CERPEN WANITA RIYADH (2) karya Awalia Bawani - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

23 Nov 2022

CERPEN WANITA RIYADH (2) karya Awalia Bawani

 WANITA RIYADH

karya Awalia Bawani



C:\Users\LENOVO\Downloads\WhatsApp Image 2022-11-20 at 21.46.06.jpeg


Rosyida kalang kabut menyusuri jalan tanpa tahu arah. Perjalanannya terhenti pada sebuah bar. Dia pikir, siapa yang akan pergi ke bar pagi-pagi buta seperti ini, jadi dia bisa menenangkan diri tanpa diganggu seorang pun. Dugaannya ternyata salah, ada seorang laki-laki seumurannya yang sedang minum-minum di pojok ruangan. Pemandangan itu tak begitu dihiraukan oleh Rosyida, yang terpenting dia bisa menenangkan dirinya. Di satu sisi, hati kecil Rosyida merasa bersalah atas apa yang telah diperbuatnya kepada kedua orang tuanya. Tetapi, Rosyida terus menerus mengelak, dia tetap berpendirian bahwa yang salah adalah ayah dan ibunya, mereka terlalu mengekang dirinya, dia ingin seperti teman-teman lainnya yang bisa menikmati masa mudanya tanpa ada campur tangan dari orang tua. Tiba-tiba laki-laki yang dia lihat dipojok ruangan tadi, sekarang sudah berada di sampingnya. 

"Hai cantik, ada masalah apa sampai kau datang kesini?" tanya lelaki itu sambil sempoyongan.  

"Apa pedulimu?" ketus Rosyida sambil meneguk arak yang dipesannya. 

Tanpa menggubris perkataan Rosyida, lelaki tadi merangkul pundak Rosyida. Tamparan melayang pada wajah lelaki tak tahu diri itu. Meskipun Rosyida berlaku kurang ajar terhadap orang tuanya, namun dia tetap ingin mempertahankan kehormatannya. 

Setelah pertengkaran hebat dengan orang tuanya. Rosyida memutuskan untuk menginap di rumah temannya. Rumah Danisa terletak lumayan jauh dari rumah orang tuanya. 

"Ada masalah apa dengan orang tuamu hingga kau menginap di rumahku seperti ini?" tanya Danisa sambil mengisap rokok ditangannya. 

"Ini semua akibat pemikiran kuno yang sudah mendarah daging, orang tua yang terlalu mengekang anaknya dengan berbagai aturan memuakkan, apa yang dilakukan anaknya harus sesuai dengan keinginan hati mereka, jika tidak mereka akan menciptakan drama yang membosankan," jengkel Rosyida. 

"Sudahlah, tak usah kau hiraukan mereka, masa muda datangnya hanya sekali dalam seumur hidup, jadi jangan kau sia-sia kan dengan mengikuti berbagai macam aturan yang tak berguna," celoteh Danisa  sambil mengepulkan asap rokok dari mulut dan hidungnya. 

"Apa kau tak ingin berkenalan dengan seorang lelaki? Kalau kau mau, aku bisa mengenalkan seseorang yang menurutku cocok denganmu?" timpal Danisa. 

Tak perlu pikir panjang, Rosyida langsung menerima tawaran Danisa. Pikirnya, jika dia memulai hubungan dengan seorang lelaki, dia tak akan kesepian lagi dan berharap hidupnya bisa lebih bahagia. 

"Sebelum ku kenalkan dengan lelaki itu, cobalah untuk perbaiki cara berpakaianmu, lelaki mana yang akan tertarik denganmu? Kau cantik, maka perlihatkan keindahan itu," celoteh Danisa. 

"Tapi ini kan," Rosyida menyanggah, namun langsung disambar oleh Danisa. 

"Sudahlah, di negeri ini tidak ada lagi yang mewajibkan kita untuk mengenakan pakaian kolot seperti itu, nikmati saja hidupmu selagi bisa," provokasi Danisa. 

Ada gejolak hebat dalam diri Rosyida, dia tidak ingin meninggalkan pakaian kehormatan itu, disisi lain dia juga mulai terpengaruh dengan kata-kata Danisa. 

Di rumah sakit, ibu Rosyida tak henti-hentinya menangis. Bagai petir di siang bolong yang menyambar dirinya, saat mengetahui bahwa suaminya terkena stroke yang membuat kedua kakinya lumpuh. Ketika ayah Rosyida sadar, ibu langsung memegang tangan ayah dengan berderai air mata. 

"Maafkan aku karena tidak bisa membawa pulang anak kita, aku sudah berusaha untuk menghubunginya, tapi," keluh ibu yang langsung dipotong oleh ayah. 

