005

header ads

Puisi Kepada Rumputlah Aku Bertanya

 Kepada Rumputlah Aku Bertanya


Sekian menginjak ke tanah lapang

Lalu datang diksi yang mempertanyakan

Kepada orang-orang yang tidak berkemanusiaan

Selalu merebutkan kemenangan


Pengen aku ketawa

Dari irama cacian lawan satu sama lain

Ini bertanda lajunya kemarahan

Hingga melibatkan banyak orang


Pengin aku bernyanyi

Dari lirik-lirik para pihak yang licik

Yang membiarkan terjun ke publik

Untuk cepat selesai dalam waktu sempit


Lalu rumputlah yang menjadi tameng

Untuk tidak di selenggaranya lagi

Dengan fasilitas yang tidak memadai

Tapi, apalah daya deraian air hujan yang menetes

Akan menumbuhkannya lagi


Jika ingin kita kembangkan

Semua peralatan dan peraturan

Kita harus merawat, memberi nasehat

Untuk kita semua

Sampai jadi panutan di belahan benua

Malang 2022

Irama Giring Bola Diego Maradona


Putih biru yang ia bawa ke penjuru dunia

Siapa yang tak kenal sosok Diego Maradona

Pemain asal Argentina

Juga sangat di cintai negara sendirinya Italia


Irama giring bola yang menciptakan maha karya

Di baca dengan saksama

Sambil mencari diksi-diksi gocekan bola


Dia adalah puisi dalam sepak bola

Sosok pemain muda

Yang begitu tak nampak bahwa ia akan meninggalkan kita

Dalam usia muda


Dia pergi untuk keabadian

Meninggalkan warisan

Ditujukan kepada pemain andalan

Untuk melanjutkan karya yang searah

Karena mahakarya di dunia sepak bola tak akan pernah mentas dari sejarah








Malang 2022

Salam Sepak Bola Dunia


Sekian lama ku tunggu

Sampai gerlik mata kian membeku

Menunggu kedatangan para penjuru

Untuk menyaksikan sebuah pertandingan seru


Kini akan ku sambut

Dengan penuh kesiapan

Tanpa menghilangkan akan pekerjaan


Di atas lah rumput mereka bernyanyi,

Bola bergilinding kesana kemari,

Sorak seporter dalam tribun arena,

Juga dalam tanyangan layar kaca,

Jersey warna warni yang mereka kenakan

Untuk sang juara yang ia idolakan


Anak-anak, remaja sampai orang tua

Turut menunggu sampai tergila-gila

Tapi tidak sampai melupakan  segalanya

Semua perintah tuhan akan turuti bersama

Tidak sampai melupakannya





Malang 2022


Kemenangan Bukan Segalanya


Aku tak akan menghitung seberapa banyak mereka raih

Dari dulu sampai sekarang tak kunjung beralih

Itu wajar

Karena hasil tak akan pernah pudar

Dari hasil usaha mereka yang berkobar-kobar 


Kesenangan bukan hanya para pendukung

Bahkan offcial pun turut bangga atas prestasinya

Akan anak didiknya yang turuk dalam mejalani segalanya


Kemenangan bukan segalanya

Tapi segalanya berharap untuk menang


Juara hanya satu

Akan tetapi yang satu ini dapat merusak ranah persahabatan

Bila hanya dibekali nafsu semata

Tanpa memikirkan akibatnya










Malang 2022

Muhammad Dzunnurain, lahir di Sumenep pada 30 Juni 2003. Mahasiswa biasa saja menghabiskan waktu dengan membaca salah satu karya Puisi dan Esai pernah di muat di media online dan cetak di antaranya Majalah Sidogiri Edisi 179, Antologi Puisi “Patah”(2022), NegeriKertas(2022), Nolesa(2022), RumahLiterasiSumenep(2022), HarianBhirawa(2022). 







Posting Komentar

0 Komentar