CERPEN: Ibuku Anakku | Hezty Azalea | negerikertas,com
Info:    MUSIK    TEATER    FILM    ESAI    CERPEN    PUISI    WORKSHOP    BUKU    SEJARAH    MUSIKALISASI    INSPIRASI    RESENSI    KULINER    PROFIL   
Home » , » CERPEN: Ibuku Anakku | Hezty Azalea

CERPEN: Ibuku Anakku | Hezty Azalea

Posted by negerikertas,com on 16 Jan 2019





Aku masih menatap dengan penuh amarah kuburan tua berumur 20 tahunan itu. Tanahnya sudah datar dan pecah-pecah akibat musim kemarau, sementara tulisan di batu nisan itu telah pudar tak jelas rangkaian huruf-hurufnya. Warnanya pun tak lagi putih, akan tetapi berubah menjadi cokelat kusam tak terawat. Dan mungkin saja mayat yang terkubur di dalamnya sudah menjadi tanah. Tapi aku tak peduli itu.
Kedatanganku dihadapan makam tua itu bukan untuk menziarahi ahli kubur yang terkubur di dalamnya. Kehadiranku di hadapan makam tua itu bukan untuk mencabuti rumput-rumpt liar yang tumbuh diatas pusaranya, dan juga bukan pula untuk mendoakannya. Tidak sama sekali!! Kedatanganku disini, di hadapannya karena satu kemarahan yang besar yang aku simpan selama bertahun-tahun!
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrgggggggghhhhhhhhhh.......................!!!!! Suaraku menggaung memecah kesunyian pemakaman yang sepi siang itu. Aku menangis sejadi-jadinya sembari menunjuk-nunjuk ke arah makam itu, seolah-olah sang penghuni kubur hidup dan berada di hadapanku.
“kakek manusia jahat!! Semua kesusahan yang aku alami karenamu! Kau biang pembuat masalah!” teriakku dengan penuh amarah. Semua cacian dan makian terlontar begitu saja dari mulutku. “Demi Allah, aku akan menjadi saksi atas kesalahan-kesalahan fatal yang kau buat di pengadilan akhirat kelak! Aku tak ikhlas! Aku tak terima! Aku benci padamu....!!!”pekik ku dengan deraian deras air mata.
Kuluapkan semua amarah yang telah terpendam selama bertahun-tahun pada kuburan kakekku. Aku marah padanya atas apa yang terjadi pada diriku. Bagiku semua masalah ini berawal dari kesalahan pola asuhnya pada ibuku. Caranya mengasuh ibu yang sangat fatal membuatku harus menanggung beban ini sejak masih dalam kandungan. Selama bertahun-tahun aku mencari penyebab mengapa ibuku berbeda dan mengapa ibuku tak bisa seperti selayaknya ibu-ibu normal lainnya.
Ibuku bukanlah seorang ibu. Perangainya seperti anak-anak, sangat egois, selalu mementingkan dirinya sendiri, sangat impulsive dan semaunya sendiri. Yang tak tahu bagaimana cara memasak, yang tak tahu bagaimana cara mencuci, yang tak tahu bagaimana cara membereskan rumah, yang tak mengerti bagaimana cara melayani suami, yang tak tahu bagaimana merawat anak, yang tak tahu bagaimana menyiram setelah buang air kecil, yang tak tahu bagaimana cara yang benar bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain dan yang tak pernah mau mengerti perasaan orang lain! Yang selalu dengan seenaknya menghabiskan uang untuk berbelanja apapun yang tidak penting, yang selalu dengan mudah mengatai kekurangan orang lain, menyinggung perasaan orang lain tanpa merasa bersalah sedikitpun, yang selalu merengek tiap kali sakit, yang selalu merasa diri paling cantik dan kaya serta dengan mudah menghina orang lain, bahkan suami dan anak-anaknya sendiri. Yang hanya tahu tidur, makan, uang dan seks!
Aku sangat lelaah......!! Aku lelah harus selalu mengalah dengan berbagi makanan kesukaanku yang diinginkannya, aku lelah harus selalu mengalah untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari memasak, mencuci, melayani ayah hingga membersihkan rumah. Telingku lelah dengan segala tuntutannya yang sering tak masuk akal dan diluar kemampuanku, aku juga lelah dengan segala makiannya padaku. Sekali lagi aku sangat lelah!! Aku lelah harus selalu mengingatkannya untuk menyiram dengan benar setiap kali selesai buang air, aku juga lelah untuk terus-terusan mengomelinya karena berantakan setiap kali makan, dan aku sudah sangat lelah untuk menghadapinya seperti seorang anak kecil. Aku muak untuk berpura-pura menjadi seorang ibu dengan anak yang usianya jauh lebih tua dua puluh dua tahun di atasku. I’m not your mother, but i’m your child...!!!
