005

header ads

Ketika Piano Menemukan Puisi: Merawat Musik Klasik dan Menghidupkan Kembali Kekayaan Sastra Nusantara

 

oleh Fileski Walidha Tanjung 

Ada kebahagiaan tersendiri ketika seorang guru menyaksikan murid-muridnya menemukan jalan untuk bertumbuh melalui seni. Kebahagiaan itu bukan semata-mata karena mereka memperoleh penghargaan, melainkan karena ada keberanian, ketekunan, dan proses panjang yang akhirnya menemukan panggungnya. Saya merasakan hal tersebut ketika mengetahui dua murid saya dari SMAN 2 Madiun berhasil meraih prestasi dalam Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) 2026. Bagi saya, capaian mereka bukan sekadar kabar tentang kemenangan dalam sebuah kompetisi musik. Ada cerita yang lebih besar di baliknya: tentang pendidikan seni, kesempatan bagi generasi muda, dan bagaimana musik klasik dapat menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, sastra, serta identitas kebudayaan Indonesia.


Ketertarikan saya untuk menelusuri lebih jauh kompetisi ini membawa saya berbincang langsung dengan komponis dan pianis Indonesia, Ananda Sukarlan. Dari percakapan tersebut, saya memperoleh gambaran bahwa KPN+ bukan sekadar arena untuk mengukur kemampuan teknis seorang pemain musik. Kompetisi ini memiliki semangat pendidikan yang cukup kuat, yakni membuka kesempatan bagi anak-anak dan remaja untuk mengenal, mempelajari, sekaligus mengembangkan kemampuan musikal mereka melalui ruang kompetisi yang lebih ramah dan terbuka.


Ananda Sukarlan menjelaskan bahwa Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 diselenggarakan di sebelas kota di Indonesia dan berhasil mencatat lebih dari 600 peserta. Dengan jumlah tersebut, KPN+ kini menjadi kompetisi musik klasik terbesar di Indonesia jika dilihat dari jumlah pesertanya. Mayoritas peserta berusia antara lima hingga tujuh belas tahun. Angka ini menarik untuk dicermati karena menunjukkan bahwa musik klasik masih memiliki daya tarik bagi generasi muda Indonesia. Di tengah budaya populer yang bergerak cepat dan perkembangan teknologi digital yang begitu dominan, ratusan anak dan remaja tetap bersedia meluangkan waktu untuk mempelajari instrumen musik, berlatih, dan menguji kemampuan mereka di hadapan para juri.


KPN+ didirikan oleh Ananda Sukarlan bersama manajernya, Chendra Panatan, pada 2016. Menurut Ananda, kompetisi tersebut sejak awal dirancang untuk menjadi ruang yang lebih mudah diakses dan ramah bagi pemusik muda yang belum berada pada tingkat profesional. Semangat ini menjadi pembeda dengan Ananda Sukarlan Award, kompetisi musik klasik yang dikenal sebagai salah satu ajang tertua dan paling bergengsi di Indonesia.


KPN+ kemudian mengalami perkembangan. Setelah sempat vakum selama pandemi, kompetisi ini kembali diluncurkan pada 2024 dengan penambahan kata Plus. Penambahan tersebut bukan sekadar perubahan nama, melainkan penanda perluasan ruang apresiasi. KPN+ tidak lagi hanya menyediakan kategori piano, tetapi juga membuka kesempatan bagi berbagai instrumen musik dan vokal klasik. Dengan demikian, anak-anak yang memiliki ketertarikan pada biola, cello, maupun seni vokal mendapatkan kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan musikalnya.


Bagi saya, perluasan tersebut merupakan langkah penting dalam pendidikan seni. Setiap anak memiliki kecenderungan, minat, dan cara berekspresi yang berbeda. Tidak semua peserta didik harus menjadi pianis. Ada yang menemukan dunianya melalui gesekan biola, petikan gitar, permainan cello, atau kekuatan interpretasi vokal. Ketika sebuah kompetisi mampu memberikan ruang bagi keragaman tersebut, sesungguhnya ia sedang membangun ekosistem seni yang lebih inklusif.


