Cerpen Bahagia Bersamamu | Imsicx - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

23 Agu 2022

Cerpen Bahagia Bersamamu | Imsicx

 BAHAGIA BERSAMAMU


Perempuan itu mringis. Sesekali mengupil. Menggaruk-garuk ringan tangannya. Mencoba mencukil sisa makanan di gigi. Masalahnya akan sejenak hilang ketika ia melakukan aktivitas itu. Kadang ia merasa geli.

“Karena saya hidup.” Ia mencoba memastikan bahwa perasaannya tidak pernah salah menangkap kebahagiaan. Meskipun terkadang kebahagiaan itu tertutup oleh guratan tanah tandus yang bertahun-tahun tidak mendapatkan hujan.

Perempuan dengan baju biru itu kembali mengupil. Kotoran hidungnya merasa tak krasan tinggal. Sesungguhnya kotoran itu sudah mencoba untuk bertahan. Mencoba menempel lekat pada dinding-dinding hidung. Selekat apapun, upil itu akan terkalahkan oleh tangan dengan kuku panjang pemilik hidung.

Sesungguhnya perempuan dengan hobi mengupil ini menginginkan masalahnya tertangani semudah ia menangani kotoran hidungnya. Sayangnya berbulan-bulan belum juga ia mampu membayar hutang.

“Uvil, hem pasti sedang ngupil nih anak!” dari luar kamar seorang gadis dengan kaos melekuk tubuhnya itu menggerutu. Gerutuan yang hampir setiap hari ia lontarkan di depan pintu berwarna abu-abu. Tiga menit berikutnya bisa dipastikan sang pemilik kamar akan ke luar dengan tumpukan upil di tangan.

Namanya Uvil, mungkin karena namanya Uvil, ia suka mengupil atau karena ketika ia lahir dulu, ia sudah suka menggaruk-garuk hidungnya maka orang tuanya menamainya Uvil. Entahlah, atas dasar apa nama itu diciptakan.

“Apa Min? Kamu mau membeli upilku?” dialog yang hampir bisa dipastikan. Gadis yang dipanggil Amin hanya memandangnya sekilas. Dulu ia merasa jijik, tetapi tidak ketika terus-menerus ia menyaksikan upil-upil temannya itu. Terbiasa.

“Enji mau nikah,” Amin mencoba berbicara hati-hati.

“Oh ya? Tapi hutangnya pada Enji belum terbayar.” Uvil terkejut.

“Dia mau menikah dengan Manda.” Informasi Amin lebih lengkap.

“Ha? Cewek berhidung besar, resek, dan manja itu?” Uvil memandang Amin dengan tajam

“Tapi tidak jorok.” Suara Amin datar

“Aku juga sudah berjanji tidak akan jorok lagi ketika hutangku pada Enji terpenuhi, dan Enji akan menunggu prosesku.” Suara Uvil melemah

“Dia sudah memberimu waktu empat bulan, nyatanya kamu masih sering ngupil di tempat umum, bahkan kau bawa kotak upilmu itu kemana-mana. Menjijikkan." Komentar Amin berterus terang.

“Ini demi membayar hutangku pada Enji. Aku akan menepati janjiku pada Enji ketika hutangku telah terbayar.” Mata Uvil membawang.

“Tapi kamu keterlaluan, Vil. Sudahlah jepit saja cintamu itu. Kamu harus menghentikan pekerjaan sia-sia ini. Percuma! Enji tidak akan pernah bisa menerimamu, karena kamu tidak akan pernah berhenti menjadi gadis jorok.”

Hati Uvil tersayat. Ia memasukkan tumpukan upil hasil pencariannya pagi ini pada sebuah kotak kecil. Air matanya hampir menepi. Ia mampu memasukkannya dengan kekuatan cinta tulusnya. Amin yang berada diantara guling menjulurkan tangannya. Seolah luka hatinya ikut terairi air garam. Perih. Disaksikanlah sahabat kecilnya yang gemar mengupil itu berjuang meluluhkan kebiasaannya demi laki-laki yang dicintai yang baginya laki-laki itu belum pasti mencintainya karena dia telah memberi sebuah perjanjian, “kita akan memutuskan hubungan kita ini, ketika kamu jalan-jalan bareng aku sedang kamu ngupil di tempat umum.”

Syarat itu benar-benar terjadi. Mungkin laki-laki yang dicintai Uvil; Enji memiliki niatan baik. Menghilangkan kebiasaan jorok Uvil. Sayang Uvil tak mampu mematuhi perjanjian.

Suatu ketika Uvil membersihkan hidungnya dihadapan Enji, tepat di rumah makan Bromo, Probolinggo. Enji marah besar. Ia memutuskan untuk berpisah. Uvil memohon keputusan Enji dicabut.

“Saya akan memberimu waktu empat bulan, Vil. Puaskan dulu cara hidupmu yang jorok ini. Kumpulkan saja upil-upilmu pada kotak ini.” Menjulurkan korak putih berukuran 3x3 cm, yang dijadikan tempat MSG. “Silakan penuhi wadah ini, hutang jorokmu akan terlunasi. Jika dalam waktu empat bulan kau belum juga sembuh dari sifat jorok ini, izinkan saya untuk tidak mencintaimu lagi.” Ingatan itu masih terpompa hebat didalam hati Uvil.

