Puisi Safandi Mardinata | AKU (SEDANG) TAK BERPUASA - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau untuk memperebutkan Anugerah Sumpah Pemuda. Deadline 28 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

13 Sep 2022

Puisi Safandi Mardinata | AKU (SEDANG) TAK BERPUASA

 Safandi Mardinata 

KANTOR BARU


serupa rumah

tapi tak sama

pengap udara dan meriang 

kipas angin menyapa


serupa rumah

namun memusingkan kepala

dengan pikiran-pikiran 

tak berguna kecuali canda


serupa rumah

namun kedua

serupa rumah

yang perlu berbenah


Bojanegara, 27/07/2022



Safandi Mardinata 

APA MINUM SUSU


papa minum susu dulu

sementara pekerjaan 

mengalir dari hulu

menjajah rasa rindu

padamu


ruang pengap dan kipas 

yang tak pernah lelah

kuakui

darah tak sepekat getah 

yang melekat pada bulu burung 

yang dibawa sang pemikat


papa minum susu dulu

yang masih panas

di antara sela tumpukan buku

di antara sela tumpukan rindu


Bojanegara, 28/07/2022




Safandi Mardinata 

TAHUN BARU


tahun baru ini menjadi ritual 

katamu, tahun baru ini 

yang jelas 

tahun yang baru

berganti sepagi ini

menjerang air menyeduh kopi

juga sebagai ritual

bagiku

burung-burung tetap berkicau

berkelana dan kembali pulang


entah apa yang merasuki pikiran

hingga membayangkan 

sebuah kemustahilan

menjadi budak-budak kertas merah biru

hingga rela menundukkan nuranimu 

dalam satu minggu

semoga tahun baru

bisa mengingatkanmu


Bojanegara, 29/07/2022

Safandi Mardinata 

MALAM MINGGU


malam minggu kasihku

kutunggu kau di penghujung rindu


di antara reranting asmara

kita bercengkrama

menyelimuti diri dengan hangat mesra

kemudian berenang 

menyelami kedalamannya


malam minggu kasihku

aku ingin dipelukmu

semalaman 

tak peduli apa itu pekerjaan

persetan


malam minggu kasihku

lepas bajumu

lepas bajuku

lepas belenggu 

yang mendera dalam 

seminggu


Bojanegara, 30/07/2022



Safandi Mardinata 

AKU (SEDANG) TAK BERPUASA


aku tak berpuasa

karena aku sedang berpuasa

menahan jemari

di bawah kungkungan kuasa data


aku tak berpuasa

(mungkin) karena aku sedang berpuasa

menahan rintik keinginan

memposting status tentang keimanan


aku (mungkin) sedang berpuasa

karena itu aku tak berpuasa

atau mungkin puasaku itu tidak perlu

karena aku memang sedang (mencoba) berpuasa

menunjukkan foto-foto untaian tasbih

atau video gumam doa dengan mulut berbuih


mungkinkah aku berpuasa

ketika aku sedang tak berpuasa

yang niatnya diunggah ke dalam status wa

dan diakhiri deretan foto menu buka puasa

sungguh aku tak kuasa

untuk 

berpuasa

ketika aku

sedang 

tak berpuasa


Bojanegara, 31/07/2022



Safandi Mardinata 

BOJANEGARA


kutulis bojanegara

karena aku ingin mengembara

melalui tetesan tinta pena 

diiringi khayalan ringkik kuda


kutulis bojanegara 

karena masa lalu tak pernah tiada

dalam buku catatan sejarah manusia

yang mengusik pikiranku belaka

(tentang sedang apa dahulu mereka?)


mungkin di luar sana

orang heran

tak berguna kutulis bojanegara

karena ejaan telah ditikam oleh waktu, 

nafsu, dan kekuasaan belaka

tak berguna kutulis bojanegara

karena aku bukan orang yang percaya 

begitu saja akan legenda

yang dianggap darahnya

mengaliri darah-darah mereka 


kutulis bojanegara

karena (mungkin) aku jawa

kutulis bojanegara

karena (mungkin) tidak semua orang

bisa

membaca


Bojanegara, 01/08/2022


Safandi Mardinata 

SIMFONI GERIMIS FEBRUARI


menyibak tirai hujan, di antara 

dongeng-dongeng gerimis senja februari

yang meninabobokkan arca-arca pualam

tergubahlah bait demi bait puisi 

rangkaian bunga yang ingin tersemat

di kerling matamu

berangkat dari sepi yang menyelimuti 

leher gitar di sudut ruang

menemani rembulan yang semakin tua 

ketika menulis puisi ini

pena yang kupegang ini mulai berdenting

menyanyikan simfoni kata hati

mengalun memberikan warna dan corak 

sentimentil melati

pada oktaf tertinggi nyanyian ilalang

malam, dingin mulai menetas

memahat ornamen-ornamen embun 

di kaca jendela, mengukir sunyi 

kelopak melati yang sendiri

“hey!” serunya

“jangan kau lena, kibaskan embun 

yang mencumbu nafsumu! jangan biarkan 

ia membuai warna pandangmu juwita!” 

ujar malam

kuakhiri penulisan puisi ini

agar mereka tak saling 

berargumentasi.


Bojanegara, 02/08/2022

Safandi Mardinata 

MENARIK NAPAS PANJANG


menarik napas panjangku pagi ini

ketika embun dan gelap mendung

menarik-narik ingatanku 

ke mojokerto kala itu


bus hijau dan rindu yang berpacu

pada secobek sambal kacang 

yang dilumat oleh kenangan


bersepeda pancal berbonceng 

malam-malam, hanya tawa 

dan harapan-harapan pada gadis 

yang harap-harap menuang cinta 

pada gelas kosong yang kami bawa 

kemana-mana


Bojanegara, 02/08/2022

 IMG_20200124_200156



SAFANDI MARDINATA, lahir di Tuban pada 29 Juni 1983. Karya tulisnya berupa puisi, cerpen, geguritan, serta cerkak telah termuat di beberapa media cetak, media daring, dan buku-buku antologi bersama. Buku-bukunya yang telah terbit; Titip Kangen (MNC, 2016), Cethik Geni (Temalitera, 2018), Jalanidhi (Temalitera, 2020), Sastra Jawa Modern dan Seksualitas Perempuan (Lensa Publishing, 2022). Sejak 2011 berdomisili di Kabupaten Bojonegoro dan bergiat di Sanggar Interlude. HP: 081359117609, surel: safandimardinata@gmail.com.

 








INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com