CERPEN: Tentang Hati Wanita | Eps 2

Share:

Matanya berkaca-kaca, terbaca sekali beban batin yang ia tanggung. Namun wanita paruh baya ini berupaya kuat untuk terlihat tegar. Ia masih menanti jawaban dari gadis muda di hadapannya yang ia cecar dengan segudang pertanyaan mengenai suaminya. Akan tetapi yang ditanya hanya terdiam menunduk, tak tahu harus menjawab apa.

“Sudahlah mbak Ines, jangan diam saja. Jawab saja dengan jujur apa yang mbak ketahui tentang hubungan suami saya dengan mbak Elyana itu?” Tanya wanita paruh baya itu lagi. Nada bicaranya santai tanpa emosi, tapi terbaca sekali bahwa ia begitu sangat tegar dari sorot matanya, membuat yang ditanya makin bingung, gelisah serta tak tahu harus berkata apa.
“Seandainya aku tak berkunjung ke rumah ini...... Ya Allah aku harus bagaimana? Aku harus jawab apa? Elyana sahabatku, tak mungkin aku menghianatinya... tapi kenyataannya ia sudah melakukan sebuah kesalahan, merusak rumah tangga orang lain...” Keluh Ines dalam hati, dan masih saja dengan kepala menunduk.

“Mbak tidak jawab pun saya sudah sangat tahu sejauh mana hubungan suami saya dengan wanita itu. Saya wanita mbak, saya seorang istri. Saya paham betul kalau selama 4 tahun terakhir ini suami saya sudah membohongi saya. Saya memang sengaja pura-pura tidak tahu. Dan tanpa mas Pras ketahui, saya diam-diam menyelidiki. Sudah banyak sekali yang saya tahu mbak mengenai kebohongan-kebohongan mas Pras. Termasuk ia berkali-kali minta ditransfer uang, lalu berkali-kali mengaku ketinggalan kereta dengan alasan tidak dengar panggilan boarding karena makan. Tengah malam selalu saja sibuk dengan handphonenya. Kadang juga saya dengar tawa dia samar-samar dari dalam kamar. Saya sudah menyelidiki semuanya mbak!” Papar wanita itu panjang lebar, namun lagi-lagi nada bicaranya halus tak menunjukkan emosi marah sedikitpun.

“Bahkan saya pernah mengirim SMS langsung ke mbak Elyana itu!” Tegasnya, membuat Ines yang sedari tadi menunduk mendadak langsung mengangkat kepalanya, menatap wanita itu.
“Ibu Asih SMS apa kalau boleh tahu?” Tanya Ines lirih

“Yaa saya bilang begini: ‘Mbak, ndak baik teleponan setiap hari tengah malam dengan laki-laki yang sudah beristri. Ini saya istrinya mas Pras. Mbak masih gadis, tidak elok dipandang orang kalau selalu komunikasi dengan suami orang.’” Jawab bu Asih, membuat Ines menemukan ingatannya kembali saat Elyana pernah bercerita bahwa ia pernah mendapat sms demikian dari istri pak Pras sekitar dua atau tiga tahun lalu.

“Lalu apa Elyana membalas sms Ibu?” Tanya Ines lagi.
“Endak mbak. Tapi sejak itu namanya sudah saya ciri untuk saya selidiki. Makanya sampai hari ini saya banyak tahu, bahkan beberapa kali saya menemukan bukti transfer dari internet banking suami saya ke nomor rekening atas nama Elyana Paramitha. Lalu bukti dua buah tiket bus atau kereta ke luar kota selain Surabaya yang tanpa sengaja tertinggal di saku suami saya, kemudian saat dia mandi atau tidur saya pernah membuka handphonenya.” Jawab bu Asih panjang, membuat Ines makin berempati dan tak dapat membayangkan jika ia berada di posisi bu Asih.

“Lalu setelah tahu banyak, apa ibu marah sama pak Pras?” Ines mencoba menggali. Sementara bu Asih menghela nafas panjang menyandarkan tubuhnya ke bantalan sofa. Ia diam sejenak, matanya menerawang ke langit-langit atap ruang tamunya seraya mengedip-edipkan matanya beberapa kali agar air matanya tak jatuh dan berusaha membuat tubuhnya se-rileks mungkin.

