005

header ads

Bahagia dengan Latihan Menjadi Orang yang Tidak Penting

 

Bahagia dengan Latihan Menjadi Orang yang Tidak Penting 

Oleh Fileski Walidha Tanjung

Kita hidup di zaman ketika percakapan terdengar seperti bisik-bisik kecurigaan. Di ruang kerja, di panggung seni, bahkan di lingkar pertemanan, terasa ada kasak-kusuk yang tak pernah benar-benar padam. Orang saling menyikut dalam diam, saling menjatuhkan dengan elegan. Prestasi yang seharusnya dirayakan justru memantik iri. Kita seperti terjebak dalam ekosistem batin yang toksik, di mana keberhasilan orang lain dibaca sebagai ancaman, bukan sebagai inspirasi. Jika kultur ini terus menjamur, yang runtuh bukan hanya relasi personal, tetapi juga daya cipta kolektif kita sebagai bangsa.

Saya teringat peringatan Aristoteles dalam Etika Nikomakea bahwa “manusia adalah makhluk sosial.” Terjemahan sederhana dari gagasan itu adalah: kualitas hidup kita ditentukan oleh kualitas relasi kita. Ketika relasi dipenuhi iri dan transaksi, maka masyarakat kehilangan harmoni alaminya. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah juga mengingatkan tentang pentingnya asabiyyah, solidaritas sosial, sebagai fondasi kebangkitan peradaban. Ketika solidaritas digantikan oleh kompetisi yang saling melukai, peradaban memasuki fase kemundurannya sendiri.

Mengapa kita sampai di titik ini? Salah satu sebab yang jarang disadari adalah overdosis konsumsi kutipan motivasi di media sosial. Kita dijejali kalimat-kalimat indah yang terdengar bijak, tetapi sering kali menumbuhkan ego secara halus. Salah satu yang populer adalah: ‘carilah tempat di mana kamu dihargai’. Sekilas, ini terdengar seperti nasihat tentang martabat diri. Namun jika ditelan tanpa kebijaksanaan, ia melahirkan generasi yang hanya ingin dihargai, dipuji, dan diakui. Jika suatu tempat tidak memberi harga yang pantas menurut kita, kita pergi. Jika seseorang tak mampu membalas dengan setara, kita menjauh.

Padahal hidup tidak selalu berlangsung dalam simetri penghargaan. Bagaimana jika ada seseorang yang membutuhkan kita, tetapi tak mampu menghargai kita secara layak? Apakah kita akan mundur atas nama harga diri? Di sinilah letak ujian keikhlasan. Al-Ghazali pernah menulis bahwa amal tanpa niat yang lurus hanyalah gerak kosong. Keikhlasan adalah bekerja tanpa menunggu tepuk tangan. Marcus Aurelius dalam Renungan menasihati, “Lakukan yang benar. Selebihnya tidak penting.” Sebuah ajaran stoik yang menempatkan nilai pada tindakan itu sendiri, bukan pada respons orang lain.

Hari ini, hampir semua hal dinilai secara transaksional. Pertemanan, kerjasama, bahkan kebaikan, seolah memiliki tarif emosional. Kita membantu jika dihargai. Kita mendukung jika disebut. Kita berbuat baik jika ada pengakuan. Dalam kultur seperti ini, empati menjadi barang langka. Maka tak heran jika masyarakat terasa kurang harmonis. Setiap orang sibuk menjaga citra dan posisi. Semua ingin menjadi orang penting.

Dalam situasi semacam ini, saya melihat satu strategi bertahan yang paradoksal: seni bersikap bodo amat. Ini bukan sikap apatis terhadap kebaikan, melainkan cara menyelamatkan kewarasan dari lingkungan yang beracun. Bodo amat adalah pagar sementara untuk menjaga kesehatan jiwa, agar kita tidak terseret dalam pusaran iri dan gosip. Ia adalah ruang sunyi untuk menata ulang niat, untuk menguatkan mental, sampai kita cukup kokoh untuk kembali terlibat tanpa kehilangan diri.

Namun berhenti di situ tidak cukup. Bodo amat hanyalah fase transisi, bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah melampaui diri sendiri. Friedrich Nietzsche pernah menulis, “Jadilah dirimu sendiri.” Tetapi menjadi diri sendiri bukan berarti memanjakan ego; ia justru berarti berani bertanggung jawab atas kualitas batin kita. Latihan terbesar bukanlah menjadi orang penting, melainkan menjadi bukan siapa-siapa. Latihan untuk merasa bahwa dunia tetap baik-baik saja tanpa kita. Latihan untuk bekerja tanpa menuntut sorotan.

Kita perlu melatih ikhlas sebagaimana atlet melatih ototnya. Melatih syukur sebagaimana musisi melatih pendengarannya. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang ditemukan di luar, melainkan diciptakan melalui disiplin batin. Pujian dan sanjungan hanyalah kebahagiaan semu, rapuh dan cepat pudar. Kebahagiaan yang lebih dalam muncul ketika kita mampu berbuat kebaikan yang melampaui kepentingan pribadi, ketika dampak tindakan kita menyentuh kehidupan orang lain tanpa perlu diumumkan.

Peradaban yang harmonis tidak lahir dari orang-orang yang sibuk mencari penghargaan, tetapi dari manusia-manusia yang rela bekerja dalam sunyi. Jika kita terus memupuk budaya ingin dihargai tanpa belajar menghargai, ingin dipuji tanpa berlatih memberi, maka retak halus peradaban akan semakin melebar.

Pertanyaannya, beranikah kita berlatih menjadi tidak penting di mata manusia, agar menjadi berarti di hadapan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri? Mampukah kita menahan diri untuk tidak pergi hanya karena tak dihargai, lalu tetap menolong karena pertolongan kita dibutuhkan? Dan jika kebahagiaan memang harus diciptakan, bukan dicari, sudah sejauh mana kita melatih jiwa kita untuk menciptakan kebahagiaan itu hari ini. (*) 


Posting Komentar

0 Komentar