CERPEN: Euis Citra Dia dan Botol Bekas - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

13 Apr 2022

CERPEN: Euis Citra Dia dan Botol Bekas

 CERPEN: Euis Citra

Dia dan Botol Bekas

Karya :Euis Citra

Siang itu udara begitu panas sinar mentari seolah membakar tubuh ini. Padahal belum musim kemarau. Kuberdiri di depan kelas memberikan materi pelajaran matematika ke para siswa. Tiba-tiba terdengar di luar ramai banget, ada yang berteriak-teriak minta tolong, ada yang berlarian ke sudut pertigaan jalan yang terletak di depan sekolahan.

Aku buru-buru keluar kelas dan terlihat sudah banyak orang berkerumun di pinggir jalan, anak-anak pun berhamburan berlari ke dekat pagar sekolahan. Dengan rasa ingin tahu aku pun berlari ke tempat kerumunan.

Nampak seorang ibu terduduk lesu di tembok jembatan drainase, pakaiannya diselimuti  lumpur, wajahnya juga penuh lumpur. Dia duduk dengan tatapan kosong. Orang-orang masih mengerumuninya, ada yang membersihkan tangan dan wajahnya dari sisa-sisa lumpur yang masih menempel di kulitnya yang sudah mulai mengeriput. Sampai akhirnya orang tua itu diantarkan oleh warga ke rumahnya.

Dua hari kemudian tersiar kabar kalau perempuan itu meninggal dunia. Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahannya dan di tempatkan di surga. Aamiin.

“Bu Lin, apa benar si ibu yang kemarin jatuh ke selokan meninggal dunia?” tanyaku kepada Bu Lina.

“Iya bu, tadi pagi.” Jawab Bu Lina.

“Memangnya ketika terjatuh itu dia  terluka badannya, aku lihat waktu itu badannya dipenuhi lumpur.” Ucapku.

“Ga ada luka sih bu, tetapi paru-parunya kemasukan lumpur dan air kotor katanya.” Ujar BU Lina menjelaskan panjang lebar.

“Mudah-mudahan Allah menerima iman islamnya!” bisikku dalam hari. Aku bergegas ke dalam kelas yang sepi karena anak-anak sedang berolah raga di lapangan. Aku terduduk dengan pikiran melayang jauh teringat pada dia yang sering datang ke lingkungan sekolah ini dengan karung bututnya. Dia memungut botol-botol bekas yang berserakan di halaman dan di tempat sampah. Aku teringat kejadian beberapa bulan ke belakang. Sebelum dia terjatuh ke dalam drainase.

Suatu hari anak-anak berteriak  minta tolong sambil berlarian. Wajah mereka melukiskan ketakutan yang luar biasa.

“Ibuuuuuu toloooooong bu !” teriak mereka sambil mendekatiku yang sedang duduk dalam kelas.

“Ada apa? Mengapa kalian berlarian seperti ketakutan?” tanyakku sambil menatap kepada anak-anak yang mulai ngos-ngosan.

“Ibu......!Ibuuuuuu, itu ada ibu-ibu yang marah-marah mau melempar kita dengan batu!” jawab Nanda sambil menunjuk ke gerbang sekolahan.

“Masa sih? Mungkin kalian yang mengganggu orang itu. Siapa yang mengejar kalian? Sudah masuk semuanya biar ibu yang nyamperin orang itu.” Kataku sambil menyuruh anak-anak masuk ke kelas masing-masing. Aku buru-buru ke gerbang sekolah dan terlihat seorang ibu sedang mengomel marah-marah sambil memegang sebuah batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Aku mendekati ibu itu. Terlihat tangan kirinya memegang sebuah karung butut berisi botol-botol bekas dan tangan kanannya memegang batu, dengan wajah penuh kemarahan dia berjalan cepat menuju kelas. Aku samperin perempuan itu.

“Bu, maafkan anak-anak ya mungkin telah mengganggu ibu. Sudah ya biarkan nak-anak saya yang akan menghukumnya, jangan marah-marah lagi ya, yo aku bantuin mungutin botol-botol bekas.” Kataku sambil memegang tangan orang itu. Dia menjatuhkan batu yang tadi dipegangnya.

“ Mereka tadi mengganggu saya, dan ngatain saya orang gila.”Ucapnya dengan wajah masih terlihat kesal.

“Maafkan anak-anak ya, Bu !” Ujarku sambil mengajar ibu itu mendekati halaman kelas.

“Ibu duduk dulu di sini ya, aku ambilkan botol-botol bekas untuk ibu.” Kataku sambil menatapnya. Rupanya dia mengerti ucapanku, dia duduk di teras sekolahan depan kelasku.

