Lomba Cipta Puisi - negerikertas.com

.

Negerikertas.com - 2021

Lomba Cipta Puisi


Laporan Pertanggungjawaban Dewan Juri dan Pengumuman Pemenang Lomba Cipta Puisi Bertema “Kebangkitan Nasional Bangsa Indonesia”

Kategori Siswa dan Mahasiswa se-Indonesia

Dermaga Seni Buleleng (DSB), Bali

 

 

 

Sejak info lomba dipublikasikan pada Desember 2020 hingga batas waktu pengiriman naskah tanggal 20 Maret 2021, panitia telah menerima 1069 puisi yang dikirim oleh 1069 peserta (538 siswa dan 531 mahasiswa) dari berbagai penjuru Indonesia. Hal ini tentu saja sangat menggembirakan sekaligus mengharukan panitia dan Dewan Juri.

Pada tanggal 28 – 30 Maret 2021, Dewan Juri yang terdiri dari Dr. Gde Artawan, M.Pd, Dewa Putu Sahadewa, dan Wayan Jengki Sunarta menggelar rapat untuk memutuskan dan menetapkan para pemenang. Namun, sebelumnya, masing-masing juri telah melakukan penilaian secara bertahap terhadap puisi-puisi yang dikirimkan panitia secara bergelombang. Kriteria penilaian yang disepakati Dewan Juri adalah kesesuaian isi puisi dengan tema (penjelajahan, pendalaman, dan penafsiran tematik) dan teknik penulisan puisi (komposisi puitik).

Pada saat melakukan penilaian, Dewan Juri hanya berhadapan dengan nomor urut dan judul puisi. Nama peserta yang tertera pada teks puisi dihapus oleh panitia setelah puisi didata. Nama peserta diungkap oleh panitia setelah Dewan Juri berhasil memutuskan dan menetapkan hasil lomba. Hal itu dilakukan semata-mata untuk memperkuat objektivitas penilaian lomba ini.

Pada saat rapat, masing-masing juri menyodorkan puisi-puisi hasil penilaiannya. Dewan Juri sepakat bahwa puisi-puisi yang meraih dua dan tiga suara langsung lolos final. Sementara itu, puisi-puisi yang hanya meraih satu suara, Dewan Juri melakukan pembacaan ulang dan mendiskusikan kembali untuk menilai kemungkinan lolos final.

Dari penilaian Dewan Juri, untuk kategori Siswa, puisi yang meraih tiga suara berjumlah 5 puisi, dua suara 18 puisi, dan satu suara 56 puisi. Untuk kategori Mahasiswa, yang meraih tiga suara sebanyak 5 puisi, dua suara 18 puisi, dan satu suara 68 puisi. Untuk puisi-puisi yang meraih satu suara, setelah melalui pembacaan ulang yang diselingi perdebatan sengit, akhirnya Dewan Juri mendapatkan sebanyak 10 puisi kategori Siswa dan 15 puisi kategori Mahasiswa yang dianggap layak lolos final.

Dari penilaian yang sangat ketat ini, Dewan Juri sepakat lebih mengejar kualitas ketimbang kuantitas, sehingga “50 Puisi Terbaik Siswa” dan “50 Puisi Terbaik Mahasiswa” tidak berhasil dicapai. Dan, sebagai gantinya Dewan Juri berhasil memutuskan dan menetapkan “33 Puisi Terbaik Siswa” dan “38 Puisi Terbaik Mahasiswa”.

Berdasarkan pembacaan terhadap puisi-puisi peserta, Dewan Juri menilai rata-rata puisi yang masuk ke meja panitia masih di bawah standar. Sebagian besar peserta terjebak pada tema yang disodorkan panitia. Penafsiran tema cenderung mentah dan harfiah. Hal ini membuat bertebaran puisi-puisi yang berisi tentang sejarah, peperangan, kepahlawanan di masa silam dengan nada bombastis dan hiperbolis.

Selain itu, bertebaran juga puisi dengan metafora dan kiasan yang cenderung klise atau basi. Sebagian besar puisi bernada seragam. Berisi petuah, nasihat, curhatan, mirip pidato atau orasi. Semestinya, tema “Kebangkitan Nasional” bisa ditafsir secara luas dan bahkan personal.

Dewan Juri juga mencatat, sebagian besar peserta kurang terlatih membangun metafora dan keutuhan puisi sehingga gagasan yang kuat menjadi kedodoran dalam larik-larik puisi yang ditulis. Selain itu, bertebaran pula puisi yang kurang atau tidak mengalami proses swasunting, sehingga tampak salah ketik di sana-sini, penggunaan tata bahasa dan ejaan yang masih berantakan.

Memang tidak mudah menulis puisi berkualitas. Baik dari segi penjelajahan dan pendalaman tematik, pemilihan diksi dan majas, penyisipan renungan, dan penggunaan perangkat bahasa. Dewan Juri memaklumi karena peserta lomba adalah siswa dan mahasiswa yang mungkin saja sebagain besar belum pernah menulis puisi.