Saya teringat pada dua murid SMAN 2 Madiun, yang pada tahun 2026 ini sama-sama meraih juara 3 di ajang ini, meski dalam dua kategori yang berbeda, Viona Halden kategori lanjutan C di Regional Yogyakarta, sedangkan Shelyca Gabriela Juara 3 piano empat tangan di Regional Surabaya.

Sebagai guru Seni Budaya, saya melihat prestasi mereka bukan sebagai hasil yang berdiri sendiri. Di balik sebuah penampilan musik terdapat proses yang tidak selalu terlihat oleh penonton: latihan berulang, kesediaan memperbaiki kesalahan, kedisiplinan mengelola waktu, keberanian menghadapi penilaian, serta ketekunan untuk terus belajar. Semua itu merupakan pendidikan karakter yang sesungguhnya.


Sekolah sering kali mengukur keberhasilan melalui angka-angka akademik. Padahal, perkembangan peserta didik tidak selalu dapat dibaca melalui nilai mata pelajaran. Ada kemampuan yang tumbuh melalui seni, seperti kepekaan, konsentrasi, kesabaran, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan memahami emosi. Musik mengajarkan bahwa sesuatu yang indah tidak lahir secara instan. Sebuah komposisi membutuhkan ketelitian, keteraturan, dan kesediaan untuk menjalani proses. Dalam pengertian ini, pendidikan musik tidak hanya menghasilkan pemain musik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki kepekaan terhadap kehidupan.


Hal lain yang menarik perhatian saya dari percakapan dengan Ananda Sukarlan adalah keterlibatan karya sastra dan kebudayaan lokal dalam kompetisi tersebut. Di antara berbagai kategori yang diselenggarakan, terdapat kategori Tembang Puitik Junior. Kategori ini mempertemukan musik dengan puisi, dua cabang seni yang sesungguhnya memiliki hubungan sangat dekat. Puisi memiliki irama, tekanan, suasana, dan musikalitas bahasa. Musik memiliki kemampuan untuk memberikan tubuh bunyi kepada kata-kata. Ketika keduanya bertemu, sebuah puisi tidak lagi hanya dibaca, tetapi juga dinyanyikan dan ditafsirkan melalui ekspresi musikal.


Ananda menyampaikan satu peristiwa yang menurut saya memiliki makna mendalam. Sinclair Justin Gohandi, salah seorang juara pertama kategori Tembang Puitik Junior, membawakan lagu ciptaan Ananda yang bersumber dari puisi penyair besar Indonesia asal Madura, D. Zawawi Imron. Kabar tentang penampilan tersebut menjadi semakin emosional karena beberapa hari sebelumnya Zawawi Imron dikabarkan mengalami stroke dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit di Madura.


Ananda bercerita bahwa dirinya bersama panitia sempat berdoa untuk kelancaran kesembuhan sang penyair. Bagi saya, peristiwa ini menghadirkan gambaran yang indah tentang bagaimana seni dapat menjadi jembatan kemanusiaan. Sebuah puisi yang ditulis oleh seorang penyair, kemudian diolah menjadi komposisi musik oleh seorang komponis, dan akhirnya dinyanyikan oleh seorang anak muda di panggung kompetisi. Karya tersebut melintasi generasi, profesi, dan cabang kesenian. Bahkan ketika penciptanya sedang menghadapi masa sulit, puisinya tetap hidup melalui suara orang lain.


Di sinilah saya melihat bahwa karya sastra memiliki kehidupan yang jauh lebih panjang daripada momentum ketika ia pertama kali diterbitkan. Puisi tidak harus berhenti di halaman buku. Ia dapat menjelma lagu, pertunjukan, komposisi musik, bahkan menjadi pengalaman batin bagi orang-orang yang mungkin sebelumnya tidak mengenal penyairnya.


Ada satu pernyataan Ananda yang juga patut menjadi perhatian para pelaku seni dan budaya di Jawa Timur. Ia mengungkapkan kebahagiaannya melihat para musisi mulai memiliki keinginan untuk mengangkat kekayaan budaya daerah asalnya. Selain karya puisi D. Zawawi Imron, salah satu pemain biola dalam kompetisi tersebut juga membawakan karya Variations on Wayah Surup, yang berangkat dari lagu asli Banyuwangi.