“Saya tidak marah sama sekali mbak. Tidak maju ataupun mundur. Sikap saya sama seperti biasanya. Meskipun pada akhirnya kami jarang sekali berbicara, tapi saya bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa,” ia mengambil nafas panjang, “saya hanya berdoa, pasrah kepada Gusti Allah, jika benar suami saya telah berbohong, mohon dibukakan, jika masih berjodoh mohon untuk disadarkan, jika pun sudah tidak berjodoh, semoga diberi jalan yang terbaik.” Lanjutnya. Ines terdiam mendengar jawaban lapang dada dari bu Asih yang tak ia sangka sebelumnya. Bahkan membuatnya ikut merasa bersalah karena pernah berprasangka buruk dengan bu Asih saat membicarakannya dengan Elyana dulu.

“Kalau ngomong masalah sakit, jelas hati saya sakit sekali mbak. Saya merasa sangat terkhianati. Bagaimana tidak? Sudah hampir 4 tahun dia membohongi saya. Dengan alasan keperluan organisasi, umat, apa lah. Dia meninggalkan pekerjaannya, dan menggantungkan nafkah rumah tangga ini hanya dari toko sembako kecil kami. Dia pun tidak banting tulang untuk menjaga dan merawat toko ini. Selalu saja ada alasan. Jujur saya muak. Beberapa kali memang kami bertengkar, namun sekali saja saya tidak pernah menyebut tentang orang ke tiga diantara kami. Pertengkaran kami hanya seputar penuntutan saya akan tanggung jawab dia sebagai kepala keluarga yang selama 4 tahun ini tidak menafkahi kami. Itulah yang membuat saya sering mengomel padanya setiap kali ia hendak kembali ke Surabaya.” Paparnya panjang lebar.

“Dan saya dengan gambling pernah bilang pada mas Pras, bahwa sebuah perjuangan dakwah tidak akan menjadi barokah jika ada orang yang tersakiti dan teraniaya di balik perjuangan itu!”
Bak disambar petir, kata-kata bu Asih barusan benar-benar menohok hati Ines. Organisasi umat yang ia perjuangkan, mungkinkah banyak sekali masalah dan persoalan pelik yang sulit untuk diselesaikan itu... Apakah karena Tuhan tidak rela bila ada noda dalam perjuangan itu? Apakah salah satu penyumbang terbesar banyaknya masalah adalah karena ada seseorang yang terdzolimi?
“Duh Gusti....” Batin ines. Matanya berkaca-kaca kali ini. Hatinya benar-benar kalut luar biasa. Harus bagaimana ia? Harus berkata apa ia pada Elyana?

***

 Satu bulan berlalu dari hari itu.....
Perlu dua hingga tiga hari bagi Ines untuk mencoba mencari cara bagaimana menyampaikan fakta sesungguhnya kepada Elyana mengenai pak Pras, hingga pada malam takbiran kemarin ia mencoba mengatakan semuanya kepada Elyana melalui sambungan telepon. Berharap Elyana juga sadar atas apa yang ia lakukan dan yakini selama ini. Namun respon yang ia dapat sungguh di luar dugaan. Elyana menghilang. Pesan sms maupun telepon dari Ines tak pernah terbalas. Entah kemana ia pergi, sementara banyak orang dari organisasi mencarinya, hingga Ines harus terus-terusan mendapat telepon dari orang-orang tersebut untuk menanyakan keberadaan Elyana, terutama pak Pras.
Hingga suatu sore, handphone Ines berdering beberapa kali...

“Halloo Assalamu’alaikum Ines....” Sapa suara seorang laki-laki dari sebrang sana. Suara yang sangat akrab di telinga Ines.
“Iya waalaikum salam pak Zul...” Jawab Ines
“Ines tahu tidak di mana Elyana? Kok lama sekali tidak nampak ya?” Tanya pak Zul, Pimpinan umum organisasi.
“Wah kurang tahu pak... Saya pun mencarinya..” Jawab Ines.
“Saya curiga Nes, apa jangan-jangan ada hubungannya dengan pak Pras. Karena kinerja pak Pras juga akhir-akhir ini buruk. Gimana menurut Ines?”
“Wah saya kurang tahu pak... Beberapa kali pak Pras memang menghubungi saya, menanyakan keberadaan Elyana, kira-kira ada apa kok menghilang? Tapi hanya bertanya saja, tidak ada yang lain...” Jawab Ines.

