Kapai (1970:52) karya Arifin C. Noer tersebut diucapkan berulang kali. Seakan memberikan penandasan betapa tingginya kita mendaki gunung dan atau begitu dalamnya kita menyelami samudera, sebenarnya sebagai manusia dalam hidupnya diri kita tengah mencari apa? Pencarian tersebut kadang menjumpai sebuah titik pertemuan, namun kadang hingga sampai entah, titik pertemuan hanyalah menjadi angan tanpa kunjung ketercapaian. Pun begitu, manusia dalam pencariannya tak segan menjadi Sisyphus (dalam Mitologi Yunani) dan Prabu Watugunung (dalam mitologi Jawa) yang tak putus asa melakukannya terus dan terus.

     Kemudian, di setiap perulangan pertanyaan-pertanyaan dialog dalam naskah tersebut, jawabannya adalah; “bahagia”. Ternyata, kebahagiaanlah yang dicari oleh kehakikian diri kita sebagai manusia. Tak segan seorang petani berangkat subuh dan beranjak pulang dari sawahnya ketika matahari benar-benar tinggi, begitu pula beragam identitas profesi manusia lain. Ketiadaan segan tersebut bisa hadir karena yang bersangkutan hatinya merasa “bahagia”. Padahal, ketidakbahagiaan terkadang hadir ketika hasil panen ternyata tidaklah sesuai dengan harapan. Akan tetapi, ketidaksesuaian harapan ternyata tidak membuatnya yang bersangkutan berhenti menjadi petani, tidak membuat manusia berhenti untuk terus berusaha mencari kebahagiaan.

     Kata “bahagia” sendiri memiliki banyak sinonim. Di antaranya; “suka cita”, “suka ria”, “senang”, dll. Dalam tulisan ini saya tidak sedang mengisahkan ulang Kapai-Kapai, Sisyphus, dan atau Prabu Watugunung. Saya hanya akan membagi sedikit yang saya tahu perihal penulisan esai sastra dan budaya yang menyenangkan. Apakah kesenangannya begitu besar hingga layak dibagikan? Esai sastra dan budaya yang menyenangkan itu yang bagaimana? Lalu, menurut saya, jurus jitu membuat esai sastra dan budaya yang menyenangkan tersebut yang bagaimana?

     Kernyitan dahi dan duka hati saya rasa tidak perlu terhadir ketika menyimak uraian berikut ini, sebab pertanyaan-pertanyaan di atas dapat ditemukan jawabannya dengan perasaan yang senang (asal ada komitmen dan keikhlasan).

 

Tentang Kesenangan

     Aristoteles mendefinisikan kesenangan atau kebahagiaan merupakan kesempurnaan kegiatan manusia sebagai manusia (Sudrijanta, 2004:150). Dengan kata lain, apabila seseorang menjalankan fungsinya masing-masing sesuai dengan situasi dan kondisinya dengan baik, maka dirinya akan mencapai sesuatu yang disebut sebagai kebahagiaan atau kesenangan. Poesposuprojo (1988:30) mengatakan bahwa kesenangan adalah sebuah keadaan subjektif terhadap kepuasan atas keinginannya. Artinya, ada hukum relativitas yang berlaku dalam mendefinsikan kesenangan itu sendiri. Bisa disimpulkan bahwa hukum relativitas ini pula yang ada dalam kesesuaian antara situasi dan kondisi dalam pandangan Aristoteles.

     Kesenangan dalam menulis (dalam pengertian luas) bisa jadi dapat ditemukan ketika yang bersangkutan mempercayai ungkapan Pramoedya Ananta Toer tentang adanya kerja keabadian dalam kepenulisan. Namun, saya pribadi lebih condong menemukan kesenangan ketika karya tulis kita bisa memberikan kebermanfaatan bagi diri sendiri dan pembacanya; sekecil apa pun besaran kebermanfaatan tersebut. Bukankah rasa senang yang sukar diuraikan ketika ternyata karya tulis kita kemudian dibaca oleh orang lain, menjadi objek kajian/diskusi/skripsi, menjadi rujukan tulisan, dll?

     Kesenangan menulis esai sastra dan budaya dapat kita awali dari pengenalan terhadap jati diri esai itu sendiri. Esai adalah sebuah karya tulis non-fiksi yang menyoroti tema tertentu dari perspektif pribadi penulis (Joe Saltzman dalam Hernowo, 2002:04). Esai dapat mempunyai beberapa bentuk yang berbeda. Esai naratif menampilkan sebuah cerita, sementara esai persuasif menyatakan sebuah argumen. Esai eksploratoris menelusuri sebuah ide.

     Dalam buku Tifa Penyair dan Daerahnya (1983:92-94), H.B Jassin merumuskan pengertian esai sastra sebagai karangan yang membicarakan soal-soal manusia dan hidup, dijiwai oleh subjektivitas pengarang, dalam mencari arti hidup dan penjelmaannya. Yang dibahas dalam pengertian esai sastra tersebut adalah beragam soal sastra, tidak tersusun secara metodis, tetapi dipetik dengan merdeka dari sana-sini di jalan penghidupan. HB Jassin menambahkan bahwa melalui esai dihadirkanlah hikmah-hikmah kehidupan, tanggapan-tanggapan, pikiran-pikiran, renungan-renungan, komentar-komentar atas kejadian-kejadian, kutipan-kutipan atau ucapan orang, anekdot-anekdot, filsafat hidup, tetapi semuanya itu dengan cara subjektif, menurut pikiran dan perasaan penulisnya sendiri berdasar pada karya seni, karya sastra, dan kenampakan budaya lainnya.