Akan tetapi, dari 1069 puisi yang dinilai, beberapa puisi berhasil menunjukkan kualitas penulisan yang baik. Beberapa puisi menampakkan kekayaan bacaan dan renungan akan kondisi bangsa saat ini. Beberapa peserta mampu menuliskan pesan besar lewat ungkapan sederhana namun dalam.

Akhir kata, Dewan Juri mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang berpartisipasi dalam lomba ini. Dan, selamat kepada peserta yang puisinya terpilih. Jangan pernah berhenti belajar meningkatkan kemampuan dalam menulis puisi.

 

 

Berikut Ini Daftar Para Pemenang:

 

Tiga Puluh Tiga Puisi Terbaik Kategori Siswa:

 

1)      Ayah Dan Kebangkitannya Atas Tahun-Tahun Yang Rapuh (Ni Gusti Agung Ayu Dian Ari Anjani, SMAN 2 Kuta, Bali)

2)      Bangkit Dari Luka (Qurratan A’yun, SMKN 2 NGANJUK, Jawa Timur)

3)      Bangkitlah Rakyatku (Elysabet Br. Zebua, SMAS Widya Dharma, Sumatera Utara)

4)      Berperang Dengan Kenangan (Ni Ketut Santi Sucita Dewi, SMAS Lab Undiksha Singaraja, Bali)

5)      Bukalah Pintumu (Muhammad Abdullah Aziz, MA Mathali' ul Falah, Jawa Tengah)

6)      Bunga Bangsa Teratai Merah (Muhammad Dani, PKBM UMMI KULSUM, Jawa Barat)

7)      Caraku Mengenangmu (Putu Wiwik Rianti, SMAS Lab Undiksha Singaraja, Bali)

8)      Di Bawah Pijak (Khairurrisya Hanifatuzzahra, MA 1 Samarinda, Kalimantan Timur)

9)      Gadis Berwajah Sendu (Ni Made Adinda Laksmi Danaswari, SMAN 2 Kuta, Bali)

10)  Gegas Bangkit (Ropik, SMA Al-Qodiri, Jawa Timur)

11)  Hikayat Pandemi (Mof. Feri Yanto, SMA Al-Qodiri, Jawa Timur)

12)  Inilah Negeri Kami (Elmira Damayanti, Madrasah Aliyah Nasy'atul Muta'allimin, Jawa Timur)

13)  Isyarat Air Mata (Ni Putu Shinta Artania Dewi, SMK Saraswati 1 Denpasar, Bali)

14)  Jangan Menjadi Budak (Ameliya Widiastuti, SMAN 1 PLAYEN, Daerah Istimewa Yogyakarta)

15)  Jeritan Bumi Pertiwi (Andreas Dhika Wisnu Prabowo, SMAN 9 Tanggerang Kota, Banten)

16)  Juang (Sri Nurdianti Ratna Wijaya, SMK Assalam, Jawa Barat)

17)  Karena Hitam Tak Selalu Gelap (Putri Ayu Setiyowati, SMA Wahid Hasyim Model, Jawa Timur)

18)  Kebangkitan Masa Pandemi (Muhammad Setya Resfendy, SMK Negeri 1 Pasuruan, Jawa Timur)

19)  Kebangkitan Nasional Adalah … (Awan Nirkala Rohmanaputra, SMAN 2 Semarang, Jawa Tengah)

20)  Kepada Negeriku (Fazlur Rahman, MA Nasy’atul Muta’allimin, Jawa Timur)

21)  Membaca Tanda Merdeka Ketika Melihat Bendera (Fitri Ayu Lidiana, SMAS GARUDA KOTABARU, Kalimantan Selatan)

22)  Menari Lagi Di Esok Hari (Putu Ayu Chumani Pranatthi, SMAN 1 Denpasar, Bali)

23)  Mendengar Siaran Radio Berbisik-Bisik (Putu Andika Putra Diartawan, SMAS Lab Undiksha Singaraja, Bali )

24)  Menjadi Kartini Muda (Indah Julianti, SMAS GARUDA KOTABARU, Kalimantan Selatan)

25)  Menulis Kemerdekaan Negri Di Ruang Puisi (Diyani, SMA Al-Qodiri, Jawa Timur)

26)  Musim Ibu (Amifia Zalwa Iza, SMA Takhassus Al-Qur’an Wonosobo, Jawa Tengah)

27)  Peringatan (I Gusti Ayu Widya Putri Damayanti, SMAS Lab Undiksha Singaraja, Bali)

28)  Sang Pejuang (Hanafi, SMA Al-Qodiri, Jawa Timur)

29)  Selamat Pagi Negeri (Ach. Musthafa, SMA Al-Qodiri, Jawa Timur)

30)  Si Jiwa Batu (Jesy Paramita, SMAN 2 Negeri Agung, Lampung)

31)  Tanah Negeriku (Ranika Alya Ramadian, SMAN 2 Negeri Agung, Lampung)

32)  Tuan Yang Menitah Burung-Burung (Ni Kadek Selvayana Putri, SMAN 1 Singaraja, Bali)