“Nes, apa Ines tidak paham maksud bapak?” Suara pak Zul terdengar serius, membuat Ines terdiam dan takut. “Ingat loh Nes, Bapak pernah tanpa sengaja membaca pesan whatsapp Elyana ke kamu dari leptop saat di kantor secretariat yang isinya Elyana berharap segera dinikahi pak Pras kan? Bapak juga pernah tanpa sengaja membaca isi chat intim pak Pras dengan Elyana yang juga terpampang di leptop yang belum ditutup dari layar desktop kan?” Pak Zul terdiam beberapa detik, lalu melanjutkan, “Dan terakhir saya juga pernah mergokin Elyana datang ke kantor secretariat dengan membawa makan siang untuk pak Pras kan? Dan kamu tahu itu kan Nes? Bahkan kamu ada di sana kan?”

“I..i.iya pak...” Jawab Ines dengan terbata.
“Nah sekarang tolong jelaskan duduk perkaranya. Saya yakin Ines tahu banyak. Tolong Nes! Ini demi organisasi kita bersama. Kalau benar kecurigaan saya, ini harus segera diselesaikan!” Kata pak Zul tegas. Membuat Ines makin bingung, hingga akhinya ia buka suara juga. Ia menceritakan banyak hal yang ia tahu tentang Elyana dan pak Pras. Dan ia juga menceritakan bagaimana keadaan istri dan anak-anak pak Pras di Jogja dengan penuh kebimbangan bercampur rasa takut.
“Oke Nes, bapak akan coba selesaikan masalah ini. Terima kasih penjelasannya.” Tutup pak Zul.

***

Suhu panas siang ini di Surabaya tak sepanas dan se-gerah hati pak Pras. Ia menunduk saja tanpa suara, bahkan untuk melihat tatapan mata serius dari pak Zul pun ia tak mampu. Sementara pak Zul masih menatap tajam pak Pras sembari menunggu jawaban darinya mengenai hubungannya dengan Elyana.

Tik....tik....tik....tik....tik.... Suara jarum jam terdengar begitu jelas di kantor secretariat yang hanya ada pak Zul dan pak Pras, dua petinggi organisasi yang banyak dihormati dan disegani baik di tengah masyarakat maupun di media sosial. Keduanya yang biasanya selalu bekerjasama dalam berbagai hal menjadi partner yang unggul namun posisi kali ini benar-benar berbeda. Akibat masalah ini, keduanya kini bak seorang polisi yang sedang menginterogasi seorang penjahat yang tengah tertangkap basah melakukan sebuah tindakan criminal.

Lama sekali keduanya terdiam, hingga akhirnya dengan terbata-bata pak Pras akhirnya bersuara...
“Sa... saa..ya tii..tid..ak ada hubungan apa-apa mas dengan mbak Elyana.” Ia diam sejenak, menghirup dalam-dalam nafas, lalu membuangnya cepat-cepat, berusaha menenangkan diri sendiri. “Selama ini saya menganggap mbak Elyana adalah kader yang paling cerdas diantara semua kader. Memang saya sering mengajaknya diskusi...., dengan tujuan untuk mendidik dia kritis dan bagaimana mencari solusi, sekaligus juga saya akui dia teman yang enak sekali diajak berdiskusi dan bertukar pikiran.” Ia diam lagi sejenak, “karena dia cerdas, kritis dan ide-ide dia yang kreatif, itulah yang membuat saya sering berkomunikasi dengan mbak Elyana mengenai organisasi ini. Sikap saya tidak lebih seperti sikap saya terhadap kader-kader perempuan lainnya. Mungkin karena saking intensnya saya berkomunikasi dengan mbak Elyana, dan dia juga banyak membantu saya dalam hal menciptakan ide-ide kreatif, mungkin saja dari situ mbak Elyana menangkap lain sikap-sikap saya selama ini....”