Menurut saya, pilihan repertoar semacam ini merupakan langkah penting untuk mempertemukan musik klasik dengan akar kebudayaan lokal. Selama ini, musik klasik kerap dipersepsikan sebagai wilayah kesenian yang jauh dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Ia sering diasosiasikan dengan tradisi Barat, ruang konser formal, serta lingkungan pendidikan musik tertentu. Padahal, musik klasik sebagai pendekatan penciptaan dan interpretasi dapat menjadi medium yang sangat terbuka untuk mengolah kekayaan musikal Nusantara.


Lagu daerah, tembang tradisional, puisi lokal, dan cerita rakyat sesungguhnya menyimpan sumber inspirasi yang tidak terbatas. Kekayaan tersebut dapat diolah menjadi komposisi baru tanpa harus kehilangan identitas asalnya. Tradisi tidak harus dipertahankan dengan cara membekukannya dalam bentuk lama. Ia dapat terus hidup melalui penafsiran, pengembangan, dan perjumpaan dengan berbagai medium seni.


Dalam percakapan kami, Ananda juga menyampaikan pandangan yang menarik mengenai posisi penyair di Jawa Timur. Menurutnya, D. Zawawi Imron merupakan salah satu penyair paling dikenal dari provinsi ini. Karena nama penyair sering menjadi pertimbangan vokalis ketika memilih repertoar, Ananda mendorong para penyair Jawa Timur lainnya untuk lebih aktif memperkenalkan karya mereka kepada para musisi klasik. Ia menyebut beberapa nama, termasuk Effendi Kadarisman dan saya sendiri, Fileski Walidha Tanjung.


Pernyataan tersebut membuat saya berpikir bahwa hubungan antara penyair dan komponis perlu dibangun lebih intensif. Selama ini, dunia sastra dan musik terkadang berjalan dalam lingkarannya masing-masing. Penyair sibuk menerbitkan buku, mengikuti forum pembacaan puisi, dan membangun jejaring sastra. Sementara itu, komponis dan musisi mencari bahan penciptaan melalui referensi yang mereka kenal. Padahal, ada begitu banyak kemungkinan kolaborasi yang belum digarap secara serius.


Karya puisi yang memiliki kekuatan imajinasi, kedalaman gagasan, serta musikalitas bahasa berpotensi menjadi sumber penciptaan tembang puitik. Namun, potensi itu tidak akan berkembang jika penyair hanya menunggu karyanya ditemukan. Dibutuhkan keberanian untuk membuka komunikasi, memperkenalkan puisi kepada komponis, berdialog dengan penyanyi, dan membangun kolaborasi lintas disiplin.


Saya memandang hal tersebut sebagai peluang bagi perkembangan sastra Jawa Timur. Kita memiliki kekayaan penyair dari berbagai generasi dan latar kebudayaan. Ada puisi yang tumbuh dari kehidupan pesisir, tradisi agraris, kehidupan perkotaan, sejarah, spiritualitas, hingga persoalan kemanusiaan kontemporer. Semua itu merupakan bahan penciptaan yang dapat diperkenalkan kepada dunia musik. Bayangkan apabila puisi-puisi dari Madiun, Surabaya, Madura, Banyuwangi, Malang, Jember, dan berbagai daerah lain di Jawa Timur mendapatkan kesempatan untuk diolah menjadi komposisi musik klasik. Sastra daerah tidak hanya dikenal melalui pembacaan puisi, tetapi juga melalui konser, pertunjukan vokal, dan dokumentasi musikal.


Tentu saja, upaya tersebut tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas individu. Diperlukan ekosistem yang mempertemukan sekolah, komunitas sastra, lembaga pendidikan musik, komponis, penyair, dan penyelenggara pertunjukan. Kompetisi seperti KPN+ dapat menjadi salah satu ruang perjumpaan yang strategis. Apalagi, dalam penyelenggaraan regional Surabaya, KPN+ bermitra dengan Amadeus Performing Arts yang dipimpin Patrisna May Widuri.


Saya juga mencatat bahwa kompetisi ini menghadirkan dua juri dengan latar belakang musikal yang kuat, yaitu Ananda Sukarlan dan Dr. Irene Margarete Setiawan. Irene merupakan peraih gelar Master dan Doctor of Music dari University of British Columbia, Kanada, setelah menyelesaikan pendidikan sarjana musik di Yong Siew Toh Conservatory of Music, National University of Singapore. Kehadiran para profesional dengan pengalaman dan latar pendidikan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta muda untuk mendapatkan penilaian dari perspektif musikal yang serius sekaligus menjadi bagian dari pengalaman belajar mereka.