33)  Wajah Museum Kebangkitan Nasional (Annisa Kamalia, SMA Muhammadyah 1 Metro, Lampung)

 

 

Tiga Puluh Delapan Puisi Terbaik Kategori Mahasiswa:

 

1)      Ada Indonesia Kecil Di Jiwa Jiwa Besar (Mohammad Angga Saputro, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jawa Tengah)

2)    Anomali ( Rion Albukhari, Universitas Andalas, Sumatera Barat)

3)      Bahwa Kita Adalah Indonesia (Elin Tanama, Universitas Negeri Yogyakarta, DI Yogyakarta)

4)      Bangkit Atau Hancur (Dani Aprilyadi, Akademi Manajemen Belitung, Kepulauan Bangka Belitung)

5)      Bekas Luka Sebuah Kota (Mohammad Latif, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pamekasan, Jawa Timur)

6)      Bersatu Kita Bangkit (Rika Oktaviani, Universitas Pamulang, Banten)

7)      Bintang Pertiwi (Mutya Akhir, Universitas Pendidikan Indonesia, Jawa Barat)

8)      Boedi Oetomo (Novi Nur Islami, Institut Agama Islam Negeri Madura, Jawa Timur)

9)      Cerita Dongeng Di Balik Layar (Komang Dedi Sulistiawan, Universitas Udayana, Bali)

10)  Di Bawah Lampu Jalan Yang Muram (Desti Pratiwi, Universitas Pendidikan Indonesia, Jawa Barat)

11)  Doa (Moh. Ali Ghufron, IAIN JEMBER, Jawa Timur)

12)  Doa Subuh Kami ( Abd. Aziz Al Aqiby , Universitas Kanjuruhan Malang , Jawa Timur)

13)  Elegi Buruh Perempuan (Abdul Warits, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep Madura, Jawa Timur)

14)  Filosofi Akar Usai Hujan (I Putu Anindya Richie Arnawa, Universitas Udayana, Bali)

15)  Fragmen Kebangkitan (J. Akid Lampacak, IST Annuqayah, Jawa Timur)

16)  Garuda 45 (Chresna Satyavadini, Universitas Udayana, Bali)

17)  Golongan Muda (I Kadek Fendy Permana Merta, Universitas Pendidikan Ganesha, Bali)

18)  Hal Ihwal Kebangkitan Nasional (Wahyu Hidayat, STKIPM Sukabumi Lampung, Lampung)

19)  Hamparan Hujan Angan-Angan ( Tegar Pratama, Universitas Sebelas Maret, Jawa Tengah)

20)  Kembali Pelihara Api (Wisnu Permadi, Universitas Jenderal Soedirman, Jawa Tengah)

21)  Kepala-Kepala Yang Tertinggal (I Gusti Ayu Eka Susanti Dewi, Universitas Pendidikan Ganesha, Bali)

22)  Kolase Dan Luka Bersama (Putu Adi Saputra, Universitas Udayana, Bali)

23)  Memandang Cakrawala (Ni Ketut Dika Oka Dewi, Universitas Pendidikan Ganesha, Bali)

24)  Menyambut Yang Terbaring (Ramadhan Eka Syaputra, Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur)

25)  Menyanyikan Ayang-Ayang Gung (Moch Nanda Fauzan, Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Banten)

26)  Nak (M.Aidarus, STKIP PGRI Sumenep, Jawa Timur)

27)  Nasehat Bapak (Khairuz Zaman NT, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep Madura, Jawa Timur )

28)  Negeri Semut (Ita Puspita Sari, IAIN JEMBER, Jawa Timur)

29)  Nukilan Dari Sebuah Batu (M. Royfan Ardian, Universitas Negeri Yogyakarta, DI Yogyakarta)

30)  Perihal Bangkit Di Masa Ini (Ni Made Dwi Wahyuni, Universitas Udayana, Bali)

31)  Sajak Kebangkitan (Mutia Rahmanita, Universitas Lampung, Lampung)

32)  Samsara Kesadaran (Moh. Ahsanul Umam, Universitas Udayana, Bali)

33)  Serumpun Nadi (Luh Komang Galuh Somia Antari, Universitas Pendidikan Ganesha, Bali)

34)  Serupa Negeriku (Herlinda Puspitasari, Institut Agama Islam Negeri Surakarta, Jawa Tengah)

35)  Setelah Bergulat Dengan Cuaca (Hari Alfiyah, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep Madura, Jawa Timur)

36)  Surat Dari Sutomo (Putu Anisa Gayatri, Universitas Pendidikan Ganesha, Bali)

37)  Tuntaskah Kebangkitan? (Azzaky Al Faiq Agma, Universitas Andalas, Sumatera Barat)

38)  Wanita Batu Yang Membangun Negeri Di Tanah Sendiri (Anisa, Institut Kariman Wirayudha, Jawa Timur)

 

 

Nb

-          Urutan berdasarkan abjad judul puisi (nonranking)

.