CERPEN JATUH HATI (3) Oleh: Dyah Kurniawati - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis puisi untuk memperebutkan ANUGERAH HAK ASASI MANUSIA. Deadline 10 Desember 2022 | Apabila dalam 30 Hari, karya yang anda kirimkan di Negeri Kertas tidak dimuat, secara otomatis karya tersebut statusnya dikembalikan.

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

25 Sep 2022

CERPEN JATUH HATI (3) Oleh: Dyah Kurniawati

 JATUH HATI (3)

Oleh: Dyah Kurniawati

https://lh6.googleusercontent.com/GqTpm5JG9SQrHf9V_hVcgxUL8fKp7fhW0ZkFLLK-nv8cn9YTDMDNEIs4jmuOHDmiHziMfXiFI-Y08syFXbwA0A4dCsSft-NJuQTcaUVwmizVzuXtUQMHr4RsVzCciSue3bnfBZJJVic0aksZo2EQ7w

Mendengar kabar meninggalnya Prabaswara suami Sekar Kinasih, rasanya seperti mimpi di siang bolong. Antara percaya dan tidak kuhubungkan dengan mimpi waktu itu. Walaupun banyak yang bilang kalau mimpi hanyalah bunga tidur, tapi firasatku berkata lain. Terlintas kembali senyum merekahnya Sekar Kinasih kala mendekat kepadaku. Pegangan tangan mesra keduanya terlepas seiring berbalik arahnya Prabaswara meninggalkan kami berdua. Antara mimpi dan kenyataan cuma beda tipis. Tapi aku yakin, kalau memang berjodoh  pasti dipermudah oleh penguasa langit dan bumi, positive thinking.

Dalam tujuh hari di rumah sebelah rutin diadakan  pengajian untuk mendoakan Prabaswara. Walaupun tidak dikebumikan di sini, namun sanak saudaranya  secara sukarela berdoa bersama, semua ikut andil dalam acara ini. Sejak hari pertama pengajian kulihat Pak RT yang sangat  anstusias kesana kemari, sibuk mengatur jalannya acara. Terkadang aku membatin,

“Meski jabatannya Pak RT,  tapi  tidak sebegitunya kali..., hem.”

Kuhapus pikiran jahatku yang bergentayangan. Kembali fokus kepada kehidupan sendiri. Biarlah semesta yang bekerja, kita tinggal melakonkan perannya. 

*****

Sebulan sepeninggal Prabaswara, hanya sekali kulihat Sekar Kinasih pada saat melayat. Rumah sebelah masih ramai, karena para saudara bergiliran menemani Sekar Kinasih yang sekarang sendiri. Dari pernikahan dengan  pelukis kondang tersebut sepertinya belum memiliki momongan, aku rajin mengintip  IG mereka berdua. Umur pernikahan juga belum lama, sekitar setahun. Heran dengan diriku sendiri, kenapa begitu kepo dengan kehidupan penulis idola.

Sejauh ini juga belum terdengar suara biola seperti kala itu, mungkin masih berduka. Dalam hati kecil  berharap suasana segera normal, sehingga suara biola kembali mengalun menemani malam-malam sepiku. Terngiang terus  gesekan biola dari rumah sebelah yang selalu bersenandung Jatuh Hati-nya Fileski. Suara itu sangat sakral bagiku karena jadi sebab musabab  jatuh hatiku pada Sekar Kinasih, walau awalnya belum mengetahui identitasnya. Semakin mencoba menghapus rasa ini, bertambah hebat pula jatuh hatiku padanya. Jatuh hati semoga tidak berakhir patah hati, harapku setiap kali.

Sambil minum kopi, kubaca sekali lagi novelnya Sekar Kinasih yang berjudul “Jatuh Hati”. Aku berjanji setelah ini akan menyimpannya dalam lemari, seperti rasa jatuh hatiku pada penulisnya. Entahlah, rasa ini  terlalu menyiksa kalau terus dibiarkan mengaliri tiap tetes darahku. Sengaja akan kusimpan jatuh hatiku sambil menunggu  masa iddah pujaan hati. Setelah yakin ada titik terang, akan kubuka rasa ini kembali di saat yang tepat. Pasti, janji harus ditepati.

Tak sengaja kulihat Pak RT berjalan menuju rumah sebelah yang ditempati Sekar Kinasih. Hatiku mendadak sakit, merasa tidak rela. Sudah beberapa kali Pak RT bolak-balik ke rumah itu. Entahlah, mungkin sedang mengurus surat kematian suami Sekar Kinasih atau administrasi desa lainnya. Namun rasa ini tak bisa dibohongi, aku cemburu. Secara status Pak RT juga sama sepertku, duda keren.

*****

Pagi yang cerah di tanggal merah. Kunikmati hari yang indah ini dengan joging mengelilingi kampung. Mencoba menyapa dan berakrab ria dengan masyarakat sekitar. Selama setahun tinggal di sini merasa sudah nyaman, tenang, jauh dari hiruk pikuk kota yang melelahkan. Sengaja memilih daerah pinggiran untuk menata hati setelah kepergian istri tercinta. Aku rela jauh dari tempat kerja di kota, karena hatiku sudah tersangkut di sini.

Ketika melewati depan pos kamling, kudengar ibu-ibu lagi ngobrol sambil mengerubungi abang sayur. Kudengar sayup-sayup obrolan mereka,

“Eh tau gak, sekarang Pak RT makin ganjen sejak Mbak Sekar tinggal di sini,” ujar ibu berdaster merah dengan antusias.

“Wah bakal seru ini, gimana..., gimana? “ ibu  kerudung coklat mulai mendekat si daster merah.

“Heran aja..., hampir tiap hari ke rumah Mbak Sekar.  Kemarin juga modus katanya mau ngurus KK. Padahal sudah diurus sepupu Mbak Sekar yang kerja di Dukcapil, eh malah Pak RT kayak marah gitu....

“Trus, trus....”

“Sepertinya Pak RT ada hati deh sama Mbak Sekar.”

Aku berhenti ikut mengerubungi abang sayur, berlagak memilih buah di keranjang. Mendadak lenganku dicolek ibu berdaster merah,

“Mas Gilar haiiiii..., makin ganteng aja heheeheee....”

“Itu Mbak Sekar segera diikat Mas, dibungkus Pak RT baru tau rasa hlo....” ibu berkacamata menambahi.

“Hahahaaaa....” semua ibu tertawa dan menatapku nakal.

Haduuh, menyesal lewat sini tadi.


*****

Kulihat kalender  sekali lagi. Setiap hari menghitung hari menuju angka yang aku bundari spidol hitam tebal. Hari spesial yang akan kuniatkan untuk menuju masa depan yang lebih cerah. Tanggal menurut hitungan agama adalah berakhirnya masa iddah Sekar Kinasih. Selalu kunantikan setiap hari, rasanya tak sabar menunggu saat itu. Seperti anak SD yang akan darma wisata naik bus satu sekolahan, membuncah dalam dada.

Hari ini genap 4 bulan 10 hari dari meninggalnya Prabaswara, artinya masa iddah Sekar Kinasih telah berakhir. Masih terngiang obrolan ibu-ibu waktu itu, dalam hati kecil takut juga kalau keduluan Pak RT. Tetap pasrah sumarah yang penting tidak salah arah.

Kebetulan besok hari Minggu kuniatkan silaturahmi ke rumah sebelah untuk mengutarakan niat suci. Sepertinya sekarang Sekar Kinasih ditemani budhe dan pakdhenya. Nah, mumpung ada walinya akan kuutarakan suara hatiku secara baik-baik. Berusaha menghindari kontak langsung dan berduaan dengannya, takut rasa ini tak terbendung.

Minggu jam delapan sudah bersiap menjemput mimpi. Bercelana jin abu-abu, kemeja biru tua kesukaanku. Berkali kusisir rambut sambil mengaca. Debar dada  tak bisa kuhindari walau  tak muda lagi, dan sudah pernah mengalami walau ini bukan remidi. Sesekali memutar tubuh dan mematut diri di kaca, kaya ABG yang lagi jatuh cinta. Sambil merapikan  kemeja lagi, terus kudendangkan Jatuh Hati-nya Fileski, .

JATUH HATI 

rindu bukan perkara jarak

bukan soal bertemu atau tidak

kamu adalah cahaya

nampak tapi berjuta jarak

 

dalam gelap aku diam

mengintip kau yang bersinar disana

aku selalu rindu kamu

meski kau tak pernah menganggapku

 

aku tak sanggup untuk katakan sayang

meski dalam hati ku ingin kau tau

mungkinkah aku sanggup menghadapimu

untuk mengaku aku jatuh hati

Baru saja menutup pintu dan mau berangkat berjuang, Pak RT datang ke rumah. Karena rumah sudah terkunci, akhirnya kita berdua duduk di kursi teras. Tanpa basa-basi karena melihat aku akan pergi, beliau langsung mengutarakan maksud kedatangannya, 

“Mas Gilar nanti sore repot tidak ya?”

“Tidak, Pak. Memang ada apa ya?”

“Hem, mau minta tolong nemenin. Rencana nanti sore saya mau melamar Sekar Kinasih.” 

Permintaan Pak RT pelan tapi sukses menghantam kepalaku.

*****


Madiun, 23 September 2022

 

# teks Jatuh Hati adalah lirik dan lagu karya Fileski.



Dyah Kurniawati lahir dan bermukim di Madiun. Menggilai fiksi sejak berseragam putih merah. Lulusan Pend. Bahasa dan Sastra Jawa ini mencoba selingkuh ke sastra Indonesia, tapi tak kuasa lepas dari hangat pelukan sastra Jawa. Menulis geguritan, cerkak, esai, cerita lucu juga menulis puisi dan cerpen. Bisa disapa di https://www.facebook.com/dyah.kurniawati.948.


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa PUISI/CERPEN/ARTIKEL + BIODATA narasi + FOTO penulis atau GAMBAR ilustrasi, semuanya dalam SATU LAMPIRAN email file Ms Word. Bagian paling atas bertuliskan JUDUL KARYA + NAMA PENULIS. Kirim ke email nkertas@gmail.com