Aku masuk ke dalam kelas dan menenangkan anak-anak supaya tidak berisik dan tidak menengok ke luar jendela, aku mengambil tiga dus aqua gelas bekas minum  anak-anak  yang kebetulan dikumpulkan setiap hari. Dengan dibantu oleh Rahmat dan Adhi kubawa dus itu dan diberikan kepada ibu tua tersebut. Terlihat wajah bahagia  ibu itu, dengan tersenyum dia mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih !” ucapnya pendek.

“Nek, saya minta maaf ya !” Ujar Rahmat sambil mengulurkan kedua tangannya mengajak salaman ke perempuan tua itu.

“Saya juga minta maaf ya, Nek !” kata Adhi.

“Bu, nanti sering-sering ke sini ya, biar anak-anak membantu ibu memungut botol-botol bekas yang ada di sekitar sekolahan ini.” Ucapku sambil menatap perempuan itu tersebut.

“Iya terima kasih!” Jawabnya. Setelah ibu tua itu pergi aku masuk ke dalam kelas dan menasehati anak-anak supaya tidak mengganggu dia lagi.

“Anak-anak, kalian tidak boleh mengganggu orang tua, apalagi ngatain orang gila, itu tidak baik. Orang itu tidak terima kalian katain gila, makanya mengejar kalian, awas ya ke siapapun kalian harus hormat, apalagi ke perempuan tua tadi kalian mulai besok harus membantunya mungutin botol-botol bekas ya, kasian sudah tua masih semangat mencari rijki, mencari napkah untuk menghidupi anaknya !” Kataku sambil menatap anak-anak.

“Iya bu, kami janji tidak akan nakal lagi dan akan membantu ibu tadi membungut botol bekas.” Jawab anak-anak serempak.

Hari berganti hari, minggupun berganti minggu hingga bulan berganti, tak terasa hampir setengah tahun lebih, setiap hari kadang tiga kali seminggu ibu tua itu mampir ke sekolahan untuk mengambil botol-botol bekas yang sudah dikumpulin oleh anak-anak.

Kadang aku bertemu dia di jalan dekat pasar. Dia berjalan dengan karung butut yang diseretnya, kadang sesekali ditaruh di atas pundaknya. Langkah kakinya sangatlah  lamban seperti kelelahan. Aku sering mendekatinya dan mengajaknya ngobrol. Sehingga tiap dia melihatku lewat dengan motor biruku, dia akan menyapa dengan senyuman. Sering dia duduk di atas jembatan kecil itu hanya sekedar melepaskan lelah. Terkadang  dia duduk di jembatan depan gerbang sekolahan. Aku akan nyamperin dia untuk sekedar mengajaknya mengobrol.

Kini setelah kepergiannya, tak ada lagi orang yang mengambil botol bekas yang telah dikumpulkan oleh anak-anak. Tak terlihat lagi dia duduk di atas jembatan kecil. Aku dan anak-anak di sekolah hanya bisa mengirimkan doa, semoga beliau husnul khatimah. Aamiin.

PROFIL PENULIS EUIS CITRA


 C:\Users\Microsoft\Pictures\1615634803190.jpg

Euis Citarasa S.Pd. panggilan Euis Citra , Nama samaran Ecit, Lahir di Majalengka, 26 Agustus 1969. Mengajar di SDN Weragati II Kec.Palasah Majalengka. Hobi menulis.Menulis Artikel Pendidikan, puisi, pantun dan cerpen pun dilakukan. Sekarang masih aktip menulis di Majalah Aksioma dan Majalah Sigap.Aktif di AGP (Asosiasi Guru Penulis) Majalengka.

Beberapa buku antologi  yang  sudah dimiliki antara lain: Buku Pantun Nasehat 1000 Guru ASEAN(Rumah Seni ASNUR;2020), Pantun Nasehat Guru Untuk Muridnya (PERRURAS,2020), Puisi Rindu(Pramedia;2020), Sumbu Kaki Langit(KPPJB,2020), Raja Bertasbih Di Langit Ramadhan(KPPJB,2020), Kabar Di Batas Senja (AGP;2020),     Pelangi Masa Pandemi (AGP;2021), Majalengka Wajahmu Kini (AGP;2021), Transformasi Media Belajar Pada Masa Pandemi (AGP;2021), Balebat Mapag Saum (AGP;2021), Senarai Nama Terkasih (KPPJB;2021), Hariku    Semangat (Antero Literasi Indonesia;2021), Bangkitlah Indonesiaku ( Pustaka Lierasi;2021).  Tangis Indonesia (KPPJB;2021) , Lembur Panineungan (AGP;2021),Pemuda dan Persatuan (KPPJB;2022), Rhapsody 99 Nama(AGP;2022) .Semoga semangat menulis tidak  akan pernah padam. WA:085353898426                    



INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com