Karya: Puthut Widyanto - negerikertas.com

INFO ATAS

Teruslah berkarya, karena kita tak pernah tahu kapan dan dimana ia diterima. Seperti sebaran biji yang menemukan lahan subur, ia akan berbunga semerbak di hati mereka, dan menunggumu datang untuk memetiknya [ Fileski ]

Negeri Kertas

Sejak 2015 membangun sastra serumpun bahasa.

1 Mar 2022

Karya: Puthut Widyanto

 

Getir

Karya: Puthut Widyanto

 

Langkah-langkah kecil itu, seperti rayap bersayap yang mencari pijar

Terbang bebas menikmati hingar bingar nafsu dunia

Pundak menopang beban dalam tas, entah apa isinya

Mungkin buku, pena atau secuil asa titipan  orang tua

 

Ia anak-anak, pengisi bangku kosong gedung sekolah

Ia yang seharusnya gembira dengan tempayan ilmu yang didapatnya

Bersenandung riang dengan kidung cinta, saat mengeja kitab asmaraloka

Mereka yang ingin mencipta bahagia dari balik seragamnya

 

Seharusnya aku menjadi lentera di kegelapan jalan mereka

Membuka cakrawala, merenda hati, menumbuhkan pekerti

Merawat jiwa agar tengadah, tak jengah dengan sumpah serapah para bedebah

Penjaga negeri yang gemah ripah penuh bara pantang menyerah

 

Sesungguhnya, kami terjerembab kaku dalam selokan usang pendidikan

Saat aturan dan norma menjadi jelaga dalam agitasi semu

Kucipta nilai untuk menyenangkan Tuan dan Nyonya besar di sana

Agar yang mulia terlihat hebat di mata pemegang kuasa

Demi turunnya pundi juga prasasti untuk menyokong pencitraan diri

Dan berasa, Tuan dan Nyonya telah menjadi dewa dalam dunia pendidikan yang fana

 

Aku mencium bau busuk di tengah mereka

Berucap manis bahkan abai, seakan anak kami baik-baik saja

Terpenjara dalam deret angka yang bukan menjadi haknya

Kutulis dalam secarik kertas agar sang empunya bangga

Ini bukan cinta sebenarnya, terpaksa tangan kami menuliskan dosa disaksikan semesta

 

Teringat aku akan maha guru Pandawa dan Kurawa

Sang pemberi ilmu tak pandang asal usul dengan kebijakan dan kuasanya

Inginku memberi cinta tanpa fatamorgana, layaknya Resi Drona

Bahkan aku tlah lupa ajaran Ki Hajar Dewantara dengan Ing Ngarsa Tuladhanya

Jauh dari sempurna, bahkan tak ada hal untuk dijadikan mahakarya

Tak pantas rasanya kau panggil aku,“Guru”

Tulungagung, 28 Februari 2022

 

Puthut Widyanto, lahir di Trenggalek  tanggal 25 Maret 1980. Tinggal di Tulungagung dan saat ini tercatat sebagai salah satu pengajar di SMKN 1 Bandung Tulungagung. Beberapa buku karya bersama telah mencantumkan namanya sebagai penulis dan yang terbaru adalah kumpulan cerkak dan geguritan berjudul “Makbedunduk, Bagong Kejegur Impen”.

 

No WA 0813-2512-2152

Akun FB : Puthut Widyanto

 


INFO BAWAH

Nb: Konten dalam Website ini dibuat secara kolektif oleh para penulis NK. Laporkan jika ada tulisan yang mengarah pada pornografi dan ujaran kebencian ke WA 628888710313.