CERPEN: Aroma Bunga Kenanga Milik Bapak

Share:



Aku seperti ingin berhenti sekolah. Tidak ingin melanjutkan lagi sekolah di SMA swasta itu. Tapi, amanah bapak menginginkan aku menuntaskan SMA. Padahal keuangan ibu tidak cukup melunasi SPP sekolah.                                                                                                                             
Sebulan sejak bapak tiada, keuangan keluarga sedang tidak baik. Bapak pergi meninggalkan aku, adik dan ibu.
Hari ini saat akan berangkat ke sekolah, aku berpamitan pada Ibu, mencium tangannya seperti biasa.                                                                                                                    
“Ibu hanya ada uang 2000, nak,” ucapnya, mengelus pelan rambutku. Aku menatap ibu. Mengerti benar kondisi ini. Membuat hatiku merintih, ingin menangis ikut merasakan apa yang ibu derita. Sebisa mungkin harus ku tahan di hadapan ibu.                                                       
“Tak apa bu, uang ini cukup untuk naik angkot hingga pulang,” jawabku tersenyum hambar. Lalu pergi meninggalkan Ibu yang masih melambaikan tangannya di ujung jalan gang ini. Aku menyeka sedikit air yang keluar dari pelupuk mata. Seperti terpukul keras dengan uang 2000 yang ibu bilang. Sejauh ini ibu masih tetap bekerja menjadi tukang cuci. Uang yang didapat tidak cukup untuk menghidupi kebutuhan aku dan adik bahkan untuk kebutuhan sehari-hari. Genap setahun bapak pergi, aku seperti ingin mengenang kembali. Bapak yang tangguh, yang rela berpeluh keringat demi kebutuhan hidup keluarga. Sekarang ibulah yang menjadi pengganti bapak. Ibu yang harus banting tulang untuk menyambung hidup. Sejak saat itu aku semakin mengerti kerasnya hidup.                                                             
Dulu saat bapak masih hidup, selalu membawakan oleh-oleh untuk aku dan adik. Bapak bekerja di pabrik, menjelang sore ia akan pulang.
“Assalamualaikum, bapak pulang.” Suara pintu terdengar terbuka disambut salam dari bapak setiap pulang kerja.
“Waalaikumsalam,” sahut aku dan adik berhamburan memeluk bapak. Seperti biasa bapak selalu menenteng dua kresek di kedua tangannya.
“Ini untuk kalian,” Katanya menyodorkan kresek itu kepada kami, dan mengecup pelan dahi kami.                                                                                                                                                          
“Hore..” kata Via.                                                                                                                                                             “Bapak mandi dulu ya,” Ujarnya sambil berjalan menemui ibu. Kita mengangguk. Bapak yang baik itu tidak akan pernah kembali, tidak akan pernah lagi muncul dibalik pintu membawa oleh-oleh. Bingkisan itu biasa bapak beli di daerah tempat kerjanya yang memang menjual aneka kue. Bapak, segalanya banyak berubah sejak kepergianmu.
Mataku mulai berkaca-kaca mengingat bapak. Terutama mengingat keuangan keluarga yang semakin menipis. Dan ibu yang semakin kurus. Aku memutuskan membolos sekolah dan pergi ke makam bapak. Aku menahan tangis yang hampir pecah, dan terus berlari di tempat kediaman terakhir bapak.
Sedikit sesenggukan, aku terduduk lemas di pusara bapak. Mengelus pelan batu nisan yang bertuliskan “ANTON MULYANA”. Air mata mengalir begitu saja di pelupuk mataku. Tak sanggup lagi menahannya, mengingat hidup begitu keras menimpa keluarga ku.
“Ayu..” sebuah suara memanggilku pelan. Aku menengadah. Menyipitkan mata sebentar saat melihat mas Ibnu berdiri di dekatku dengan menenteng sebuah kresek kecil.