“Menangkap lain bagaimana maksudnya mas?” kejar pak Zul, nada bicaranya seolah ia adalah seorang investigator professional.
Sementara itu pak Pras seolah makin tersudut dengan pertanyaan pak Zul, membuatnya menatap sekilas dengan gugup sambil memainkan dua telunjuknya, ia mencoba menjawab seadanya apa yang ditanyakan pak Zul padanya, “yaa... mungkin mbaka Elyana merasa terlalu nyaman dengan saya, sehingga tanpa saya sadari kedekatan kami membuatnya terbawa perasaan.” Ia membuang nafasnya dengan berat, “memang mbak Elyana secara terang-terangan menyatakan perasaannya langsung kepada saya, namun saya tidak bisa menjawabnya. Karena saya kaget dan tidak menyangka mbak Elyana bisa memiliki perasaan demikian pada saya, bahkan menyatakan diri bersedia menjadi istri kedua saya.”

“Apa benar yang sampean paparkan tadi mas?” Pak Zul memicingkan matanya, menatap lebih serius pak Pras, membuat pak Pras makin gugup dan langsung menjawab “Ya!” dengan cepat.
Pak Zul menghela nafas panjang. Ia melonjorkan kakinya di sela-sela kaki meja, seraya melepaskan kaca matanya dan menyandarkan punggungnya di bantalan kursi. Matanya menerawang ke arah jendela, mencoba menenangkan pikirannya. Ia diam sejenak, lalu mulai berkata-kata dengan nada santai dan tenang.

“Saya tidak tahu mas apa yang sampean jabarkan itu benar atau tidak. Tapi satu hal yang harus mas Pras tau bahwa istri sampean lebih tau semuanya tentang hubungan sampean dengan mbak Elyana. Saya dapat informasi mengenai ini pun dari orang kepercayaan saya setelah ia bicara dengan istri sampean.”

Kata-kata pak Zul benar-benar membuat pak Pras sangat terkejut. Dan kali ini ia lah yang menatap serius pak Zul.

“Sampean ndak perlu tahu siapa orang kepercayaan saya. Tapi yang harus sampean tahu bahwa istri sampean sudah tahu sejak awal hubungan kalian sampai hari ini hampir 4 tahun. Bahkan beliau tahu sampean sering transfer uang ke mbak Elyana, pergi jalan-jalan sampai telepon larut malam hingga berjam-jam dengan mbak Elyana.” Mata pak Zul masih tak berpaling dari jendela, sementara pak Pras makin terkejut dengan pengakuan pak Zul, membuatnya makin menatap tajam pak Zul, lalu melontarkan pertanyaan, “Ndak mungkin mas! Istri saya selama ini tidak pernah membahas masalah itu. Bahkan kami tidak pernah bertengkar karena orang ketiga dalam rumah tangga kami.”
Pak Zul langsung menatap tajam mata pak Pras, “Itulah hebatnya istri sampean mas!” Semakin tajam tatapannya hingga membuat pak Pras kembali menundukkan pandangannya. “Selama ini beliau menyimpannya sendirian. Beliau berusaha untuk menutupi perilaku buruk sampean. Beliau tetap mengabdi dengan baik, bahkan ketika sampean selama ini tidak memberikan nafkah kepadanya dan anak-anak sampean! Belum ditambah pengeluaran untuk membiayai hubungan sampean dengan mbak Elyana. Beliau sendirian mas! Beliau banting tulang sendiri! Harusnya sampean bersyukur punya istri beliau, bukannya malah bilang tidak mungkin!” Suara pak Zul meninggi, terdengar sangat kesal dan penuh emosi.