Namun, bagi saya, hal terpenting dari sebuah kompetisi seni bukanlah semata-mata siapa yang memperoleh juara pertama, kedua, atau ketiga. Penghargaan memang layak dirayakan, tetapi pendidikan seni seharusnya tidak berhenti pada hasil perlombaan. Anak-anak perlu memahami bahwa kompetisi merupakan salah satu cara untuk mengenali kemampuan diri, belajar menerima penilaian, dan menemukan alasan untuk terus berkembang. Mereka yang belum memperoleh penghargaan tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh. Bahkan, pengalaman menghadapi panggung dan bertemu dengan peserta lain dapat menjadi bekal yang sama berharganya dengan sebuah piala.


Semangat tersebut juga terlihat dari beragam kategori KPN+ 2026. Selain kategori piano dari tingkat usia dini hingga lanjutan, terdapat kategori instrumen lain seperti cello dan biola, kategori Tembang Puitik Junior, Non Professional, serta Piano 4 Tangan. Kehadiran kategori piano empat tangan, misalnya, memperlihatkan bahwa musik bukan hanya tentang kemampuan individu, melainkan juga tentang kesediaan mendengarkan, membangun keselarasan, dan bekerja bersama orang lain. Dalam permainan ansambel, seseorang tidak bisa hanya memikirkan bagiannya sendiri. Ia harus memahami peran rekannya agar keseluruhan komposisi dapat hadir secara utuh.


Sebagai seorang guru Seni Budaya, saya berharap ruang-ruang seperti ini semakin dekat dengan kehidupan sekolah. Pembelajaran musik jangan hanya dipahami sebagai kegiatan mengenal notasi, menghafalkan teori, atau menyelesaikan tugas praktik. Peserta didik perlu diperkenalkan pada pengalaman musikal yang lebih luas: mengenal karya komponis, memahami sejarah musik, mengeksplorasi instrumen, menciptakan karya, mengapresiasi pertunjukan, dan berani menampilkan hasil belajarnya.


Sekolah tidak harus selalu melahirkan musisi profesional. Akan tetapi, sekolah memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap peserta didik memperoleh kesempatan mengenali potensi artistiknya. Dari ruang kelas yang sederhana, mungkin akan tumbuh seorang pianis, komponis, penyanyi, penulis lagu, atau peneliti musik. Namun, mungkin pula akan lahir seseorang yang tidak berprofesi sebagai seniman, tetapi memiliki kepekaan untuk menghargai karya seni dan kebudayaan.


Kebanggaan saya terhadap dua murid SMAN 2 Madiun yang berhasil meraih juara dalam KPN+ 2026 pada akhirnya membawa saya pada pemahaman yang lebih luas. Prestasi mereka merupakan kabar baik bagi sekolah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pendidikan seni membutuhkan keberanian untuk membuka peluang. Anak-anak tidak cukup hanya diberi pengetahuan tentang seni. Mereka perlu diberi ruang untuk mengalami, berlatih, mencipta, berkompetisi, berkolaborasi, dan menemukan makna dari proses berkesenian.


Saya membayangkan suatu hari nanti semakin banyak puisi karya penyair Jawa Timur yang hidup melalui komposisi musik klasik. Bukan hanya karya penyair yang sudah dikenal luas, melainkan juga puisi-puisi dari penulis muda dan penyair daerah yang selama ini belum banyak mendapatkan ruang. Saya juga membayangkan semakin banyak anak sekolah yang memainkan lagu-lagu daerah dengan pendekatan musikal yang kreatif, tanpa merasa bahwa tradisi dan musik klasik merupakan dua dunia yang saling berjauhan.


Sebab, kebudayaan tidak akan tumbuh hanya dengan terus-menerus membicarakan masa lalunya. Ia membutuhkan generasi yang bersedia mempelajari, menafsirkan, dan menghidupkannya kembali. Musik dapat menjadi salah satu jalannya. Puisi dapat menjadi salah satu sumbernya. Sekolah dapat menjadi tempat persemaiannya.