"Jangan kau sebut anak itu lagi! Sudah usai tugas kita selama ini untuk mendidiknya, usaha kita mengajarkan bagaimana fitrah-fitrah seorang muslimah sudah lenyap dilahap habis oleh pergaulannya yang tak keruan. Kita sudah melakukan semampu yang kita bisa. Apa kau ingin melihat aku tiada karena tingkah laku anak itu?" ujar ayah. 

"Jangan, jangan berkata seperti itu. Aku tahu kau sangat sakit hati dengan perlakuan Rosyida, aku pun begitu, tapi anak tetaplah anak yang harus selalu kita bimbing dan arahkan. Jika kelak ada pemuda yang meminang Rosyida, barulah tugas kita usai dan kewajiban membimbing  berpindah tangan kepada suaminya. Aku berdoa kepada sang illahi Rabbi agar Rosyida mendapat seorang imam yang dapat membimbingnya ke jalan yang diridhai-Nya," tutur ibu yang tak mendapat tanggapan dari ayah. 

Ibu mana yang tak sakit hati jika anaknya berlaku seperti itu. Namun, sesakit apapun hati ibu dibuatnya, ibu tetap menginginkan kebaikan selalu menyertai anaknya. 

*****

Di hari dimana Danisa berjanji untuk mempertemukan lelaki kenalannya dengan Rosyida pun tiba. Mereka bertiga bertemu di restoran dekat rumah Danisa. Sambil menunggu kedatangan lelaki itu, Rosyida menerka-nerka siapa lelaki yang akan dikenalkan dengannya. Tak butuh waktu lama sejak Rosyida dan Danisa datang, seorang lelaki berpakaian kasual datang dengan semerbak wangi yang memenuhi ruangan. 

"Kamu?" kaget Rosyida. 

Lelaki itu hanya diam dan menghadirkan seringai di wajahnya.

"Kalian ternyata sudah kenal? Baguslah, aku tidak perlu repot-repot untuk memperkenalkan. Semoga hari kalian menyenangkan! Aku pergi dulu," oceh Danisa yang diiringi kepergiannya.

"Aku juga pergi, permisi," ketus Rosyida. 

Baru saja satu kaki berhasil dia langkahkan, tangan lelaki itu tiba-tiba menarik tangan Rosyida dan membuatnya terduduk kembali. 

"Setidaknya teguklah dulu minumanmu itu, baru kau boleh pergi," bujuk lelaki itu seraya tersenyum kepada Rosyida. 

Setelah cukup lama keheningan menyelimuti mereka, akhirnya Rosyida membuka mulutnya.

"Rosyida," seraya menjulurkan tangannya. 

"Akmal," balas lelaki itu sambil meraih tangan Rosyida. 

Setelah perkenalan itu, Akmal mulai mengeluarkan kata-kata manisnya untuk memikat gadis yang ada di hadapannya itu. Awalnya, hati Rosyida tidak goyah, namun dengan seiring kata-kata yang keluar dari mulut Akmal, Rosyida pun luluh. 

Sejak pertemuan keduanya dengan Akmal, Rosyida mulai menaruh rasa kepada lelaki itu. Dan sejak saat itu pula, mereka menjadi sering bertemu, sampai pada akhirnya mereka menjalin sebuah hubungan terlarang. Entah dibuang kemana semua semua adab-adab yang telah diajarkan oleh orang tuanya selama ini, hingga membuat dirinya lupa arah. Rosyida terlalu terlena dengan pergaulannya, hingga tak menyadari bahwa dirinya sudah terperosok ke dalam jurang kemaksiatan. Hubungan itu pun berjalan tanpa arah dan tujuan, namun Rosyida masih tetap menyayangi Akmal. Rosyida akan melakukan apapun untuk Akmal, bahkan dia tidak segan-segan untuk menyerahkan semua yang dimilikinya. 

*****

Bersambung


*Pict: id.pinterest.

C:\Users\LENOVO\Documents\AWALIA BAWANI\KELAS 9\WhatsApp Image 2022-11-16 at 20.28.15.jpeg

Madiun, 2022


Awalia Bawani, siswi kelahiran Madiun. Seorang amatiran yang mencoba menyelami dunia fiksi. Merajut kata demi kata hingga membentuk jalinan cinta bagi tiap pembaca. Hatinya terlanjur jatuh pada deretan kata yang berpadu-padan.  Kecintaannya pada lembaran-lembaran karya tulis yang membawa dirinya untuk terjun menggoreskan tinta-tinta kasih.


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com