005

header ads

PELUNCURAN BUKU ANTOLOGI PUISI LIMA TITIK NOL

 

Diskusi saat acara peluncuran buku, dari kiri: Riri Satria, Emi Suy, serta Prof. Teddy Mantoro


PELUNCURAN BUKU ANTOLOGI PUISI  LIMA TITIK NOL: MASYARAKAT CERDAS DALAM PUISI  JAGAT SASTRA MILENIA

Buku antologi puisi “LIMA TITIK NOL: Masyarakat Cerdas Dalam Puisi” yang memuat 165 puisi dari 70 penyair dari berbagai wilayah di Indonesia, diluncurkan pada hari Minggu tanggal 27 Maret 2022 oleh komunitas Jagat Sastra Milenia. Acara peluncuran buku dilaksanakan secara daring dengan host berada di BlueSky Hotel Raden Saleh, Jakarta.

 

Ide untuk membuat buku ini lahir dalam beberapa kali diskusi internal di komunitas Jagat Sastra Milenia maupun di berbagai forum diskusi tentang sastra yang membahas bagaimana sastra mampu mengikuti perkembangan peradaban. Topik yang hampir sama juga menjadi tema Perayaan Puncak hari Puisi Indonesia tahun 2021 yang lalu, di mana Jagat Sastra Milenia juga mendukung Yayasan Hari Puisi untuk menyelenggarakan acara tersebut, terutama terkait dengan seminar.

 

Puisi adalah bagian dari dunia sastra, dan sastra adalah sesuatu yang besar. Ada hadiah Nobel untuk sastra, sama dengan ilmu Fisika, Ilmu Kedokteran, Ilmu Ekonomi, dan sebagainya. Betapa terhormatnya posisi sastra dalam peradaban manusia. Sastra sejajar dengan ilmu pengetahuan atau sains yang membentuk peradaban manusia. Dengan demikian puisi beserta karya sastra lainnya adalah karya intelektual yang mengawal bahkan ikut serta membentuk peradaban.

 

“Jadi, tidak berlebihan dan tidak salah jika puisi juga perlu memotret masyarakat cerdas 5.0 melalui tangan dan pikiran para penyair, supaya perkembangan teknologi yang membentuk masyarakat cerdas 5.0 tidak kebablasan dan mengikis nilai-nilai kemanusiaan kita. Puisi menjaga kita tetap memiliki nurasi kemanusiaan dalam kepungan teknologi.” demikian Riri Satria, Ketua Jagat Sastra Milenia menjelaskan dalam sambutannya.

 

Lebih lanjut Riri Satria menjelaskan, “Banyak yang mengatakan bahwa dengan perkembangan teknologi digital dan siber saat ini, aspek-aspek kemanusiaan mulai memudar. Ini diamini oleh banyak pakar dan budayawan. Namun Chris Skinner – penulis buku Digital Human - memandangnya dari sisi lain, di mana aspek kemanusiaan tidak memudar, namun bertransformasi menuju fourth revolution of humanity yang dikenal dengan istilah digital human. Chris Skinner memisahkan dua hal, yaitu antara nilai-nilai dasar kemanusiaan serta aspek-aspek teknis dalam kehidupan. Nah, nilai-nilai dasar seperti cinta kasih, kebersamaan, dan sebagainya, tidak akan hilang. Namun wujud teknisnya sehari-hari itulah yang mengalami perubahan.”

 

Pada acara peluncuran buku tersebut, diselenggarakan diskusi yang dipandu oleh perempuan penyair, Emi Suy, yang juga redaktur Sastramedia, dengan narasumber Prof. Teddy Mantoro, guru besar Ilmu Komputer Universitas Sampoerna, serta Riri Satria, pengamat ekonomi digital yang juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia serta ketua Jagat Sastra Milenia. Keduanya walaupun merupakan pakar di bidang ilmu komputer dan teknologi digital, juga pencinta dan bahkan penulis puisi.

 

Ada dua kesimpulan penting dalam diskusi tersebut:

 

Pertama, puisi akan tetap diperlukan, karena sesungguhnya manusia itu memahami semesta melalui dua penalaran, yaitu penalaran secara ilmiah serta penalaran secara batiniah atau rasa. Penalaran ilmiah dilakukan melalui ilmu pengetahuan, sementara itu penalaran batiniah melalui seni, termasuk puisi. Sejalan dengan pemikiran Chris Skinner, maka puisi dapat menjadi salah satu pengawal fourth revolution of humanity atau digital human tersebut melalui proses penalaran batiniah, di mana nilai-nilai dasar kemanusiaan tidak mati, namun hanya bertransformasi dalam wujud lain menyesuaikan dengan perkembangan, yaitu era digital atau masyarakat cerdas 5.0.