Bertahun-tahun aku mencari jawaban atas perilaku tak normal ibuku, dan aku pun menemukan jawabannya. Sebuah cerita yang sama dari banyak saksi bagaimana pola asuh yang diterapkan seorang laki-laki yang telah menjadi tanah dihadapanku ini pada ibuku. Bagaimana ia memberikan apapun yang dimau oleh ibuku tanpa membatasi, bagaimana ia memukuli ibuku tanpa kejelasan ketika ibu melakukan kesalahan, bagaimana ia membiarkan ibuku minggat dari rumah sementara kemudian ia masih memberi uang selama ibu minggat?? “bagaimana kau bisa menyuruh adik-adikmu, ibumu untuk memberikan apapun yang diinginkan ibu, ketika ia minggat dan mengungsi ke rumah mereka?? Hah??!! Bagaimana kau bisa memukuli ibuku hingga babak belur, sementara kau tidak memberikan alasan mengapa ia dipukul??!! Mengapa kau menasehati ibuku dengan cara seperti itu??!!” teriakku dengan isak tangis makin menjadi. “Mengapa pola asuhmu begitu jahat?? Lihatlah sekarang!! Lihatlah kek... Lihatlah ia yang tumbuh seperti anak kecil, berbuat semaunya sendiri dan sulit untuk dirubah!” suaraku tersekat dan parau. Menjatuhkan kedua lututku sembari menutup wajahku yang penuh dengan air mata. Aku tak tahu harus berkata apa lagi selain menangis sejadi-jadinya. Lidahku telah kelu.
Hampir dua jam aku mengeluarkan segala emosiku dihadapan makam tua itu, hingga aku tak tahu harus bagaimana.. Tubuhku lemas, air mata yang membasahi pipiku pun telah berangsur mengering oleh sapuan angin semilir pemakaman. Tak ada kata-kata lagi yang mampu aku ucapkan, maupun secuil kata perpisahan pada makam ayah dari ibuku itu kecuali ekspresi kecewa yang sangat dalam. Aku tak peduli apakah ia di dalam sana mendengar semuanya atau tidak, yang penting aku telah puas meluapkan semuanya lalu beranjak pergi dengan sikap acuh.
***
Empat jam perjalanan dari salah satu desa di Bojonegoro, Jawa Timur tempat pemakaman kakekku untuk sampai kembali ke Bandung. Tak ada perasaan apapun yang terlintas di benakku selama perjalanan pulang, baik itu saat aku mengendarai mobil hingga ke bandara Juanda Surabaya maupun saat menaiki burung besi kelas ekonomi hingga sampai di bandara Hussein Sastranegara, Bandung. Pikiranku kosong, begitupun pandangan mataku.
“kita ke Villa Lembang ya pak..!” kataku pada sopirku, saat hendak menyalakan mesin mobil.
“iya neng..” sahutnya, lalu membawa mobil keluar dari parkiran bandara menuju ke tempat yang ku minta.
Sepertinya aku sangat lelah. Mataku menembus menerawang jauh ke luar jendela, namun hanya kekosongan yang ku dapat. Tak mempedulikan macetnya jalanan sore itu, dan tak berbicara sepatah katapun pada pak Mardi, supirku seperti biasanya. Sesekali pak Mardi melihatku dari pantulan kaca spion, tapi aku tetap tak peduli. Aku sedang malas dan tak bergairah.
“Punten neng....”, “Kunaon atuh, kok tidak seperti biasanya?” tanya Pak Mardi tiba-tiba, memecah kesunyian dan membuyarkan kekosonganku.
“Hmm.. App.. Appaaa.. Apaa pak? Kenapa?” aku gelagapan bak seorang pencuri yang ketangkap basah. Ekspresi wajahku pun tak karuan antara kaget, bingung dan kosong mirip seperti korban gendam yang sadar.
Pak mardi tertawa melihat ekspresiku dari kaca spion, membuatku makin bingung. Kemudian mengulangi pertanyaannya, dan membuatku terdiam cukup lama sebelum sampai akhirnya aku menceritakan tujuan kepergianku pagi tadi ke Jawa Timur.