Begitu kedua sahabat itu tidak bersuara, HP Uvil berbunyi, sms diterima. Uvil tidak berminat membukanya. Kepalanya tetap menunduk. Meski Amin tidak mengeluarkan satu katapun, Uvil sedikit terkuatkan oleh keberadaannya. Sms kembali diterima. Uvil menelan ludah. Ia membukanya.

Enji. 

02.08.2013

06.37

Tolong bukakan pintu. Aku di luar rumahmu.



##


“Menulis apa, Ma?” Tanya suamiku sembari merangkul pundakku dari belakang.

“Hem, Mama mencoba menuliskan tentang cerita kita, Pa. Masih ingatkah Papa dulu, sempat meninggalkan Mama karena Mama suka ngupil? Papa mau menikah dengan Manda.” Jawabku masih memandang laptop lekat.

“Iya kubatalkan , karena Papa justru merasa kehilangan Mama, dan berlutut dihadapan Mama, supaya Mama menerima Papa kembali. Hari itu aku datang menjemputmu, kujanjikan padamu hidup yang sempurna bahagia selamanya.” Laki-laki berparas jangkung itu mencium keningku.

“Kemudian kita berjanji bahwa akan terus berusaha untuk saling memahami. Tidak peduli seperti apapun kekurangan kita masing-masing. Tapi kadang aku masih risau, papa akan meninggalkanku.” Kepalaku menggelanyut pada pundak laki-laki yang dua tahun lalu menikahiku.

“Oh, kekasih hatiku, bukankah aku sudah berjanji akan menjaga hatiku untukmu, berjanjilah padaku tak perlu kau risau atau ragu. Aku hanya ingin bersamamu. Bahagia selamanya.” Kecupan lembut kembali membaur pada keningku.

“Cinta memang tidak memandang logika. Suamiku, sungguh aku tidak pernah merasa seindah ini rasanya. Aku sangat bahagia hidup bersamamu.” Tak urung juga air mataku menitik.

tanpa menghapus air mataku, suamiku memelukku dengan erat. Biarlah air mata cinta ini sebagai bukti sayang kami. Selamat malam cnita.



Kasiyan-Wuluhan

19 Agustus 2022



































TENTANG PENULIS

Imsicx dengan nama lahir Siti Imro’atul Khusnah,  lahir di Jember, 16 Juli 1988. Ia aktif menulis sejak tahun 2003 ketika duduk di bangku Madrasah Aliyah Negeri Jember 2, namun saat itu ia belum berpikir untuk mempublikasikan tulisannya. Baru pada tahun 2006 ketika menimba ilmu Sastra Indonesia di Fakultas Sastra Universitas Jember, ia mulai mempublikasikan tulisan-tulisan cerpennya melalui media buletin, majalah, dan buku.

Penulis yang berpendidikan Sastra Indonesia Universitas Jember ini telah berhasil mengemas karyanya ke dalam format novelet Perca Luka, 2011, yang digarap bersama tugas akhirnya pada tahun 2010. 

Karya-karya sastra yang telah dihasilkan Imsicx selama menempuh pendidikan Sastra Indonesia (2006-2010), antara lain: cerpen Perempuanku Mati (dimuat di buletin Lembaga Pers Mahasiswa Sastra, 2006), naskah drama Wasalam (termasuk dalam sepuluh karya terbaik penulisan lakon Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia Jawa Timur, 2008), cerpen Mbah Cang (dimuat di majalah Khittoh, 2008), cerpen Penantian Menggembirakan dan cerpen Aku Mendapatkannya (diantologikan dalam buku Antologi Cerpen Forum Lingkar Pena Cabang Jember Rembulan Kedua, 2009), cerpen Silvi Maulivi dan cerpen Fahri Alibi (diantologikan dalam buku Bunga-Bunga Karya SMP IT IBNU SINA, 2012), cerpen Bu Mutik ((diantologikan dalam buku Tarian Pena SMP IT IBNU SINA, 2013).

Cerpen terbaru Imsicx Cemeti untuk Somad yang dipilih oleh penerbit Hazerain Pulisher pada 17 januari 2019  telah dipasarkan secara nasional dan dapat  dibeli pada wesite dan toko buku shopee. Antologi puisi Ketika Hati Sudah Mati Dan Kemanakah Aku Harus Bertanya diterbitkan oleh Redaksi Ahsyara Media Indonesia pada 21 Maret 2019. Puisi Imsicx juga masuk dalam Antologi puisi Sekuntum Desir yang diterbitkan oleh penerit LICENSI pada tahun 2021. 

Di samping aktif dalam dunia kepenulisan, Imsicx berkarir di bidang perfilman. Bersama Komunitas Film Independen (KOIN) Jember, imsicx  memproduksi dua film fiksi independen: The Single Man (2006) sebagai kameraman dan Kamu atau Aku (2007) sebagai penata estetika. Selain itu, ia menjadi asisten sutradara film nonfiksi NU, Aswaja, Tahlil, dan Bid’ah dalam album kompilasi ‘Nada dan Dakwah’ (2010) yang diproduksi bersama Pondok Pesantren Nurul Islam (NURIS) Jember.

Karya terbaru, Imsicx pernah mendapat juara 1 mengikuti lomba musikalisasi puisi dengan tema “Perjuangan” yang diadakan oleh Komunitas Lingkar Pena 2020-2021.

Imsicx dapat dihubungi melalui imsicx@gmail.com atau facebook dengan nama iim nana. Dapat dihubungi di nomor 082331849234








C:\Users\iim\Downloads\WhatsApp Image 2022-08-20 at 09.53.46.jpeg


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com