Puisi DM Ningsi - negerikertas.com

.

Puisi DM Ningsi

 maut mengejar mereka tertawa


dan

pada jam yang berdetak

kami terperangkap

bagai gumpalan-gumpalan abu

memenuhi cakrawala

rahwana menghujam binasa

burung kondor menunggu hidangan pembuka

manusia-manusia tersadai

dalam asap mengepul

api menghujam rasa


“pantang larang dilanggar, adat resam kini tenggelam, pendatang menghadang, kami meradang! Jerebu menyerbu, awan biru kelabu, ladang gersang kami terpanggang!”


perlahan tapi pasti

nyanyian maut mengintip

sebalik pohon-pohon yang kehilangan pijakan

dedaunan lebur dihisap angin 

anak-anak menghirup udara

tanpa tahu jerat Izrail semakin mendekat


berita pagi dan secangkir espresso

pahit mencekik

mengabarkan kota yang nyaris musnah

“toke dari kerajaan seberang bermata sipit mencari lahan,mengeruk alam, menghisap darah hingga ke akar, drama apa lagi yang hendak ditampilkan? mereka melenggang pulang ke negara asal,tinggalkan bara yang terpendam jerebu menghantam!”


hutan habis kikis

aduhai naseb

anak watan meringis




.