SEDEKAH BUKU

Negerikertas.com menyalurkan bantuan SEDEKAH BUKU untuk taman baca di berbagai pelosok daerah yang kekurangan buku bacaan. Kirimkan buku ke alamat: Fileski 085731803357 | Jl Koperasi A08 | Banjarejo | Kec.Taman | Kota Madiun. Bisa juga berupa uang ke rek BCA 1771531313 a/n Walidha. Madiun

Pemenang Karya Mingguan - Cerpen: Nurlaeli Umar

Mardi Pulang

“Maliiing! Maliiing!”
“Ada maling burung!”
“Di mana malingnya?”
“Itu mereka lari ke gang sebelah!”
“Lebih dari satu?”
“Dua orang anak muda!”
Pagi itu Minggu di awal bulan. Seharusnya tidak pernah terjadi. Tidak diperhitungkan. Mungkin pelaku yang bodoh, penuh kesembronoan. Sepasang maling yang tidak professional dan kelas ecek-ecek. Mencuri di waktu semua orang ada di rumah. Semua orang tumpah, dengan satu teriakan saja.
Mardi kebingungan. Dia tidak melihat temannya. Dia kehilangan jejak. Dia hanya tahu berlari menghindar. Dia bukan maling, bukan! Bahkan dalam garis tangannya tidak tertulis maling, apalagi darah yang mengalir di tubuhnya.
Ini sejarah terburuk yang tidak pernah terlintas tujuh turunan. Darah itu mengucur..Mengapa tiba-tiba jalan menjadi buntu? Tembok yang dicoba untuk dipanjatnya melemparkan dia kepada massa. Orang-orang yang membawa api di dada dan kepalanya. Juga benda panjang. Benda yang akan menghakimi Mardi dengan segera. Tanpa ampun lagi. Tidak perlu aparat, mereka yang datang ingin membuat Mardi sekarat! Mungkin sebagian dibuat dari kayu, mungkin ada yang terbuat dari besi. Mardi enggan memikirkan itu. Mereka seperti kesetanan, bahkan teriakan penyangkalannya hilang dibungkam pukulan, tendangan.
Temannya menghilang, dia hafal semua jalan di daerah itu, mungkin daerah lainnya juga. Tidak hanya jalan raya, jalan tikus pun dia tahu, bahkan jalan hitam, jalan sesat, dan jalan untuk mengorbankan orang lain. Pemuda yang telah banyak memakan asam garam Jakarta. Dia berhasil selamat. Tanpa Mardi.
Sudah kukatakan berulangkali, jika hidup di Jakarta itu tidak enak. Entah tuak apa yang diminumnya semalam, Kang Yono benar-benar mabuk ingin sekali Mardi berangkat ke Jakarta mengikutiku.
Dia tidak menyentuh kopi yang dibuatkan istriku, apalagi kudapan, dan kue kering khas lebaran.. Mungkin dia takut kopi akan membuatnya sedikit sadar kalau dia mabuk. Atau dia ingin membuktikan semua tidak perlu kecuali keinginannya.
“Lebih baik dia di kampung, Kang. Dia sudah bekerja, dan itu bagus. Mardi juga sepertinya menikmati pekerjaannnya. Pekerjaan menjadi tukang lebih menjanjikan.”
“Dan lagi orang bekerja itu tidak bisa harus sama, semua punya passion tersendiri. Maksudku garis nasib, bakat dan kecenderungan. Tidak baik memaksakan sesuatu kepada anak, apalagi anak itu sudah memilih dan merasa itu dunianya. Toh rezeki sudah diatur. Untuk menjadi kaya dan berhasil tidak harus ke Jakarta.”
“Memang satu rumah dibangun dengan model baru, yang lainnya ikut mengantri mengganti modelnya. Tapi pekerjaan menukang itu tidak menjanjikan apa-apa. Lama untuk sukses. Dia itu hanya tamatan SMA, setidaknya meski tidak bersekolah tinggi, dia bisa melihat Jakarta. Kabulkan saja permintaanku!”
Aku berjanji mengajaknya, hanya untuk melihat Jakarta saja. Mungkin akan kuajak dia ke Monas dan beberapa tempat di sekitarnya yang biasa dipenuhi pengunjung. Aku akan memilihnya yang murah saja. Bukan karena aku pelit, tapi aku sendiri pun meski sudah lima belas tahun tinggal di Jakarta, bahkan hanya menjelajahi gedung tinggi menjulang yang berdiri megah dengan mataku saja.
