Seutas Percuma | Ayu Lestari - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

25 Okt 2022

Seutas Percuma | Ayu Lestari

 Seutas Percuma

| Ayu Lestari


Aku, perempuan yang sedang beranjak dewasa dengan sangat abu-abu. Hidup berliku-liku menyusuri penat yang tiada henti. Sebut saja aku, Dini. Aku terlahir di keluarga sederhana. Ini ceritaku, saat masih di bangku SMK.


Aku alumni SMK Bakti Ceria 12. Aku mengambil jurusan Keperawatan. Dimana semuanya tentang etika, kode, tanda-tanda vital, disisi obat, pasien, dan lain sebagainya. Semuanya aku telateni, dan harus aku turuti. Dimana lelah dan bosan pun sering menghinggapi.


Hingga suatu masa, tibalah aku naik ke kelas XI (dua) SMK. Saat-saat tegang pun dimulai, praktek kerja lapangan di berbagai instansi pun ku lakukan. Beberapa lokasi yang diajak tersebut, aku mendapatkan tiga titik lokasi untuk PKL. Pertama, aku menempati Puskesmas Citayam 2, Panti Asuhan Marga Asih 1, Puskesmas Cilandak 2, dan Panti Jompo Mojotingkir.


Ya, semua bervariasi tantangannya. Berkelompokkan dengan orang yang tidak menyukaiku. Karena, ya. Aku adalah siswi cupu pada saat itu. Dijauhi, dibully, karena aku terlalu kaku, culun, dan membosankan. Itu menurut dia. 


Singkat cerita, aku yang semula tidak pernah menaiki bus jurusan Citayam – Cilandak, aku beberapa kali di antar oleh ayah, ibu, maupun temannya ayah yang dulunya sangat dipercaya. Namun, tidak segampang itu, pahit.


Suatu ketika, aku dapat shift malam hari dua kali, betapa bingungnya aku. Bagaimana aku bisa berangkat malam hari seperti ini? Sedangkan ayah dan ibuku sangat khawatir kalau aku pergi sendirian. 


“Din, kamu ga boleh ya berangkat sendirian. Takut ada apa-apa,” sahut bapak.


“Lah, terus ayu naik apa pak?” tanyaku.


Bapak masih berpikir dengan tangan yang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Sama temannya bapak saja, kamu juga kenal,” jawab bapak.


Ternyata, om Santo lah yang akan mengantarkanku, membersamaiku naik bus malam hari.


“Gimana, Nduk cah ayu. Siap tak anterke om?” 


“S...s..iap om, sebentar. Dini pamitan dulu,” 

(Sambil memanggil ayah dan ibu untuk mencium kedua telapak tangannya).


“Hati-hati, ya,” 

“Iya Bu, pak, Assalamualaikum,”

“Waalaikumsalam,”


Selesai bersalaman, sepanjang perjalanan Om Santo selalu bercerita masa mudanya yang dahulu.


“Om itu dulu ganteng loh, Din. Banyak cewek-cewek menyukai om. Om sampai bingung mau pilih yang mana. Cantik-cantik semua, sampai om bertemu istri om yang sekarang. Beeh, cantiknya bukan main, Din. Ngalahin kamu, hehehe,”


“Hehehe ya lah om, Tante Cintya lebih cantik daripada Dini. Aku kan ga pinter bersolek,”

Pintalku.


“Tapi, kamu cantik, Din. Pasti banyak yang naksir,” 


“Ih apaan sih Om, Ndak ada,”


“Hahaha, bukannya ndak ada, kamu aja yang ga pede,”


“Mungkin om,”


Di tengah-tengah perbincangan, sudah ke -15 kali tangan Om Santo mengelus pahaku yang sedikit sintal dan berisi. Aku sangat risih sekali.


“Lain kali, kalau mau ke tempat PKL. Sama Om Santo saja ya, biar gak kesasar,” ucap Om Santo sembari mengelus dan menepuk pahaku. Tatapan mata yang mesum, itu sangat jelas sekali di ingatanku.


Aku hanya terdiam dan menunduk. Hanya bisa berdoa dalam hati, karena malu kalau aku bertingkah, karena semua penumpang yang ada di bus sudah pada tertidur pulas.


Akhirnya aku tiba di lokasi, aku berpamitan dan bergegas masuk tanpa menghiraukan Om Mesum Santo.


Kejadian di bus, tidak ingin ku ingat saat PKL, takutnya mengganggu aktivitasku selama PKL. Jadi, aku simpan saja semua yang aku alami beberapa menit yang lalu dan paginya aku mengadu dengan ibu. 


Apakah menurut teman-teman pembaca, hal itu bukanlah suatu pelecehan. Tentu benar. Pelecehan bukan hanya pemaksaan memasukkan rudal kewanitaan pada laki-laki. Akan tetapi, hal seperti bersiul, menyentuh, menepuk bagian sensitif, mencium orang yang bukan mahramnya itu suatu tindakan pelecehan bagi perempuan.


Untuk itu, hati-hati. Sekalipun itu orang terdekatmu, jangan sampai kamu mengalami seperti Dini. Efeknya, Dini tidak lagi percaya dengan dirinya sendiri dan menghindari si Om Santo tersebut tanpa melapor ke pihak berwajib. Karena apa? Lemahnya bukti-bukti pengaduan. Berbual dan bercerita saja tidak akan cukup menaruh perhatian pihak berwenang untuk mengusut pelecehan yang bersifat tabu seperti yang dialami oleh Dini.
















Tentang Penulis :

Ayu Lestari. Ia lahir di Kota Rembang, 23 Agustus 2001. Penulis ini mengawali dunia kepenulisannya sejak bulan Desember tahun 2019 lalu. Selain menulis cerpen, ia pun juga gemar menulis beberapa karya sastra puisi, menulis opini, essay dan lain sebagainya. Berkat ketekunannya, ia berhasil menerbitkan satu buah buku antologi cerpen bersama teman kuliahnya yang berjudul “Seorang Pecinta Yang Kaku”. Ayu Lestari masih berstatus mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Lasem, yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hidayat Lasem (STAILA) mengambil program studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Untuk lebih mengenal si penulis ini, kalian bisa kunjungi beberapa media sosialnya di FB: Aeyu Loestari, WA: 085848957560, Instagram : @ayu_lestari230801, @inisastra__, Twitter : @Cuitansastra23 dan website pribadinya di www.ayusastra.com.






INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com