Rindu Suhaa Berayun Di Kaki Langit Karya : Wulan Setyaningrum - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

21 Sep 2022

Rindu Suhaa Berayun Di Kaki Langit Karya : Wulan Setyaningrum

 Rindu Suhaa Berayun Di Kaki Langit

Karya : Wulan Setyaningrum

Angin sore itu menyapa lembut diteras rumah sederhana yang ditinggali oleh Suhaa seorang gadis ragil bersama Bapak yang sangat dicintainya. Liku kehidupan yang menorehkan sebuah kenyataan hidup yang membuat Suhaa kecil menjelma menjadi gadis tegar yang harus menerima kenyataan bahwa Allah lebih menyayangi Ibunya. Sore itu terdengar bunyi sepeda motor yang menderu dan diparkir didepan rumah. Kakak laki – laki Suhaa sesekali menyempatkan waktu untuk menjenguk Bapak. Mas Toro adalah putra Bapak dari pernikahan Bapak sebelumnya bersama almarhumah istri sebelum Ibu Suhaa. 

“Le Toro ... carikan jodoh buat adikmu Suhaa ya! Dia sudah lulus kuliah nunggu apa lagi ?” ujar Bapak kepada Mas Toro 

“Biar cari sendiri tow, Pak! Anak jaman sekarang pinter pilih jodohnya sendiri. Aku ini sibuk”, jawab Mas Toro

Nampaknya Bapak sudah menginginkan sosok yang akan menggantikannya untuk menjaga Suhaa. 

“Suhaa... jika suatu hari nanti Bapak sudah ndak ada, Mas Toro yang akan menjadi wali nikahmu, jadi tetap jaga hubungan baik sama Masmu ya, nduk! Walaupun beda ibu tetapi dia satu bapak denganmu dan secara syariat Islam Mas Toro itu mas kandungmu ”, nasehat Bapak kepada Suhaa

“Suhaa berdoa Bapak diberikan umur panjang jadi yang menikahkan Suhaa itu Bapak. Suhaa selama ini merasa jauh dengan Mas Toro, pak !”, ujar Suhaa 

“Jangan bilang begitu, nduk ! Kamu yang sabar ya nduk, Bapak doakan hidupmu kelak sukses,” ucap Bapak mencoba menenangkan Suhaa

Suatu hari Bapak jatuh sakit dan harus dirawat dirumah sakit. Suhaa merasa sedih karena tidak ingin kehilangan sosok yang dicintainya lagi. Namun saat itu Mas Toro yang selalu dihubungi Suhaa tak kunjung memberikan respon jawaban. Telepon terakhir yang menjawab adalah istri Mas Toro.

“Assalamualaikum ! Mba Kos, Bapak sakit dan ini opname dirumah sakit. Kalau mas Toro sudah pulang minta tolong disampaikan,” ucap Suhaa di dalam telepon

“Masmu Toro itu abdi negara Suhaa jangan kamu repotkan untuk jenguk Bapak ya! Sekarang sedang repot,” jawab istri mas Toro sambil menutup telepon

Jawaban di dalam telepon itu membuat Suhaa semakin kecewa dengan mas Toro. Di senja itu Suhaa berkeluh kesah di serambi masjid rumah sakit. Suhaa hanya bisa bermunajat kepada Allah. Kesedihan Suhaa disaksikan oleh seorang ibu yang kala itu juga sedang berada didekat Suhaa.

“Permisi, Nak ! Mengapa kamu menangis?” tanya Ibu itu

“Bapak saya sakit !” jawab Suhaa sambil menunduk dan menangis

“Bisakah Ibu membantu meringankan apa yang menjadi bebanmu, Nak ! sehingga kamu tidak merasa kalut seperti ini. Wajahmu tampak pucat sekali!” Ibu tersebut mencoba menenangkan Suhaa

Suhaa menatap mata Ibu yang mencoba menenangkan itu dan teringat akan sosok yang pernah ditolongnya. Ternyata Ibu yang berada di depannya itu pernah ditolong oleh Suhaa di terminal sesaat setelah kecopetan. 

“Ibu, bagaimana Ibu bisa tau saya ada disini ?” tanya Suhaa sedikit terkejut

“Kamu yang pernah menolong Ibu di terminal saat itu ya!” ucap Ibu itu

Setelah itu Suhaa mengajak Ibu tersebut melihat kondisi Bapak. Suhaa memperkenalkan Ibu tersebut kepada Bapak dan Bapak sangat senang karena akhirnya Suhaa tersenyum karena bertemu dengan seseorang yang bisa menghiburnya selama Bapak sakit. Keesokan harinya Ibu itu datang bersama anak laki – lakinya bernama Hamzah. Hamzah adalah anak semata wayang Ibu tersebut. Ibu memperkenalkan Suhaa kepada Hamzah.

Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit kondisi Bapak membaik dan akhirnya pulang. Suhaa sangat senang sekali karena Bapak sudah sembuh walaupun hingga detik itu mas Toro juga belum menjenguk Bapak. Usai shalat Maghrib Bapak mengajak berbicara Suhaa

“Suhaa... ada yang ingin Bapak sampaikan kepadamu. Sebelum Bapak sakit Ustadz Ahmad sempat meminta Bapak untuk mentaarufkan santrinya denganmu. Apakah kamu mau, nduk ?” tanya Bapak serius kepada Suhaa

“Sa..... saya... ,” jawab Suhaa terbata – bata

“Saya mau Pak ! jawab Suhaa sambil menghela nafas panjang karena kali ini Suhaa tidak ingin membuat Bapak kecewa

Akhirnya hari itu pun tiba, saat dimana Suhaa ta’aruf dengan calon yang dipilihkan oleh Ustadz Ahmad. Seakan menjadi hadiah terindah dari Allah, Suhaa terkejut ternyata calon yang akan dikenalkan kepadanya adalah Hamzah. Suhaa senang karena pada akhirnya Ibu yang selama ini telah baik kepadanya akan menjadi ibu mertuanya namun di hati kecil Suhaa rasanya belum siap untuk menikah muda. Suhaa hanya tidak ingin mengecewakan Bapaknya. Keesokan harinya mas Toro bersanjang ke rumah Bapak dan memohon maaf karena selama Bapak sakit tidak ikut merawat karena ada pekerjaan diluar kota. Suhaa hanya bisa memperlihatkan kecewanya kepada mas Toro. Bapak pun menyampaikan niatnya akan menikahkan Suhaa dengan Hamzah kepada mas Toro dalam waktu dekat.

Lima hari sebelum hari pernikahan Bapak jatuh sakit lagi namun Bapak tidak ingin dibawa kerumah sakit. Suhaa hanya bisa bersedih dan tidak ingin membebani Bapak dengan persiapan pernikahannya dengan Hamzah. Namun justru Bapak ingin pernikahan harus segera dilaksanakan secepatnya. Tetangga – tetangga Suhaa yang turut prihatin dengan kondisi Suhaa turut membantu persiapan pernikahan Suhaa. Semakin hari kondisi Bapak melemah dan Bapak tidak bisa lagi berbicara, hanya mampu menunjukkan isyarat dengan anggota badannya yang semakin melemah. Dan lagi – lagi mas Toro tidak bisa hadir untuk mendampingi Bapak menikahkan adik kandungnya. Hari pernikahan pun dipercepat esok hari. Wali hakim didatangkan membantu Bapak yang kondisinya sangat lemah untuk menikahkan Suhaa dengan Hamzah. Bapak menjawab setiap pertanyaan wali hakim dengan isyarat anggukan kepala dan tangan. Pernikahan pun berlangsung khidmat, sesaat setelah wali hakim mengucapkan sah di hadapan para saksi, disaat yang bersamaan Bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Pernikahan Suhaa yang diwarnai kesedihan yaitu kepergian Bapak merupakan suatu pukulan berat bagi Suhaa. Terlebih mas Toro yang tiba – tiba datang di pemakaman Bapak meluapkan amarahnya kepada Suhaa seolah kesalahan Suhaa yang tidak mengabari mas Toro saat Bapak mulai melemah kondisinya. Tidak hanya itu, mas Toro menyatakan pernikahan Suhaa dan Hamzah tidak sah karena bukan dia yang menjadi walinya. 

Hamzah mengajak Suhaa tinggal bersamanya. Selama berbulan – bulan setelah kepergian Bapak, Suhaa hanya merenung, menangis dan selalu memandangi langit. Ada sebuah rasa kehilangan mendalam yang Suhaa rasakan. Selama berbulan – bulan dalam kekalutannya itu, Hamzahpun sabar menunggu Suhaa untuk siap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri sepenuhnya yaitu memenuhi kebutuhan rohani sang suami. Orangtua Hamzah tidak sabar menunggu kabar kehadiran seorang cucu namun Hamzah tak pernah bercerita apapun yang membuat orang tuanya resah. Hingga suatu hari atas saran teman Hamzah sekantor untuk membawa Suhaa mengikuti terapi kejiwaan.

Sesampainya di tempat praktek terapis, sang terapis memulai dengan hipnoterapi nya dan mengajukan pertanyaan yang hendak menelusuri alam bawah pikir Suhaa

“Kejadian terberat apa yang membuat Suhaa merasa sangat sedih?” tanya sang terapis

“Katanya dia kakak kandungku tapi kenapa dia memperlakukan aku seperti ini? Katanya dia wali nikahku tapi kenapa dia tidak hadir di pernikahanku saat Bapak sedang sakit?” jawab Suhaa sembari menangis meluapkan perasaannya

Suhaa didiagnosa mengalami depresi berat di bawah alam sadarnya sehingga Suhaa mengalami suatu sindrom yang membuat dirinya tidak mampu menerima kehadiran orang lain di dalam hidupnya. Dengan ikhtiar yang rutin di terapis kejiwaan, Suhaa akhirnya sembuh dari depresi yang dialaminya dan mampu menjalankan peran sebagai seorang istri sepenuhnya setelah 7 bulan menjadi istri Hamzah. Beberapa bulan kemudian, Suhaa mengumumkan kehamilannya kepada keluarga dan disambut gembira oleh Hamzah beserta keluarganya. Selesai.

Wulan Setyaningrum, S.Pd. lahir di Kota Madiun pada 8 Januari 1990 sekarang bertempat tinggal di Ds. Bantengan RT 2/ RW 1, dukuh Krajan, kec. Wungu, kab. Madiun. 

Lulus S-1 di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris IKIP PGRI MADIUN tahun 2013

Lulus S-1 transfer Prodi PGSD Universitas Terbuka pada tahun 2020. Saat ini aktif mengajar sebagai guru Bahasa Inggris di MIN 1 Kota Madiun. Penulis tergabung dalam tim literasi madrasah. Salah satu karya literasi penulis yang telah ber-ISBN adalah buku bahan ajar yaitu Sparkling English for Smart Learner.

Kritik dan saran sangat diperlukan dan bisa dikirim pada email bundaalesha90@gmail.com.




INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com