Dan aku juga akan mengajaknya ke perkampungan kumuh. Aku berharap dia tidak betah di Jakarta.. Ingin aku tunjukkan kenyataan yang hanya fatamorgana, kecuali dia punya tekad baja. Hanya berbekal ijazah SMA, tidak ada koneksi, tidak bermodal sama sekali. Itu adalah aku. Dan sekarang aku dihadapkan dengan sosok yang sama. Aku tentu saja seperti melihat diriku sendiri. Mungkin benar sekarang aku mempunyai rumah permanen kecil, dan usaha penjualan bubur ayam dengan pelanggan yang tetap. Tapi pahit yang kurasakan, kualami, sungguh tidak tega jika harus terjadi kepada Mardi. Meski dia laki-laki!
“Tidak sekarang, Kang. Mungkin lebaran tahun depan saja. Terus terang aku belum siap untuk menampung Mardi meski hanya beberapa hari.”
Bukannya mengerti Kang Yono malah berbicara ke sana-ke mari, tidak saja di depanku tetapi kepada oran-orang yang ditemuinya, sambil membumbui, hingga sedap kalimat yang sampai di telingaku ingin memecahkan dada kesabaranku saja.
“Bawa saja, Mas. Aku jadi merasa kita adalah orang yang tidak mau dibebani oleh saudara.”
“Tapi bukan itu maksudku. Aku hanya ingin mengulur waktu. Membiarkan Mardi merasa mencintai pekerjaannya, sehingga saat kubawa ke Jakarta, yang ada di kepalanya hanya pulang.”
“Tapi suara di luar ….”
“Biarkan saja. Kang Yono sedang mabuk. Dia tidak bisa diharapkan.”
Mungkin hanya istriku dan kedua orang tuaku yang bisa menerima sudut pandangku. Kang Yono dan tetangga yang lainnya tidak akan mengerti. Setiap lebaran mereka yang terlanjur pergi mengumbar kemewahan. Sebenarnya itu tidak masalah bagiku. Pertama, itu bukan uangku. Ke dua, resiko yang ditanggung karena memaksakan diri juga bukan tanggung jawabku. Ke tiga, aku tahu benar bagaimana mereka sebenarnya di Jakarta itu. Mungkin sebagian memang benar-benar berhasil, tapi banyak yang pura-pura berhasil.
Aku sudah lupa permintaan Kang Yono. Sampai sebuah oesan masuk dari Kang Yono. Setengah tahun sudah permintaan yang telah berulang kali itu menghilang dari telingaku. Dan sekarang Kang Yono menanyakan apakah Mardi sudah datang ke rumahku?
Sentoloyo! Entah terbuat dari apa hati Kang Yono. Dia bahkan mengatakan jika Mardi pergi dengan temannya. Teman yang mana? Generasiku berbeda dengan generasi anaknya, bahkan aku sampai bingung anak siapa dan siapa namanya. Anak-anak yang dulu kukenal masih suka berlarian sudah berubah menjadi asing dan dewasa.
Aku pulang dengan muka keruh. Kulontarakan semua unek-unekku di meja bersama secangkir teh manis hangat. Istriku hanya menjawab dengan gelengan kepala. Gelengan kepala yang berarti bahwa aku harus mencarinya. Mencari Mardi yang hilang ke rimba raya Jakarta. Bahkan nomor Mardi dan temannya tidak juga tersambung ketika kucoba untuk menghubunginya.
Waduh, celaka dua belas! Kang Yono, sungguh aku sangat menyesalkannya. Tapi di mana-mana juga penyesalan tidak lebih berguna. Aku harus menunggu. Semoga, ya …semoga Mardi tidak tersesat.
“Kalau Mardi sampai datang, sesibuk apapun kamu harus membawanya ke lapak dagangku!”
“Ya, tenang saja, Mas.”
“Tenang bagaimana?”
Aku meninggalkan istriku dengan perintah. Tanpa mencoba berselisih, istriku tahu betapa aku sangat khawatir terhadap Mardi. Dia tahu betapa cerobohnya Kang Yono. Mungkin aku tidak peduli jika Mardi anak yang suka menjelajah daerah lain. Tapi setahuku Mardi anak yang polos. Meski kehidupan di desa tidak lebih mudah dari Jakarta. Tapi di daerah sendiri, dia tahu ke mana mesti berteduh saat hujan, ke mana bertanya saat bingung, ke mana meminta saat kekurangan.
Dua tiga hari menjadi satu minggu. Mardi mengabari sendiri keberadaannya lewat ponselnya. Aku ingin menjemputnya tapi tidak diperkenankan. ”Aku bisa datang, Pak Lik. Temanku mau mengantarku.”