“Ini, kamu tidak bawa apa-apa kan untuk menyiram makam bapakmu.” Lanjutnya menyodorkan kresek kecil. Aku mengangguk dan mengambil kresek itu.
Mas Ibnu ikut duduk dan berdoa di pusara bapak. Aku jadi tak enak hati. Akhirnya aku tidak berlama-lama di makam bapak setelah selesai menabur bunga dan berdoa. Aku berdiri mengajak mas Ibnu meninggalkan makam itu.
“Kamu kenapa tidak datang ke sekolah?” tanyanya saat kami jalan beriringan menuju jalan raya. Aku hanya menggeleng.
“Kamu butuh apa? Mungkin mas bisa sedikit membantu?” mas Ibnu ini kakak kelasku waktu di SMA. Sebenarnya kita saling mengenal saat tahu dia tinggal di gang sebelah rumahku. Saat itu hampir tiap pagi mas Ibnu mengajak berangkat bareng ke sekolah. Aku mau saja ikut dia, sedikit ngirit ongkos ke sekolah. Sekarang dia sudah lulus.
“Aku butuh kerja paruh waktu mas, bantu ibu,” Ucapku. Keinginanku bulat ingin bekerja sekarang. Untuk ibu, untuk meringankan bebannya. Aku harus ikut andil memenuhi kebutuhan ibu dan adik sekarang. Kalau biasanya aku masih bermain-main, aku harus kerja sekarang. Aku menunggu jawaban mas Ibnu. Berharap banyak ia bisa membantu.
Hening.
“Sekarang kamu harus pergi ke sekolah, mas yang antar. Dua hari lagi temui mas di kedai depan SMA sepulang sekolah.” Pintanya, aku tercengang mendengarnya lalu mengangguk pelan.
Setiba didepan gerbang sekolah, mas ibnu membukakan helm yang ku kenakan. Kedua tangannya menyentuh bahuku, matanya menatapku tajam. Seperti tatapan seorang kakak kepada adiknya, ada kekhawatiran disana.
Sorot mata itu mengingatkan ku kepada sepasang netra milik Bapak yang khawatir kepada ku saat terlambat pulang ke rumah. Aku memejamkan mata dan menunduk, tidak ingin membuat genangan di hadapan mas Ibnu.
“Bolos itu tidak menyelesaikan masalah. Doakan Bapak, jangan selalu menangisinya. Bapak juga ingin lihat kamu bahagia.” Mas ibnu mengangkat wajahku yang menunduk. Aku balas menatapnya.
“Masuk sana, mas mau berangkat kerja.” Pintanya.
“Terimakasih tumpangannya, mas.” Dia tersenyum. Aku menunggu hingga motornya melaju meninggalkan halaman sekolah ini. Ada secercah harapan. Aku melenggang masuk ke kelas dengan senyum yang sedikit di tahan.                                     ***                                                                                                                                       
“Kamu bisa kerja di Boston’Cafe mulai jam 15.00 hingga pukul 21.00. temui saja kak Mey.” Begitu kiranya pesan yang disampaikan mas Ibnu. Dia berpamitan setelah aku menyelesaikan acara makan siangku sendiri. Ya, sendiri. Karena mas Ibnu hanya memesan segelas jus mangga, dan mentraktirku makan siang.
“Makan siangnya harus habis, baru kamu boleh menemui kak Mey nanti.” Pintanya. Aku mengangguk sambil melanjutkan mengunyah makanan yang sudah memenuhi mulutku. Sedang mas Ibnu sibuk memainkan benda pipih itu sambil sesekali tersenyum saat jemarinya memainkan benda itu.                                                                                                                                                            
Sekarang aku hanya bisa melihat kepergian mas Ibnu dengan mata yang sedikit nanar. Melihat dia tersenyum dengan seorang gadis yang sudah tak asing lagi. Tiara, anak kelas IPA 2 itu pun tersenyum menghampiri mas Ibnu. Aku mengalihkan pandangan. Seharusnya tak perlu senyeri ini melihatnya.                                                                                                                                  