     Nyoman Kutha Ratna dalam bukunya Glosarium: 1.250 Entri Kajian Sastra, Seni, dan Sosial Budaya (2013:120) menjelaskan bahwa esai sastra dan budaya pada umumnya dikaitkan dengan kritik sastra. Berbeda dengan kritik sastra yang memberikan penilaian secara teoretis, mendalam, dan dilakukan melalui berbagai segi, esai sastra pada dasarnya lebih terbatas pada pemahaman awal, permukaan, bahkan juga mengandung semacam persuasi untuk mempengaruhi pembaca.

     Teknik penyajian esai sastra dan budaya dilakukan dengan melakukan deskripsi, interpretasi, dan analisis. Esai sastra bisa saja hanya menonjolkan deskripsi, interpretasi, atau analisis atas objek karya sastra yang ditelaah sesuai dengan minat subjektif penulisnya yang bersifat apresiatif. Teknik penyajian esai sastra tidak mengikutsertakan evaluasi, karena itu sudah masuk ranah kritik sastra.

     Objek analisis esai sastra adalah karya sastra, seperti puisi, cerpen, novel, dan naskah drama. Sedangkan, objek analisis esai budaya adalah karya kreatif budaya, seperti karya drama, karya tari, karya lukis, karya seni rupa, karya musik, karya film, festival, maupun perhelatan kesenian dan kebudayaan seperti parade, karnaval, tradisi-tradisi tertentu yang berlaku dalam suatu masyarakat.

 

Esai Menyenangkan

    Sekian penulis maupun motivator kepenulisan telah membagikan banyak jurus jitu bagaimana menulis esai, termasuk di antaranya esai sastra dan budaya. Namun, tak banyak yang membagikan jurus jitu bagaimana menulis esai sastra dan budaya yang menyenangkan. Sekian tips dan trik dalam jurus-jurus jitu kepenulisan tersebut kebanyakan justru terkesan ‘memberatkan’ (calon) penulis esai sastra dan budaya. sehingga, kadangkala banyak (calon) penulis esai sastra dan budaya justru dihinggapi ketakutan sebelum melangkah lebih lanjut.

     Lalu, bagaimana jurus jitu menulis esai sastra dan budaya yang menyenangkan dan tidak mengundang dihinggapinya ketakutan tersebut?

     Jika Hernowo (2002:16) menyebut bahwa ada tiga kesenangan yang didapat dari proses kepenulisan, yakni (a) mengenali diri sendiri; (b) berbicara ke publik; dan (c) mengasah kreatifitas, maka nampaknya saya perlu untuk memberikan satu item tambahan dalam konteks penulisan esais sastra dan budaya. Item yang saya tambahkan adalah “Penghargaan Terhadap Karya Sastra dan Budaya”.

     Penambahan item di atas memiliki signifikansi cukup tinggi di tengah semakin surutnya ruang-ruang apresiasi yang proporsional terhadap karya sastra dan karya kreatif kebudayaan belakangan ini. Buku-buku karya sastra, nama-nama penulis karya sastra, hingga agenda-agenda kesusastraan dan kebudayaan menunjukkan peningkatan kuantitas yang luar biasa satu dekade terakhir ini. Akan tetapi, hal ini kurang diikuti peningkatan pula pada publik penikmat karya sastra dan karya kreatif kebudayaan. Buku-buku sastra yang diterbitkan belum menjadi konsumsi publik secara luas dan masih tersaji di lingkaran tertentu. Bagi saya pribadi, lahir-tumbuh-kembang esai-esai sastra dan budaya merupakan salah satu jawaban guna memperlebar ruang cakup dan definisi ‘kalangan tertentu’ publik tersebut. Setuju?!

####

Mojokerto, 2020-2023


___________

Anjrah Lelono Broto, aktif menulis esai, cerpen, serta puisi di sejumlah media masa. Beberapa puisinya masuk dalam buku antologi bersama Buku karyanya adalah Esem Ligan Randha Jombang (2010), Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (2015), Nampan Pencakan (2017), Permintaan Hujan Jingga (2019), Kontra Diksi Laporan Terkini (2020), dan Garwaku Udan lan Anakku Mendung (2022). Terundang dalam agenda Kongres Bahasa Jawa VI (2016), Muktamar Sastra (2018), Kongres Budaya Jawa (2018), dan Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia III (2020). Karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018. Sekarang bergiat di Lingkar Studi Sastra Setrawulan (LISSTRA), dan Komite Sastra Dewan Kesenian Mojokerto (DKKM). Kontak FB: anjrahlelonobroto, dan WA: 085854274197.



INFO BAWAH

NB: Untuk saat ini, Negeri Kertas belum bisa memberikan honor untuk karya (Puisi/Cerpen) yang tayang.