005

header ads

Kumpulan Puisi Muhammad Lefand


 

BUDAYATIN

: di batas prasangka


Begitu matahari menyapa pagi

Ungkapan-ungkapan bibir berseri

Dan mengirim getar ke dalam hati

Angin menyapa rasa memberi mimpi 

Yang menggerakkan utuh keinginan diri

Ada semacam ingatan bersemayam sunyi

Tapi di batas prasangka leluka menjadi peri

Isyarat mata tak menemu warna yang ditafsiri  

Nafas menyatukan riak dada mengundang nyeri 


Jember, 2021


BUDAYATIN (II)

: tentang prasangka


Betulkah! Katamu

Ucapan menjadi seru

Dan ada yang cemburu

Angin di pelupuk matamu.

Yang kujawab dengan rerindu

Ada rahasia tidak perlu kautahu

Tapi kan kuisyaratkan kepada batu 

Ingatanmu tak akan bisa ditukar nafsu

Namun prasangka akan tetap menebar pilu


Jember, 2021


BUDAYATIN (III)

: tentang sebuah kesan


Berbicara mesra

Udara memeluk rasa

Dan menghapuskan luka

Ada sebuah kesan memata

Yang melihat kepada dunia kita

Arah berdebar di ujung penjuru usia

Tak ada yang perlu dikhianati katakata

Ilusi hanya akan membuat suasana curiga

Nyanyian pertemuan kehilangan merdu suara 


Jember, 2021


BUDAYATIN (IV)

: sebatas ode


Bergetar dedaun 

Ulat melewati embun

Dan burung dalam rimbun   

Akar pohon menyimpan tenun

Yang didapat dari gugurnya daun

Apa yang kaurasa saat mata tertegun 

Terhadap keelokan rupa bunga menahun

Isyarat hati tak bisa hilang meski kautimbun

Nafas menjadi sebatas ode dan penawar racun


Jember, 2021


BUDAYATIN (V)

: restu semesta 


Bahagia tak bisa ditawar 

Untuk apa harus membayar

Dengan prasangka yang samar 

Apa belum cukup restu bersandar

Yang semesta selalu mengirim debar 

Agar semua luka dan segala duka nanar

Tertimbun sebuah ketulusan hati yang sabar

Ingatan menjadi semacam rerindu penuh getar

Nila setitik bukan alasan untuk mendendam besar


Jember, 2021


BUDAYATIN (VI)

: suara-suara


Bergema suara jangkrik

Utuh malam dengan bisik

Dengan pelan nafas kautarik 

Agar hening debar dada sedetik

Yakinlah suara-suara akan berbalik

Asa menyempurnakan rasa tanpa usik

Tetapi tidak semua terdengar dalam rintik 

Ibarat nyanyian seorang ibu tanpa iring musik

Nasib kehidupan menjelma suara hati tanpa lirik


Jember, 2021


BUDAYATIN (VII)

: luka dan rasa 


Batin tanpa rasa

Ubah hidup jadi luka

Dengar pesan semesta 

Agar tak hilang debar cinta 

Yakin pada diri dengan doadoa

Acuh ragu serta buang prasangka 

Tak ada luka dan rasa bertemu seraga  

Ini bukan tentang sangkaan fatamorgana

Niat tak cukup memintaminta kepada bahagia


Jember, 2021



MATAHARI YANG KITA LIHAT 


Matahari yang kita lihat pagi ini

Berbeda dengan matahari kemaren pagi

Berbeda juga dengan matahari esok pagi

Tapi kita bisa melihat matahari di tempat berbeda


Matahari yang kita lihat pagi ini

Berbeda dengan matahari kemaren lusa

Berbeda juga dengan matahari esok lusa

Tapi kita bisa melihat matahari yang sama


Matahari bersinar dan menampakkan alam

Keindahan bisa kita nikmati bersama-sama

Meski tak harus berdua di tempat yang sama

Karena di tempat berbeda kita bisa melihatnya


Matahari yang kita lihat pagi ini

Akan menjadi saksi kepada semua 

Bahwa prasangka bisa jadi pertanda rindu

Dan itu terjadi pula pada pagi dan daun-daun


Jember, 2021


Muhammad Lefand lahir di Sumenep, Jawa Timur, 22 Februari 1989. Namanya dikenal melalui karyanya berupa puisi, cerita pendek, dan pantun yang dipublikasikan di berbagai surat kabar.










Posting Komentar

0 Komentar