Sejak diantar ke sekolah kemarin ada rasa mulai mengagumi. Apalagi meminta bertemu di kedai deket sekolah, jelas aku membayangkan bisa ngobrol banyak, bercanda, dan ketawa bareng mas Ibnu. Memang sudah lama mengenal, tapi sebatas numpang transport ke sekolah. Ucap terimakasih lalu pergi ninggalin mas Ibnu yang melajukan motornya ke tempat parkir. Ngobrol banyak jarang, karena tercipta kecanggungan disana. Sirna sudah khayalan melihat mas Ibnu tertawa dihadapanku.
Tapi entah sejak mas Ibnu meminta bertemu, aku banyak memikirkan tentangnya. Meskipun aku tahu, pertemuan itu pasti membicarakan bantuan yang sempat ku tanyakan tempo hari di area pemakaman.
***
Sebulan bekerja, aku sudah bisa menyicil pembayaran SPP yang nunggak sejak kepergian Bapak. Lumayan banyak, meskipun begitu setidaknya bisa membantu penghasilan keluarga. Dan tidak terlalu memberatkan ibu.
Aku bahkan tidak mengikuti bimbingan tambahan untuk siswa kelas 12. Bukan karena ada biaya tambahan, tapi karena bimbingannya dimulai bersamaan dengan jam kerjaku. Persoalan ini selesai dengan menyalin hasil belajar Mila teman sebangku ku, malamnya selepas kerja aku bisa mempelajari ulang.
Semua guru ngotot mewajibkan siswanya mengikuti bimbingan ini, tapi bagaimanapun aku tidak ingin mengecawakan Ibu. Ada banyak harapan di mata ibu yang mulai berkaca-kaca dulu setelah menceritakan bahwa aku diterima kerja di Cafenya kak Mey.
“Maafin ibu, nak. Maafkan kalau ibu menyusahkan mu,” Ucap Ibu dengan terisak.
Aku menggenggam tangan Ibu, “Nggak, bu. Ini demi kita semua. Setelah lulus Dea janji akan membahagiakan Ibu dan Deasy.” Ibu meraih tubuhku, menyelesaikan isaknya dipelukanku.
                Sejak hari itu aku rajin bekerja, kadang lembur sampai jam 10 kalau ada hari libur. Kak Mey memang menyarakan aku pulang jam 9 malam. Tapi Cafe tutup jam 12 malam, itu karena mas Ibnu yang meminta agar aku pulang jam 21.00.                                                                
Perihal mas Ibnu, dia sering berkunjung ke Cafe seminggu sekali. Kadang juga membawa Tiara, aku masih saja cemburu melihatnya. Dan aku tahu harus sadar diri, bagaimanapun juga mas Ibnu hanya menganggap ku adik. Begitu katanya yang ku dengar saat mas Ibnu berbicara dengan kak Mey di kunjunganya ke cafe ini.     
***
“Ibu, mau menikah lagi, nak. Ibu ingin ada yang bertanggung jawab terhadap hidup kita.” 
Wangi aroma bunga kenanga yang bapak tanam di halaman depan rumah menyergap hidungku. Kembali teringat kematian Bapak, aroma bunganya menyentuh lembut permukaan ingatan saat Bapak masih hidup dulu. Anganku melayang saat tahu akan ada ayah baru pengganti Bapak.                                                                                                                                                     
Ada rindu kembali, seperti wewangian bunga kenanga yang berhasil menembus inchi dari ingatan buruk tentang bapak. Apa itu sebabnya saat akhir-akhir ini tak ku temukan sorot kepedihan yang mendalam di mata ibu. Seharusnya aku senang, ibu tak harus menderita lagi.     
“Dengan siapa, bu?”
“Besok siang beliau akan kesini, jadi nanti bantu ibu menyiapkan makan siangnya.” Jadi ibu sudah mengatur sedemikian rupa, hingga harus mempertemukan ku sehari setelah ibu memberitahuku perihal ayah baru itu.                                                                                                   
“Sudah  berapa lama ibu mengenalnya?” tanyaku, semoga jawabannya tidak mengejutkan lagi.                                                                                                                        
“Lima bulan yang lalu sejak kepergian bapak saat ibu mencari pelanggan cucian.” Perih mendengarnya. Ibu berkeliling mencari orang yang membutuhkan jasa cucinya. Lalu ibu bercerita panjang lebar, dari awal pertemuan dengan lelaki itu. Pada akhirnya lelaki itu berlangganan mencuci pakaiannya kepada ibu. Dan di sore hari ibu diminta menjadi tukang masak untuk lelaki yang kesepian itu. Aku tidak menyangka, hanya bersyukur bahwa Tuhan telah membuka ladang rizki untuk keluargaku. Hingga saat ibu diminta menjadi pendampingnya.
Tak ada lagi yang bisa ku katakan, hanya berucap syukur ada lelaki yang mau bertanggung jawab terhadap kehidupan keluarga ku. Wangi bunga kenanga itu tak terhirup lagi, menguap bersama dengan pikiranku yang melayang tentang sosok ayah baru.                                         
***                                                                                                                                                                       
Hari itu tiba. Setelah semua masakan telah tersaji, ibu menyuruhku mengantar makanan ke rumah nenek di desa sebelah.                                                                                                              
“Sebentar lagi mungkin mereka datang, ndok.” Aku mengangguk sambil merapikan kotak makan yang akan ku antar ke rumah nenek.                                                                                 
“Dea pamit dulu, bu.” Ibu mengantarku sampai depan pintu.                                                     
Ketika kembali ke rumah, aku melihat mobil avanza telah terparkir di halaman. Tapi yang ku lihat adalah sosok Tiara di teras rumah sedang menelfon. Apa ayah yang di maksud Ibu adalah ayah Tiara? Ah, tidak mungkin.                                                                                                   
Aku mengetuk pintu, belum selesai aku dibuat terkejut melihat Tiara, sekarang benar-benar di luar dugaanku. Tapi seseorang itu tidak terkejut sama sekali melihatku. Ya Tuhan, apalagi ini?                              “Dea, ini om Gun Ayah mas Ibnu, dan ini Tiara calon tunangan kakakmu.” Ibu memperkenalkan mereka satu persatu. Tapi tidak memperkenalkan mas Ibnu. Aku segera menepis pikiran buruk itu. Bisa saja ibu teramat dekat dengan mas Ibnu. Kakak?                      
Tapi, ada yang ngilu rasanya melihat mas Ibnu dan Tiara diperkenalkan sebagai sepasang yang akan bertunangan.                                                                                                                                               
Tak ada lagi aroma wangi bumbu opor di meja makan ini, asap yang mengepul perlahan pergi. Seiring dengan pikiranku yang berlarian melihat mereka begitu akrab di telinga.             
Aku tersenyum kecut melihat kenyataan ini. Sepertinya aku harus kembali menabur bunga di pusara almarhum Bapak lamaku.
***
#Cerpen oleh : I-Feria Devi


I-Feria Devi lahir di Probolinggo pada tanggal 17 Februari 1997. Saat ini mahasiswa aktiv di IAIN Jember. Suka menulis karena bermula dari suka membaca. Lalu dari kegiatan itu juga ingin menciptakan imaginasi sendiri. Karyanya pernah terbit dalam buku Antologi  Hasil Lomba Dan kini berdomisili di Desa Ngepoh, Kec.Dringu, kab.Probolinggo. Contak Person: 082311955749 // IG: @islavia.feria.devi // FB : Iferiadevi // Email : devife05@gmail.com

3 komentar:

  1. Uda bagus. Tapi dialog tag perlu diteliti lagi😊

    BalasHapus
  2. Dea sosok gadis tangguh keluarga, harus kuat dengan keadaan keluarga dan cinta. 😃

    BalasHapus