“Saya ndak nyangka sampean bisa berbuat sekeji itu...” volume suaranya kembali mengecil, namun sarat akan emosi kesal dan kecewa “bagaimana bisa organisasi ini maju jika dalam perjuangannya ada orang yang terdzolimi? Pantas saja banyak sekali masalah-masalah. Dan mungkin Allah ndak rela mas, perjuangan yang Lillahi ta’ala ini sampean nodai dengan hubungan haram sampean dengan mbak Elyana, lalu ada istri dan anak-anak sampean yang terdzolimi.”
“Saya pun hampir pernah mas terlibat dalam masalah seperti ini. Ada teman mbak Elyana, kader dari Jakarta yang menaruh hati pada saya. Bahkan saat itu mbak Elyana sendiri datang ke saya untuk mensupport saya, mendorong saya menikahi temannya. Tapi saya sadar, saya punya istri dan anak-anak. Saya juga merasa tidak mampu jika saya berpoligami, karena saya sadar ilmu saya masih cetek! Makanya saya menghindar, karena saya tidak mau menyakiti gadis itu, juga tidak mau memberikan harapan-harapan yang saya tidak bisa memenuhinya!” Pak Zul diam sejenak seraya memalingkan kembali pandangannya ke arah jendela, “kalau saya bilang, sampean berdosa mas. Sampean sudah berdosa kepada Elyana, kepada perjuangan organisasi ini, dan terutama kepada istri dan anak-anak sampean.”

Kata-kata penutup dari pak Zul yang begitu menohok jantung dan hati pak Pras. Membuatnya pilu dan malu, terlintas begitu saja sosok istri yang menemaninya dari nol selama 17 tahun, lalu kedua putri dan seorang putra kesayangan yang selama ini ia abaikan begitu saja. Dan tentu saja harapan dan perasaan Elyana yang dalam padanya, membuatnya makin merasa bersalah.

***

Ada yang aneh selepas sholat shubuh hari ini bagi bu Asih. Ia melihat suaminya berlaku tak biasa. Dimulai dari tiba-tiba saja suaminya itu semangat menyapu rumah dan halaman, lalu mencuci piring kotor, hingga membuka toko sembako mereka dengan semangat.
Bu Asih tak bertanya apapun tentang keanehan yang ia lihat dari suaminya hari ini. Hanya memperhatikan saja. Terlihat senyum cerah dan bahagia dari wajah suaminya, entah apa saja yang dibuatnya dan tentu saja tak hanya membuat bu Asih merasa aneh, namun juga membuat anak-anaknya pun mulai bertanya padanya, mengapa papa mereka tiba-tiba begini?

“Papa masak nasi goreng special....!!!! Hasil resep nyontek dari mbah google!” Seru pak Pras. “Oh iya ma, hari ini biar papa saja yang ngantar anak-anak sekolah, oke..! Terus papa juga sudah telepon suplayer buat kirim barang-barang di toko kita yang sudah habis. Pokoknya mama istirahat aja di rumah.” Katanya lagi. “Dan kalau bisa sih, papa pengen makan tumis kangkung sambel terasi masakan mama.... hehehe” tambahnya dengan senyum nakal ke arah istrinya.
Sementara bu Asih hanya tersenyum seraya bergumam dalam hati “Ya Gusti Allah, apakah ini jawaban atas doa-doa hamba? Alhamdulillah, matur nuwun Gusti.... Semoga istiqomah....”

***

Hujan malam itu begitu deras, bersamaan dengan gemuruh petir yang menyambar-nyambar serta membuat takut bagi yang mendengarkan. Begitu sangat derasnya seolah-olah alam tahu bagaimana keadaan hati Ines. Ia menangis tersedu-sedu dalam kamarnya. Hatinya hancur berantakan akibat sebuah pesan singkat yang ia terima beberapa menit yang lalu.

“Hubungan kita sampai disini. Tak ada maaf bagi pengkhianat!”
Teringat kenangan indahnya bersama sahabatnya, kedekatan dan kebersamaan mereka. Sebuah persahabatan yang terjalin selama 7 tahun dalam suka dan duka, akhirnya harus berakhir sampai di sini. Tak ada lagi cita-cita, angan-angan maupun impian. Dan pupus sudah harapan untuk ingin tetap bersaudara dan bersahabat hingga Jannah-Nya. (END)


Hezty Azalea
Akun Sosmed :  Hezty Azalea (FB) - @hezty_azalea (IG)
Website :  azaleahezty.wordpress.com
heztyazalea@gmail.com

#Cerpen


Tidak ada komentar