
Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta setahun terakhir ini telah menjadi "destinasi utama" untuk komponis & pianis Ananda Sukarlan. Juni lalu, setelah tiba dari rumahnya di Spanyol dan menetap beberapa hari di Jakarta, ia langsung mendatangi Yogyakarta. September nanti ia akan kembali, begitu juga Oktober dimana ia telah bekerjasama dengan berbagai institusi untuk menyelenggarakan Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) di Yogyakarta (10 Oktober) dan Salatiga (25 Oktober). Magnet apakah yang menariknya untuk ke daerah Jawa Tengah terus ini? Berikut bincang-bincang negerikertas.com (NK) dengan Ananda Sukarlan (AS)
NK : Kami melihat di Instagram anda bahwa anda akan ke Yogyakarta lagi September nanti. Bisa ceritakan dalam rangka apa?
AS : Dua pianis dan guru piano lulusan ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta, Rachel Nadia dan Ananya Laoctadufa mengundang saya untuk memberi workshop dan masterclass. Juni lalu, saat saya diundang institusi lain yaitu Sekolah Musik Indonesia cabang Yogyakarta, mereka mengundang saya mampir ke tempat mereka, Joglo Pajang yang sangat “Jawa” untuk memberi masterclass satu hari untuk murid-murid mereka. Ternyata peminatnya membludak, sehingga September nanti mereka butuh lebih dari sehari. Acara di Joglo Pajang September ini terbuka untuk umum, dan murid piano manapun boleh mendaftar. Acaranya bukan hanya masterclasses. Yang utama adalah "AAA" yaitu "Ask Ananda Anything" dimana itu tanya jawab serta diskusi. Ada sesi untuk para pelaku musik (guru dan pelajar), ada sesi yang untuk katakanlah "awam" yaitu orangtua mereka yang belajar musik atau pecinta musik pada umumnya, masing-masing sesi 1,5 jam. Setelah itu pasti molor dengan heboh selfie-selfie, hahaha ! Kalau masterclassesnya hanya untuk piano saja, kebanyakan mereka yang mempersiapkan diri untuk audisi kuliah atau mengikuti kompetisi apa saja.
NK : Judulnya "AAA : Ask Ananda Anything", apa benar Anything ("apa saja")? Apa kunci kesuksesan "AAA" di beberapa kota akhir-akhir ini?
AS : Benar kok, boleh tanya apa saja, bukan soal musik saja juga boleh misalnya soal psikologi, pendidikan, autisme dan terutama Asperger's Syndrome. Sebagai disclaimer saja, saya bukan ahlinya, tapi kan saya penyandang, dan berdasarkan obrolan saya dengan berbagai psikolog dengan aliran-aliran yang berbeda serta sesama penyandang, saya bisa bicara tentang pengalaman, baik yang baik maupun yang buruk. Pertama kalinya acara "AAA" di Jawa ini diselenggarakan oleh Sekolah Musik Indonesia di Madiun tahun lalu, dan sangat diminati karena saya ngobrol bukan hanya dengan para pelaku musik, tapi justru mereka yang tertarik dengan musik atau pendidikannya, dan ingin terjun ke dunia itu. Sebelumnya juga ada yang menyelenggarakannya awal tahun 2025, seperti Signature Music Academy di Bekasi dan Amadeus Piano Course di Lampung dengan judul "NgobrAS" (Ngobrol dengan Ananda Sukarlan) yang sebetulnya sama dengan AAA.
Nah, ada yang baru di AAA Yogyakarta ini, yaitu peserta bisa mengisi google form saat mendaftar. Ia dapat menuliskan pertanyaannya untuk saya bacakan tanpa saya sebut namanya, jadi anonim. Seringkali seseorang mau bertanya tentang anaknya, tapi tidak mau orang lain tahu kondisi anaknya, dari hubungan yang tidak baik dengannya sampai memiliki sindrom apa lah misalnya. Jadi ini dua cara bertanya: lewat google form atau langsung nanti di acara.
Sisi lainnya adalah, bahwa sang penanya juga bisa curhat masalahnya. Naluri alami manusia itu butuh didengar dan diperhatikan, dan AAA adalah wadah untuk itu (tapi hanya dalam di dunia musik dan pendidikannya, serta perkembangan anak ya, jangan masalah dengan pasangan hahahaha). Mungkin itu salah satu kunci kesuksesannya.
NK : Kegiatan AAA atau sejenisnya anda fokuskan di pulau Jawa. Seberapa penting kebudayaan Jawa mempengaruhi musik klasik dunia, dan seberapa pentingnya peran Jawa di dunia musik internasional?
AS : Gamelan Jawa sudah mempengaruhi, bahkan mengubah bunyi musik klasik Barat (Western classical music) sejak dipagelarkan di Paris Expo 1889 dan memukau komponis Claude Debussy, dan kini saatnya Jawa menyerap tradisi dan teknik musik klasik Barat sebelum mengenal gamelan sehingga "fusion" ini menjadi lebih kaya dan pluralistik dan akan terus berkembang. Gamelan telah memperkaya dunia musik barat dengan melodi, ritme, tangga nada, harmoni, dan ide struktural baru. Musik tradisional ini —yang berakar pada identitas, cara hidup dan berfikir serta bahasanya — menyediakan bahan mentah dan inspirasi yang membantu para komposer melepaskan diri dari tradisi klasik Jerman/Austria murni dan mengembangkan suara nasionalistik atau modernis.
