005

header ads

Karya: Agus R. Subagyo

 

JABANG PUISI

Karya: Agus R. Subagyo



Setelah jadi penyaksi kelahiran puisi. 

Dari rahim bumi 

di antara derit escavator 

merobohkan dinding-dinding. 

Kelahiran puisi 

menyeka peluh jarak dusta dan kebeningan. 

Senyum terlintas di tubuh telanjang puisi. 

Maknanya khusyuk mengaliri wajah-aneka rupa.



Begitulah puisi. 

Lahir meniti takdir. 

Membangun istana. 

Mimpi-mimpi. 

Terlelap ia. 

Setelah kelahiran. 



Selendang meliuk kelebat membebat tubuh. 

Menarilah ia dalam dongeng mimpi.



Tak tega aku. 

Bangunkan ia. 

Senyumnya tak lekang bersama mimpinya.



Seseorang menghampiri. 

Hendak pamit tapi genggam jemariku menggamit. 

Menahan ia melarung tanya keberanjakannya. 

Aku jelma samudra. 

Siap menampung tanya. 

Ombakku wujud. 

Menjawab tanyanya. 

Kuminta ia turut 

menggulung menjadi debur hingga tanya melabuh pesisir. 

Menyisir malam. 

Tangannya melambai 

membawa sepinggiran senyum seluruh tubuh. 

Menjadi gelap hilang sepandang.



Trotoar dan selasar senyap. 

Puisi yang jabang meruah diskusi. 

Membeber diri blejeti filosofi. 

Hari berganti menuju penjuru. 

Menyudut sujud melipat subuh. 

Menggambar bujur sangkar lunas mata angin.



Jabang puisi memerdu tangisnya bangunkan matahari. 

Meminta mendudah misteri 

slide peristiwa dalam mimpi. 

Tubuh-tubuh lelah sedulur papat pilar diri. 

Menggendong puisi meyusur kota yang sepi. 

Melerai tangis sang bayi.



Hari masih pagi. 

Matahari pun enggan kabari pergantian hari. 

Lengang perjalanan. 

Menuju hingar kota yang hilang. 

Menjadi bincang pendapa tujuan. 

Untuk lanjutkan lelap jabang puisi. 

Kupeluk ia agar tetap lelap. 

Menuju langit mendadar mimpi bunyi-bunyi di pendapa matahari.



Klampis Anom Surabaya, 22-02-2018/14:00



Pengirim:

Agus R. Subagyo

No WA: 085708321602

FB-IG: Agus R. Subagyo

http://sastra-indonesia.com/2021/02/puisi-puisi-agus-r-subagyo-3/

 


Posting Komentar

0 Komentar