Kuberi alamatku meski aku tahu dia sudah menyimpan alamatku dari ayahnya. Kukatakan hati-hati, dan kalau ada apa-apa harus menghubungiku. Bahkan aku mengiriminya pulsa. Aku tidak mau terjadi apa pun padanya.
Dia benar datang di sore hari saat lapakku ramai. Datang bersama istriku dan satu orang temannya. Aku membawanya masuk dan duduk. Istriku yang menjaga lapakku sekarang. Dia hanya mengatakan maaf ketika kutanya kenapa baru sekarang datang, kenapa tidak memberitahu sebelum ke Jakarta, kenapa tidak sabar menunggu setengah tahun lagi. Lagi-lagi kata bapak keluar dari mulutnya.
Tidak itu saja, temannya tampak kikuk dan tidak betah. Beberapa kali dia memberi tanda. Dan benar saja Mardi tidak bisa kutahan, kecuali hanya satu hari tanpa temannya. Dia pergi lagi ketika dijemput, berjani akan pulang besok.
Kang Jono tidak perlu bertanya tentang Mardi lagi, aku yang mengabarinya terlebih dahulu jika Mardi pergi dan hanya bertahan satu hari di rumahku. Bahkan oleh-oleh yang sekiranya digunakan untuk membujukku agar mau menampung, tidak bersisa, Kucoba untuk menahan agar dia tidak pergi dan tinggal di rumahku saja. Temannya meyakinkan jika Mardi akan baik-baik saja.
Sehari, dua hari, Mardi tidak muncul. Kuhubungi hapenya tidak diangkat. Kang Yono kuhubungi, ternyata Mardi tidak betah di rumahku. Tidak nyaman? Entah kalimat apa itu, aku bahkan bisa menjamin seratus persen jika Mardi tidak baik-baik saja dengan temannya. Kang Yono berdebat denganku di hape. Lagi-lagi dia lebih memilih orang lain daripada aku, saudara sepupunya.
Semua keberatanku atas sikap Kang Yono, Mardi, dan temannya kutumpahkan. Sampai-sampai hape yang kupegang hampir saja tewas kubanting.
“Kalau begitu, jemput saja Mardi, atau berikan alamatnya! Aku tidak peduli apa kata sampeyan, Kang. Ini Jakarta, bukan kampung kita. Satu hari saja kita tidak keluar rumah semua sudah berubah. Kita akan bingung. Bagaimana dengan Mardi?”
Aku meminta istriku untuk menjaga lapak. Kudatangi alamat yang dikirim Kang Yono lewat pesan pendek. Luar biasa! Tidak kutemui satu orang pun bernama Mardi, dan wajah temannnya yang kugambarkan ciri-cirinya tidak satu pun yang mengenalnya. Itu alamat rumah orang.
Terhenyak! Dua hari kemudian, saat aku sibuk dengan pelangganku. Istriku datang bersama tiga orang. Satu temannya Mardi, dua lagi anggota polisi. Mardi benar-benar sudah pulang!
Aku harus menyalahkan siapa? Tidak, aku tidak ingijn menyalahkan Tuhan, tidak juga Kang Yono yang tidak mau mengerti, tidak juga temannya yang tidak kupercayai. Mardi sudah pulang. Pulang ke kehiupannya yang tenang. Polisi yang datang menjemputku, dan aku kehilangan kata-kata.
Kutatap mayat Mardi. Kasihan dia. Kasihan aku, kasihan karena tidak memaksanya tinggal. Sedang aku lebih dewasa dan tahu Jakarta. Mardi tidak bersalah, meski pihak berwajib mengatakan Mardi kepergok mencuri bersama temannya.
Dugaanku pasti benar. Dia dikepung warga, dan tidak tahu mesti lari ke mana. Dia hanya tahu mesti berlari dan tidak pernah tahu di Jakarta tidak hanya rezeki yang bisa buntu, tapi gang juga. Dia mencoba naik ke tembok warga dan jatuh, serta dipukuli sampai habis. Sampai habis nyawa dan air matanya. Tapi tidak dengan air mata dan penyesalanku. Dia tidak akan pernah habis. Mungkin sampai akhir hidupku.
Mardi sudah pulang, dia tak perlu lagi ke Jakarta.


Karya
Nurlaeli Umar, seorang penulis pemula. Email nurlaeli021umar@gmail.com - Jl. Fajar Baru 3 No.19 Rt/Rw: 003/08 Cengkareng - Jakbar 11730



Share on Google Plus

About Fileski Channel