Gamelan telah menginspirasi tekstur impresionistik, pentatonisme, dan eksperimen timbre (dimulai dengan "Pagodes" untuk piano solo karya Debussy). Selain itu juga pembaharuan melodi / harmoni — serta memperkenalkan mode dan tangga nada yang mengubah "equal temperament" dan harmoni fungsional. Birama yang tidak selalu sama / teratur dan poliritme yang kompleks melawan keteraturan menciptakan musik yang memiliki keindahan yang berbeda, bersama keragaman timbre dan tekstur.
Hal ini membantu musik klasik tetap terhubung menjadi tradisi yang hidup, bukan murni abstrak atau akademis. Perlu dicatat, pertukaran ini jarang terjadi satu arah; notasi, harmoni, dan instrumen Barat juga telah mempengaruhi banyak musik tradisional di seluruh dunia.
NK : Apakah formula "AAA" ini akan dibawa ke berbagai kota lainnya?
AS : Oh ya, setelah dari Yogya, saya langsung terbang ke Balikpapan. Di sana, penyelenggaranya adalah NYMO (Nusantara Youth Music Olympic), dan setelah acara AAA disambung dengan kompetisinya. Itu tanggal 19 dan 20 September. Kompetisi NYMO ini lebih "friendly" daripada KPN+, apalagi Ananda Sukarlan Award yang sering disebut sebagai kompetisi paling sulit dan canggih. Tujuannya memang untuk mempersiapkan mereka ke kompetisi yang lebih "tangguh" seperti Nusantara Plus itu.
NK : KPN+ sendiri jadwalnya di Jawa Tengah bagaimana ya?
AS: Ada sih di Instagramnya @pianonusantaraplus , tapi untuk tanggal saya bisa bilang 10 Oktober di Yogyakarta, 25 Oktober di Salatiga (Kampus Universitas Kristen Satya Wacana), dan kemudian juga Surabaya bulan November. Jangan lupa yang terdekat adalah Bandung tanggal 13 September. Nah, dari Bandung ini saya langsung berangkat ke Yogyakarta, jadi ada waktu 1 hari dulu untuk "healing" di kota favorit saya ini. Ingat ya, KPN+ ini bukan hanya untuk piano, tapi untuk semua instrumen dan vokal klasik. Jangan fokus ke kata "piano"-nya, tapi fokus ke "plus"-nya. Untuk instrumen lain bahkan ada beberapa hadiah spesial yang sedang kami proses, misalnya untuk pemain flute yang menang di babak final di Jakarta Desember nanti, akan kami undang untuk bermain dengan saya di konser yang akan diadakan oleh media KOMPAS tanggal 14 Januari 2027 nanti. Dan tentu, sistem Golden Ticket untuk ASA 2027 tetap berlaku.
NK : Apa itu Golden Ticket to ASA 2027?
AS : Artinya ada beberapa pemenang KPN+ yang berhak masuk langsung ke babak final di Ananda Sukarlan Award 2027 nanti, akhir Juli 2027. Kalau tidak mendapatkan Golden Ticket, bisa ikut ASA lewat babak penyisihan melalui video yang diunggah di Youtube paling lambat 26 Maret 2027.
NK : Mengapa 26 Maret tenggat waktu pengunggahan video untuk ASA 2027?
AS : 200 tahun yang lalu, tepatnya 26 Maret 1827 adalah tanggal wafatnya Ludwig von Beethoven. Nah, ASA 2027 memang spesial untuk memperingati 200 tahun wafatnya komponis yang telah ikut memapankan "blue print" dari musik klasik di dunia kita ini. Jadi harus ada karya Beethoven buat para peserta piano dan biola di ASA 2027, dan untuk karya saya, dianjurkan memainkan karya yang terinspirasi oleh musik Beethoven, seperti "No More Moonlight over Jakarta" atau Rapsodia Nusantara no. 44. Yang secara teknis lebih mudah dan lebih pendek adalah "Because It's Moonlight Sonata", yang menunjukkan lagu Beatles "Because" adalah adaptasi dari Moonlight Sonata op. 27 no. 2.
NK : Terakhir, ada update kah tentang Rapsodia Nusantara? Sudah tercipta berapa nomor sekarang?
AS : Haha update-nya adalah tidak ada update. Rapsodia Nusantara yang ada tetap berguna untuk para pianis terutama mereka yang berkompetisi di luar negeri. Terakhir, Yonggi Fayden Cordias Purba (16 tahun) menjadi juara ke-2 di IPPA Conero (International Piano Professionals Association) Competition di Kansas City, bulan Juli ini. Ia membawakan Rapsodia Nusantara no. 10. Sudah setahun saya tidak menulis Rapsodia Nusantara, terakhir no. 44 untuk Michael Anthony Kwok, pemenang ASA 2025 dan ia mainkan di Festival Fievres Musicales di Paris setelah usai masterclasses-nya dengan beasiswa dari Institut Francais d’Indonesie sebagai hadiah ASA. Ini penampilannya di sana yang luar biasa :
https://youtu.be/CPNjzutwUSg?si=vd5sEM4I2a5xqQAS

0 Komentar
Lingkar literasi, sastra, dan seni budaya Asia Tenggara serumpun Bahasa.