005

header ads

CERPEN: WAJAH PANDEMI karya Firman Fadilah .

Sejak pandemi memaksa orang-orang untuk diam di rumah, memaksa orang-orang untuk memakai masker jika bepergian, menjaga jarak, menjaga kebersihan tangan, juga memaksa orang-orang untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, Ibnu malah menemukan keasyikan tersendiri di luar rumah. Ibnu menemukan hobi baru selama pandemi ini, yakni berdiam diri di bawah perdu bambu.

 

Pada masa awal pandemi, sebagian besar orang mengeluhkan keadaan yang serba terbatas ini. Tidak bisa keluar rumah adalah penyiksaan batin secara perlahan. Juga tidak bisa lagi bertegur sapa dengan rekan kerja adalah kesepian yang berlapis-lapis. Taman kota, stasiun, pasar, pusat perbelanjaan mati suri.

 

Meninggalkan kebiasaan lama untuk melakukan kebiasaan baru seumpama memakan singkong atau kuning telur tanpa minum. Seret. Atau seumpama ayam yang dibawa ke lampok. Bingung. Itu dapat dilihat dari berbagai peraturan dan sanksi yang dibuat. Banyak orang yang tidak patuh dengan pemerintah untuk menjaga jarak, memakai masker, dan menghindari kerumunan, padahal peraturan itu dibuat untuk kebaikan diri kita sendiri.

 

"Hidup dan mati ada di tangan Tuhan!" ucap salah seorang.

 

"Ini konspirasi!" umpat seseorang yang tidak percaya.

 

Bagi orang yang pantang mengeluh, pandemi bukanlah suatu masalah. Dengan adanya work from home, para orang tua, terutama ayah, lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, sehingga ikatan yang kadang timbul-tenggelam menjadi lebih rekat. Namun, alih-alih menghabiskan waktu bersama anak dan istri, Ibnu malah lebih suka menyendiri sambil memperhatikan liukan sungai yang mengalir di bawah perdu bambu.

 

Angin sekejap menerpa beberapa daun dan batang bambu. Suara gemerisik seperti suara gelang penari membuat suasana tentram terlepas dari kacaunya pikiran yang melanda. Lantas, Ibnu menutup mata, menghikmati setiap melodi alam yang jarang ia dengar. Suara kicau burung pipit yang melandas di sepetak sawah yang hampir panen membawa ingatan-ingatan kadaluarsa masa kecilnya. Masa dimana tidak ada beban dan tanggungan. Gemericik air terdengar seperti nyanyian nina bobo yang dilantunkan ibu menjelang tidur, membuat mata menolak untuk terbuka.

 

Matahari akan tertidur di balik bukit yang hampir gundul. Sinar hangatnya seolah pertanda bahwa sebentar lagi petang. Di bukit itulah dulu Ibnu bermain bersama teman-temannya. Namun, bertahun-tahun berlalu, bukit itu kini banyak dibangun rumah penduduk. Desa ini perlahan-lahan padat. Setidaknya, di hadapannya kini, hamparan sawah yang kuning masih menjadi lambung bagi berbagai biota. Masih menjadi tempat tidur bagi rengit dan walang sangit. Sumber kehidupan yang tidak akan henti mengalir.

 

Dulu, di sawah itu, banyak sekali ikan mujair dan belut. Siapa saja boleh mengambilnya secara cuma-cuma. Ibnu biasa memancing di sana bersama teman-temannya di waktu luang selepas pulang sekolah. Ikan dan belut yang berhasil ditangkap, mereka panggang di depan gubuk yang terletak di tengah persawahan. Di gubuk itu, ada semacam tali yang membentang ke berbagai petak sawah, terikat dengan kayu yang saling menghubungkan. Jika tali itu ditarik, orang-orangan sawah yang tertambat dengan tali itu akan bergoyang. Lalu, burung-burung yang rakus akan terbang menjauh.

 

Sejak mempunyai seorang istri dan anak, Ibnu tak pernah lagi ke sawah ini. Ia sibuk mencari nafkah. Ia bekerja di pabrik keramik di kotanya. Pagi hingga sore. Sawah yang menyimpan cerita masa kecil itu tak pernah lagi menjadi daftar tempat yang harus ia kunjungi. Setidaknya, Ibnu lega sebab sawah ini masih sama indahnya seperti dulu. 