Pak Mardi tahu semua bagaimana keadaanku di rumah, hanya beliau tak pernah sedikitpun berkomentar mengenai apa yang tengah aku jalani. Dan sepanjang perjalanan menuju puncak Lembang yang dipenuhi dengan kemacetan itu pun juga dipenuhi oleh tumpahan curahan hatiku pada Pak Mardi. Panjang lebar ku ceritakan semua pada Pak Mardi meski kali ini tanpa diiringi oleh deraian air mata, sementara Pak Mardi hanya manggut-manggut mencoba berempati atas apa yang aku rasakan. Sudah habis ku tumpahkan siang tadi dan sudah lelah rasanya untuk kembali menangis, hingga akhirnya kami berdua sama-sama saling terdiam cukup lama.
“Eneng tahu? Eneng adalah salah satu orang yang beruntung di dunia ini...” kata Pak Mardi memecah kebisuan kami. Aku sudah lelah untuk bersuara hari ini, dan aku memutuskan untuk mendengarkan saja apapun yang diucapkan Pak Mardi.
“kalau Eneng Sadar, sebenarnya Allah itu sayang sekali sama eneng... Allah beri eneng ibu seperti itu, tidak lebih agar eneng menjadi wanita kuat, menjadi wanita tangguh, mandiri dan sampai bisa sesukses ini.. Semua tak lepas dari skenario Allah, neng...”, Pak Mardi menghela napas panjang. “Coba andai saja ibu si eneng tidak seperti ini, tetapi bersikap seperti bapaknya dulu dalam mengasuh eneng, lantas apakah eneng bisa menjadi seperti ini?”. Pertanyaan Pak Mardi itu sukses membuatku teringat bagaimana hidup anak-anak dari saudara-saudara ibuku yang berperilaku seenaknya sendiri, yang membohongi orang tua lalu pergi ke luar kota dengan laki-laki yang belum halal, ada juga yang menjadi pengedar narkoba, lalu ada pula yang sampai tega menyakiti orang tuanya dengan merong-rong meminta uang setiap saat. Miris sekali... Aku membandingkan bagaimana hidupku dengan mereka. Aku tumbuh dewasa dengan kesuksesan yang aku raih dengan segala jerih payahku. Rumah, mobil, apartemen, hingga mampu memboyong orang tuaku jauh-jauh dari Surabaya ke Bandung dengan keringatku.
Sekelebat, aku mengingat bagaimana tingkah laku lucu dan ceria ibuku yang tak pernah dendam meski sering ku marahi, Yang selalu heboh tiap melihat hal yang baru menurutnya, yang selalu bernyanyi dangdut setiap saat, yang selalu meminta di foto, yang kerap menyungingkan senyum tulus khas anak kecil setiap kali aku pulang ke rumah, serta yang begitu polosnya menenteng sepatunya saat berjalan di lantai berkarpet. Diam-diam aku tertawa tanpa suara mengingat semua hal lucu yang dilakukan ibu, dan sekaligus sukses membuatku tersadar akan kesalahanku. Yah... Aku bodoh.. Aku tak sadar pesan indah Allah padaku, dan aku juga tak mensyukuri sebuah nikmat dan hikmah besar yang terjadi padaku.. Tanpa terasa air mataku sudah meluber ke wajahku, mengingat bagaimana perilakuku yang kasar pada ibuku, sering membentaknya dan bahkan menganggap beliau adalah sumber masalah dalam hidupku. Kumandang adzan magrib yang bersahut-sahutan membuat hati ini makin bergetar tak karuan dan berubah menjadi sebuah kerinduan yang teramat dalam...
***
“Pak.... Balik ke rumah ya... Nggak jadi ke Villa..” pintaku... . (end)


#Cerpen


Hezty Azalea
Tinggal di Perumahan taman mediterania asri blok LL1 no.9. Baloi Permai, Batam Centre, Kota Batam, Kepulauan Riau. Akun Sosmed : Hezty Azalea (FB) - @hezty_azalea (IG)\






SHARE :
CB Blogger
Comments
7 Comments

7 comentários

Arief Kusumaatmaja 16 Januari 2019 19.25

Inspirasi supaya mensyukuri apapun kondisi yg ada

Nico Christanto 16 Januari 2019 23.59

Cerpennya bagus membangun mindset yang membangun dan positif, dibalik hal yang negatif mampu menemukan sisi positif nya, ini lah yang membuat orang semakin berkembang dari waktu ke waktu.

Aseep2018 19 Januari 2019 07.54

MANTAFF

Aryanto hadi wicaksono 19 Januari 2019 15.57

Siiiif ������

suci 19 Januari 2019 21.18

menginspirasi... jgn menuntut tp ambl pelajaran dn hikmahx

AL 21 Januari 2019 06.59

Keren ��������

shafannafa@gmail.com 25 Januari 2019 05.02

Sangat menginspirasi
Dibalik hal yang dibenci pasti akan ada hikmah

Posting Komentar