HPN Puisi Eliaser Loinenak - negerikertas.com

INFO ATAS

Share link karya anda ke banyak orang agar mendapat peluang besar untuk meraih Anugerah Sastra dari Negeri Kertas, dengan kriteria karya kualitas terbaik dari 10 karya dengan pembaca terbanyak. Berhadiah uang tunai dan piagam penghargaan.

Media Sastra dan Seni Budaya

WA 628888710313 | Email nkertas@gmail.com

9 Apr 2022

HPN Puisi Eliaser Loinenak

 

TENTANG KITA

(dies)

Puisi Eliaser Loinenak

 

cinta kita yang beranjak dewasa biarkan renta

bagai matahari di siang dan bulan di malam

kemarin, kini, dan nanti

 

dies,

akulah adam yang kesepian

adam yang berteriak, “Tuhan kasih beta perempuan!”

aku adalah adam yang tiba-tiba merasa diri perkasa lantaran kehadiranmu

 

dies,

kita adalah adam dan hawa yang kemarin, kini, dan nanti.

 

tentang mawar luka dan kumbang ganas kemarin

lupakan saja

mari bikin cerita baru untuk kini dan entah nanti

pun bila esok bukan milik kita, tetaplah tersenyum 

seperti kemarin, kini, dan nanti

 

tetapi, ah dies

aku sangsi meski sudah berbilang kali daging kita remuk redam di atas ranjang

dan berkali-kali pula kata “aku cinta padamu” mengalun indah bagai kecapi daud.

 

dies, 

beri aku bukti dan bukan janji

jiwa ini begitu gelisah menggelepar bagai ikan yang terperangkap dalam pukat nelayan

ya, satu tanya tak terjawab terus mengusik di jiwa

kaukah ini yang kunanti?

sebelum akhirnya aku mengerti 

“kau adalah tulang dari igaku”

ketika kita sujud di altarNya

 

dan jika nanti kau bukan pengantinku

biarkan aku tetap adam yang perkasa

tinggalkan daku di sudut gelapku

dengan senyuman kemarin, kini, dan nanti

 

#2005>>>2022#

 

Tentang Nila dan Nira

 

Awal mula:

“Lantaran sedikit nila merungkah sebelanga nira.”

 

Lantas nila dan nira bersumpah janji,

“Aku tak akan meracuni nira dalam haik,”kata nila

 

(dan aku menjadi saksi dengan janji tak memperetemukan nila dan nira dalam haik)

*haik : wadah yang terbuat dari daun lontar untuk menampung nira

Bunu, 14012022

 

FATAMORGANA

Aku terpesona aura cinta terlarang

Gelora asmara yang terpendam

Untaian kata yang kelu

Senandung rindu tanpa nada

Tenggelam dalam genangan kagum

Impian sekedar fatamorgana

Ah, andainya kau pandai membaca isyarat

#2019>>>2022#

 

 

Eliaser Loinenak lahir di  Puamese, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur,  2 Mei 1980. Ia menulis cerpen dan puisi. Cerpennya yang berjudul Teku dan Perjalanan  sempat dimuat di Pos Kupang. Saat ini mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri Satu Atap Sunu, Amanatun Selatan, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur

 


INFO BAWAH

[ Dukung peningkatan honor penulis karya terbaik dengan cara klik iklan yang ada di website ini. Untuk berhenti mendapat info dari NK, caranya ketik UNREG kirim ke nkertas@gmail.com ]