 

Kedua, karya puisi dan sastra pada umumnya adalah karya intelektual, yang juga dianugrahi Hadiah Nobel untuk pencapaian tertinggi, setara dengan ilmu fisika, kedokteran, ekonomi, dan sebagainya. Puisi juga berperan sebagai pembentuk dan penjaga peradaban. Dengan demikian, sudah pas sekali jika para penyair memalui puisi juga ikut mengawal era masyarakat cerdas atau smart society 5.0.

 

Prof. Teddy Mantoro menyampaikan, “Lalu, untuk apa Smart Society 5.0 dan apa ultimate goal-nya? Tujuan akhirnya adalah peningkatan kualitas hidup masyarakat dengan memobilisasi potensi produktif dan teknologi Industri 4.0 berupa masyarakat cerdas yang ditandai dengan kondisi di mana berbagai kebutuhan masyarakat dipenuhi dengan menyediakan layanan berikut produknya, yang diperlukan dalam jumlah masif kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan di mana semua orang dapat menerima layanan berkualitas tinggi dan nyaman dalam kehidupan sehari-harinya tanpa perbedaan termasuk warna kulit, usia,  jenis kelamin, wilayah, atau bahasa. Tentu teknologi tinggi berperan besar dibalik layanan berkualitas tinggi ini.

 

Lebih lanjut Prof. Teddy menjelaskan, “Smart society 5.0 cenderung menjadikan masyarakat yang individualistis, memikirkan sendiri, kering, dan dingin seperti dikelilingi alumunium, berkilat, walau bisa dibuat wangi, tapi kaku luar biasa. Resah akan masa depan. Melalui kumpulan puisi Lima Titik Nol ini diharapkan rasa kering, individualistik, dingin dan kaku yg luar biasa ini, dapat dilunakkan menjadi super modern tapi indah, ramah, tanpa kehilangan budaya Timur, budaya Nusantara.”

 

Moderator Emi Suy menutup diskusi dengan mengatakan, “Nuansa diskusi kali ini memang terasa berbeda. Kita membahas puisi bersamaan dengan membahas teknologi, bahkan matematika. Sesuatu yang kurang lazim dalam diskusi puisi yang sering saya ikuti.  Buat saya sendiri ini juga hal baru, namun wawasan saya pun mulai terbuka mengenai pertemuan antara puisi dan teknologi.”

 

Para kurator yang ditugaskan untuk mengevaluasi semua puisi yang masuk ke panitia penyusunan buku ini terdiri dari Fikar W. Eda (penyair, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2013 - 2015, serta Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Aceh 1995 - 2000), Khrisna Pabichara Marewa (penyair, cerpenis, novelis, esais, serta aktivis sastra), Sofyan RH Zaid (penyair, kritikus sastra, pengurus Jagat Sastra Milenia, serta Pemimpin Redaksi SastraMedia), Emi Suy (penyair, pengurus Jagat Sastra Milenia, serta Redaktur SastraMedia.

 

Proses kurasi dilakukan dengan voting dari para kurator yang berjumlah empat orang. Proses kurasi puisi memiliki unsur subjektivitas. Itulah sebabnya Jagat Sastra Milenia menggunakan sistem rating dan voting serta pertimbangan kesesuaian konten dari ahlinya. Proses seperti ini diyakini dapat menekan subjektivitas tersebut.

 

Terdapat 165 puisi yang lolos kurasi karya 70 penyair. Hal yang menggembirakan adalah ternyata cukup banyak puisi yang mendapatkan persetujuan bulat dari keempat kurator dan juga memiliki kesesuaian dengan topik masyarakat cerdas 5.0. Ini menandakan bahwa penyair pun sudah mampu memotret fenomena masyarakat cerdas atau smart society 5.0 dengan baik.

 

Semoga buku ini mampu memberikan kontribusi kepada dunia puisi khususnya serta dunia sastra pada umumnya di Indonesia terkait dengan bagaimana para penyair membaca dan memaknai perkembangan peradaban, yaitu masyarakat cerdas 5.0.

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar