Puisi Yuditeha | BIOGRAFI AYAH - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

3 Mei 2022

Puisi Yuditeha | BIOGRAFI AYAH

 Puisi Yuditeha

| BIOGRAFI AYAH

 

 

Melajukan bakti yang dikukuhi atas kami, sampai tak memeduli 

keringat menetes dan tulang meringkih.

Ada beban di pundak berwujud pertanyaan tentang masa depan kami 

hingga ia abai pada segala keluh, dan selalu mencari celah cahaya.

Sekecil apa pun kesempatan, asal berada di ruas jalur akan tetap 

ia tempuh meski sesekali berjumpa medan rumpang.

Tak pernah menghitung berapa kali ia melalui rambu

demi memipih tanah sebagai pijakan pertama sebelum kaki kami

menapak tilas, dengan cara menguntit usulan kebenaran.

 

Ia terus melenggang, meniti perlintasan keikhlasan meski

kadang harus menghilangkan harga gengsi

namun, baginya hal itu pun tak akan bermakna bila kami

tak mampu menuntaskan rindu pada kenyamanan lalu 

segala amalan, dan doa akan mematri pada medan rindang agar

bisa menjadi tempat singgah kami karena lelah memerangi dosa.

 

Sesekali ia berbelok, menyiasati ketabahan yang berguna 

untuk melihat ke belakang agar perhatian kami bisa saksama

dengan pegangan pada hening dan mengolah langkah dan

saling menyapa pada pengguna jalan agar 

dunia asing tak begitu saja menjelma tuan penentu

terhadap segala jenis rute yang seharusnya kami tinggalkan.

 

Riak yang ada ia jadikan bahan pemantapan

keinginan tentang segala hal yang tak sempurna.

Raga tak menghitung telah berapa kali ia memegang teguh

tentang peta yang menerangkan kemurnian harta karun

yang bisa mencuci usia dari segala yang kotor.

 

Tanjakan yang kami jalani ia pasangi pemantau tersembunyi

di balik belukar agar kami tak merasa diteror, lalu benda dunia

sesungguhnya bukan satu-satunya penilai seberapa tangguh 

kami bertahan dari gempuran ranjau yang ada di medan mana pun.

Lewat tapak-tapak tegas namun lentur, ia memberi tanda ke mana 

kaki kami menuju hingga menjadi pengukur tentang laku.

Jalan yang menurun sesungguhnya hanya tentang kata-kata 

yang sebaiknya disingkirkan dari sepanjang garis keturunan

lalu doa-doa yang ia lantunkan akan menggetarkan

jembatan penghubung antara martabat dan pengorbanan

tapi juga penemu jalan cabang mana yang akan kami pilih.

 

Tunas akan ditanam di tubuh rahim yang sepantasnya kami luluri 

dengan minyak keluwesan hingga sampai pada kata dewasa.

Kerikil-kerikil akan dilembutkan lalu mengeras menjadi tempat

pijakan diiringi angin yang datang dari arah kiblat, asal dari segala 

yang tak menjemukan, dan ia akan mewujud gambar dinding 

yang kami pasang di perantauan hingga dari sana kelak kami 

menemukan lorong penghubung pada ruang kangen.

 

Kami mendapat susu dari perempuan terbaik, dan ia menyisipi 

nasihat tentang peraturan, bagaimana kami akan menentukan kekasih

dengan tidak hanya modal raga, yang sesungguhnya bagian itu 

paling rapuh dan sering kami temui di sepanjang waktu perjalanan

yang meruangi semesta hingga melatari jalan yang kami lalui.

Ia menyingkirkan duri dan gulma lalu peta-peta baru terbentuk 

membuat kekuatan yang tak hanya diisi kemenangan

yang sebenarnya bisa mengecoh kami tentang bagaimana 

rupa setapak, dan ia tak akan menyerah sebelum kami selamat.


Karanganyar, 2022



 


Yuditeha

Menulis puisi dan cerita. Pendiri Komunitas Kamar Kata. FB: Yuditeha, IB: @yuditeha2


INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com