 

Angin menampar wajahnya perlahan. Ibnu mengingat-ingat, sudah berapa lama ia duduk di bawah perdu bambu ini? Ia harus segera pulang. Anak dan istrinya pasti khawatir. Anaknya pasti sedang mencarinya sekarang dan istrinya pasti sedang memasak untuk makan malam. Ya, makan malam yang nikmat. Di meja makan akan terhidang nasi dan sayur. Nikmat.

 

Di tengah aliran sungai yang tenang, seekor ikan melompat. Kibasan ekornya yang seperti pinggul perawan menimbulkan suara kecipak dan gelombang kecil. Kepala pipih dan kumis yang membelah air. Ikan lele. Ibnu terkesiap. Ia menatap lekat-lekat pada gelombang yang ditinggalkan lele itu di permukaan sungai. Sejak kapan ada ikan lele di sungai kecil ini? Pertanyaan itu akhirnya tumbuh menjadi ide baru. Ia akan pulang untuk mengambil senar dan kail.

 

Waktu luangnya masih banyak untuk menangkap ikan. Esok pun masih ada hari untuk menangkap ikan di sungai ini atau lusa. Namun, agaknya hanya Ibnu seorang yang tahu tentang ikan-ikan di bawah perdu bambu ini. Tanpa pikir panjang, Ibnu segera membuat semacam joran darurat dari bambu, mengaitkan cacing di kail yang runcing, kemudian menjatuhkan umpan itu ke dalam sungai yang tenang.

 

Selasar senar nampak bergerak. Seekor ikan pasti menerkam umpan itu. Dengan cekat, Ibnu menarik joran dan dapatlah seekor lele besar.

 

"Strike!" pekiknya girang.

 

Ikan lele berlompatan di darat. Terengah-engah antara hidup dan mati. Ibnu gembira. Sejenak ia dapat melupakan masalah hari ini. Senyum bahagia itu pertama kali ia sunggingkan sejak ia suka menyendiri di perdu bambu ini.

 

Satu ekor lele berhasil ia tangkap. Lalu, ia memasukkan lagi mata kail ke dalam sungai. Alirannya tenang. Pasti masih ada banyak ikan di sini, pikirnya. Beberapa menit berlalu, ditandai dengan sinar matahari yang makin pekat. Para petani berbondong-bondong pulang. Burung pipit ikut naik ke ranting-ranting. Ibnu berhasil menangkap beberapa ikan. Itu cukup untuk malam ini. Ia pulang dengan wajah gembira.

 

"Besok aku akan kemari lagi," racaunya sepanjang jalan pulang.

 

Dilihatnya istri dan anak yang sedang tertidur pulas. Ingin membangunkan mereka, tetapi tak sampai hati. Ia melanjutkan langkah ke dapur, mengambil pisau, kemudian menyiangi ikan tangkapannya. Ia lirik karung beras. Hanya tersisa satu genggam. Pandemi benar-benar membuatnya harus berpikir dua kali. Apa yang harus dilakukannya setelah ia menerima surat pemutusan hubungan kerja beberapa minggu yang lalu. Tidak ada keahlian lain. Kerja di pabrik keramik itu sudah cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya, jadi ia tak perlu bersusah payah mencari pekerjaan sampingan. Ibnu terlalu terlena dengan kenyamanan yang gampang dibolak-balik oleh Tuhan.

 

"Ah! Yang penting hari ini anak dan istriku bisa makan," gerutunya sambil menggoreng ikan dalam kuali.

 

Suara gaduh dari dapur membangunkan istrinya. Juga aroma ikan goreng yang sedap.

 

"Mama mau makan," tanya Ibnu. Istrinya mengangguk. Beberapa menit kemudian, seorang anak kecil menyusul.

 

"Adek juga mau makan, ya?"

 

Anak dan istrinya makan dengan begitu lahap sedangkan Ibnu hanya menatap mereka penuh haru. Tak pernah ia melihat anak dan istrinya makan sedemikian lahap.

 

"Ayah tak makan?" tanya istri.

 

"Ayah sudah kenyang. Habiskanlah!" Ibnu memantapkan ucapannya dengan beralih pandang pada sehelai handuk.

 

Di saat seperti ini, bukan ide baik jika mengatakan yang sebenarnya, terlebih tentang surat itu. Surat yang membuatnya menjadi seseorang tanpa profesi. Sampai kapan ia menyembunyikannya. Entah.[]

 

14 Feb. 2021

 

Penulis bernama Firman Fadilah. Menetap di Lampung. Buku cerpen pertamanya First Kiss (Guepedia; 2021).


*****

DOWNLOAD






Posting Komentar

0 Komentar