Dari Madiun, saya belajar kembali bahwa kemenangan seorang murid sesungguhnya dapat membuka percakapan yang jauh lebih besar tentang masa depan pendidikan dan kebudayaan. Sebuah kompetisi piano akhirnya membawa kita berbicara tentang puisi, identitas daerah, kolaborasi lintas seni, dan tanggung jawab generasi muda dalam merawat warisan budaya. Barangkali, di situlah makna paling penting dari sebuah panggung seni: bukan hanya tempat seseorang menunjukkan kemampuannya, melainkan tempat berbagai gagasan, tradisi, dan harapan bertemu untuk menciptakan kehidupan kebudayaan yang lebih bermakna.


Para Peraih Penghargaan KPN+ 2026 Regional Surabaya


Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) 2026 Regional Surabaya diselenggarakan pada November 2026. Berikut nama-nama peraih penghargaan berdasarkan data yang disampaikan Ananda Sukarlan.


Usia Dini A: Juara 1 Reynold Jose Alriyanto; Juara 3 Nicole Gracia Hertanto.


Usia Dini B: Juara 1 Allyson Jaya, Madison Sufredy, dan Jaylynn Miranda Christianto.


Usia Dini C: Juara 1 Sophilia Adler Winston; Juara 2 Valerie Eliora Hartanto dan Felicia Nathania Christanto; Juara 3 Janitra Dewaji Putri.


Pemula A: Juara 1 Karen Ivy Goenarno.


Pemula B: Juara 1 Philia Ie dan Sharlyn Chandra; Juara 2 Clarissa Valencia Lee dan Elaine Grace Kristiawan; Juara 3 Lionell Matthew Setiawan dan Alisia Nathania Salim.


Pemula C: Juara 1 Gevariel Wang, Jacqueline Yap, dan Adrian Rajendra Laksono; Juara 2 Helena Anindya Larasati, Anindita Cahyono, Natasha Avery Galena, dan Sharon Everlyn Tanto Widjaja; Juara 3 Gwen Abigail Liu, Lanice Sutanto, Sherlyn Mckenzie Alim, dan Summer Nichols Tjahjono.


Menengah B: Juara 2 Jollyn Victoria Wu; Juara 3 Scarlett Skye Alexander dan Steven Elnathan Thio.


Menengah C: Juara 1 Starielle Adeline Winston dan Jeanice Meredith Christianto; Juara 2 Alfonso Rudolph Herryawan, Bellvania Sharron Christine Hardoyo, Nikolaus Henry Siawan, dan Ethan Nathaniel Aramdi; Juara 3 Jaden Nathan Wijaya, Matthey Wilson Tanto Widjaja, Gerald Stephen Widjaja, dan Noemi Zoey Susanto.


Lanjutan A: Juara 1 Celline Wisal.


Lanjutan B: Juara 1 Yosefin Joyful Glory Panggabean dan Gabriella Christine Lukito; Juara 2 Stefan Sumargo; Juara 3 Kenzo Otto Suwarno.


Lanjutan C: Juara 1 Claire Alexia Oei.


Instrumen Lain – Cello Senior: Juara 2 Clift Christian.


Instrumen Lain – Violin Junior: Juara 2 Steven Ongkomihardjo.


Instrumen Lain – Violin Senior: Juara 1 Yosefin Joyful Glory Panggabean.


Tembang Puitik Junior: Juara 1 Kenzo Grantly Witanto, Lucy Paramita Candrakirana, dan Sinclair Justin Gohandi; Juara 2 Catherine Sutandya; Juara 3 Naomi Berlian Uliartha Panggabean.


Non Professional: Juara 1 Osten Cristo Harianto; Juara 3 Colin Cristo Harianto.


Piano 4 Tangan: Juara 1 Amanda Mischa Darmawan dan Ariana Mischa Darmawan; Juara 3 Shelyca Gabriela Ramlie dan Joevanca Gabriella Ramlie.


Kategori Nonkompetisi: Eliezer Selwyn Horman, Tiffany Theodora Sidharto, Syirin Salsabila, dan Zadine Nasea Lendra Daryono.






Posting Komentar

0 Komentar