[TERBAIK] Puisi: Tri Astoto Kodarie 20 MARET 2022 DIJODOHKAN DENGAN LAUT - negerikertas.com

INFO ATAS

Ayo menulis cerpen atau puisi untuk memperebutkan Anugerah Kesaktian Pancasila. Deadline 1 Oktober 2022 | Kirim ke email nkertas@gmail.com

Media Sastra dan Seni Budaya

email nkertas@gmail.com | WA 628888710313

16 Feb 2022

[TERBAIK] Puisi: Tri Astoto Kodarie 20 MARET 2022 DIJODOHKAN DENGAN LAUT

"Kekuatan puisinya pada gayanya yang prosais, gaya ini sepertinya menjadi semacam alternatif hierarki antara Puisi dan Prosa. Gaya ini dapat menjadi "trend" sastra Abad 22 yang ingin mengembalikan puisi pada wacana bercerita - narasi bercerita yang dimiliki nenek moyang kita. Warna lokal kuat dalam puisi ini. Itu menjadi kekuatan makna puisi ini. Diksi laut dan kehidupan sosial mewakili situasi  sosiologis kehidupan manusia-manusia laut Bugis." Menurut Dr. Panji Kuncoro Hadi



DIJODOHKAN DENGAN LAUT

 

Kini gemerencing jalaku sudah terlelap, malam sungguh

memainkan ciuman-ciuman dari sisa badai di bibir ombak

kerumunan ikan sekarat di tengah geladak menyandera bau amis

langit bersikeras memilih kehilangan kecemasan dari kilatan cahaya

dengan mata mendung aku masih setia berjaga memandang laut

 

Sejak usia belasan, Ambo1telah mengajari mengayuh perahu

berwaktu-waktu hingga kecemasan berlimpah sepanjang malam

sambil belajar menghitung musim dengan langitmu

betapa hidup diselubungi ketakpastian demi memberi nama

untuk kebahagiaan yang hendak dijanjikan nasib pada pantai

 

Begitulah, laut telah memberi legam pada pasang surut

serupa cinta pada perkawinan malam berpunca kesumat

meski sudah mendengar gemuruh ombak dengan jelas

burung-burung yang melintas terdekat menjawab dengan kepaknya

tak surut perahu memecah gelombang dengan layar ragaku

 

Bertahun musim telah menjodohkanku dengan laut

perahu, dayung, jangkar dan selembar kain layar

terwariskan serupa seperangkat hantaran rupa mahar

kecemasan mengambil nasib di tiap jengkal ombak

menemukan diri di batas malam yang hilang.      


1.    Ambo (Bhs.Bugis) : Bapak



 Parepare, 02-2022

 

 

 

Tri Astoto Kodarie, lahir di Jakarta, 29 Maret, besar di Purbalingga, pernah sekolah di Yogya dan kini menetap di Parepare, Sulawesi Selatan. Buku puisi yang telah terbit: Nyanyian Ibunda (Artist, 1992) Sukma Yang Berlayar (KSA, 1995), Hujan Meminang Badai (Akar Indonesia Yogyakarta, 2007), Merajut Waktu Menuai Harapan (Frame Publishing Yogyakarta, 2008)Sekumpulan Pantun,: Aku, Kau dan Rembulan (De La Macca, Makassar 2015), Merangkai Kata Menjadi Api (Akar Indonesia Yogyakarta, 2017), Kitab Laut (YBUM Publishing Parepare, 2018), Tarian Pembawa Angin (YBUM Publishing Parepare, 2020) Tembang Nelayan Dini Hari (Satria Publisher Banyumas, 2021), Tak Ada Kabar Dari Kotamu (Satria Publisher Banyumas, 2021) serta puluhan antologi puisi bersama








INFO BAWAH

Cara kirim tulisan ke Negeri Kertas: Tulis karya anda berupa puisi/cerpen/artikel + biodata narasi + foto penulis atau gambar ilustrasi, semuanya dalam satu lampiran MS Word. Kirim ke email nkertas@gmail.com